Category Archives: Overdrie

Disini Telah Meninggal…

aku ingin keluar sebentar, bung!
hingga suatu saat
kita saling memasang nisan
pada pikiran-pikiran kita,
pada kata-kata,
pada khayalan
pada prasangka
pada mulut-mulut kita yang kumuh.

aku ingin pergi sebentar, bung!
hingga pada tanah ini
kita gali
untuk tawa
untuk kebersamaan kita
untuk lima jari yang selalu kita adu
hingga air mata melamurkan
bau busuk bangkai mereka

Percayalah

Here i am , This is me ,
I come to this world
so wild and free…
Here i am , so young
and strong , right here
in the place where i belong(Here I Am, Bryan Adams)Suatu hari nanti,akan kau rasakan gurihnya krupuk.Suatu hari nanti,akan kau rasakan begitu menyenangkannya tertawa.Suatu hari nanti …tangismu adalah penyuciansakitmu adalah obatkecewa itu sampahkepuasan itu perangkap.Suatu hari nanti,akan kau alami terus berlari,mengarungi bulan memadamkan matahari.Suatu hari nanti,percayalah,aku akan selalu adasebagai detak jantungmu,yang tak pernah kau mengerti cara kerjanya

Re : Datang juga perpisahan, semakin jelas kebodohanku

“kau akan mati,saat puas akan suatu pencapaian”
kataku pada suatu kuliah umum
yang kau wariskan padaku
di kota yang dilingkung gunung.

betapa aku tergila pada kalimat itu
hanya jiwa yang kuat
mampu mengatakan itu

aku cuma tersenyum diam
bersama mata yang gelisah
takut…
jika aku tak setangguh itu

benar!
waktu memang bukan sahabat yang baik

kukatakan lagi kalimat itu
pada kuliah yang lain…

apakah kita sudah puas dengan semua yang terjadi?

sial!
aku tidak mau itu terjadi pada kita, bajingan.

bagaimana bisa kau lihat namaku seutuhnya
jika itu mati?

persis seperti kalimat itu,
“kita puas dan mati”

maaf, berulang kali kukatakan maaf pada sajak ini
telah membuatmu merasa bersalah.
hanya saja diri ini merasa malu
karena bukan sesuatu.

ketahuilah!
aku rindu…

dan sampaikan maafku pada jiwamu,
aku tidak mendengarnya…
katakan,
bicaralah lebih keras seperti biasanya.

Mmmm

Satu hal.
Nanti kalau
orang tanya
perlakuanku padamu,
entah kau suka atau tidak.
Mengakulah!
Bicaralah yang lantang dan anggun!
Endapkan dalam telinga mereka bahwa kau;
Ratuku

Sayangku

Sayang,
maaf,
saat ini,
mahar yang bisa kubayar,
hanya perasaan,
hanya cara,
hanya cita-cita,
hanya tekad untuk terus berkelahi
dengan angin dan hujan.

Aku mencintaimu, Lies.
Biarkan terus
kunaiki tiap anak tangga
walau tanpa kaki.

Akbar
===============
2 November 2004

Terima Kasih

(untuk Eulis, ST, FM, IM)

Kita memang harus sabar.
Sehingga benar kenal siapa
itu setetes keringat,
yang membuat selalu
bertahan ketika semua perasaan habis.

Waktu memang tak dimiliki kita.
Jadi, aku tak mau sok tahu
dengan menyerah
pada ketakutan,
pada lelah,
pada bentuk jalan malam,
pada perih,
pada puas,

-pada angin yang menusukku dalam-

Manusia, lelaki khususnya.
Ia takkan pernah siap,
tapi ia tak pernah tanpa persiapan.
Tidakkah pernah kukatakan,
"jangan berhitung denganku!"
Aku akan berdarah
Kau akan merintih sakit, dalam.
Kita bicara bahasa pengorbanan.
Harga hanya untuk kecap!

Aku tidak akan "berak"
jika perutku tak minta.
Aku takkan menikahinya
jika ia tidak ingin kunikahi.
Tapi siapa yang tahu?
Kalau begitu aku takkan makan sampai mati
Aku takkan merayu.
Dan berdosa
karena enggan berlari.
Tidakkah itu kita lakukan untuk diri sendiri?
Tanpa harus menciptakan novel
yang isinya hanya dunia ego kita,
dan menjadi tuhan yang lemah
bagi tokohnya.

Terima kasih.
Aku memang tak pandai dalam hal itu.
Tapi, terima kasih
karena meludahiku.
hingga aku tahubegitu hina
menjadi pengecut atau penekad.

Akbar
===============
2 November 2004