Category Archives: Dedicated

Ini merupakan kategori yang dikhususkan buat member yang telah memposting 10 atau lebih puisi.

Hancurkan dan Lukislah Aku

Jika memandang saja sudah cukup

Lalu takutkah kau untuk menyentuh

Bagaimanapun sentuhan takkan mengubah

Pelukan takkan menggugah

 

Mungkin tangisan akan membuyarkan

Menghancurkan..

Mengosongkan..

 

Dan kemudian, dimulailah lagi cerita baru

Dilukiskan kembali coretan yang halus

Sehingga suatu hari nanti aku menjadi lukisan baru

Sedikit Kisah dan Secercah Kilau

Sedikit hati bagi yang tak memiliki

Sedikit bumi bagi yang tak berpijak

Sedikit hangat bagi yang membeku

Sedikit cinta bagi yang kehilangan

 

Secercah cahaya bagi yang kelam

Secercah harapan bagi yang putus asa

Secercah angin sejuk bagi yang gelisah

Secercah sentuhan bagi yang ketakutan

 

Sedikit sakit untukku yang lupa diri

Secercah senyum untukku yang tak berwajah

 

 

The Sun Stealer

If you can’t see the Sun shining recently,

That is because someone hide it.

She  just want to feel the warmth,

she just want to rest and secure

Don’t blame her for stealing the Sun for a while

Don’t judge her for making the sky cried

And after a while, she will return the Sun

And crawling back with a smile

Seiris Tawa

hai kamu yang disana

sedang gundahkah hatimu?

mari kuberi seiris tawa milikku

dan hey, kamu yang sedang tertunduk terpuruk

apakah batinmu sedang tertusuk?

mari kuhangatkan seiris tawa milikku dalam peluk

oh dan kamu yang sedang berdiri tegak dengan bangga

tiadakah duka di dada?

Lembaran Baru

mata ini tertutup dengan lelap

kulalui hariku yang indah

dengan hadirmu disisi

menemaniku, hingga jenuh menjauh

meski kau tak terjangkau

namun sayangmu kurasa

meski kau tak disini

namun senyummu kulihat

sayang…

maafkan aku tak bisa menemanimu

aku mohon padamu

terima hatiku

pegang erat ucapku

jaga cintaku

karena kekal yang kumau

aku sayang padamu

sampai rembulan lenyap

hingga bintang tak berkilap

dan aku terkurung dalam gelap

sedih

malam ini…

aku merasa sedih…

entah mengapa

 

yang kurasa hanya sepi

menari…

dan tak berhenti

yang kulihat hanya hampa

tanpa rasa yang kudamba

 

malam ini…

aku merasa sedih…

 

dalam dada penuh sesak

tanpa jiwa yang bergejolak

hari indah yang kuharap

seolah tak mengghadap

kearahku…

 

malam ini…

aku merasa sedih…

 

dengan wajahmu terbayang

berharap datang dan tak hilang

dari hatiku yang terbuang

 

satu ucapku…

aku cinta kamu…

sayangku…

Umpatan Cinta

Heh!
Kamu fikir hatiku batu?
Diserbu rayu setiap hari setiap waktu
Tak mempan malah berpental??
Sialan!
Lama lama aku juga bisa jatuh cinta tauk!
Bisa luluh dalam sendu tatap matamu saat mengkhawatirkan sedihku
Bisa runtuh ego dan angkuhku
Dengan kalem tapi pedasnya sindirmu
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Sekarang kenapa kamu malah diam saja?
Ayo geraaak! kalau perlu lari
Dan bawakan aku sebatang cokelat
Tak mungkin kususui anakku dengan sebait puisi
Tapi gula dalam cokelat mampu meredam tangisnya di malam hari
Yang mungkin menghentikan kemesraan kita nanti


=========================
Layla.
(21 Oktober 2004)

SUKHERLI

Ramadhan tahun lalu kita bertemu.
Aku bersama lelaki itu berjalan di trotoar pusat perbelanjaan,
kamu cengar-cengir dan kita pun berkenalan.
Tanpa kamu tahu, anak muda itu baru saja menghiburku dari patah hati yang menyakitkan.

Ramadhan tahun ini, kita bertemu lagi.
Mengejutkan!
Aku berdiri di depan sebuah toko
dengan lelaki yang sama,
yang kamu lihat tahun lalu.
Kamu cengar-cengir, kali ini kita tak lagi bertukar nama
tapi tanpa kamu tahu, lelaki itu baru saja merayuku dengan ungkapan cintanya

I wonder, Li.
Mungkinkah Ramadhan tahun depan aku-dan lelaki itu- bertemu lagi denganmu?
Tanpa patah hati, tanpa rayuan gombal, mungkin dengan sebuah kepastian?

Wallohu a’lam.


==============
(21 Oktober 2004)

eLang

Langitku,
kau kata “bodoh” untuk pertanyaanku saat itu; “mungkinkah mati jawaban semua keresahan??”
Kau benar.
Tak mungkin kucari jawaban hidup ketika aku telah mati.
Mati adalah pertanyaan lain dalam hidup.
Bantu aku untuk mencari jawabannya
dengan kehadiranmu dan kasih sayang yang selalu kau panjatkan dalam doamu,
yang katamu, setiap malam.


===============
(19 Jan’04 ;22.30)

Disini Telah Meninggal…

aku ingin keluar sebentar, bung!
hingga suatu saat
kita saling memasang nisan
pada pikiran-pikiran kita,
pada kata-kata,
pada khayalan
pada prasangka
pada mulut-mulut kita yang kumuh.

aku ingin pergi sebentar, bung!
hingga pada tanah ini
kita gali
untuk tawa
untuk kebersamaan kita
untuk lima jari yang selalu kita adu
hingga air mata melamurkan
bau busuk bangkai mereka