Tag Archives: puisi patah hati

Ini Titik Kita

Senyum saja.
kita mati kata waktu jumpa

kalimat-kalimat berlarian cepat
tanpa arah hendak kemana

dari balik pintu bus
kau hilang, sehilang-hilangnya
dari pandangan

biar sekali lagi kita jumpa
setelahnya tutup saja
benang tanpa ujung ini

mau apa lagi?
semua sudah kita lewati
hanya ada kalimat rahasia yang
belum tersampaikan

sudahlah, lupakan saja harapan kosong kita
buang ganjalan dihati
masuki dunia baru

kita harus berenang
dipasir kehidupan ini
jangan tambahi beban lagi

aku bilang ingin jumpa
dan kita berjumpa

“Baik-baiklah kau selalu”

puisi inilah
titik itu.

.2:07 AM 7/22/2003

Ini Harus Selesai

Jangan bertanya sekarang
Kau sudah kuhapus
sudah kubuang

Tapi kau bertanya juga
setelah diammu selama itu

Ternyata kau simpan
jauh di hatimu
perasaan yang membingungkan

Kau bertanya dengan manis
tentang dirimu dan mimpiku
Aku teringat lagi kamu
Aku mencium lagi harummu

Harapmu bicara
Dalam kemurungan penuh ragu

Aku tak mampu jujur sekarang
Telah kubuat banyak dosa
Mereka menjadi jaring
dan menjeratku

Dan kau datang
sebagai tanda tanya
yang selalu ingin kubuka

ruangmu sudah kututup
tapi tak hilang

aku jadi bingung
dimana kesejatian
aku jadi ragu
tentang kebenaran

kau tahu
aku muak dengan urusan ini
tapi memang belum selesai

Kuminta, datanglah suatu waktu
dimana kau dan aku
tak peduli penuh luka
kita harus bicara
tak peduli siapa berdarah
siapa tertawa
tapi jadikan hari itu sebuah titik.
Sebuah penghabisan

Tak peduli luka atau sebaliknya
Ini harus selesai

2:13 AM 6/30/2003

Bayanganku dan Kau Saat Ini

kukira akan datang hujan senyum
tapi tidak

hujan luka dan penderitaan
merambat dari langit tak terduga

kau, datang begitu saja
menghadirkan satu lembaran putih
yang tersobek

aku tersenyum waktu
luka itu kembali
aku tahu ada bahasa yang lari
dari tempatnya

kukira kau akan hadir
dalam bayang mimpi malamku
tapi tidak, bahkan dalam angin pun
bisikmu hilang

aku tak tahu
apa kau menari atau menangis
tapi aku tahu kenapa
bila dua hal itu terjadi

kau selalu hadir
dalam satu lagu yang tak pernah
mau kau dengarkan
dan saat itu, aku
duduk dalam ruang temaram
penuh asap dan angin purba

“jaman berubah,
waktu terus berjalan,
dan semuanya menjadi remeh”
sekali waktu, luka dikaki
sering berkata itu

tapi tidak
kita memang harus bicara
entah sebagai apa
kita harus bertemu
entah untuk apa
ada kado yang belum kuberikan
entah itu apa
tapi hatiku bilang begitu
– kita harus jumpa –

4:16 AM 5/13/03

Puisi yang Pudar

Lewat tinta
sebuah puisi yang pudar
teraba lagi hari-hari keemasan
dan malam-malam yang selalu senja

sudah tertuliskan begini
kita hanya diizinkan untuk merasa
tidak menyentuh dan memiliki

Dekapan yang dirindui
benar-benar tinggal kerinduan

malam dirundung sendu
menghapus air matanya dengan
sapu tangan; selendangmu yang lepas
dan tak pernah teraih lagi

cerita kuno itu
menjadi tempaan keras bagi hati
menumbuhkan, menopang ketika goyah

Begini hidup itu
Kafilah besar yang terus melaju
yang mati dan luka ditinggalkan
dan ia tetap melaju

puisi yang pudar
sisa masa yang mati
kuburkan baik-baik,
lupakan.

2:47 PM 9/20/2003

Mengingatmu, Merepotkan

tidak bisa tidak
pikiran tentangmu memang mengganggu
ketenangan selalu rusak
senja yang terbangun buyar
mencair seperti limun tanpa gizi

wajahmu selalu melahirkan tanya
menghadirkan keraguan yang tak diharapkan
tak kurang dayaku melepas, menghapusmu
tapi sia-sia
kau seperti hama
selalu lahir dan semakin penuh

“apa yang kau mau dariku?”
itu pertanyaan kita berdua

mungkin kita ini bodoh
tertipu oleh kemudaan
dan dunia yang baru terpandang setitik

dalam apa hendak kukubur kau
mungkin itu juga tanyamu suatu ketika

“aku yang kau inginkan?”
itu pertanyaan kita berdua

tapi juga tidak bisa tidak
bayangmu membantuku berjalan
memapahku berdiri dan
menggelorakan pikiran

tapi
kau ya cuma kau
kau hanya kau
sekedar kau
tak lebih dari kau
dan
justeru karena kau
aku sulit melupakan

3:10 AM 4/26/03

Perih Mendendam

Kesedihan berlompatan riang
sebagai anak kecil tanpa dosa
seperti angin menghembus
aku tak tahu sebabnya

kesedihan tersenyum
waktu kulihat kamu
seperti keringat mengalir
ia tiba-tiba saja ada

aku tak pernah mengundangnya
ia datang ketika
kusebut kamu

kau telah menyatu
dalam nadi yang tak kutahu
letaknya

luka karena kehilanganmu
menjadi bom waktu
setiap saat bisa membunuhku

aku tak bisa menangis
tapi ada sebuah luka yang lebih
menusuk dari balik kulitku
waktu kuingat kamu

kau mungkin takkan pernah tahu
Darah-darah yang tercecer
hanya karena kusebut namamu

12:55 AM 10/16/2003

Ruangmu

kutepuk dada yang sakit
berat

kumuntahkan masa lalu-masa lalu
waktu-waktu bersamamu
waktu-waktu aku memandangmu

berat

ada luka yang berpijar
ada jendela yang terbuka lagi
ada gelora yang membakar lagi

tapi lelaki ini akan tersenyum
memanggil namamu dengan
satu lambaian tangan
lalu kuringkas semua masa lalu
dalam satu tarikan nafas

ia masih merindukanmu
menggambar wajahmu masih
pada langit yang kupandangi

kesadaran yang terlambat
datang tepat di jidat:
ruangmu belum tertutup juga.

11:44 02/02/03

Sebuah Pesan Enggan Jumpa

Sampai kau menangis
malam itu
kau lipat awan
dalam api

Marah
Lelah menahan hati yang berat
Di atas tembikar rapuh

Aku hanya mampu menatapmu
kupaksa tanganku melipat
kubalut dengan gelap
aku merasa lemah seketika

Dari jendela itu
Kesombongan langit mengangkangimu
Diam dalam bijak
Membiarkanmu menangis
Demi pedih menggurat jelas di dahi

Aku merasa lemah
aku ingin pergi dari jendela ini
menuju dunia yang tanpamu

Sudahlah,
ini kutulis pesan di pintu:
“Jangan menangis
Luka itu bukan siapa-siapa,
Ia saudara kita.
Selamat tinggal.”

1:37 PM 7/8/2003

Lagi-lagi Kita

mulut terkatup
cukup
sudah
usai

tangis menjadi
matahari sore
kejadian-kejadian memasuki
usia senja

sudah
cukup
usai

kamu impianku
benar-benar impian
terlalu rapuh kugenggam

kamu hilang
jarak memecah
wajah-wajah retak di atas kertas,
puisi-puisi, dan surat-surat lama

cukup
sudah
usai
kita selalu berkata

tetapi setelah musim-musim
berganti baju
setelah langit berganti wajah
tetap ada yang tak terpatahkan

hati kita beku
hidup dalam kabut
tersasar
dan lagi-lagi
kamu
aku

3:08 19/12/02

Kukirimkan Tidak

parah betul
kalau kuucap dua-tiga kalimat
dan semuanya selesai

kau menjadi penuh harap
sedangkan aku
sudah tak mungkin mengabulkannya

mungkin aku salah
masih bicarakan bahasa lama
kini aku gagap dalam memenggalnya

aku bukan Tuhan, ya.
bukan penentu jalan-jalan
yang rumit ini
tapi aku punya mandat mengatakan
tidak

entahlah, kelihatannya bodoh sekali
setelah lama merindu, kini ingin kutinggalkan
sama sekali

maafkan aku
sedalam-dalamnya

sekarang
ketika daun tua meregang nyawanya
kukirimkan padamu
“Tidak”

11:33 PM 9/5/2003