Category Archives: Puisi Nyenius

Bolehkah Aku

Bolehkah kuharap tatapmu pagi ini
Sedetik kerlingmu cerahkan hatiku

Bolehkah kupinta senyummu pagi ini
Permata yang kucari sejak mata terjaga

Bolehkah kunanti suaramu pagi ini
Seperti pengemis menanti di ujung jalan

Gelora ini
Meluap-luap
Dan penantian,
membuatnya tak tertahankan

Bolehkah

Aug, 7, 2019

Berita Itu Mematahkan Hatiku

Berita-berita itu
mematahkan hatiku
Tentang kenyataan buram
dan penolakan tak komprehensif

Membuatku termangu
tak dapat bersedih atau kecewa
karena Kau disana
tatap-Mu menusuk tajam
mencengkam

Jangan marah padaku
Tuhan
Aku akan menahan
retak hati yang tak kupahami,
sakit yang berdenyut halus di dada

Berita-berita itu
berdengung dihatiku
walau gelap akan apa dan kenapa
aku percaya

25 Juni 2019, 9:59 AM

Ada Sajadah Menanti

Ada sajadah menanti
terhampar
dipanasi mentari, dibayangi hujan

membujur ke titik yang mulia

Ada sajadah menanti
tanpamu dia terus bersujud
menanti kening pendosa tersungkur atasnya

membujur ke rumah yang tua

Ada sajadah menanti
terbaring dengan taat
disinari mentari, terpapar kelembutan Tuhan

membujur ke ujung usia

Ada sajadah menanti
luapan air mata hambaNya
sang pesujud
yang entah sampai kapan berkelana

18 juni 2019 1:11 pm

Datang Lagi

Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

membasahi relung hati dengan sepi
sepetik nada blues menggores dindingnya

memberikan sedikit manis pada pahit

ruang membuatku ingin pergi

ayat suci membuatku bersalah

blues menjadi masuk akal
Dan hujan mengguyur

membasahi lahan ketidakpastian baru

bukan, bukan masa depan menggundahkan

bukan pula kemalangan menggulanakan

aku kesepian
waktuku dan waktunya dan waktu mereka

tak bertemu padu

pertemuan menjadi singkat

perpisahan berasa berat
hatiku meratap

merutuk

sendirian di dalam ruang

ruang membuatku ingin pergi
mataku seluruhnya

tak sanggup memandang Tuhan

malu sangat
rasanya tidak ada dimana-mana

rasanya tidak terasa apa-apa

rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

ruang membuatku ingin pergi
hatiku menjerit

dengan derit kaki lemari yang bergeser

mungkin lelah

atau entah
Rasanya rasa ini tak asing lagi

rupanya, ada waktunya dia kembali

22:13, 2 Juli 2016

Datang Lagi

Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

membasahi relung hati dengan sepi
sepetik nada blues menggores dindingnya

memberikan sedikit manis pada pahit

ruang membuatku ingin pergi

ayat suci membuatku bersalah

blues menjadi masuk akal
Dan hujan mengguyur

membasahi lahan ketidakpastian baru

bukan, bukan masa depan menggundahkan

bukan pula kemalangan menggulanakan

aku kesepian
waktuku dan waktunya dan waktu mereka

tak bertemu padu

pertemuan menjadi singkat

perpisahan berasa berat
hatiku meratap

merutuk

sendirian di dalam ruang

ruang membuatku ingin pergi
mataku seluruhnya

tak sanggup memandang Tuhan

malu sangat
rasanya tidak ada dimana-mana

rasanya tidak terasa apa-apa

rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

ruang membuatku ingin pergi
hatiku menjerit

dengan derit kaki lemari yang bergeser

mungkin lelah

atau entah
Rasanya rasa ini tak asing lagi

rupanya, ada waktunya dia kembali

22:13, 2 Juli 2016

Kebodohan Tanpa Batas

Dunia menyingkap roknya
Hamba berlari mengejar
Ceceran pakaian dalam kupungut satu-persatu
Tak ada habisnya

Sampai kehampaan menampar
Kecantikannya lenyap berganti rupa
Setumpuk dalaman yang membusuk
Kehilangan arti

Seseorang menabrakku
Dan terus berlari tanpa menoleh
Dia mengejar tumpukan mayat dan tanah
Penuh nafsu
Persis diriku

Saat lubang semakin dalam
Datang seorang gadis
Berpakaian sopan
Menempelkan dadanya ke wajahku kemudian pergi

Aku berlari mengejar bayangnya

—————–
28, jan, 2013 – 15:56

Tetapi Kita Pergi

Andai kau gigih
mempertahankan hijau cemara rasa
atasku

mungkin tidak begini
jalannya novel kita
satu-dua kecup harusnya bertukar
tutur canda dan tangis amarah
mungkin saling berserah

andai aku sedikit bersabar
menapaki langkah-langkah
menujumu

mungkin penyesalan menjadi tawa
dan namamu tidak hanya terbayang

bila saja
kita bertahan disitu
pada titik stagnan tanpa arah

tidak begini,
tentu tidak begini.

Semalam Bersamanya

Malam ini
aku bercengkrama dengannya
bermuka-muka, mengangkat
bergelas-gelas anggur manis

melupakan dunia
menuruti kehendak sendiri

aku tertawa
-dia tertawa lebih keras-
aku tersenyum
-dia menyeringai-

“sobat, sesloki lagi,
sebelum matahari benar-benar tinggi”

Sedikit ragu,
anggukan kecil jawabku
kusulang sloki baru
anggur itu pun menggeliat
memuncratkan kemanisan tak berperi

ruangan penuh desah
meja berantakan -basah-

dia mundur ke sudut ruang
menatap pergulatan kami
di atas meja bundar
di tengah ruang yang lebar.
Dan tertawa sekeras-kerasnya

Dunia pun gelap

samar-samar dia menyodorkan
kartu nama
“Tuan Dia Yang Terkutuk”