( dalam kumpulan puisi ttg berlin: “jalan-jalan raya Prenzlauerberg”)
Setelah sekian lama
Berlin tetap menyuguhkan halusinasi indah tentang teman dan kenyamanan.
Namun ini adalah cerita dari sebuah kota tua dengan peluh manusianya
Cerita yang berakhir di meja meja bar dengan gelas gelas bir erat tergenggam mengusir gelisah dan cemasnya udara luar
Ini berlin dan angin dingin bulan februari masih bertiup membelai rambut rambut yang tersisir rapih …
Orang orang pun merapatkan mantelnya, berjalan cepat sambil menundukan kepala
mencoba melindungi perasaan mereka dari kering dan kebekuan.
Aku masih ingat …,
saat salju membenamkan kota ini dalam keanggunannya.
„ah“ kataku pada waktu itu „datang peziarah-peziarah putih ini!!!“
lalu berjalan tergopoh-gopoh sambil mencoba mengibaskan putih-putih yang menempel pada ujung celana jeansku. berharap menjalani hidup mengikuti nadinya.
Aku masih ingat …,
kala seorang dara berwajah kemerah-merahan yang datang dan tersenyum melangkahi jarak, Melirik nakal dengan mata kecilnya
sambil berbisik… “Willkommen in Berlin” … lalu tertawa.
Ah, aku suka caranya itu …
bersama menelusuri sudut sudut kota, dalam teguk yang terus mengalir
membasahi kebebasan sendiri.
Hari ini ibukota bersinar, penuh kehangatan,
mengusir angin timur yang membekukan.
Kelak musim semi akan menuai hijau tuhan atas bumi,
sampai tiba saat itu, kuharap aku kembali.
=======
Berlin, 5/6 Februari 2005
Beusselstr. 2
Bravo! bravo! keren puisi lo
CTT: “willkommen in berlin” = selamat datang di berlin.
btw, thank’s ba!!
hahahahaha.berlin berlin berlin olala