Category Archives: Mamat

Taati Hukum ya Nak!

Tak tahan lagi
Remang miang sengketa disini
Hancur luluh sepi seketika

Bungkuk jalannya, itu aku
Pucat mukanya, itu aku
Siapakah daku?

Aku bukan burung yang sabar di dalam sangkar
Atau ikan yang mengadu nasib di dalam aquarium
Apalagi semut yang mudah dihancurkan
Terus-terang, aku bukan beo yang mudah mengikuti
Kita tidak bisa ditekan…

MaMaT
15/08/02

Kuduga, Dunia sedang Kiamat

Fajar membela gelap pekat
Ketukan perut Bumi terdengar sampai ke darat
Aku termenung pucat
Mereka tertenun bak mayat

Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena air mengamuk dahsyat

Mentari yang slalu murung
Awan kelabu yang pura-pura hebat
Bendungan yang sudah tak terbendung
Hutan rimba pun sudah tak kuat

Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena tubuh dedaunan itu sudah tak kuat

Sekarang Dunia hendak ke Barat
Buta atas tipuan-tipuan yang memikat
Pada Zionis itu kita berkiblat
Karena perut pun, lapar amat sangat

Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena eksis nya si Barat

Ayunan nafsu pun menjadi shahih
Lantunan qalbu pun dianggap lampu merah
Ukiran amar ma’ruf pun sudah tertatih
Dunia sudah tak mengenal shahih
Karna Ad-Din pun dilukis berdarah

Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena dosa kita yang kian berlipat

MaMaT
05:10
28/02/05

Sahabat-ku

Cemara, ceritakan daku tentang sahabat sejati
Apalah arti bagi makhluk yang tak belulang
Khianat, ingkar, bagi batu yang keras
Itu bagimu, bukan bagiku

Ku cari gerimis dengan kesakitan
Tidak kan rapuh seperti kerupuk
Itu lah dia yang bersinar bagaikan bulan
Yang sabar bagaikan kura-kura di tepi pantai

MaMaT
2002

Hari esok, esok, esoknya lagi

Pagi yakin kujelang
Mata terbuka kulihat secarik sinar mentari
Kesegaran pu masuk kamar kost-an ku

Kesegaran inilah ku pergunakan…
Untuk berfikir positif,
Berfikir cerah,
Berfikir kedepan,
Berfikir esok, esok, esoknya lagi

Banyak yang harus kulakukan hari ini
Banyak yang harus kutuntaskan
Hari ini harus jadi milik-ku
Hari ini harus ku kuasai

Apakah esok adalah hari?
Bagaimana esok adalah “kematian”?
Sudah cukup kah “amal”?
Yang pasti, hari esok adalah kematian
Yang penting, hari esok harus lebih baik dari hari ini

Hari esok tidak identik dengan 24 jam kedepan
Atau 360 hari kedepan
Mungkin kah hari esok, mentari muncul dari barat

Hari ini harus ku kuasai
Dan aku tak takut lagi
Menghadapi hari esok, esok, dan esoknya lagi

MaMaT
09/09/02

Berfikir – bertindak

Sudahkah kau ingat pencipta mu
Sudahkah kau bayangkan maut
Sudahkah kau doa kan ibu bapak mu
Sudahkah kau suruh tulis amal baik mu pada malaikat

Sudahkah kau pelihara hubungan sosial mu
Sudahkah kau hampiri masa depan mu
Jangan sia-sia kan hari-hari mu
Karena kau telah ada

Jauhi dunia butamu
Dan sambut dunia terang mu
Jangan lari dari kejaran fakta
Urus diri mu,
Karena hanya kamu yang dapat mengubahnya

MaMaT
22/12/03

Mencoba memaknai Cinta

Bagi ku, cinta adalah sepucuk bintang dilangit
Yang cukup kupandangi
Yang tak mungkin kugapai
Yang tak tega ku sentuh

Dan ku kan senang
Pabila dia alami senang
Dengan menampakkan tawa terang-menerang nya
Dan ku kan sedih
Pabila dia alami redup
Dengan menampakkan cahaya cair di matanya
Dan ku kan cukup senang
Ketika dia menikmati kesenangan ini

Birlah ku pandangi mu dari rawa yang berduri
Asal kan kamu senang dan terang-menerang
Kamu panutan ku
Biarlah ku jadi kamu
Dan mengerti kamu

Apakah aku boleh berbisik
Dan memberi masukan tuk mu
Bahwa kamu akan terlihat lebih terang
Pabila bergeser sedikit lebih ke arah pandangan ku

MaMaT
2002

Tujuan

Ada apa dengan tujuan
Dia bukan sesuatu yang acuh
Seperti angin yang mampir
Kemana tujuan arjuna?
Otak bukan batu yang beku
Pikirkan lah kemana tujuan arjuna

Dedaunan bisa sintesis
Kita bisa planning
Kapal-kapal bisa berlabuh
Pelatih bisa ber-strategi
Gempa bisa gemuruh
Kita bisa menyerang

MaMaT
29/07/02

Trotoar – Trowongan

Mentari hilang entah kemana
Diganti bulan
Dibantu lampu-lampu kota
Dua yang bernyawa berada di trotoar trowongan

Ku rasa yang di rasa oleh nya
Kedinginan, menggigil
Suara jangkrik bersiul
Binatang-binatang besar yang berisik

Ku pandangi terus
Kadang-kadang tampak mengabur
Dimata ku yang tersapu angin

Ku dekati dua yang bernyawa
Ku ajak ber kata-kata
Lapar sudah biasa
Kenyang luar biasa
Itulah lantunan yang terderai
Dari dua yang bernyawa penerus Bangsa.

MaMaT
09/09/02

Tangisan seorang anak, Yang menanti kasih Bunda

Lama kunanti kasih bunda
Seperti menanti hujan di kemarau panjang
Kemarau itu rantauan
Dan hujan itu kasih sayang
Serta penantian itu waktu yang panjang

Lama kunanti kasih ibu
Kasih sayang seorang bunda
Yang tak dapat dikalahkan oleh siapa pun
Walaupun oleh conglomerate sekalipun
Atau saudara dekat, meskipun

Kunanti kehadiran bunda disisi ku
Yang dapat memberikan nasehat setiap saat
Yang dapat menerangiku dengan kasih nya
Sudah lama kunanti hampir enam decade

Mengapa dulu ku dilepas begitu saja
Mengapa harus di saat kecil ku
Pada masa yang sangat memerlukan kasih sayang
Kunanti kasih sayang bunda disisiku
Biar ia tahu apa isi hati ku

Aku tak ingin hidup istimewa
Seperti putera keraton
Aku tak ingin masa depan ku sukses
Seperti banyak conglomerate sesat
Tapi aku ingin hari esok ku lebih baik dari hari ini

Aku tak ingin hidup ku tertekan
Yang penuh ketakutan
Karena aku tak ingin hidupku diatur oleh orang lain
Aku hanya ingin semua orang menyayangi ku
Seperti teman-teman ku yang kehilangan ku

Tapi saat ini
Aku ingin menanti kasih sayang seorang bunda
Aku ingin dekat dengan ibuku
Karena itulah cita-cita ku saat ini

MaMaT
15/03/03