Sekolah Berprestasi Itu yang Mana? Dan Sebenarnya Apa yang Sedang Mereka Jual?
Serius, penasaran…
Setiap kali ada sekolah yang mengklaim dirinya sebagai sekolah berprestasi, sebenarnya prestasi itu menurut siapa? Berdasarkan apa? Dan yang paling penting, apakah prestasi memang ukuran terbaik untuk menilai perkembangan seorang anak?
Coba deh kita pikir lagi, sebentar aja….
Semakin sebuah sekolah sibuk membangun reputasi sebagai sekolah berprestasi atau terbaik, semakin besar pula kepentingannya untuk menjaga reputasi itu. Segala sesuatu yang bisa membuat mereka terlihat buruk tentu menjadi sesuatu yang harus diantisipasi. Bahkan, bukan tidak mungkin ada persoalan-persoalan yang akhirnya lebih sibuk disembunyikan daripada diselesaikan.
Nah, ini yang perlu kita pertanyakan.
Ketika sebuah sekolah membanggakan dirinya sebagai sekolah untuk anak-anak berprestasi, pernah nggak orang tua bertanya: bagaimana perlakuan mereka terhadap anak-anak yang nggak berprestasi?
Apakah semua anak mendapatkan perhatian yang sama? Apakah anak yang tidak menonjol juga diberikan kesempatan untuk berkembang? Apakah anak yang kesulitan belajar tetap dihargai? Atau perhatian sekolah lebih banyak diberikan kepada anak-anak yang bisa mengharumkan nama institusi?
Terus, sebenarnya apa sih definisi prestasi itu?
Yuk, coba buka mata sebentar.
Anak-anak itu sudah berharga. Mereka tidak perlu memenangkan perlombaan, mendapatkan nilai sempurna, mengumpulkan medali, atau masuk daftar ranking untuk dianggap layak.
Anak tidak perlu membuktikan dirinya hebat dulu baru boleh diterima.
Diterima oleh siapa? Oleh orang tuanya, oleh lingkungannya, dan oleh sekolahnya.
Mereka sudah berharga sebelum semua itu. Titik.
Jadi, kalau ada sekolah yang mengklaim dirinya sebagai sekolah untuk anak-anak berprestasi, saya ingin tahu: mereka sebenarnya sedang membangun lingkungan pendidikan untuk semua anak, atau sedang mengumpulkan anak-anak yang bisa memperkuat reputasi sekolah?
Mereka benar-benar peduli kepada anak-anak itu, atau sedang mengamankan lumbung bisnisnya?
Karena sekolah itu bukan tempat mengumpulkan anak-anak yang sudah jadi. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak bertumbuh, termasuk mereka yang belum tahu apa kelebihannya, belum menemukan potensinya, masih kesulitan, masih banyak melakukan kesalahan, bahkan masih harus belajar mengenali dirinya sendiri.
Nah, sekarang kita masuk ke persoalan yang jauh lebih serius: keselamatan anak.
Sekolah mana yang bisa menjamin tidak akan pernah terjadi bullying? Sekolah mana yang bisa menjamin tidak akan pernah terjadi kekerasan seksual?
Tidak ada sekolah yang bisa menjamin secara mutlak bahwa hal-hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.
Anak-anak datang ke sekolah bukan sebagai kanvas kosong. Mereka membawa pengalaman dari rumah, membawa konflik, membawa persoalan keluarga, membawa pola perilaku yang mereka pelajari dari lingkungannya. Semua itu kemudian bertemu dalam satu ruang bernama sekolah.
Maka, konflik bisa terjadi. Perundungan bisa terjadi. Kekerasan seksual bisa terjadi.
Bukan berarti kita menganggap semua itu wajar lalu membiarkannya. Jangan salah paham. Kekerasan bukan sesuatu yang boleh dinormalisasi.
Tetapi kita juga tidak bisa berpura-pura bahwa sekolah tertentu kebal terhadap kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut.
Justru menurut saya, pertanyaan orang tua jangan berhenti pada:
“Di sekolah ini pernah ada bullying nggak?”
Tanyakan juga:
“Kalau terjadi bullying, apa yang dilakukan sekolah?”
“Kalau ada anak melaporkan kekerasan seksual, bagaimana respons sekolah?”
“Apakah mereka punya mekanisme perlindungan yang jelas dan sesuai dengan aturan perlindungan anak?”
“Apakah mereka melindungi anak yang menjadi korban?”
“Apakah mereka berani mengambil tindakan terhadap pelaku, siapa pun orangnya dan apa pun posisinya di sekolah?”
“Apakah mereka memastikan anak mendapatkan pendampingan dan pemulihan?”
“Apakah mereka memperbaiki sistem supaya kejadian serupa tidak terulang?”
Dan satu lagi, apakah mereka berani melakukan semua itu meskipun nama baik sekolahnya mungkin ikut terkena dampak?
Nah, di situ saya ingin melihat kualitas sebuah sekolah.
Sekolah yang baik bukan sekolah yang bisa menjanjikan bahwa tidak akan pernah ada masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak meninggalkan anak-anak ketika masalah itu muncul.
Jangan sampai sekolah lebih sibuk menyelamatkan nama baiknya daripada menyelamatkan anak.
Menjaga privasi anak itu wajib. Identitas korban harus dilindungi. Tetapi jangan mencampuradukkan perlindungan privasi dengan upaya menutupi “borok” institusi.
Itu dua hal yang berbeda.
Kalau memang ada persoalan, ya hadapi. Kalau ada kegagalan sistem, ya perbaiki. Kalau ada anak yang membutuhkan perlindungan, ya lindungi.
Jangan malah sibuk memikirkan bagaimana supaya publik tidak tahu.
Lalu, mari kita bicara tentang apa yang sebenarnya sedang dijual oleh sekolah.
Saya pernah mendengar seorang orang tua bercerita dengan sangat bangga tentang sekolah anaknya. Sekolahnya terkenal, mahal, dan punya nama besar. Nama sekolah itu bahkan sama dengan nama kawasan perumahan, shopping mall, dan berbagai bisnis lain yang berada di bawah satu korporasi.
Salah satu hal yang membuat orang tua tersebut begitu kagum adalah bagaimana guru-gurunya sampai bela-belain membeli jahe, kunyit, kapulaga, pekak, dan berbagai macam rempah untuk dibawa ke sekolah.
Anak-anak diajak mengenali bentuk, tekstur, aroma, dan warna rempah-rempah itu.
Look, feel, and smell.
Anak-anak bisa melihat, menyentuh, mencium, membandingkan, dan mengenali benda-benda yang ada di sekitar mereka.
Bagus? Ya, bagus. Saya tidak sedang mengatakan itu kegiatan yang buruk.
Tetapi kemudian saya berpikir, memangnya pengalaman seperti itu hanya bisa didapatkan di sekolah mahal?
Lho, itu kegiatan sehari-hari yang saya lakukan dengan anak saya!
Dan ini bukan teori. Betul-betul saya lakukan.
Saya cukup mengajak anak ke tukang sayur.
Setiap pagi, ketika saya memilih bahan makanan, anak saya ikut melihat-lihat.
“Bunda, ini apa?”
“Oh, itu daun salam.”
“Kalau ini daun apa?”
“Itu daun kangkung.”
“Kalau ini?”
“Itu daun bayam.”
“Warna daunnya sama-sama hijau, ya, tetapi bentuknya berbeda.”
Terus dia melihat rempah-rempah.
“Ini apa? Kok penuh tanah?”
“Ini jahe, Nak. Memang tumbuhnya di dalam tanah.”
“Kalau yang ini?”
“Itu kunyit.”
“Kok Bunda tahu bedanya?”
Ya kita jelaskan. Kita kasih lihat. Kita biarkan dia pegang, mencium aromanya, membandingkan bentuknya.
Kita bisa ajak dia mengamati. Coba lihat warnanya, coba cium aromanya, coba bandingkan bentuknya. Apa bedanya jahe dan kunyit? Kenapa bentuknya berbeda? Apa yang bisa kita buat dari bahan-bahan ini?
Dia juga bisa mulai mengenali kapulaga, pekak, berbagai macam bumbu, sayuran, dan bahan makanan lainnya. Lama-lama dia tahu kalau mau memasak makanan tertentu, bahan-bahan yang perlu disiapkan itu apa saja.
Sederhana sekali, kan?
Saya sedang membeli bahan makanan untuk memasak, anak saya ikut belajar. Saya juga belajar. Belajar sabar, belajar menjawab pertanyaan, dan ikut masuk ke dalam rasa ingin tahunya.
Jadi, kenapa tidak sekalian melibatkan anak?
Apa yang diperlukan?
Waktu.
Dan sedikit kesediaan untuk tidak selalu menganggap anak sebagai pengganggu aktivitas orang dewasa.
Kita sedang memilih sayur, ajak anak ngobrol. Kita sedang memasak, biarkan anak bertanya. Kita sedang menyusun daftar belanja, ajak anak berpikir apa yang perlu dibeli.
Anak belajar mengenali aroma, warna, bentuk, tekstur, nama benda, fungsi benda, bahkan belajar mengambil keputusan.
Dia belajar menghubungkan apa yang dilihatnya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak harus selalu ada kelas khusus. Tidak harus selalu ada worksheet. Tidak harus semua kegiatan diberi nama kurikulum yang terdengar canggih.
Saya tidak sedang meremehkan Montessori, Cambridge, atau pendekatan pendidikan lainnya. Silakan gunakan metode apa pun yang memang punya nilai dan tujuan pembelajaran yang jelas.
Tetapi jangan sampai orang tua kehilangan kemampuan berpikir kritis hanya karena sebuah kegiatan diberi label kurikulum tertentu dan dikemas dengan sangat menarik.
Memangnya kita tidak bisa melakukan itu sendiri?
Memangnya pengalaman belajar hanya bisa terjadi ketika anak berada di sekolah?
Tidak semua ibu pergi ke pasar. Tidak semua keluarga berbelanja sendiri ke tukang sayur. Ada yang memang menggunakan bantuan orang lain untuk mengerjakannya. Tidak masalah.
Tetapi sesekali, kenapa tidak kita lakukan sendiri bersama anak?
Bukan karena kita tidak punya orang yang bisa membantu. Bukan pula karena pekerjaan itu terlalu penting untuk dikerjakan orang lain.
Tetapi karena ada pengalaman yang memang ingin kita bagikan sendiri kepada anak.
Ada hal-hal yang bisa dikerjakan orang lain untuk kita, tetapi relasi yang terbangun ketika kita mengerjakannya bersama anak tidak bisa begitu saja dialihkan.
Kita ingin anak mengenal dunia, ya ajak mereka masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan mereka mengeksplorasi. Biarkan mereka bertanya. Biarkan mereka menemukan hal-hal kecil yang mungkin selama ini kita anggap biasa.
Dan percaya deh, di situ keajaiban terjadi.
Ketika kita melihat dunia dari perspektif anak, dunia jadi punya warna yang berbeda. Hal-hal yang selama ini kita anggap biasa bisa menjadi sesuatu yang luar biasa bagi mereka.
Kita perlu membuat anak-anak grounded. Mengenal lingkungan, mengenal kehidupan, memahami hubungan antara apa yang mereka lihat dan apa yang mereka lakukan.
Jangan sampai kita membayar mahal untuk membeli pengalaman yang sebenarnya bisa kita bangun sendiri, lalu lupa bahwa ada hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua.
Dan ini juga berlaku untuk hal-hal lain yang dipamerkan sekolah.
Saya kadang gemas ketika sesuatu yang sebenarnya sederhana dibuat seolah-olah sangat kompleks. Seolah-olah untuk sekadar bilang “selamat pagi” saja perlu pakai AI.
Lho, memangnya sudah sampai di titik seperti itu?
Tidak ada yang salah dengan AI. Saya juga tidak sedang menolak teknologi. Tetapi apa sebenarnya nilai tambah yang sedang ditawarkan?
Orang tua, please deh, jangan gampang gumunan sama kemasan.
Tanyakan substansinya. Apa yang benar-benar dipelajari anak? Apa nilai tambahnya? Apakah kegiatan itu memang membutuhkan fasilitas dan keahlian khusus, atau sebenarnya bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari?
Jangan sampai kita menjadi konsumen yang terlalu mudah dibuat kagum oleh materi promosi.
Nah, orang tua, ayo coba refleksi sebentar. Sebenarnya, apa yang sedang kita cari ketika memilih sekolah?
Semoga bukan karena faktor gengsi, ya….
Kita sering sekali menuntut anak untuk berkembang. Kita minta mereka belajar, kita minta mereka memperbaiki diri, kita minta mereka menunjukkan hasil.
Tapi orang tua sendiri bagaimana?
Apakah kita juga sedang berproses? Apakah kita juga bersedia belajar? Apakah kita juga mau mengingatkan diri sendiri bahwa semuanya masih dalam proses?
Anak-anak masih tumbuh. Kita juga masih tumbuh.
Jadi, kenapa kita begitu terburu-buru meminta hasil?
Hargai prosesnya. Bukan cuma proses anak, tetapi juga proses kita sebagai orang tua.
Ayo tumbuh bersama. Kita tumbuh bersama anak-anak kita.
Hari ini mungkin mereka belum bisa. Besok mungkin masih belum bisa. Minggu depan mungkin masih melakukan kesalahan yang sama. Tidak apa-apa. Kita dampingi, kita evaluasi, kita coba lagi.
Namanya juga proses.
Dan proses itu tidak selalu berjalan lurus. Tidak ada garis finish yang kemudian membuat kita bisa berkata, “Nah, selesai. Anak saya sudah berhasil. Saya juga sudah berhasil menjadi orang tua.”
ga ada.
Proses pendidikan itu berulang. Kita terus berinteraksi, mencoba, mengamati, memberikan umpan balik, memperbaiki pendekatan, kemudian mengulanginya lagi. Ada perkembangan, ada kemunduran, ada penemuan baru, ada kesalahan yang perlu diperbaiki.
Looping terus.
Tidak pernah benar-benar tuntas. Tidak ada finalisasi. Tidak ada titik ketika kita bisa berhenti belajar dan menganggap semuanya sudah selesai.
Jadi, jangan terjebak pada fixed mindset. Jangan menganggap kemampuan anak sudah ditentukan oleh nilai, ranking, atau prestasi yang terlihat hari ini.
Dan jangan pula menganggap keberhasilan sebagai sesuatu yang bisa dibeli dalam satu paket pendidikan.
Tidak ada hasil instan.
Nah, sekarang saya mau mengajukan satu pertanyaan yang mungkin bikin nggak nyaman.
Jangan-jangan, yang sebenarnya sedang dibeli dari sekolah mahal dan terkenal itu bukan semata-mata pendidikan untuk anak.
Jangan-jangan, yang sedang kamu beli adalah obat untuk anxiety-mu sendiri, wahai orang tua.
Kita ingin merasa tenang. Ingin merasa bahwa anak kita berada di tempat terbaik. Ingin merasa bahwa masa depannya sudah diamankan. Ingin merasa bahwa karena sudah membayar mahal, semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Tetapi, memangnya ada obat untuk kecemasan seperti itu?
Kamu bisa pindah ke sekolah yang lebih mahal. Bisa mencari sekolah dengan nama yang lebih besar. Bisa mencari kurikulum yang lebih eksklusif. Bisa membeli berbagai fasilitas dan program tambahan.
Tetapi rasa cemas itu tidak otomatis hilang.
Ya, nggak akan pernah ada obatnya kalau yang kita cari adalah jaminan bahwa hidup anak akan selalu aman, selalu berhasil, dan selalu baik-baik saja.
Karena pendidikan tidak pernah memberikan jaminan hasil instan. Tidak ada sekolah yang bisa mengambil alih seluruh ketidakpastian dalam proses tumbuh kembang manusia.
Kalau yang kita cari adalah jaminan bahwa anak akan selalu berhasil, tidak pernah gagal, tidak pernah mengalami masalah, dan selalu berada di lingkungan yang sempurna, ya kita tidak akan pernah menemukannya.
Yang perlu kita bangun bukan ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yang perlu kita bangun adalah kemampuan anak untuk belajar, menghadapi persoalan, mengenali kesalahan, bangkit kembali, dan terus bertumbuh. Sementara kita sebagai orang tua juga harus terus belajar mendampingi mereka.
Dan satu hal lagi: sekolah itu bukan daycare.
Tolong, jangan menyerahkan seluruh tanggung jawab pengawasan dan perkembangan anak kepada sekolah hanya karena kita sudah membayar uang pendidikan yang mahal.
Pagi anak diantar, sore dijemput. Kemudian kita menganggap semua urusan pendidikan dan pengawasan sudah selesai karena ada institusi yang bertanggung jawab di sana.
Nggak bisa gitu, Boss.
Sekolah memang punya tanggung jawab mendidik, mengawasi, dan melindungi semua anak di dalamnya. Tetapi orang tua juga tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.
Kita perlu terjun langsung. Kenali lingkungan sekolah. Kenali bagaimana sistemnya bekerja. Perhatikan siapa saja yang berinteraksi dengan anak-anak. Dengarkan cerita mereka. Perhatikan perubahan perilakunya. Jangan takut bertanya. Jangan takut mempertanyakan sesuatu yang memang perlu dipertanyakan.
Dan tolong, pengawasan itu jangan hanya dilakukan ketika anak kita sendiri mengalami masalah.
Perhatikan juga bagaimana sekolah memperlakukan anak-anak lainnya.
Karena pendidikan bukan hanya tentang memastikan anak kita aman dan berhasil. Pendidikan juga tentang memastikan bahwa anak-anak lain mendapatkan hak yang sama.
Kasus Daycare Little Aresha di Yogyakarta seharusnya menjadi bahan pembelajaran serius bagi kita semua. Pada 28 Oktober 2026, sebelas pengasuh dalam perkara tersebut dijatuhi hukuman penjara antara dua hingga tiga tahun oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta. Ini mengingatkan kita bahwa mempercayakan anak kepada sebuah institusi tidak otomatis berarti anak sudah berada dalam lingkungan yang aman.
Yuk, belajar dari situ.
Jangan menganggap sebuah institusi aman hanya karena gedungnya bagus, namanya terkenal, biaya pendidikannya mahal, atau konten media sosialnya terlihat sempurna.
Lihat bagaimana mereka bekerja ketika tidak ada kamera.
Lihat bagaimana sistem pengawasannya. Bagaimana laporan ditangani. Bagaimana anak-anak dilindungi. Apakah ada mekanisme pertanggungjawaban yang jelas?
Dan apakah orang tua benar-benar terlibat dalam pengawasan?
Kita tidak sedang mencari institusi yang sempurna. Kita sedang mencari institusi yang punya tanggung jawab dan keberanian untuk menghadapi kenyataan.
Nah, sekarang saya ingin kembali ke pertanyaan awal: sekolah terbaik itu sebenarnya sekolah yang seperti apa?
Bagi saya, sekolah terbaik adalah sekolah tempat anak-anak menganggap belajar sebagai proses bertualang.
Bukan berarti setiap hari mereka harus selalu senang, semua kegiatan harus menyenangkan, atau tidak boleh ada kesulitan. Tetapi mereka punya rasa ingin tahu. Mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka ingin bertanya lagi, mencoba lagi, dan belajar lebih banyak.
Lingkungan di sekitarnya selalu memberikan inspirasi untuk belajar. Bukan hanya guru dan ruang kelas, tetapi juga teman-teman, interaksi, kegiatan, dan pengalaman yang mereka temui setiap hari.
Dan ketika mereka gagal?
Lingkungan itu tetap menerima mereka.
Anak-anak perlu tahu bahwa kegagalan bukan sesuatu yang membuat mereka kehilangan tempat. Mereka perlu memahami bahwa gagal adalah bagian dari proses belajar. Mereka boleh kecewa, boleh sedih, boleh membutuhkan waktu untuk mencoba lagi.
Kemudian mereka bangkit.
Dan ketika berhasil bangkit kembali, mereka sendiri tahu bahwa mereka sudah berusaha, belajar dari kesalahan, dan berhasil melewati sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Mereka bangga terhadap dirinya sendiri.
Bagi saya, sekolah yang baik juga harus mampu memberikan ruang aman bagi murid-muridnya. Ruang untuk bertanya, mencoba, berpendapat, melakukan kesalahan, dan menemukan makna dari setiap kegiatan yang mereka lakukan.
Anak tidak seharusnya melakukan sesuatu hanya supaya terlihat keren di depan orang lain. Bukan hanya supaya mendapatkan pujian, nilai bagus, atau pengakuan.
Mereka perlu punya kesempatan untuk menemukan dirinya sendiri.
Apa yang mereka sukai? Apa yang mereka pedulikan? Apa yang ingin mereka pelajari? Apa yang bisa mereka berikan kepada lingkungan sekitarnya?
Mereka perlu belajar memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mencari aman untuk diri sendiri, mengumpulkan prestasi, atau mendapatkan pengakuan.
Ada orang lain di sekitar mereka. Ada masyarakat. Ada persoalan yang perlu dipahami. Ada kesempatan untuk memberikan manfaat.
Saya ingin anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bukan hanya mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi juga punya kesadaran untuk hadir dan memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Lalu, bagaimana dengan keberpihakan sekolah kepada semua anak?
Tentu saja, idealnya sekolah bisa berpihak kepada semua anak. Semua mendapatkan perhatian, kesempatan, perlindungan, dan dukungan yang mereka butuhkan.
Tetapi kita juga harus realistis. Dalam praktiknya, kebutuhan setiap anak berbeda. Sumber daya sekolah terbatas. Perhatian guru terbatas. Ada situasi ketika sekolah harus menentukan prioritas.
Kalau memang harus ada prioritas, berpihaklah kepada mereka yang lebih rentan.
Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Anak yang mengalami kesulitan belajar. Anak yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan. Anak yang mengalami kekerasan. Anak yang tidak punya kemampuan untuk menyuarakan kepentingannya sendiri. Anak yang sering tidak terlihat karena tidak menonjol secara akademis maupun sosial.
Jangan justru memberikan perhatian paling besar kepada mereka yang sudah punya banyak keunggulan.
Mereka yang lebih rentan membutuhkan dukungan lebih besar agar bisa mendapatkan kesempatan yang adil.
Dan ini bukan berarti anak-anak yang berprestasi tidak perlu diperhatikan. Bukan begitu. Semua anak tetap punya hak untuk berkembang.
Tetapi keadilan tidak selalu berarti memberikan hal yang persis sama kepada semua anak. Terkadang, mereka yang membutuhkan lebih banyak dukungan memang harus mendapatkan perhatian lebih.
Bagi saya, di situlah keberpihakan sebuah institusi pendidikan diuji: kemampuan untuk tahu kapan harus melindungi mereka yang rentan, dan kapan harus mendorong mereka yang sudah unggul untuk berkembang lebih jauh.
Bahkan, kalau sebuah sekolah hanya berpihak kepada anak kita sendiri, sementara anak-anak lain di sana diabaikan, diperlakukan tidak adil, atau tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya, menurut saya saat itu juga sekolah tersebut sudah gagal menjalankan tanggung jawab pendidikannya.
Kita tidak bisa merasa puas hanya karena anak kita baik-baik saja sementara anak lain sedang mengalami sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Jangan sampai kita baru peduli ketika masalah itu mengetuk pintu rumah sendiri.
Sekolah itu ruang bersama. Anak-anak kita hidup dan bertumbuh bersama anak-anak lainnya. Jadi, keselamatan dan kesejahteraan mereka juga tidak bisa dipisahkan.
Kalau kita ingin sekolah yang baik untuk anak kita, kita juga harus peduli apakah sekolah itu baik untuk anak-anak yang lain.
Jadi, mari jangan hanya bertanya:
“Apakah sekolah ini termasuk sekolah terbaik?”
Tanyakan juga:
“Bagaimana sekolah ini memperlakukan anak-anak yang tidak berprestasi?”
“Bagaimana mereka menangani anak yang menjadi korban?”
“Bagaimana mereka memperlakukan anak yang berbeda?”
“Apakah mereka berani bertanggung jawab ketika terjadi sesuatu yang tidak beres?”
“Apakah anak-anak di sana senang belajar, berani mencoba, dan tidak takut gagal?”
“Apakah mereka punya ruang untuk menemukan dirinya sendiri dan belajar memberikan manfaat bagi orang lain?”
Dan jangan lupa bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya sudah cukup terlibat dalam pendidikan dan pengawasan anak-anak di lingkungan sekolah?”
“Apakah saya juga bersedia menghargai proses, bukan hanya menuntut hasil?”
Karena pendidikan bukan urusan sekolah sendirian.
Sekolah bukan tempat untuk mengumpulkan anak-anak yang sudah dianggap berhasil. Sekolah adalah tempat semua anak seharusnya mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh.
Dan bagi saya, sekolah terbaik bukan sekolah yang paling pandai menjaga citra, paling mahal, paling terkenal, atau paling banyak memamerkan prestasi.
Sekolah terbaik adalah sekolah yang membuat anak senang belajar, berani gagal, punya ruang untuk menemukan dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi manusia yang peduli kepada sekitarnya. Sekolah yang berpihak kepada semua anak, terutama mereka yang paling membutuhkan perlindungan dan dukungan.
Sebab pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukan reputasi sekolah.
Yang perlu kita jaga adalah anak-anak.