Category Archives: Rumi

Fleur

Mawar yang mekar dihadapanku
layu mati karena ku
tak rawat tak siram dengan ketidakpedulianku
terhadap segala sesuatu yang harusnya ku siram dan ku pupuk
dengan curahan air dan hara yang seharusnya kupunya
tapi tak kupunyai
karena memang aku ini
kering

Kenapa kau mintakan dariku sikat mawar
padahal kau tahu aku ini gersang
tak ada hujan tak ada awan
yang bergulung dalam diriku hanyalah pasir

Kenapa kau mintakan dariku segelas air
padahal jelas bagimu aku ini kering
apakah ini sebuah ejekan darimu
dengan tawa yang melambai dari ujung jubahmu

dengan apa adanya
hari ini aku kirimkan padamu bunha gurun
memang tak indah dia
tapi tumbuih di atas media yang langka
sebuah cinta asli bukan ilusi.

Bau Kaki

dalam deru geram mesin manusia
dalam deru redam rintih manusia
ada …..
mengambang dalam nafas
tembus malam arungi siang

kalau ingin dengar buka mulut
kalau ingin bicara buka telinga
dan dunia terombang terbalik terambing terbolak
dalam satu telapak kaki bau milik populi

Aku dan Penghujung Malam

Malam akhir ini terasa angin enggan bertiup
kalaulah aku tak bisa katakan
janganlah pintu kau tutup
tak kau lihat bahwa aku menunggu di ambang pintu
kau usir aku dengan pintu yang dibanting

Penghujung malam t’lah mampir
mengetok pintu dan t’lah ucapkan salam
tak usah didengar jawab dariku
masuklah kau dan ceritakan padaku kisah cucu Adam di malam yang lewat
adakah kau dengar salam untukku?

Dering telepon di sampingku seakan-akan membawakan sesuatu
entah itu hanya perasaan sesaat
atau kegalauan dalam jelmaan
ya kutahu matahari t’lah tampak dan kau ingin meneruskan kembaramu
selamat tinggal
sampaikan salamku pada saudara-saudaraku
yang kau hampiri dan berbagi kisah denganmu.

Ke”AKU”an.

Lepaskan segala kata itu
jangan ikat diri dengan kalimat itu
biarkan jiwa bebas menari dalam pusaran
yang berpusar pada sumber segala kata

Kata Akulah yang mengikat dirimu
lepaskan seluruh kalimat dari “aku” “kamu”
dialah dualitas itu
bukan ke-Tunggal-an seperti yang dikira

Masih bergunakah kata aku
bagi lilin yang menghadapi pelita semesta ini
bagi segala hewan hutan dihadapan sang Singa

lepaslah keakuanmu dan terimalah pancarn cinta dari dari-Nya
seperti Musa di Thursina
Ibrahim dan Apinya
Mushtafa dan perangainya.

Hening

Hening ini mempunyai sejuta makna
yang berdiam di dalamnya
bisu tampaknya
tapi dia sebenarnya ribuan kata

Segala kemagisan ini
mengejewantah dalam hening

Kata apa?
hening
suara apa?
Bisu
Dengar apa?
Sunyi
Merasakan apa?
…..

Mawar merah mekar dalam hening
gincu merah bibirmu, mengecupku dalam sunyi
tak perlu berkata
karena hening itu bermakna
Cinta.

A

jikalau hati ini tak kenal derita
senangkah ia?
Tertawakah ia?

Jikalau hati ini selalu bersama bahagia
bosankah ia?
Jenuhkah ia?

Jikalau hati ini tak kenal bahagia
sedihkah ia?
Pilukah ia?

Jikalau hati ini selalu bersama derita
meranakah ia?
Berontakkah ia?
Apakah derita dan bahagia itu beda?
Ataukah satu dengan wajah berbeda?
Bermusuhankah mereka?Yang tahu hanya Dia.

Sujud Rindu

Tabir malam menghampiri
menganyam tali rinduku pada tahmid
kidung kudus yan berserak terberai
kumerajuk dalam sujud rinduku
menyitirkan sajak, untukku
tentang takbir yng terasing
terjajah dalam terali ini
terali dalam temali nafsu kami

Sujud rinduku, padanya

Jadilah

“Kun”
dalam genggamNya
kuharap cinta
mengejawantahkan dirinya padaku
menjadi sajadah dalam sujudku

“Kaf dan Nun”
dalam cintaNya
kuhidup dan terus menerima tulisanNya
ketika bahagia dan duka
karena Dia sendiri itu cinta

“Kun”
Kau Musthafa dan Musa
cinta
“Kaf dan Nun”
memberi Ibrahim dan Isa
sayang
“Kun,Kaf dan Nun”
mensipta Hawa untuk Adam

“Kun”
biarkan diriku cinta
dalam dekap sayap Izrail
dalam mutiara hakikat Lukman
“Kum
Kaf dan Nun
Jadilah.”

Dalam Kelam

Gelap, karibku
kau tahu siapa itu cinta?
tetanggamu?

Kemarin, dalam kelam dia menyapaku
kutanya
“kau siapa?”
“aku cinta.”

Gelap, karibku
mimpiku, tentang seseorang
(dia cantik dan manis)
dia bertanya padaku
“Kau terima pesanku?”
“pesan mana, siapa yang membawa?”
“Cinta.” Jawabnya singkat

Gelap, karibku
dalam kelam
ada bintang, rembulan
tapi kelamku sendiri
dia sepi
(tak berkawan dia, malu katanya.)