“Kenapa kau tak memelukku?”
“Tak bisa, kau harusnya lebih dari sekedar pelukan”
“Aku membutuhkannya”
“Ya, dan mungkin juga dengan sebuah kecupan manis dibibir sebagai pembuka…”
“Itupun aku membutuhkannya”
“… Kau lebih dari sekedar kecupan…”
“Aku menginginkannya, dan aku inginkan itu darimu”
“Kenapa kesepianmu jadi penuh nafsu?”
“Entahlah, dia memperlakukanku begitu, dan aku jadi membutuhkannya, terlebih bila datangnya darimu… atau sekedar usapan di kepala mungkin?”
Tangan si pemuda hampir meraih kepala sang gadis, hingga rasa takut kehilangan melanda hati dan tangannya.
“Tidak bisa juga, usapan itu hanya pintu menuju sentuhan yang lain”
“Inilah aku, orang yang kau cari katamu. Aku pun mencarimu. Aku telah berubah.”
“Maaf sayangku, tapi hati bukanlah besi yang berkarat. Hatiku tetap mencintaimu seperti dulu, dan juga tanganku masih tak berani menyentuhmu (juga seperti dulu). Aku tak peduli berapa lelaki telah menyentuhmu, tapi itu bukan pilihanku terhadapmu. Cukup aku sentuh kau dengan senyum dan hati – setidaknya saat ini -”
“Kau bodoh, aku menderita”
“….”
“Ini mungkin dosa, tapi begini adanya”
“Bukan dosa benar jadi pikiranku. Tapi kesucianmu yang terpatri pada tiap senti tubuh ini, mencegah mereka meluluskan inginmu”
Gadis itu membisu. Diam-diam ia kecewa, hanya angin dan karpet lembut yang diberitahunya.
“…. Akan kubelai kepalamu…”, lelaki memutuskan.
Gadis itu tetap diam, hanya kepalanya bergerak mengharap belai. Tangan lelaki yang gemetar coba meraihnya, tapi tak bisa, tangan itu kembali lagi pada tempatnya.
Gadis itu makin diam. Gusar dan sangsi hanya diberi pada pegangan kursi semata.
“Percayalah, sakit sekali menahan tangan ini dari menyentuhmu, dari sekedar merasakan pasir lembut yang tersasar dipipimu…. Tapi aku tak bisa, itu hanya akan menyamakanmu dengan perempuan-perempuan lainnya.”
“kau mencintai bayangku kalau begitu.”
“Aku mencintaimu, dirimu seutuhnya. Tapi bukan ini perjalanan yag kuinginkan bersamamu.”
“Apa yang kau inginkan itu tak pernah ada. Aku yang kau harapkan telah jadi fatamorgana, tipuan menggiurkan di tengah gurun. Kau, kau yang kudamba begitu lama. Sentuhanmu yang kuharap melebihi sentuhan siapapun yang pernah menyentuhku (yang aku tak pernah benar-benar rela), harus tertepis oleh bayang kosongmu tentang cinta. Kau, aku menjaga wajahku dan semuanya demi kau, agar kau bisa merasakan kelembutanku, dan jemari tanganku (yang bila kau sentuh) akan mengirimkan getaran kerinduan yang telah menjadi kegilaan dalam damba yang sangat akan dirimu…. tapi semuanya terbentur bayangmu tentangku, bukan diriku yang sebenarnya”
“Kau….”
“Sudahlah, lebih baik kita bicarakan tentang mentari yang terbenam ke dalam kebun sore ini”
“….”
“….”
Mereka diam, wajah sesekali bertemu pandang. Sedari tadipun mereka tak bicara, hanya tubuh yang menyampaikan bahasa. Masing-masing tubuh diam kaku diatas bangku yang berdampingan. setelah gelap memagut pori-pori bumi, lelaki itu berpamit.
“Aku sayang padamu”, perempuan itu berkata.
“Begitu juga aku”
Ia menghilang ke arah kebun singkong, berjalan dengan hati meninggalkan gadis itu selamanya, menyadari ia cuma mimpi. Dan si gadispun melepasnya sepenuhnya, ia lelah terus menimang-nimang perasaanya terhadap sang lelaki.
Udara petang beraroma tanah gembur dan perpisahan.
1:52 29/02/2004