Tag Archives: puisi patah hati

Sulam Cinta Srikandi

Dalam ruang tanpa cahaya
terdendang suara-suara,
gumam senang Srikandi.
Dua wayang bersenang-senang
dan waktu menghilang

-sayangku-ya, sayangku-sayangku-ya, sayangku-
dan jiwa mereka berkejaran dalam

Setelah rebah semua nafas
dan mengering manisnya air madu
muncul ucapnya:
“Maaf, aku mencintaimu”

Seorang tokoh wayang tanpa nama
tertegun dalam peluknya
hatinya pun tergerak
sedari lama
tapi Srikandi selalu menolaknya

“ada batas
tanpa wujud
yang jelas membentang”

Srikandi berkata melalui tatap.

Ruang antara langit dan bumi
menjadi saksi pertemuan mereka
penuh gelora cinta
penuh peluh kerinduan

Dan tiap kali Srikandi
kembali ke kahyangan
tatap mereka gamang
masa depan tak terlihat
pandangan tentang mereka
adalah jalan buntu

pada ujung jari yang berpisah
Srikandi memecah hening
“ini pasti tak mungkin kanda”
dan tokoh tanpa nama selalu menjawab
“aku tak pernah menebak-nebak masa depan”
dan tersenyum.

“jangan beri janji dan harap”

“aku tak tahu masa depan, dan tak mau menebaknya”

Dan selalu, selalu,
pertemuan diakhiri tanya menggantung itu

Serakan Antara Kau dan Aku

Kita pisah
Meninggalkan serakan pasir
Di dasar hati

Bertanya, tak bertanya
Tentang apa kenapa
genangan sayang habis tak bersisa

Kilas-kilas kenangan
Mengerat kesehatan hati
Dan tangis tak bisa berbohong

Di balik punggung yang bertemu
Ada kerinduan akan manja dan sapa
Tapi kita berkeras untuk diam

Dan jadilah kita pembunuh
Keadaan membuat kita terbunuh
Anak panah cinta patah terinjak kenyataan

Perlahan
Berjalan menjauhimu
Dan mulutku mengaduh
“Aku merindukanmu,
aku merindukanmu,
aku merindukanmu…”

++Mobile

kelu

kegelapan hinggapi diriku
bibirmu tak lagi bicara
namamu tak lagi disebut
rasa rindu tanpa balas dan membuatku tak berarti

kau yang membawaku kesana
dunia penuh makna dan warna
akankah tetap bermakna tanpa senyummu
masihkah berwarna tanpamu

lautan air mata seakan tak berarti
dapatkah kau kembali…
penuhi hidupku dengan canda, impian dan harapan

realita kehidupan yang berjalan membuatku semakin hilang
dan terbuang….
kuhanya terduduk di liangmu
tanpa hasrat menggebu seperti dulu

ayat-ayat tentang cinta dan sayang
kusenandungkan untukmu
masihkah kau dengar dan terharu?

Dan Kau pun Hilang Dalam Mimpi Itu

Semalam aku memimpikanmu
menangisi kegagalan kisah yang dulu

yang menunnjukkan habis sudah
semuanya
wajahmu, senyummu, tanganmu
yang mengajakku pergi.
sudah tak berlaku lagi

pecah semua gambaran itu

kau tertawa renyah
menggandengku menuju duniamu
dan aku hanya diam mengikutimu perlahan
dari jauh

tanpa lelah tersenyum
kau kenalkan aku kepada orang-orang
yang semuanya menegaskan sayangnya
kita berpisah

-aku tetap tanpa geming-

ada juga sedih terselip
seperti daun pisang dipatahkan angin

dan kau pun hilang
bahkan dalam mimpi itu
tinggal aku bersama orang-orang asing
tertawa dalam sakit

dan kau pun hilang
tetap dalam senyum

13:09 04/01/2007

Kamu Pergi

Di langit
mendung menggantung
melambai-lambai
dengan kesedihan di tiap ruas jalan

Aku bergidik sepi
Membayangkan kamu sudah pergi

Tak pernah terbayangkan
sedihnya begini

melihatmu pergi
Aku ingin mengejarmu
ingin berkata jangan

Mulutku terkunci
kakiku terkunci
Aku hanya bisa memandangimu
Sampai kamu tak terlihat lagi

Tapi di hatiku
Aku masih melihatmu

Setiap jalanan begitu kosong
seperti satu kota hilang isi

Pagi
Pagi
Pagi
pagi menjelang
mendung datang
dan di jembatan Macan
kau menghilang


===================
Toba.
10/12/00

Ballada Luka

Sebuah rumah di Jl. Kampus VII No. 10a

Di bawah bulan suram
dan angin kesedihan
perpisahan mencekikku
Menyeret pada kenyataan

Cahaya-cahaya di jalanan
Semuanya suram
Hilang sinarnya diserap duka

Setiap becak yang berlalu
pergi dengan air mata

Asap kretek yang kuhisap
Menarikan altar kesedihan
Diwajahku

Dengan sesaji air mata setitik
Kupinang kesedihan di langit sana

Jangkrik bernyayi memastikan
Disayapnya kepak perpisahan berdengung

-asap dan angin berdansa-

Pada kaleng susu kesehatan
Kenangan bersemayam
Pada genting sekolahan lebih lagi

Malam ini
Langit tak berhias
Disimpannya bintang
Dalam tumpukan awan-awan kelam

Dikejauhan orang tetawa nikmati kosmos lain kehidupan

-yang jelas bukan perpisahan-

Dedaunan merunduk,
Titiskan air matanya ke dada bunda
Bunga-bunga keringkan madunya
Demi suasana yang duka
Genting-genting berlompatan
Bingung hendak kemana

-asap dan angin terus berdansa-

Semuanya bertumpuk,
Paksa air mata cium dunia

Bila tujuh menjadi lima
Apakah sama !?!?

Kita semakin kehilangan warna


======================
Toba
Bandung.

Cinta Orang Idiot

LELAKI :

Cinta kita
adalah cinta yang aneh
yang pepohonan pun tak mau mengakuinya

Aku hanya inginkan kamu
dan dunia kecil kita

kata-kata kita yang berbisik
melampaui semua angan-angan
dan segala kenikmatan

Kita akan berlari
bersama dunia kecil kita
dan harapan0harapan kita yan gsederhana

Aku mau mimpi-mimpi itu
Aku tak tahu bahwa aku hidup
sampai kamu muncul dalam hidupku

Aku melihatmu kemarin
kau terasa begitu jauh, begitu tinggi.

Sekarang aku melihatmu didepanku,
memelukmu, kita berbicara denan aneh
aku merasa telah menggapaimu

Tak ada yang peduli
dengan cinta kita yang aneh
dunia dan kehidupan terus berputar
tanpa menghiraukan kita

Gelap dan terang
hitam dan putih
tak pedul pada kita

Kita pun tak perlu
mempedulikan mereka
sebab kita punya dunia kecil kita

Tapi ada yang peduli pada kita,
Hidup.
dengan kepeduliannya
ia ingin memisahkan kita

Aku marah pada hidup
dia hanya peduli pada diri dan segala
skenarionya
Dia tak peuli pada keingnan kita,
pada dunia kecil kita

Dia tak mengerti
bahwa di sini bersamamu
duduk dengan segala kebodohan kita yang manis
adalah seluruh hidupku

Aku hargai seluruh dayamu
untuk melindungi aku dari hidup
– membuatku semakin mencintaimu –
– makin tak ingin meninggalkan dunia kecil kita –

Tapi aku tahu itu tak akan berhasil

Tapi itu adalah
hal termanis yang pernah aku dengar
Hal termanis yang pernah aku dengar

Kemarin,
kukira dunia kecil kita punya hidup sendiri
Hari ini kusadari, dunia kecil kita
berada dalam hidup yang lebih besar

Karenanya aku harus meninggalkanmu
aku harus terus berlari
menjalankan hidup yang lebih besar itu
Aku akan melompat
dan berakhir

WANITA :

Jangan tinggalkan aku
ini dunia kecil kita
Begitu sempurna
sudah cukup bagiku

Jangan rusakkan
jangan pergi

Aku akan menangis
saat kau pergi dan matahari siang menyinari aku
Saat itu aku akan sadar
tak ada yang peduli pada kesedihanku
dan pada dunia kecil kita yang hancur

Aku akan marah
dan tak bisa berbuat apa-apa
– karena kita bukan apa-apa –

Aku akan merindukan
gonggongan kecilmu yang aneh

Jangan bicara
bahwa kau akan pergi
Karena aku akan marah padamu
Katakan itu bohong
dan segera peluk akau sedekap-dekapnya

Suatu hari kau akan menyesalinya
Karena aku akan datang ke kamarmu
dengan seluruh diriku
dan kau tak disana

Biarkan aku mencintaimu
Biarkan aku menyelamatkanmu

Kembalilah
Bersama kebodohan yang hanya cinta
Bersama kebodohan yang hanya cinta

LELAKI :

Tapi ada hidup yang lebih besar

WANITA :

Air mataku akan menitis
dan dia akan kesepian


==========
Toba.
Bandung, 30/09/01

Buat Lukamu

Buat kawanku F****

dari sana rupanya
luka itu bermula
pada wajah kemayu penuh senyum
dan jalan gontai seorang dara

angin yang diperkosa waktu
mengantarkankannya ke sudut hatimu

tuk!
dititikkannya sebilah luka

dari sini rupanya tangismu berasal
noda hitam yang melegamkan kemudaanmu

berusaha berulang kali
membangun benteng tinggi dan kuat
tapi selalu luruh pada akhirnya

berusaha pada tiap waktu
menghadirkan tameng terkokoh
tapi justeru kau jatuh bersamanya

bersabarlah.
Paulo Cuelho bilang:
“Berdamailah dengan hatimu”

Kenalilah,
ia luka, dan tetap namanya luka
ia tamumu saat ini
jangan kau banting pintu ke depan mukanya
karena ia akan datang lewat jendela, langit-langit,
bahkan dari lantaimu
sampai dia mengepung relung jiwamu
hingga kau sesak dan pingsan

bukakan pintu itu
dia hanya ingin menyampaikan
sepucuk surat dari hidup,
yang akan diletakkannya di ruang tamu
lantas pergi dari pintu yang tak kau ketahui

Tapi aku senang melihat deru-mu
kegagahan kecil yang lahir dari amarah merah

– kepada dia yang meninggalkanmu serta-merta –

kokok ayam jantan yang kehilangan cinta
antara parau kesedihan dan kebaikan mentari pagi
jangan lupa, itu fantastis!
itulah kau saat ini

06/10/04

Sejurus Mandang Lautan

sejurus mandang lautan
menengok luka yang tersisa
satu-dua uratnya masih berdenyut malu

Tak usah lambaikan tangan
tak usah ucapkan pisah
pandangi ia makin hanyut ke tengah
jauh dari dada kita

di pantai ini
kita hanyalah pelancong
yang mengagumi paduan
matahari sore dan keindahan luka

pelesiran ini jadi rutin
karena kita butuh romantisme
kita butuh menyerap keindahan tangis dan ratap
agar penyesalan malu

sejurus mandang lautan
wajahmu dan harap yang menggantung
terbingkai jelas berlumur matahari senja

================
18 Sept 2004

Satu Episode Terakhir

“Kenapa kau tak memelukku?”

“Tak bisa, kau harusnya lebih dari sekedar pelukan”

“Aku membutuhkannya”

“Ya, dan mungkin juga dengan sebuah kecupan manis dibibir sebagai pembuka…”

“Itupun aku membutuhkannya”

“… Kau lebih dari sekedar kecupan…”

“Aku menginginkannya, dan aku inginkan itu darimu”

“Kenapa kesepianmu jadi penuh nafsu?”

“Entahlah, dia memperlakukanku begitu, dan aku jadi membutuhkannya, terlebih bila datangnya darimu… atau sekedar usapan di kepala mungkin?”

Tangan si pemuda hampir meraih kepala sang gadis, hingga rasa takut kehilangan melanda hati dan tangannya.

“Tidak bisa juga, usapan itu hanya pintu menuju sentuhan yang lain”

“Inilah aku, orang yang kau cari katamu. Aku pun mencarimu. Aku telah berubah.”

“Maaf sayangku, tapi hati bukanlah besi yang berkarat. Hatiku tetap mencintaimu seperti dulu, dan juga tanganku masih tak berani menyentuhmu (juga seperti dulu). Aku tak peduli berapa lelaki telah menyentuhmu, tapi itu bukan pilihanku terhadapmu. Cukup aku sentuh kau dengan senyum dan hati – setidaknya saat ini -”

“Kau bodoh, aku menderita”

“….”

“Ini mungkin dosa, tapi begini adanya”

“Bukan dosa benar jadi pikiranku. Tapi kesucianmu yang terpatri pada tiap senti tubuh ini, mencegah mereka meluluskan inginmu”

Gadis itu membisu. Diam-diam ia kecewa, hanya angin dan karpet lembut yang diberitahunya.

“…. Akan kubelai kepalamu…”, lelaki memutuskan.

Gadis itu tetap diam, hanya kepalanya bergerak mengharap belai. Tangan lelaki yang gemetar coba meraihnya, tapi tak bisa, tangan itu kembali lagi pada tempatnya.

Gadis itu makin diam. Gusar dan sangsi hanya diberi pada pegangan kursi semata.

“Percayalah, sakit sekali menahan tangan ini dari menyentuhmu, dari sekedar merasakan pasir lembut yang tersasar dipipimu…. Tapi aku tak bisa, itu hanya akan menyamakanmu dengan perempuan-perempuan lainnya.”

“kau mencintai bayangku kalau begitu.”

“Aku mencintaimu, dirimu seutuhnya. Tapi bukan ini perjalanan yag kuinginkan bersamamu.”

“Apa yang kau inginkan itu tak pernah ada. Aku yang kau harapkan telah jadi fatamorgana, tipuan menggiurkan di tengah gurun. Kau, kau yang kudamba begitu lama. Sentuhanmu yang kuharap melebihi sentuhan siapapun yang pernah menyentuhku (yang aku tak pernah benar-benar rela), harus tertepis oleh bayang kosongmu tentang cinta. Kau, aku menjaga wajahku dan semuanya demi kau, agar kau bisa merasakan kelembutanku, dan jemari tanganku (yang bila kau sentuh) akan mengirimkan getaran kerinduan yang telah menjadi kegilaan dalam damba yang sangat akan dirimu…. tapi semuanya terbentur bayangmu tentangku, bukan diriku yang sebenarnya”

“Kau….”

“Sudahlah, lebih baik kita bicarakan tentang mentari yang terbenam ke dalam kebun sore ini”

“….”

“….”

Mereka diam, wajah sesekali bertemu pandang. Sedari tadipun mereka tak bicara, hanya tubuh yang menyampaikan bahasa. Masing-masing tubuh diam kaku diatas bangku yang berdampingan. setelah gelap memagut pori-pori bumi, lelaki itu berpamit.

“Aku sayang padamu”, perempuan itu berkata.

“Begitu juga aku”

Ia menghilang ke arah kebun singkong, berjalan dengan hati meninggalkan gadis itu selamanya, menyadari ia cuma mimpi. Dan si gadispun melepasnya sepenuhnya, ia lelah terus menimang-nimang perasaanya terhadap sang lelaki.

Udara petang beraroma tanah gembur dan perpisahan.

1:52 29/02/2004