Author Archives: Nyenius

Dari Meja Redaksi: I got new chair!

Ya saatnya posting yang gak penting; “Dari balik meja redaksi nyenius.com”. Kepala cukup panas setelah seharian berjibaku dengan panas matahari, kencangnya angin gedung tinggi, serbuk gergaji, mindah-mindahin furniture, belanja keperluan perkakas yang kurang, sampai mengurus administrasi perizinan kerja di apartemen yang menyita tenaga karena harus bolak-balik naik dua lantai dari lift barang ke kantor manajemennya. Naik lift pun percuma, karena jarak dari kantornya ke lift pun cukup jauh, ditambah menunggu lift yang cukup makan waktu, berebut dengan pekerja proyek yang ada di lantai 30-40.

Sudah terbayang beberapa orang yang langsung setuju dengan tingkat ke-tidakpenting-an posting ini. Tapi gue gak akan sebut bahwa nama orang-orang yang tanpa basa basi akan bilang ini gak penting adalah Lulu dan Fahdi, gak kok 🙂

Malam ini, setelah semua chores itu selesai, ditambah terakhir mesti ke Poin Square belanja kompor, cooker hood, dan 3 buah kursi, gue memutuskan menulis yang ringan-ringan saja.

Ya istri gue memberi hadiah ulang tahun gue sebuah kursi kerja baru, yang dudukannya bisa naik-turun dan sandarannya bisa maju-mundur+naik turun juga. Hadiah yang sebetulnya gue ngotot pengen yang ini juga. (gue bilang; “kalo nggak itu ya Ipad” wakakakaka).

Dua kursi bersejarah yang selama ini menemani waktu-waktu kerja gue di depan komputer akhirnya harus pensiun. Ya dua kursi itu memang betul-betul bersejarah.

kursi kerja tobaYang satu adalah kursi makan besi model lama. Kursi ini gue boyong ke rumah, setelah sekitar 2 atau 3 tahun gak laku nongkrong di lantai dua toko bokap. Begitu gue mau nikah dan lagi desain kamar gue, gue minta itu meja makan satu set dengan empat kursi buat ditaruh di kamar. Gue bilang sama bokap, modelnya pas dengan rancangan kamar gue 😛

Gue bawa pulang, dibersihin, dan ternyata masih bagus :). Akhirul hikayat, meja makan itu nggak fungsi sebagaimana mestinya, karena tetep aja gue makannya lesehan, atau di sofa sambil nonton tivi. Akhirnya empat kursinya terpencar, dua di balkon untuk ditindih dengan segala macam barang. Satu di dalam kamar untuk alas colokan akuarium, satu lagi beruntung jadi kursi untuk komputer desktop gue. Yang jelas, kursi ini sangat tidak nyaman dipakai dalam jangka lama. Seringkali di akhir aktifitas berkomputer desktop, gue harus mengalami pegal-pegal di sekujur badan.

kursi kerja toba (4) Yang kedua adalah kursi kayu dengan dudukan dari busa dilapis kain. Sejarah kursi ini lebih unik lagi. Pertama, ini aslinya adalah kursi khotib buat ceramah jum’at entah di masjid mana. Aslinya memang buatan dari workshop toko kami juga (H. Konin Furniture). Yang setelah digunakan sekian waktu di masjid, pengurusnya berencana mengganti kursi itu dengan cara tukar tambah dengan yang baru (mesen lagi custom).

Setelah diterima di toko, lama juga itu kursi nganggur. Iseng gue bilang mau gue bawa pulang, dan lagi-lagi pak Haji (bokap gue) setuju aja, dengan anggukan dinginnya tanpa memandang gue. Langsung aja gue suruh orang taekin ke mobil dan bawa pulang.

Di rumah, pertama gue taruh di depan akuarium laut yang waktu itu baru dibuat, maksudnya biar bisa nyaman mandangin akuariumnya. Dan sesekali gue pindahin ke balkon buat maen laptop (mulai dari kegiatan komputasi positif sampe negatif :P). Mungkin kursi ini kaget dengan perubahan fungsinya, sampai suatu hari, ketika gue gunain buat pijakan waktu bersihin akuarium, gue pun terjungkal dari atasnya, lantas pingsan, dan berakhir di UGD dan dokter spesialis saraf.

kursi kerja toba (3)

Ya, akhirnya satu kursi idaman gue sudah ada disini. Menemani kegiatan gue berkomputer, menggambar, baca buku, atau menulis tangan. Kursi yang semoga menambah kenyamanan gue berkreasi dengan komputer dan internet, dan tentu kesehatan tulang-tulang di badan gue. 🙂 Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Terima kasih sayang, buat hadiahnya, dan juga ‘amin’ yang kemaren 🙂

Dekompresi Puisi: Cerpenisasi Puisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III terbitan tahun 2001,  puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Ada pula yang mengartikan secara simpel bahwa puisi adalah pemadatan bahasa. Dan saya sendiri mengartikan puisi adalah kompresi/pemadatan suatu peristiwa, emosi ke dalam kata-kata (tentu untaian kata-kata yang dalam konteks definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tadi ya, jadi quotes ya tidak termasuk puisi).

Jadi dari pengalaman, peristiwa fisik atau peristiwa emosional dipadatkan ke dalam gubahan puisi. Dalam gubahan kata-kata yang menyusun bahasa, singkat, jelas, tapi tetap menggambarkan esensi keseluruhan dari peristiwa tersebut.

Contoh, perang Diponegoro yang berlangsung bertahun-tahun, diceritakan kembali dalam sebuah puisi, yang berisi 5-6 baris sajak. Atau sebuah pemikiran hasil proses berhari-hari bahkan bertahun-tahun dituangkan dalam beberapa bait saja.

Dan apa yang dilakukan seseorang ketika dia membaca sebuah puisi? Yang pasti berusaha memahami maksud puisi tersebut, dalam kata lain berusaha menerjemahkan. Bahkan bagi yang memiliki landasan keilmuan tentang puisi, dia akan berusaha menganalisis puisi tersebut ke dalam apresiasi yang berbobot.

Lantas, dari pemahaman yang didapat itu, kemana ‘larinya’? Tujuan dari seni adalah pemuasan kebutuhan batiniah baik bagi sang kreator maupun penikmatnya. Dan dalam hubungan jejaring kreatifitas, sudah biasa terjadi karya seorang kreator dalam satu bidang seni, menginspirasi kreator lainnya dari bidang seni yang berbeda. Seseorang membuat puisi dari sebuah lukisan misalnya. Atau seseorang membuat lukisan dari sebuah puisi.

Dalam halnya puisi, telah banyak transformasi lanjutan yang dilakukan oleh para seniman berbagai bidang, dari bidang seni musik (dan sudah terkenal) ada musikalisasi puisi, dari bidang teater ada dramatisasi puisi, dan lain sebagainya.

Berangkat dari definisi saya pribadi bahwa puisi adalah kompresi emosi dan peristiwa ke dalam susunan bahasa yang diatur secermat mungkin. Juga sebagai lanjutan dari apresiasi dan pemahaman puisi, ada bentuk lain yang masih bisa digarap selain apresiasi dalam bentuk analisa kritik dan kepuasan batin saja. Yaitu dekompresi puisi.

Dekompresi puisi adalah suatu usaha menafsir ulang rangkaian emosi dan peristiwa dalam puisi ke dalam bentuk cerita (cerpen, novel, naskah teater/film). Apakah harus sama persis dengan maksud / peristiwa yang dialami oleh sang penyair? Tentu tidak, penafsiran ulang yang dituangkan dalam sebuah cerita dari sudut pemahaman pembedah akan arti sebuah puisi.

Dan bentuk cerita yang paling mungkin adalah cerita pendek atau cerpen. Secara bentuk, cerpen lebih memiliki kemiripan dengan puisi, yaitu sebuah fragmen, potongan kecil dari sebuah garis peristiwa yang panjang. Bentuk penceritaan kedua yang lebih mungkin adalah naskah drama atau skenario film. Sedangkan untuk bentuk novel, saya pikir akan diperlukan kecerdasan yang lebih lanjut untuk mengolah sebuah puisi menjadi novel.

Sejauh ini, saya baru dua kali melakukan dekompresi puisi ke dalam bentuk cerpen. Jadi, ketimbang saya hanya bicara saja, saya akan tunjukkan maksud tulisan ini dalam contoh konkret cerpen hasil penafsiran atas puisi Rendra berjudul Ballada Sumilah. Diceritakan ulang dalam cerpen yang berjudul sama; “Ballada Sumilah”. Silahkan dibaca di sini.

***Jangan ragu untuk memberi kritik tertajam Anda atas cerpen saya tersebut, pada bagian komentar tulisan ini (a critic invitation) 🙂

++Mobile

Ejekan Itu Punyaku; Privatisasi Ejekan

Pernah ada satu teman yang membahasakan ayahnya dalam obrolan ringan seperti ini; “Si goblok gak ngerti dia soal internet.” Kita teman-teman yang mendengarkan langsung ketawa ngakak. Karena memang dia orangnya kocak, cara penyampaian kocak, dan kejadian-kejadian dalam keluarganya juga banyak yang kocak.

Karena begitu sukanya saya pada idiom mengenai ayahnya yang dia gunakan, rasanya gatal mulut untuk ikut ‘berpesta’ dalam kelucuan penyebutan tersebut. Kelepasan lah saya suatu hari bertanya; “Gimana kabar si goblok kemaren?” Mungkin bisa disebut kebablasan, sebab sebelum bertanya begitu, saya sempat mikir-mikir, apakah akan menggunakan kata-kata tersebut atau tidak, akhirnya entah bagaimana, keluarlah kalimat itu. Reaksi yang saya dapat tidak terbayang oleh saya waktu itu. Sepintas ada raut ‘tidak terima’ di wajahnya, walau akhirnya menjawab sekenanya (tanpa mengulangi idiom tersebut seperti biasanya).

Saya langsung sadar sudah terlalu lancang menggunakan bahasa tentang ayahnya. Dan bertekad tidak akan pernah sembarangan ikut bicara mengenai ‘ejekan’ seseorang atas orang terdekat mereka. Waktu itu saya gagal memikirkan kenapa suasananya bisa berubah seperti itu? Kenapa ketika dia yang bilang tidak masalah, kenapa kalau saya yang menyebutkan jadi aneh. Ya, saya merasa aneh ketika mengucapkannya, dan teman saya pun bereaksi dengan aneh juga (baca; tidak suka).

Kemarin-kemarin saya ngobrol sama seorang teman (lupa siapanya, tolong yang ngerasa ngobrol sama saya ingetin lagi), dia bilang “ejekan itu pertanda/lambang dari keakraban antar orang.” Tanda keakraban. Saya ingat dalam beberapa momen tersendiri saya lebih suka menyebut teman saya dengan ‘si kiting’ ketimbang namanya ‘si Akbar’. Momennya seperti apa, susah juga ngungkapinnya. Tapi seingat saya, momennya itu ketika saya menyebutkan pencapaian-pencapaian yang dia raih, atau sedang membicarakan  ‘karakter’ atau kebiasaan dia. Yang mana itu merupakan sebuah obrolan yang intim, dekat.

Sudah jamak ketika kita dekat dengan seseorang, atau dalam suatu lingkar pertemanan. Seseorang memiliki ‘ejekan’, nickname, ‘julukan’ yang biasanya berkonotasi negatif. Walau berkonotasi negatif, tapi yang diberi julukan tidak sampai tersinggung dan menjadi ribut. Justru timbul rasa kedekatan tersendiri. Saya kadang suka menyapa kawan lama dengan ungkapan penuh kerinduan: “Apakabar bangsat?” sambil nyengir senang, dan dengan respon tawa menyegarkan dari teman yang saya sapa demikian.

Mungkin akan beda kalau misal saya dengar pertanyaan tadi (apakabar bangsat) ditujukan ke teman saya, dari musuh teman saya. Mungkin reseptor dalam otak saya akan mendelegasikan pengolahan reaksinya ke divisi emosi kesal dan marah. Karena itu teman saya, itu ejekan kami untuk dia. Musuh teman saya itu posisinya berada di luar lingkar keakraban kami.

Bagaimana kalau yang memanggil teman saya ‘bangsat’ itu bukan musuhnya? Melainkan teman baru, yang baru banget bersentuhan dengan lingkar pertemanan kami (kondisinya ‘baru bersentuhan’, belum pada tahap ‘diterima’)? Sikap itu menurut hemat saya adalah, apa yang disebut orang banyak SKSD (sok kenal sok deket).

Jadi, sekarang nampaknya saya sudah bisa sedikit paham, kenapa dulu teman saya tersinggung waktu saya ikut-ikutan menyebut ayahnya dengan ‘julukan keakraban’ dia. Itu karena walau saya dan dia berada dalam satu lingkar keakraban (pertemanan), tapi dia pun (sebagaimana saya) punya lingkar keakraban lain dengan keluarganya. Dan lingkar keakraban keluarganya dan lingkar keakraban pertemanan kami, adalah dua lingkaran berbeda, yang hanya bertemu (beririsan) pada teman saya itu, tidak sampai menyatu. Beda kalau misalkan kami juga akrab dengan ayahnya. It’s a whole different world.

Rambu Sebuah Komunitas Di Mata Orang Luar

“SEMUA KENDARAAN HARUS MENGAMBIL TIKET TANPA TERKECUALI”

Pertemuan saya dengan rambu ini cukup menarik. Waktu itu saya mau parkir di sebuah kantor di Kuningan. Sudah beberapa kali saya datang ke kantor itu. Kebetulan, hari itu saya lagi ngeh ngeliat tulisan ini, pas lagi nunggu tiketnya diprint. Bertepatan dengan itu, masuklah satu motor yang ditumpangi dua orang berpakaian safari, ngeloyor begitu aja, masuk ke dalam gedung parkir. Begitu si penjaga tiket parkir nengok, penumpang motor itu cuma nyengir sambil melambaikan sebelah tangannya. Dan si penjaga ikut nyengir juga.

Saya cuma ketawa, geleng-geleng sendiri. Lucu, baruuu aja saya ngeh ada tulisan itu, dan sesaat kemudian langsung ditunjukin seperti apa implementasinya. Bahkan saya dengar dari seseorang, yang dia denger dari orang lainnya, buat karyawan yang ikut program parkir berlangganan di gedung itu, tidak perlu ngambil tiket lagi, langsung saja blas masuk.

Saya segera mafhum, bahwa dua orang yang lewat tadi adalah pegawai manajemen gedung. Saya tidak menyalahkan tindakannya yang langsung masuk itu. Yang saya salahkan adalah TULISANNYA, dan tentu ORANG yang menuliskannya. Mendapatkan fenomena ‘kebetulan’ seperti itu selalu memaksa saya berfikir; “Kenapa saya diperlihatkan hal ironis ini?” Pikiran singkat saya adalah, Tuhan berusaha memberikan informasi sepintas seperti apakah manajemen gedung ini melaksanakan kepengurusan gedung. Ada ‘kemapanan’ tersendiri dalam pengelolaannya, sesuatu yang sudah berjalan mengalir. Sehingga cenderung ada hal-hal yang sudah dicapai ‘kesepahaman bersama’ yang tidak dipentingkan pengucapannya.

“Kenapa sih tidak dituliskan saja?” Pikir saya waktu itu. “Semua Kendaraan HARUS Mengambil Tiket. Kecuali staff dan parkir berlangganan.” Jadi kesan buat pendatang baru seperti saya tidak jadi konyol. Walau saya yakin, semakin saya akrab dengan gedung itu, saya pun akan acuh saja dengan hal-hal perintilan macam itu.

Sekedar (dalam bahasa lulu), nyinyir dari gue ketika akan rapat di sebuah kantor :D.

Televisi Sebagai Laknat Dan Nikmat

Semenjak ditemukannya, televisi telah mewarnai hari-hari manusia. Menjadi teman, alat, momok, dan segudang plus minus lainnya tentang televisi.

Tulisan ini saya buat ketika melewati tivi di kamar dan seketika sadar: “Dah lama juga gue gak nonton tivi.” Sebetulnya bukan saya aja yang dah lama gak nonton tivi, tapi juga istri saya. Selain karena memang waktu untuk menonton tivi yang seperti tidak ada, selalu ada pertanyaan di benak kami: “mau nonton apaan di tivi?” Karena merasa lebih banyak sampah yang ditayangkan tivi sekarang ini. Apapun itu, begitu tampil di tivi, bisa jadi jungkir-balik, jumpalitan, salto, dan kami tertimpa skeptis berat tentang program dan kebenaran televisi.

Presiden kita melalui lembaga polling yang disewanya menggunakan televisi sebagai -yang menurut saya- kecurangan berkampanye. Yaitu ketika pemungutan suara masih berlangsung, quick count dari lembaga survey tersebut sudah ditayangkan. Padahal itu dipercaya dapat menggiring opini rakyat yang belum memilih.

Production House yang mengejar pemasukan perusahaannya dengan membuat sinetron religi keblinger dengan pencitraan kiai-kiai sebagai orang sakti, tasbeh berguna untuk ngusir setan dan segala macamnya, juga tampil disitu. Berulang-ulang, tak peduli apakah penontonnya muak atau tidak. Cinta Fitri yang dibuat sejak jaman adik saya SD sampe sekarang udah SMA, masih juga tampil dengan musuh yang itu-itu saja.

Teman saya pernah bilang, dia tidak suka baca buku, dan lebih memilih melihat berita di televisi. Karena dengan membaca buku dia takut terpengaruh oleh pikiran ‘orang yang gak jelas’. Saya balik bertanya, mengenai kejelasan sumber, lebih jelas mana tivi atau buku? Buku, kita bisa baca riwayat pengarangnya pada sampul/halaman belakang buku. Masih kurang puas, bisa searching lebih lanjut tentang si pengarang di internet. Sehingga kita tahu dari mana, siapa, orang berlatarbelakang seperti apa, kita menerima atau menolak pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku.

Sedangkan televisi? Tahukah kita siapa editor sebuah acara berita (apalagi gosip)? Tahukah kita apa motif dia meluluskan sebuah berita, dan menolak tumpukan berita lainnya? Tahukah kita visi pemilik sebuah stasiun tivi? Ditambah lagi dengan fenomena monopoli tersamar yang dilakukan grup MNC terhadap stasiun-stasiun tv besar di Indonesia. Itu semakin menambah keraguan saya akan ‘kebenaran televisi’. It’s a bunch of driven informations without us knowing where they want to drive us.

Memang tidak selamanya program televisi itu buruk, saya termasuk penggemar setia acara-acara besutan aktor senior Deddy Mizwar. Karena kebetulan saya mengikuti perkembangan beliau semenjak film-filmnya di tahun 70-an. Semenjak beliau main film panas sampai akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sinema-sinema religi yang cerdas.

Walaupun suka, ada beberapa hal yang saya kritisi, yang saya anggap bisa menjadi ‘bahaya’ tertentu; bahaya salah paham. Contoh konkritnya pemenggalan cerita pada sinetron terbaru beliau yaitu Para Pencari Tuhan. Banyak sekali pemenggalan cerita yang menggantungkan status suatu masalah yang diangkat dalam satu episode, yang dengan tujuan membuat orang penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Tapi pemenggalannya itu pada bagian penting. Dan saya tahu banyak yang penasaran, dan banyak yang pula tidak sempat menonton kelanjutannya, yang notabene merupakan penjelas dari informasi (baca;dakwah) yang tak selesai pada episode sebelumnya.

Tapi karena televisi juga, saya yang belum pernah ke luar negeri bisa tahu seperti apa perayaan tahun baru di London. Saya bisa tahu mengenai padang rumput anatolia yang indah. Karena televisi, orang-orang hebat dapat menyebarkan inspirasinya kepada khalayak luas.

Televisi sebagai sebuah bentuk media massa, dapat memberikan (baca; menyebarkan) dampak positif dan negatif secara massif. Televisi tidak bisa disalahkan, dia hanya benda, sedangkan stasiun televisi merupakan bidang luas yang tak terjamah oleh tangan kita yang kecil. Tak ayal; kita yang harus siap.

Manajemen Semangat Dan Ide; Mencegah Aborsi Kreatifitas

Beberapa tahun ke belakang, saya memiliki beberapa pengalaman untuk mencetuskan gagasan-gagasan baru, kegiatan-kegiatan baru, organisasi baru, lengkap dengan cerita keberhasilan dan kegagalannya. Singkatnya, saya termasuk orang yang mudah terinspirasi oleh segala sesuatu. Dalam kegagalan dan keberhasilan pelaksanaan ide-ide tersebut saya mencatat dalam ingatan, apa-apa saja yang menjadi penyebab kegagalannya.

Seperti suatu ketika saya berkunjung ke Jogja, dan ketika makan di pinggir jalan, tak jauh dari saya, di badan trotoar sekumpulan orang berkumpul melingkar, di tengahnya ada orang yang entah sedang membaca puisi atau sedang bermonolog. Dan pemandangan itu menimbulkan kekaguman buat saya. Ketika saya kuliah di STSI bandung, jurusan Teater, saya pun segera mengusulkan agar anak-anak teater angkatan saya mengadakan hal serupa. Dengan konsep, meramaikan jalan bandung dengan seni. Tidak peduli ada penonton atau tidak, tidak peduli apa yang ingin ditampilkan oleh masing-masing pesertanya, bahkan yang menonton pun (kalau ada) boleh ikut serta mengekspresikan rasa seninya.

“Program” itu berjalan selama tiga minggu. Tiap malam rabu kita berkumpul di lapangan gasibu (yang di pinggir jalan rayanya). Kita berkumpul, dikelilingi lilin, berpuisi, monolog, olah gerak, dan apa pun bentuk ekspresi yang disampaikan setiap orang yang ikut. Pada minggu pertama, tidak ada penonton sama sekali. Pada minggu kedua, ada dua orang yang lewat, dan nonton, untuk kemudian mau bergabung, minggu ketiga ada fotografer yang kebetulan lewat  mengabadikan momen-momen tersebut. Minggu keempat dan selanjutnya hening, kegiatan ini tidak berlanjut.’ Dan masih ada beberapa ide yang terealisasi untuk kemudian mati lagi.

Menggali ide itu sulit (bagi yang tidak membiasakan), tapi mempertahankan konsistensi itu lebih sulit. Sudah beberapa kali saya mendiskusikan ini dengan beberapa orang berbeda, yang juga mengalami masalah serupa. Apalagi buat orang yang punya sifat gampang bosan seperti saya. Perlu kesadaran dan latihan untuk mengatasinya.

Semangat itu seperti api, dia akan menyala selama asupan bahan bakarnya tetap terjaga. Apa saja asupannya? Itu berbeda pada tiap karakter seseorang. Bisa dukungan, bisa sebuah sebab, kondisi, apapun. Semangat adalah energi, kita harus mengatur penggunaannya sedemikian rupa, agar tidak kehabisan energi di awal.

Sebelum kita dapat menyelesaikan sebuah masalah, terlebih dulu kita mesti telaah apa penyebab masalah tersebut. Saya coba buat kerangkanya berdasarkan telaah sendiri, baik atas kasus saya ataupun kasus orang lain (yang tidak diceritakan disini):

  1. Rasa Bosan
    Poin ini saya tujukan kepada sebuah ide yang berjalan cukup lama, kemudian terjadi masa-masa hambar di tengah perjalanannya.  Mungkin pada titik ini masanya untu re-orientasi kembali sebuah ide, mencari sebuah bentuk baru (bukan esensi baru). Apabila ide ini dijalani  oleh sekelompok orang, baik kalau dibuka diskusi mengenai re-orientasi kembali pelaksanaan ide tersebut. Paling gampangnya, simplify pelaksanaanya, hilangkan atribut-atribut/ritual-ritual yang tidak begitu penting. Yang penting adalah esensi idenya tetap sama.
  2. Rasa ingin tahu (curiousity) yang terlalu tinggi
    Pada orang-orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi, saya lihat banyak sekali hal yang tidak terselesaikan atau berhenti di tengah-tengah. Orang-orang dengan curiousity tinggi biasanya akan mulai melaksanakan idenya dengan antusiasme dan konsentrasi sangat tinggi. Sehingga ketika dia mulai menguasai sebuah ide baru, dan saat mengerjakan hal-hal rutin sebagai perwujudan ide tersebut dia menemukan hal lain yang lebih baru, dia akan hentikan pelaksanaan ide sebelumnya dan beralih kepada yang baru.
  3. Status quo, anti-perubahan
    Terkadang, saking sayangnya orang dan saking merasa idenya sudah paling benar, telinganya tertutup dari alternatif-alternatif ide lain walau memiliki tujuan serupa. Apabila pelaksanaannya melibatkan orang lain, bisa dipastikan ide ini akan kehilangan legislasinya pada pelaku selain pemilik ide. Karena ketika kita ingin sebuah ide dilaksanakan oleh sekumpulan orang, kita harus dapat membuat ide ini ‘dimiliki’ oleh orang lain juga. Dan resiko sebuah ide menjadi ‘milik bersama’ adalah satu; ide itu akan berkembang.
  4. Habisnya energi pada titik niat (over excited)
    Pada medio 2004, saya pernah menyampaikan ide untuk melakukan sesuatu kepada kawan saya Aves. Saya sampai bersemangat sampai tak bisa berhenti memikirkannya. Teman saya itu mengingatkan saya supaya menyimpan energi untuk pelaksanaannya nanti. Dia bilang: “Ba, sekarang udah jelas maksud tujuannya, udah lupain, dalam arti gunakan energi untuk niat 50% aja, kalau perlu di bawah itu. Sisanya untuk pelaksanaannya.” Semenjak itu saya selalu mewanti-wanti diri saya sendiri untuk mencegah terjadinya over-excited tadi.
  5. Perkembangan yang terlalu rumit dan kompleks pada tahap ide awal (konsep)
    Saya berikan contoh kasus untuk poin ini. Pembuatan situs alumni atau portal seringkali gagal karena ide awal yang terlalu ‘bengkak’. Karena mau ada ini-ada itu yang mana pada pembuatannya menjadi rumit, sehingga makan waktu daneffort yang tinggi. Padahal rata-rata itu dilakukan secara sukarela atau secara part-time yang akhirnya menyebabkan habisnya energi dan frustasi tambahan yang tak terjawab kenapa.
  6. Terlalu santai (liat nanti aja)
    Hal ini biasanya dimotori rasa ragu atau enggan dalam diri konseptor ataupun pada orang yang diajak untuk mewujudkan sebuah ide. Bisa jadi karena sudah terbayang ide tersebut akan sangat rumit untuk dilaksanakan. Perilaku seperti ini saya anggap praktik aborsi terhadap ide-ide, skeptisisme yang berlebihan. Cobalah dengarkan sebuah ide dengan gelas kosong di kepala, tanpa pejudice ataupun sangkaan-sangkaan tak perlu lainnya.
  7. Terlalu banyak kepala dilibatkan pada tataran konsep
    Ini terutama berlaku pada ide yang dibayangkan akan kolosal dan melibatkan orang banyak, karena itu sang konseptor merasa perlu untuk melibatkan kepala sebanyak mungkin. Agar idenya menjadi lebih matang dan mewadahi banyak orang. Padahal hal ini bisa berujung maut buat ide itu sendiri. Banyaknya kepala tidak akan membuat ide menjadi matang dan akhirnya lulus hingga pelaksanaan. Pertama, tidak semua orang adalah konseptor, malah banyak orang adalahactuator pelaksana. Kedua, terlalu banyak harapan dimasukkan dalam sebuah konsep, dapat menjadi konsep tersebut terlalu gemuk dan sulit dilaksanakan. Ketiga, belum tentu pikiran-pikiran yang banyak itu penting buat konsep tersebut. Keempat, tingkat kepahaman tiap orang (yang banyak itu) sangat beragam akan sebuah konsep, sangat sulit menyamakan pendapat dan definisi dasar tentang konsep ke banyak kepala dalam suatu waktu, dan ini berpengaruh terhadap usulan yang mereka ajukan. Buatlah konsep dengan sedikit orang, dan didorong oleh sebuah tim inti. Pelaksanaan baru melibatkan banyak orang.

Ada beberapa cara untuk menangani hal ini; secara sistem, atau melalui latihan. Reward and punishment merupakan sebuah contoh sistem untuk mengatasi hal ini. Latihan pribadi dengan memberi menetapkan target dan memaksa maju dalam kondisi termalas, merupakan contoh dari cara latihan.

Solusi yang ada di kepala saya untuk semua itu adalah: Start it simple, play it simple, keep it simple.

Mulailah sebuah ide dengan memperhitungkan dan memanfaatkan kekurangan para pelaku yang akan terlibat dalam pelaksanaan ide tersebut, baru kemudian kelebihan-kelebihannya. Dan biarkan ide berkembang dengan bebas, selama esensinya masih terjaga.

Challenge: Day 5

Tema hari kelima: Best Friend

Hmmpphh, pilihan yang sulit, tapi tetap harus bisa menentukan. Setelah pertimbangan dari segala sisi, baik dari segi interaksi, waktu, dan lain-lain.

Saya memutuskan untuk menggambar seorang karib saya sejak SD : Aves 🙂

Buat yang bersangkutan, maaaaaap banget kalo gambarnya seadanya 😛 😛 😛

Juga maap banget pilih ngegambar foto waktu lo di malaysia. Soalnya ironis banget, waktu itu orang lagi rame ‘ganyang Malaysia‘, lo malah berfoto dengan bangga di depan bangunan icon mereka

:)) :)) :))

de salute! 🙂

M. Rizky Avesena

day 5: my best friend

****PS, buat teman-temanku yang lain, jangan iri ya, kalian juga spesial kooook ^^

(ini sebagai indikator aja, kalo gue ditawarin masuk sorga, Aves yang gue ajak duluan masuk SETELAH GUE. Dan kalo ternyata ke neraka, gue minta aves WAKILIN GUE, kan kita sahabat ya vesssss 😛 😛 😛 =)) =)) =)) )

Bagaimana Menjadi Kita?

Beberapa waktu yang lalu, saya telah menuntut istri saya akan hal-hal yang ‘baku’ dalam sebuah rumah tangga. Belakangan baru saya sadari, tuntutan itu ternyata berpijak pada ‘konvensi rumah tangga ideal’ entah milik siapa. Meminjam imaji (gambaran) mengenai bentuk ideal yang hanya saya tahu kulit luarnya, saya menciptakan tuntutan-tuntutan. Membuat kerangka bagaimana hubungan kami seharusnya.

Sebagian berhasil (walau dengan aneh), dan sebagian besar gagal atau tidak bertahan lama. Kegagalan itu menghasilkan ‘frustasi-frustasi’ pada kedua pihak. Proses yang terjadi adalah seperti memaksa ikan air tawar hidup di lautan, dan sebaliknya. Ketika kita tidak mengoptimalkan apa yang telah dianugerahkan Tuhan (baca; bersyukur), maka mutlak akan berlaku peribahasa “rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman sendiri.” Tanpa melihat lebih jauh dia memakai pupuk apa, perawatannya bagaimana, kondisi lahannya seperti apa, dan hal-hal lainnya yang sebetulnya lebih penting untuk dipelajari.

Sehingga yang terjadi adalah penjiplakan ‘kehijauan rumput‘ tersebut. Kita beli rumput baru yang hijau, ditanam di halaman. Kita pandangi dan merasa senang olehnya. Tapi itu kesenangan semu. Karena ternyata beberapa hari kemudian rumput itu menjadi layu dan mati. Karena itu tadi, kita hanya memperhatikan hasilnya, tanpa mempelajari prosesnya.

Ketika berpacaran, yang ada di kepala adalah ‘kita’, anehnya, setelah beranjak ke jenjang pernikahan, seringkali ‘kita’ bergeser menjadi ‘aku’. Apa yang salah disini? Ketidakmengertian akan job description-kah? Atau karena ada  ruang-ruang pribadi yang hilang?

Bicara suami-istri, adalah bicara mengenai peran bulan dan matahari. Bicara suami-istri adalah bicara mengenai penyempurnaan karunia yang terpenggal. Contoh, wanita bisa melahirkan dan pria tidak, dan kelahiran tidak dapat dicapai hanya oleh satu pihak belaka. Suami-istri adalah pertemuan dua insan manusia yang unik. Yang seperti halnya zat-zat di alam semesta ini, percampuran dua unsur yang berbeda akan melahirkan sebuah unsur baru. Begitu pula perkara perkawinan. Bentuk hubungan tiap pasangan suami-istri sangat sangat dipengaruhi oleh karakter dua manusia yang hidup bersama itu sendiri. Tidak ada bentuk ideal yang pokok, yang baku, yang pasti benar.

Agama memberikan butir-butir yang membahas masalah hak dan kewajiban suami dan istri, beserta batasan-batasannya. Tapi itu hakikatnya adalah sebuah job description saja, AD (anggaran dasar) nya. Praktik di lapangannya memiliki varian opsi yang hanya dibatasi oleh tingkat kecerdasan pelakunya dalam menilai situasi sekitar.

Kesadaran ini mengingatkan saya tentang salah satu tujuan perkawinan, adalah mengukuhkan hidup berdua dalam suasana penuh pengertian. Dalam arti kita memahami potensi-pontensi dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Menikah bukanlah untuk merubah pribadi seseorang, tapi memunculkan potensi terbaik pasangannya, sehingga terjadi sinergi positif dalam bentuk yang orisinal. Tidak ada bentuk hubungan perkawinan yang baku, itu cuma kata orang, yang kemudian dijadikan komoditas bisnis dengan berbagai bentuknya. Dan semakin kita mengikuti kata orang, semakin jauh kita dari kata bahagia.

– “I’m sorry my lovely wife, i’ve blinded by my ego. I’ll learn, I’ll hear, I’ll read, more and more about you.” –