Anak muda dengan semangat hijaunya
Merasa dapat memakan dunia
Orang tua dengan pengalamannya
Tahu betul lemahnya manusia
Dan Tuhan sadar betul
Membiarkan keduanya ada
———————-
25 juli 2011, 00:30 am
Anak muda dengan semangat hijaunya
Merasa dapat memakan dunia
Orang tua dengan pengalamannya
Tahu betul lemahnya manusia
Dan Tuhan sadar betul
Membiarkan keduanya ada
———————-
25 juli 2011, 00:30 am
tuhan tidak ciptakan aku
dari apa yang aku mau
ia tetap biarkan aku berdiri disini
dengan bulan yang terus menangis
menikmati pedihnya
dan berbincang mesra dengan malam
menunggu pagi yang akan datang memanjakan mata
dengan cahaya…
Aku hidup hanya seorang diri
yang setiap hari mengarang puisi
tujuanku satu menghibur hati
dikala aku sedih diketika sepi
tak seorangpun dapat kucintai
karena aku hidup bagai misteri
cintaku ada tapi menyeberangi
yang harus kuarungi disetiap hari
memang,wajahmu cantik itu kuakui
senyummu manis itu kumengerti
tapi sayang dirimu tak dapat kumiliki
karena aku bukanlah pecinta sejati.
“jangan pernah larut dalam keindahannya
bukalah matamu dan tatap dirimu
semasa kamu hidup di dunia ini”
tidak ada satupun mahluk yang terlahir kedunia ini secara sia sia…
engkau menciptakan nya secara sempurana.. dan seimbang.. memiliki kelebihan dan kekurangan…
namun kadang sang mahluk tak menyadari maksud dibalik itu semua… kita haya bisa mengeluh dan mengeluh..
iya menciptakan mahluknya bukan tanpa disengaja… tapi iya punya tujuan lain.. namun iya tak pernah meminta sesuatu dari mahluknya…
yang iya inginkan hanya yang terbaik bagi mahluknya…
kini saatnya mahluknya menyadari itu semua…
( dalam kumpulan puisi ttg berlin: “jalan-jalan raya Prenzlauerberg”)
Setelah sekian lama
Berlin tetap menyuguhkan halusinasi indah tentang teman dan kenyamanan.
Namun ini adalah cerita dari sebuah kota tua dengan peluh manusianya
Cerita yang berakhir di meja meja bar dengan gelas gelas bir erat tergenggam mengusir gelisah dan cemasnya udara luar
Ini berlin dan angin dingin bulan februari masih bertiup membelai rambut rambut yang tersisir rapih …
Orang orang pun merapatkan mantelnya, berjalan cepat sambil menundukan kepala
mencoba melindungi perasaan mereka dari kering dan kebekuan.
Aku masih ingat …,
saat salju membenamkan kota ini dalam keanggunannya.
„ah“ kataku pada waktu itu „datang peziarah-peziarah putih ini!!!“
lalu berjalan tergopoh-gopoh sambil mencoba mengibaskan putih-putih yang menempel pada ujung celana jeansku. berharap menjalani hidup mengikuti nadinya.
Aku masih ingat …,
kala seorang dara berwajah kemerah-merahan yang datang dan tersenyum melangkahi jarak, Melirik nakal dengan mata kecilnya
sambil berbisik… “Willkommen in Berlin” … lalu tertawa.
Ah, aku suka caranya itu …
bersama menelusuri sudut sudut kota, dalam teguk yang terus mengalir
membasahi kebebasan sendiri.
Hari ini ibukota bersinar, penuh kehangatan,
mengusir angin timur yang membekukan.
Kelak musim semi akan menuai hijau tuhan atas bumi,
sampai tiba saat itu, kuharap aku kembali.
=======
Berlin, 5/6 Februari 2005
Beusselstr. 2
Duka Atjeh,duka kita,
Tangis Atjeh,tangis kita,
Perih Atjeh,perih kita,
Jeritan Atjeh,jeritan kita
Bencana,tiada seorang pun yang menghendaki
Bencana,tak ada seorangpun yang mengetahui
Bencana…
Bencana merupakan kuasa-Nya
Apakah kau meraskan…
Pedih,
Pilu,
Luka,
Kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya
Apalah daya,kita adalah makhuluk yang kecil
Berserah dirilah engkau kepada sang-Khalik
Memohon,
Berdoa,
Tunduk.
(kepedihan ku terhadap Tanah Rencong)
—
Imanudin SiGalingMaut, 0
1:20am
30 Desember 2004
kapan lagi lonceng-lonceng berdentang?
suaranya mengancam setiap detik dalam hidup ini
atau kapan lagi takbir berkumandang?
gemanya mengisyaratkan rindu pada sang khalik
lalu, harus kah kita setia menantinya?
bila maut memang sebuah keharusan tuk dihadapi
atau kita hadang maut ditepi ajal,
yang menjadikan kita sebagai Almarhum
—
Rakhmat.
Sembilan lagi menunggu mati,
di bawah tiang gantung yang siap mematahkan leher mereka,
menjerit tanpa suara dan lalu hilang dari ingatan,
ini negri orang, itulah faktanya… lebih tidak.
ah, kawan… seakan tak pernah lain kisah ini,
mereka disebut pembunuh,
penjual ganja,
berasal dari sekumpulan yang tidak berguna.
halaman belacu ini belum lagi ditutup,
ini negri kita,
dan mereka tetap menjadi sampah
yang akan segera memasuki keranjang pemulung.
Sekarang aku bertanya
„Apakah ada akhir untuk mereka?”
—
Patkay.
( sedikit edit kata dari Nyenius )
entah pandangmu dimana
hanya mata yang terbuka, tak tertuju
sebentuk tubuh memang terbaring di depanku
andai terwarna, hitam kini putih punggung itu
panas hanya kau yang rasa
sakit hanya kau yang punya
ibu, bisakah kita berbagi….
katamu pun kadang tak kumengerti
oh… sasar
—
tapuy
27 april 04 R.S. Asyifa Sukabumi