Category Archives: Puisi Nyenius

Ternyata Kamu!

Aku lihat wajahmu
dan tersenyum,
Ya! Aku kenal kamu!
Ya! Itu yang pernah kurindu!

senyum yang melaju ringan
bagai sampan melayang ringan
ke hati
Ya! Aku tahu kamu!

pada rautmu
ada serpihan diriku yang tertinggal
ada persatuan yang (ternyata) tak lepas

Seperti ada tali tersambung kembali
ada kedamaian
bahwa disana, ada bagian diriku

Dan Mereka Meracau

Iblis menyingkapkan roknya
sebersit saja
dan manusia bergegas
menjejalkan jiwanya jauh ke dalam

Berlarian di taman hasrat
menggoyangkan pohon terlarang
mengejar khuldi-khuldi berjatuhan

Ya Tuhan,
ucapnya
Ya Tuhan,
ucapnya

Dan ya Tuhan
mulutnya penuh darah
kerat daging mencuat dari bibir
tak ada khuldi,
mereka memakan dirinya sendiri

Iblis tertawa
menyingkapkan roknya, lagi dan lagi
lapisan dibalik lapisan
aurat tergelap dunia makin menggoda

“walau hanya mata yang tersisa, aku harus kesana!”

Dan mereka meracau

 

————————
Monday, May 16, 2011

Para Babi

Kalau peraturan dibuat oleh babi
akan cocok untuk babi

Kalau ketertiban ditegakkan oleh babi
akan banyak babi gemuk

Kalau kebudayaan mengikuti babi
calon babi akan diterima sekali

Kalau contoh untuk masyarakat adalah babi
maka yang tabu adalah yang tidak seperti babi

semua itu berkelebat cepat
dalam pikiran pemuda
memandangi orang yang mengajarkan cara babi
dan berkeras dia bukan babi

nilai-nilai babi menjadi kebenaran
hanya karena banyak penganutnya
para ular yang takut diinjak babi-babi raksasa

…pemuda itu beringsut jauh
memilih kata gagal dalam definisi babi…

Hati yang Berkarat

sekerat daging
berdenyut menjaga hidup tuannya

sebuah ruangan
bersinar, hingga akhir hidup tuannya

sekerat daging membiru
denyutnya satu-satu
sebuah ruang, temaram
cahaya hanyalah percik-percik belaka

pada antara dimensi daging dan roh
sebuah jiwa teronggok,
diliputi karat,
hanya sebuah mata terlihat
menatap harap

 

30/06/11 – 06:00 am

7 Jeda Keenam

 

––

Setelah kau membenciku
Dan menistakan namaku
Datanglah masa itu,
Kau mencintaiku

.-

Dalam remang
Kau menelengkan kepala
Membisikkan desah
Dan keringat manis timbul dalam udara berpendingin

.-

Kau memaki
Menista kembali
Dan tak putus mengingatku

..-.

Dalam remang
Kau cengkeram tanganku
Entah mencegah
Entah meminta

-..

Kau memaki
Menista kembali
Kali ini, kau mau sedikit mendengarkan

..

Karpet merah terbentang
Kau menista namaku penuh rindu
Kau memaki penuh kagum
Hati telah bersahutan
Dan udara adalah cinta

-.

"Disebabkan salahku?
Atau perasaanmu membiru?"
Tanyamu sendu.

"Perasaanku", jawabku

"Ya, ya…"

.-

 

---------------------
May 16th, 2011, 09:53 am 

Lagu Coro

Setelah begitu keras
Hidup menerpa
Kami menyimpulkan
Tak ada benar dan salah,
Hanya makan

Anak adalah alat
Jalanan adalah swalayan

Kami hidup seperti kalian
Punya rumah dan bisa makan
Mencicil hidup yang layak

Tapi tetap
Anak adalah alat
Dan jalanan adalah swalayan

Belas kasih adalah komoditas,
produk tanpa tanggal
Kadaluwarsa

Kami adalah kecoak
Di kolong negerimu

Pada Suatu Malam Berangin

I

langit,
dan angin malam
hembusi seluruh jiwaku

menguak sejarah tahunan
lampau
galau purba datang bersamanya
menyelimutiku penuh seluruh

Dan angin bercerita
tanpa diminta:

II

Kenapa tak mengerti juga,
aku mencintaimu
menginginkanmu

dinding yang kau sodorkan
menghantam penuh dera
sedemikian takutnya
kau pada cinta?

"Dibaliknya ada luka", katamu

Oh, mata yang merenung itu
bibir yang mengatup tertahan
menyerap seluruh energi hidupku
menyerpihkannya

aku akan berbuat,
aku akan bertindak,
cukup katakan ya.

kau menunduk
matamu menjadi garis misteri,
jemarimu menarikan ragu
dan cintaku meradang dalam

Itulah,
saat kepura-puraanmu memuncak
kau tengadah, tersenyum lirih
"Kau takkan meninggalkanku?"

"Tidak."
Terucap dengan sepenuh diriku
sepenuh cintaku

III

Hari-hari berganti,
satu per satu kemudian mati

Malam-malam bersamamu
menjadi keemasan
sebuah panggung megah para kaisar

Aku bahagia

IV

Sebuah senja

Sepucuk surat darimu,
dan semuanya selesai.

V

Malam-malam penuh mimpi buruk
Energi hitam meraja

Segalanya kutabrak
Sedih ini terlalu kuat

Sebuah mimpi,
Aku duduk di kereta dengannya
dan kau menyusul
duduk bersandar padaku.

VI

"Aku terus mencarimu,
pada tiap rangkulan pria"
Katamu pada selembar kertas

Dadaku membara
ada sedih dan sukacita

VII

Sebuah telepon berdering
"Aku tak bisa teruskan jalan kita"
Ucapmu ragu seperti biasa

Sekali itu,
sekali itu sayangku,
Aku bisa bulat membuangmu
merobek semua catatan tentangmu

Sekali itu,
setelah tahunan lamanya.

VII

Dan angin malam tertawa
melihat kenang yang mencekam

Salahku

menaruh catatan sejarah
pada langit malam

 

====
3:43 am, 11/5/2011

Ya, Kamu yang Bernama Perpisahan!

Perpisahan yang nyata
Tampil bagai raksasa
dan segera galau mendera

Keluhan, sesal, semakin menebal
mendirikan dinding beton
dalam lubuk hati

Takut itu pasti
enggan melangkah lumrah terjadi.
Tapi waktu tak berperi
pelan dan pasti,
dia menghantarkan kita padanya

aku akan menangis dan tertawa
kuanggap,
saat ini adalah selamanya

 

=====
1:14 am, 05/11/2011

Perpisahan yang Kita Lahirkan

Suatu saat nanti
Kau menikah
Dan semuanya pun sudah

Romansa-romansa menjadi percik kecil
Tentang senyuman, gurau, kesenangan saat jumpa
Atau mungkin penyesalan yang entah apa

Suatu saat nanti
Kau akan melabuhkan hidupmu
Menarik sauh bersama entah siapa

Dan senyummu
Tawa cerdasmu
Kembali cukup kubelai dari
Balik kaca

Suatu saat nanti
Pada masa yang entah kapan

Tapi dada ini berdentuman sekarang
Menyesal dan sedih seketika

Perpisahan menghembuskan baunya
Dari jauh-jauh hari
Memberi panjar dari gundah
Yang kubeli

Ah itu,
Kau melambai dari perahu
Bercucur airmata sedih dan bahagia

Kita tahu
Perpisahan telah lahir
dari jemari kita yang bertemu
waktu awal jumpa

Perahu menjauh,
Dan aku menangis