Category Archives: Puisi Katarsis Member

Palestina

jika kau mengira tangan2 yang melempar batu itu hampa tak berarti
maka kau salah….
batu yang mereka lempar adalah nyawa,
darah yang mereka cucurkan bukanlah darahmu darahku,
melainkan hanyalah air untuk menyuburkan kebun-kebun jeruk mereka
agar tetap subur dan berbuah,
karena setiap buah yang dipetik dari tangkainya akan kembali tumbuh
dengan lemparan batu dan kucuran darah

apakah kau tahu,
setiap jeruk yang tumbuh dengan siraman darah
akan hidup berkembang untuk keyakinan.
mereka tidak lemah, tidak pula pengecut.
yakinlah….. mereka sungguh tidak lemah!!!

mungkin kau memandangnya dengan cara lain,
perduli setan dengan tembok kokoh itu
mereka akan tetap menyebranginya,
dengan darah dan batu
atau dengan segelintir kebencian.
katakan padaku sekarang!!
siapa yang dapat menahannya?.


—
Rizky Nugraha.

Kemana Langkahku

(buatku, mu, dan dia)

Pertama bertemu,
kita saling sapa.

Kepalamu botak tanpa rambut.
dengan angan-angan masa depan kita bicara,
aku hanya diam dan membisu.

hari, minggu, bulan sampai tahunpun berlalu,
dimana letak pembicaraan kita?
angan-angan yang dulu kita junjung.
harapan dan langkah kita? dimana.
aku hanya diam.

(malam menjemputku dalam lamunan)

Aku merindukan langkah
bulan dan mentari tak mampu menjawabku.

Kemana langkahku pergi?
bulanpun tenggelam menutup malam.


=====================
izay
bandung 20 Okt04

Doa Hari Ke Satu, Satu Hari Satu Bait

alamat waktu yang terus berubah seiring arah wajah yang semakin menua, pada akhirnya jua lah massa kembali kepada kesetimbangan,

atas semua kenangan pada tiap ramadhan, terucapkan atau terjadi, maka kenangan adalah kenangan,

kepada Tuhan penguasa semesta, penggerak setiap lempeng, pencipta gelombang gelombang gempa, demi kesucian Mu, keagungan Nabi Mu, aku mengetuk pintu rahmatmu,

Semoga setiap kenangan tetap menjadi kenangan, setiap waktu yang berulang adalah pelajaran bagi si kecil untuk melangkah, maka jadikan setiap langkahku adalah bahan bakar imajinasi masa depanku, jadikan setiap daya pikir yang tercipta adalah hasrat untuk menjadi padi, jadikan setiap ucapan yang tergerak dari dalam lidah adalah tamparan bagi kesombonganku


=========================
Fahdi M.
Bandung.

Jika

jika kau tetap berkepala dingin, kalau semua
orang disekelilingmu kehilangan akal dan bahkan menuduhmu sebagai sumber kesalahan,

jika kau dapat tetap percaya pada diri sendiri,
kalau semuanya menyangsikanmu,
namun memahami kesangsian mereka itu,

jika kau sabar menunggu senantiasa dan tidak
menjadi jemu oleh karenanya,
jika kau, kalau difitnah tidak memfitnah
kembali, kalau dibenci tidak membenci kembali,
tanpa menunjukan sikap seolah-olah lebih baik
dari orang lain,

jika kau dapat berangan angantanpa dikuasai oleh angan angan,
jika kau dapat berfikir tanpa pikiran itu
menjadi tujuan,

jika kau mampu menghadapi keunggulan atau
musibah, dan memperlakukan dua kepalsuan itu
dengan sikap yg sama,

jika kau tahan mendengar kata-katamu
diputarbalikan, oleh orang-orang yg bertekad
menjerumuskan mereka yg lengah,

jika kau tahan melihat apa yang telah kau bangun selama hidupmu hancur,
namun tunduk dan mampu mulai membangunnya
kembali dengan alat-alat yg sudah usang,

jika kau dapat menumpuk segala hasil
kemenanganmu, dan berani mempertahankan
seluruhnya dalam perjudian hidup,
dan kalau kalah segalanya, sanggup mulai bermain lagi dari semula, tanpa mengeluh sedikitpun atas kekalahan itu,

jika kau mampu memaksa hati, semangat, dan saraf
untuk tetap mengabdi kepadamu, walaupun sudah
sampai pada titik penghabisan,
dan dengan demikian, terus bertahan, walaupun
segalanya sudah habis dalam jiwa dan ragamu.
kecuali kemauan yang tetap berseru “Hold on”

jika kau dapat berteman dengan rakyat jelata
tanpa kehilangan budi luhur,
atau dapat bergaul dengan rara raja tanpa
kehilangan kesederhanaan,

jika musuh dan teman baikmu tidak dapat
menyakiti hatimu,
jika semua orang mendapat perhatianmu tanpa
pilih kasih,

jika kau dapat mengisi setiap menit yang pasti akan melaju tanpa kembali lagi,
dengan jasa-jasa senilai enam puluh detik,

maka dunia ini dengan segala isinya akan menjadi milikmu, dan, lebih dari itu putraku, kau adalah seorang jantan.

——————–
Puisi ini didapat dari sodara Patkay. Dia lupa penyairnya siapa, tapi ini hasil terjemahan mantan Dubes RI di Argentina.

Jogja Kota Siapa?

Oleh Tangkisan Letug

kutemui anak-anak Jogja
jadi pengangguran
mengais kerja di jalan
mengemis belas kasihan
ketika harus masuk sekolah
namun apa senyatanya
Jogja seperti bukan miliknya
anak-anaknya sendiri terlupa
tak mampu membayar beaya
sekedar masuk sekolah di kota
tak cukup sekedar jadi orang Jogja
tanpa uang tebal di sakunya

ku merasa inilah senyatanya
anak-anak Jogja terpinggir
di kotanya sendiri
hanya kerna kemiskinan
kian merajalela
mendera anak-anak Jogja
sekolah kian asing dan jauh
kota Jogja penuh meriah
oleh warga yang menimba ilmu
dari luar daerahnya

harga-harga makin dibuat tinggi
anak-anak Jogja kian miskin
mungkin nanti sebentar lagi
mereka sekedar jadi penonton
di pinggir-pinggir kali
sementara orang-orang berduit
mandi dengan senangnya
di atas kemiskinan ini

anak-anak putus sekolah
di kampung-kampung
di jalan Godean
berpacu dengan arus gelisah
terpaksa mengais rejeki
menjadi pembantu keluarga sebelah
yang datang dari luar daerah
yang bisa membeli tanah
yang anak-anaknya pergi ke sekolah
yang orangtuanya pakai mobil mewah
yang rumahnya indah-indah
dan warga kampung-kampung itu
tetap ada dalam keabadian
kemiskinan yang terus merekah
anak-anak hanya sampai klas menengah
lalu dipaksa keadaan mencari nafkah
tanpa tampak susah
kerna memang sulitnya hidup berubah
kerna memang miskin itu dibuat mudah

Jogja kota siapa?

Januari 2004

Segalanya Tentang Cinta

Aku merenung di malam ulang tahunku, tak pernah kubayangkan, aku memasuki seperempat abad. Ah! sebenarnya aku tak mau masuk dunia seperempat abad ini. Tapi apalah daya manusia ini, hanya sebagai wayang yang harus memainkan skenario yang sudah ditulis-Nya.

Aku menatap ponselku, berharap ada yang memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku. Tapi…menit demi menit ku tunggu, tampaknya ponselku tak juga menunjukkan adanya SMS. Kemana ya orang-orang ini, apa sudah lupa ulang tahunku, rutukku sedikit sedih. Aku tak pernah mengerti, sahabat bahkan mantan pacar yang notabene baru putus 3 minggu pun, tak sedikitpun memberikan sisa perhatiannya padaku. Hiks……….kenapa sedih itu harus melanda di malam ulang tahunku.Akhirnya aku tertidur, karena lelah menunggu.
Paginya, ibuku masuk ke dalam ke kamarku, beliau mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Tapi ayahku, tak lakukan itu padaku. Hiks…aku makin sedih aja ya!tapi ada yang membuatku girang, sahabatku akhirnya melakukan apa yang aku harapkan. Mereka memberikan doa terbaik untukku, termasuk doa soal jodoh.

Ah! kenapa ya mereka berharap, aku segera mendapat jodoh, padahal sakit hatiku pada lelaki itu belum tersembuhkan, malangnya diriku. Mereka tak pernah merasakan, apa yang kurasa sakit saat ini. Mungkin mereka berharap, aku mendapatkan yang lebih baik dari dia. I hope so!, mereka benar melakukannya hanya karena cinta mereka padaku.

Bahkan ketika aku mendengar, kalo mantan pacarku sudah punya yang baru, berasa disamber geledek. Aku tidak pernah tahu, kalau saja sahabatku tidak sayang padaku. Mereka mulai tahu, kalo aku masih sakit hati oleh lelaki itu.

Ibuku, yang konon banyak pengalaman dalam kehidupan percintaan. Banyak menghiburku, saat aku harus kehilangan lelaki itu. Beliau berkata, kalo aku tidak boleh larut dalam kesedihanku. Di luar sana, masih banyak yang sangat lebih baik lagi.

Mereka semua memang melakukannya hanya karena cinta, cinta ibu padaku yang membuatku hidup lebih bijaksana, begitupun dengan sahabat-sahabatku, mereka adalah orang yang aku cintai. Ya…cinta tak hanya membuat kita bahagia, tapi juga akan menyengsarakannya. Hanya cinta Allah-lah yang akan terus membuat kita bahagia, walau dengan ujian, Allah menunjukkan cinta-Nya. Semua memang tentang cinta.


==========
Astrid.
aa

Elegi Musim Gugur

ELEGI MUSIM GUGUR

Sesuap nasi untuk surga
Disuguhkan bocah
Demi damai yang hilang
Antara peperangan raja-raja
Meski serasa tanah
Inilah dunia punya

Semenjak kemarin
Salib dipasak sudah pada ufuk
Menanti Mesiah dari selatan
Hanya sebatang lilin,
setangkai bunga,
dan secuil roti
Hadiah bumi untuk sang rasul
Selebihnya mahkota duri,
beberapa paku
Dan sebongkah palang kayu untuk ditukar dengan rela Tuhan

Nasi sudah basi
Dia yang dijanjikan tak jua datang
Bocah pun menghujat langit
Mengulang-ngulang nyanyi musim gugur
Sebait ilalang kering yang tertawan kematian

kematian pertama

KEMATIAN PERTAMA

Bukan bayang biasa ternalar
Tapi awan-awan damai seorang perawan
Yang dibisik anak kecil
Dari mantra-mantra surga yang masih tersisa

Hendak ku meraja-raja di lubuknya
Tak jua berlafal ini teriak cinta
Menampar-namparlah diri pada altar biara
Tak jua bersaksi ini pinta

Oh..pada doa-doa leluhurku
Aku suluhkan munajat tanah
campakkan nasib pada riwayat lilin
seraya melangkahi maut pada alinea terkahir

biar tak berkafan ini tubuh
tak pun kubur digali
ini mayat cinta tak jasad dipunya
hanya bayang hidup di batas kematian pertama
tuturkan ayat-ayat suci