Lewat tinta
sebuah puisi yang pudar
teraba lagi hari-hari keemasan
dan malam-malam yang selalu senja
sudah tertuliskan begini
kita hanya diizinkan untuk merasa
tidak menyentuh dan memiliki
Dekapan yang dirindui
benar-benar tinggal kerinduan
malam dirundung sendu
menghapus air matanya dengan
sapu tangan; selendangmu yang lepas
dan tak pernah teraih lagi
cerita kuno itu
menjadi tempaan keras bagi hati
menumbuhkan, menopang ketika goyah
Begini hidup itu
Kafilah besar yang terus melaju
yang mati dan luka ditinggalkan
dan ia tetap melaju
puisi yang pudar
sisa masa yang mati
kuburkan baik-baik,
lupakan.
2:47 PM 9/20/2003