Tag Archives: ejekan pribadi

Ejekan Itu Punyaku; Privatisasi Ejekan

Pernah ada satu teman yang membahasakan ayahnya dalam obrolan ringan seperti ini; “Si goblok gak ngerti dia soal internet.” Kita teman-teman yang mendengarkan langsung ketawa ngakak. Karena memang dia orangnya kocak, cara penyampaian kocak, dan kejadian-kejadian dalam keluarganya juga banyak yang kocak.

Karena begitu sukanya saya pada idiom mengenai ayahnya yang dia gunakan, rasanya gatal mulut untuk ikut ‘berpesta’ dalam kelucuan penyebutan tersebut. Kelepasan lah saya suatu hari bertanya; “Gimana kabar si goblok kemaren?” Mungkin bisa disebut kebablasan, sebab sebelum bertanya begitu, saya sempat mikir-mikir, apakah akan menggunakan kata-kata tersebut atau tidak, akhirnya entah bagaimana, keluarlah kalimat itu. Reaksi yang saya dapat tidak terbayang oleh saya waktu itu. Sepintas ada raut ‘tidak terima’ di wajahnya, walau akhirnya menjawab sekenanya (tanpa mengulangi idiom tersebut seperti biasanya).

Saya langsung sadar sudah terlalu lancang menggunakan bahasa tentang ayahnya. Dan bertekad tidak akan pernah sembarangan ikut bicara mengenai ‘ejekan’ seseorang atas orang terdekat mereka. Waktu itu saya gagal memikirkan kenapa suasananya bisa berubah seperti itu? Kenapa ketika dia yang bilang tidak masalah, kenapa kalau saya yang menyebutkan jadi aneh. Ya, saya merasa aneh ketika mengucapkannya, dan teman saya pun bereaksi dengan aneh juga (baca; tidak suka).

Kemarin-kemarin saya ngobrol sama seorang teman (lupa siapanya, tolong yang ngerasa ngobrol sama saya ingetin lagi), dia bilang “ejekan itu pertanda/lambang dari keakraban antar orang.” Tanda keakraban. Saya ingat dalam beberapa momen tersendiri saya lebih suka menyebut teman saya dengan ‘si kiting’ ketimbang namanya ‘si Akbar’. Momennya seperti apa, susah juga ngungkapinnya. Tapi seingat saya, momennya itu ketika saya menyebutkan pencapaian-pencapaian yang dia raih, atau sedang membicarakan  ‘karakter’ atau kebiasaan dia. Yang mana itu merupakan sebuah obrolan yang intim, dekat.

Sudah jamak ketika kita dekat dengan seseorang, atau dalam suatu lingkar pertemanan. Seseorang memiliki ‘ejekan’, nickname, ‘julukan’ yang biasanya berkonotasi negatif. Walau berkonotasi negatif, tapi yang diberi julukan tidak sampai tersinggung dan menjadi ribut. Justru timbul rasa kedekatan tersendiri. Saya kadang suka menyapa kawan lama dengan ungkapan penuh kerinduan: “Apakabar bangsat?” sambil nyengir senang, dan dengan respon tawa menyegarkan dari teman yang saya sapa demikian.

Mungkin akan beda kalau misal saya dengar pertanyaan tadi (apakabar bangsat) ditujukan ke teman saya, dari musuh teman saya. Mungkin reseptor dalam otak saya akan mendelegasikan pengolahan reaksinya ke divisi emosi kesal dan marah. Karena itu teman saya, itu ejekan kami untuk dia. Musuh teman saya itu posisinya berada di luar lingkar keakraban kami.

Bagaimana kalau yang memanggil teman saya ‘bangsat’ itu bukan musuhnya? Melainkan teman baru, yang baru banget bersentuhan dengan lingkar pertemanan kami (kondisinya ‘baru bersentuhan’, belum pada tahap ‘diterima’)? Sikap itu menurut hemat saya adalah, apa yang disebut orang banyak SKSD (sok kenal sok deket).

Jadi, sekarang nampaknya saya sudah bisa sedikit paham, kenapa dulu teman saya tersinggung waktu saya ikut-ikutan menyebut ayahnya dengan ‘julukan keakraban’ dia. Itu karena walau saya dan dia berada dalam satu lingkar keakraban (pertemanan), tapi dia pun (sebagaimana saya) punya lingkar keakraban lain dengan keluarganya. Dan lingkar keakraban keluarganya dan lingkar keakraban pertemanan kami, adalah dua lingkaran berbeda, yang hanya bertemu (beririsan) pada teman saya itu, tidak sampai menyatu. Beda kalau misalkan kami juga akrab dengan ayahnya. It’s a whole different world.