Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Bolehkah Aku

Bolehkah kuharap tatapmu pagi ini
Sedetik kerlingmu cerahkan hatiku

Bolehkah kupinta senyummu pagi ini
Permata yang kucari sejak mata terjaga

Bolehkah kunanti suaramu pagi ini
Seperti pengemis menanti di ujung jalan

Gelora ini
Meluap-luap
Dan penantian,
membuatnya tak tertahankan

Bolehkah

Aug, 7, 2019

Tetapi Kita Pergi

Andai kau gigih
mempertahankan hijau cemara rasa
atasku

mungkin tidak begini
jalannya novel kita
satu-dua kecup harusnya bertukar
tutur canda dan tangis amarah
mungkin saling berserah

andai aku sedikit bersabar
menapaki langkah-langkah
menujumu

mungkin penyesalan menjadi tawa
dan namamu tidak hanya terbayang

bila saja
kita bertahan disitu
pada titik stagnan tanpa arah

tidak begini,
tentu tidak begini.

Ternyata Kamu!

Aku lihat wajahmu
dan tersenyum,
Ya! Aku kenal kamu!
Ya! Itu yang pernah kurindu!

senyum yang melaju ringan
bagai sampan melayang ringan
ke hati
Ya! Aku tahu kamu!

pada rautmu
ada serpihan diriku yang tertinggal
ada persatuan yang (ternyata) tak lepas

Seperti ada tali tersambung kembali
ada kedamaian
bahwa disana, ada bagian diriku

7 Jeda Keenam

 

––

Setelah kau membenciku
Dan menistakan namaku
Datanglah masa itu,
Kau mencintaiku

.-

Dalam remang
Kau menelengkan kepala
Membisikkan desah
Dan keringat manis timbul dalam udara berpendingin

.-

Kau memaki
Menista kembali
Dan tak putus mengingatku

..-.

Dalam remang
Kau cengkeram tanganku
Entah mencegah
Entah meminta

-..

Kau memaki
Menista kembali
Kali ini, kau mau sedikit mendengarkan

..

Karpet merah terbentang
Kau menista namaku penuh rindu
Kau memaki penuh kagum
Hati telah bersahutan
Dan udara adalah cinta

-.

"Disebabkan salahku?
Atau perasaanmu membiru?"
Tanyamu sendu.

"Perasaanku", jawabku

"Ya, ya…"

.-

 

---------------------
May 16th, 2011, 09:53 am 

Pada Suatu Malam Berangin

I

langit,
dan angin malam
hembusi seluruh jiwaku

menguak sejarah tahunan
lampau
galau purba datang bersamanya
menyelimutiku penuh seluruh

Dan angin bercerita
tanpa diminta:

II

Kenapa tak mengerti juga,
aku mencintaimu
menginginkanmu

dinding yang kau sodorkan
menghantam penuh dera
sedemikian takutnya
kau pada cinta?

"Dibaliknya ada luka", katamu

Oh, mata yang merenung itu
bibir yang mengatup tertahan
menyerap seluruh energi hidupku
menyerpihkannya

aku akan berbuat,
aku akan bertindak,
cukup katakan ya.

kau menunduk
matamu menjadi garis misteri,
jemarimu menarikan ragu
dan cintaku meradang dalam

Itulah,
saat kepura-puraanmu memuncak
kau tengadah, tersenyum lirih
"Kau takkan meninggalkanku?"

"Tidak."
Terucap dengan sepenuh diriku
sepenuh cintaku

III

Hari-hari berganti,
satu per satu kemudian mati

Malam-malam bersamamu
menjadi keemasan
sebuah panggung megah para kaisar

Aku bahagia

IV

Sebuah senja

Sepucuk surat darimu,
dan semuanya selesai.

V

Malam-malam penuh mimpi buruk
Energi hitam meraja

Segalanya kutabrak
Sedih ini terlalu kuat

Sebuah mimpi,
Aku duduk di kereta dengannya
dan kau menyusul
duduk bersandar padaku.

VI

"Aku terus mencarimu,
pada tiap rangkulan pria"
Katamu pada selembar kertas

Dadaku membara
ada sedih dan sukacita

VII

Sebuah telepon berdering
"Aku tak bisa teruskan jalan kita"
Ucapmu ragu seperti biasa

Sekali itu,
sekali itu sayangku,
Aku bisa bulat membuangmu
merobek semua catatan tentangmu

Sekali itu,
setelah tahunan lamanya.

VII

Dan angin malam tertawa
melihat kenang yang mencekam

Salahku

menaruh catatan sejarah
pada langit malam

 

====
3:43 am, 11/5/2011

Perpisahan yang Kita Lahirkan

Suatu saat nanti
Kau menikah
Dan semuanya pun sudah

Romansa-romansa menjadi percik kecil
Tentang senyuman, gurau, kesenangan saat jumpa
Atau mungkin penyesalan yang entah apa

Suatu saat nanti
Kau akan melabuhkan hidupmu
Menarik sauh bersama entah siapa

Dan senyummu
Tawa cerdasmu
Kembali cukup kubelai dari
Balik kaca

Suatu saat nanti
Pada masa yang entah kapan

Tapi dada ini berdentuman sekarang
Menyesal dan sedih seketika

Perpisahan menghembuskan baunya
Dari jauh-jauh hari
Memberi panjar dari gundah
Yang kubeli

Ah itu,
Kau melambai dari perahu
Bercucur airmata sedih dan bahagia

Kita tahu
Perpisahan telah lahir
dari jemari kita yang bertemu
waktu awal jumpa

Perahu menjauh,
Dan aku menangis

Suatu Senja yang Terlambat

“aku siap, menerima tamparan terkerasmu”
Gadis bermata sayu, menatap lekat pujaannya

“kau dimabuk cinta sayangku”
Berkata lelaki penuh pikat pada suaranya

Sejenak termenung, sang gadis menjawab
“tidak, aku siap sebetul-betulnya”

Angin menghembus
Menarikan rambutnya, menguji mata indah
Yang tanpa kedip menatap penuh puja

Menderap segera
Dinding bernama kebuntuan
Sebab cinta terlambat diungkapkan

Mereka duduk,
Begitu berdekatan.
Kulit yang kencang saling berpegang
Tapi galaunya terpisahbelah samudera

Tubuh hilang arti
Pertemuan bertimangkan cinta
Memangku dua hati yang memanggil

“kemanakah kita kan melangkah”
“ke museum”

Keduanya bangkit, dan pergi
Tersenyum

Mereka tahu betul
Definisi esok adalah perpisahan

Gadis yang Mencuri Senja

–

The Sun Stealer

Seorang gadis mencuri mentari
Merobek senja di pantai
Dan menempelnya di dinding kamar

Semuanya bingung,
Mencari
Kemana senja dan mentari pergi

Gadis itu mengintip dari jendela
Dan terkekeh nakal
“kupinjam dulu barang semalam..”

Apakah hilang gundahnya?
Apakah padam risaunya?

Senja terpapar
Pantai terhampar
Rokok dan kopi sudah disulut
Segera ia ternganga

Kehangatan senja
Merobek sepi jiwa
Begitu parahnya
Luka berduyun-duyun terbuka
Perih mengerat jantung dan hati

“ah, melupa bukanlah obatnya..”

Film Lama

‘doble click’, dan menyala sebuah
rumusan musik tahun lama
serta merta

potongan-potongan gambarmu
runtuh dari langit
menjadi imagi sempurna

jelas aku melongo
menyadari dahsyatnya ingatan.
padahal kuat keimananku
bahwa kau sudah ke laut.
nyatanya?

Jadi gimana?
aku garuk dagu
lebih kepada kagum
pada kekuatan ingatan

ternyata
setelah bertahun-tahun melupakan
baru kusadari
bertahun-tahun mendambakanmu
bukanlah hal sepele

kuulang lagi, kuulang lagi
sepotong lagu itu.
serasa dapat film drama
tanpa perlu monitor dan dvd bajakan