Category Archives: Ndree

Hancurkan dan Lukislah Aku

Jika memandang saja sudah cukup

Lalu takutkah kau untuk menyentuh

Bagaimanapun sentuhan takkan mengubah

Pelukan takkan menggugah

 

Mungkin tangisan akan membuyarkan

Menghancurkan..

Mengosongkan..

 

Dan kemudian, dimulailah lagi cerita baru

Dilukiskan kembali coretan yang halus

Sehingga suatu hari nanti aku menjadi lukisan baru

Sedikit Kisah dan Secercah Kilau

Sedikit hati bagi yang tak memiliki

Sedikit bumi bagi yang tak berpijak

Sedikit hangat bagi yang membeku

Sedikit cinta bagi yang kehilangan

 

Secercah cahaya bagi yang kelam

Secercah harapan bagi yang putus asa

Secercah angin sejuk bagi yang gelisah

Secercah sentuhan bagi yang ketakutan

 

Sedikit sakit untukku yang lupa diri

Secercah senyum untukku yang tak berwajah

 

 

The Sun Stealer

If you can’t see the Sun shining recently,

That is because someone hide it.

She  just want to feel the warmth,

she just want to rest and secure

Don’t blame her for stealing the Sun for a while

Don’t judge her for making the sky cried

And after a while, she will return the Sun

And crawling back with a smile

Seiris Tawa

hai kamu yang disana

sedang gundahkah hatimu?

mari kuberi seiris tawa milikku

dan hey, kamu yang sedang tertunduk terpuruk

apakah batinmu sedang tertusuk?

mari kuhangatkan seiris tawa milikku dalam peluk

oh dan kamu yang sedang berdiri tegak dengan bangga

tiadakah duka di dada?

Kereta Takdir

Terlampau cepat kau melaju..
Hingga jiwaku terurai oleh kencangnya angin berhembus.
Buyar sudah harapan dan mimpi
Semua sahabat dan orang terkasih menghilang sekelebatan mata

Aku tetap terbawa dan tak dapat berhenti
Tak ada lagi pikiran statis untuk merenung
Tak dapat lagi kusesali serpihan-serpihan yang telah menghilang

Hanya berharap kereta ini berhenti
Entah di kaki langit atau di dasar bumi
Selamat tinggal temanku yang terkasih

Ego dalam kubik

Kalimat yang terlontar hari itu..
seharusnya tak pernah kuucapkan.
Sungguh buruk akibat yang kusebabkan karenanya.

Terkurung…
Tak mampu bergerak bebas…
Nafasku nyaris tak bersambut dengan udara bebas
Aku tertipu…

Hanya karena terbuai oleh hukum medan magnet, aku lupa diri.
Bahkan otak kiriku menjadi bebal.
Kakiku yang sudah terbiasa mampu menumpu beban, kini menjadi lemas bergantung.

Kupaksakan mulutku dengan gulali omong kosong. Hingga hanya manis yang kurasakan.
Lupa akan ke’alpa’an air jernih yang lebih menyegarkan.
Situasi yang terus menerus kuulang sendiri.
Sampai tebal rasanya kulit ini.
Tak dapat lagi tertembus oleh kritikan pedas dari dunia.

Sungguh aku tertipu…
Sungguh aku lupa diri…
Sungguh…
Aku hanya manusia…

Kita adalah Binary

Ada saat dimana ku sendiri
Terdiam dan tersungkur tak bergerak
Di tengah hamparan kekosongan alam pikiran
Tanpa tersentuh oleh panas dan sejuk
Hanya terdiam dan disertai oleh dialog batin …

1 : Sudah selesaikah ?
0 : Belum, aku masih menunggu
1 : Cepatlah tersadar, perjalanan masih panjang
0 : Apa maksudmu ? Aku kehilangan arah
1 : Tolol! Kau memiliki penunjuk arah
0 : Sudah kubuang jauh-jauh hari
1 : Apa ? (setengah membentak)
0 : Bisakah kau diam? Aku sedang beristirahat sejenak
1 : Kau sudah beristirahat sejak berabad-abad silam!
0 : Ya, tapi aku masih lelah, memang aku ditugaskan untuk diam
1 : Lalu ? Kau pikir aku tidak mengenal lelah ?
0 : Hei! Itu kan tugasmu
1 : Tapi aku muak!
0 : Luapkan protesmu pada pencipta kita
1 : Dan kau pikir akan berubah begitu saja? Tentu saja tidak! Semua umat sudah terbiasa
dengan keadaan ini.
0 : Berarti aku tidak salah. Sudah aku mau tidur..
1 : (Menggerutu)

Mereka meneruskan kesibukan itu hingga akhir jaman
Dengan rasa puas dan kesal
Dengan rasa bosan dan pasrah

Kecil Hati

Saat ini aku bimbang,
bimbang tak perlu yang kucari sendiri
Mulai takut pada usiaku yang bertambah
Mulai ragu pada diriku yang belum bisa apa-apa
Belum pernah kurasakan kesusahan mencari rejeki
Belum pernah kurasakan sakitnya melahirkan jiwa
Belum pernah pula kurasakan sulitnya membina keluarga

Sudah dewasakah aku?
Masih terlalu mudakah aku?
Apakah aku sudah siap membela hak milikku?
Apakah aku sudah berani memiliki sesuatu?

Bahkan jalanku belum lurus
Bahkan aku tidak bisa teriak kesal
Bahkan aku tidak dapat memilih musuh
Bahkan aku belum bisa mengasihi dengan sungguh-sungguh

Aku malu…
Pada usia dan jalan yang selama ini kulalui
Pada keluarga yang menyokong punggungku
Pada teman-teman yang selalu mendukungku
Karena ternyata,
Aku belum menjadi siapa-siapa

🙁

Kesadaran Yang Palindrom

Di balik jendela ini aku memandang gerimis
mengandaikan ragaku sepnuhnya diluar
dan merasakan tetesan-tetesan air menyentuh kulitku
mungkin panas jiwa ini akan menguap cepat

Kemudian,
memandang ke atas, ke arah datangnya hujan
memburamkan mataku yang berusaha melihat dengan jelas
membuyarkan kepribadian yang ingin kuperjelas
dan ketika kabut melanda pikiran,
Aku terpaku…
menikmati terangkatnya tanganku yang basah
mengusapkan keduanya ke wajahku
dengan penuh harap mengumpulkan kesadaran
dan memaksa diriku berlari ke dalam
duduk termenung memandang ke luar jendela
kembali mengandaikan diriku di luar

Hanya saja…
aku sudah terlanjur basah
sehingga keinginanku sedikit terbendung

Prasangka

Kukira suara air hujan terdengar
Tidak…
Itu suara kegelisahanku

Apakah itu kilat menyambar?
Tidak…
Itu ingatan masa lalu yang menyilaukan pandangan

Tangankukah yang mencoba meraih jendela?
Wajahkukah yang kulihat penuh duka?
Teriakankukah yang mengusik ketenangan?
Tidak…
Hanya jeritan hati dan prasangka
Ketakutan akan terulangnya kesalahan
Dan masa lalu yang menyakitkan

Sungguh keterlaluan…
Aku betul-betul manusia serakah
Selagi mengejar masa depan, aku tetap menggegam masa lalu
Aku tetap selalu menduga…
Dugaan yang menggelikan tentang sisi yang tak boleh diungkap