Tag Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Berita Itu Mematahkan Hatiku

Berita-berita itu
mematahkan hatiku
Tentang kenyataan buram
dan penolakan tak komprehensif

Membuatku termangu
tak dapat bersedih atau kecewa
karena Kau disana
tatap-Mu menusuk tajam
mencengkam

Jangan marah padaku
Tuhan
Aku akan menahan
retak hati yang tak kupahami,
sakit yang berdenyut halus di dada

Berita-berita itu
berdengung dihatiku
walau gelap akan apa dan kenapa
aku percaya

25 Juni 2019, 9:59 AM

Bertahanlah

Bertahanlah
Ketika semua yang tampak penting meninggalkanmu
Bertahanlah
Ketulusan akan terus dikupas
Dengan perpisahan
Dengan kemustahilan

Tengok sejarah
Siapa yang tercatat?
Apakah mereka yang pergi
Atau dia yang bersimbah pada pegangan

Ketulusan
Adalah buah yang harus dibuka kulitnya
Berduri, ataupun keras.

Kemurnian adalah pucuk mawar
Penuh duri tangkainya

Bertahanlah

——————
09/06/2007; 11:56

Pelayar yang Tertipu

Dan sukses pun diraihnya
Rasa puas lantas menikam perlahan
Merobek jiwa yang susah payah disusun

Tiang kemudi dilepas
Tangannya sibuk mengacungkan kemenangan
Perahu oleng mengarah karang

Kompas tak lagi ditilik
Matanya berbinar natapi langit
Dengan sorot lega
Barat dan timur tak terjaga
Pelayaran berbelok arah dengan halus

Dikira angin berpihak padanya
Padahal angin hanyalah angin
Ombak pun sekedar ombak
Dalam lirik burung camar berbisik;
“ya, ya, satu orang lagi berlupa.
Entah akan tersasar atau mati menumbuk karang”

Dan secuil sukses pun diraihnya
Rasa puas mengerat kemanusiaannya
Lupa menjadi pakaiannya.
Dia tak sadar,
Bahwa lautan tak pernah henti
Berombak
Sampai hari dia mati

—————————-
Tuesday, July 10, 2007

Ya, Dan Biarkan Penari itu Menari

Ya, dan biarkan penari itu menari
Di depan kita dengan secarik kain
Yang nanti pun lepas

Aku jadi muak
Berada disini menyaksikannya
Pada setiap gerak ada harapan akan uang
Nafsu berganti kasihan

Tidak adakah hal lain?
Ya, dan kau pun tertawa
Menggerayangi yang lainnya

Aku pun tertawa
Sambil menahan kencing
Hatiku tercabik-cabik
Sudahlah, bayar uangnya
Biarkan mereka pulang

Tapi ah tidak
Kantong telah dirogoh
Pertunjukan harus selesai
Aku hanya tamu

Aku menjadi kambing dungu
Yang terjebak dalam penasaran
Dan merasa sangat bodoh

Tentang Sejarah Dosa Kita

Tentang sejarah dosa kita
Tak ada yang bisa menghapusnya
Tercecer di belakang dalam titik-titik hitam

Tentang kesunyian
Keberengsekan yang aku tabuh
Pada bibirmu
Aku tak bisa menjelaskannya

“sudahlah, ini hampir tengah malam”

Nikmati saja cahaya kota
Dari jendela ini
Manjakan wajah dalam tamparan angin malam
Dosa masih tergeletak di situ

“tapi, sudahlah, ini hampir tengah malam”

Semuanya mendadak hening
Ada kerinduan aneh menyeruak
Memanggil sesuatu yang indah
Entah itu apa
Aku merasa sejuk dan nyaman

Angin malam, lampu kota
Pada jendela ini aku berpegangan
Menceritakan kegelisahan atas dosa
Yang terus melirik tajam

Aku ingin pergi
Tapi apa bedanya
Sejarah sudah tercatat
Kebenaran jadi tak pasti

Aku hanya terus
Menggenggam erat jendela ini
Berharap ia mengerti
Dan memberi sedikit kedamaian

Aku melihat ke bawah
Penjual makanan berderai tawa dengan tukang becak
Rasanya ingin meloncat

Dan selesai

—————-
Wednesday, July 04, 2007

Lagu Rindu Penduduk Yastrib

Kawan-kawan bajingan
Dimana pun berada

Kita pernah bermimpi menjadi sesuatu
Setidaknya mencoba untuk berhayal
Dan lantas menertawakannya

Mungkin hanya sekedar
Penyegar suasana
Tapi ya, kita pernah melakukannya

Ingatkah
Di dalam suatu rumah tingkat 2
Dengan lampu-lampu bohlam temaram
-yang itu semua karena uang kiriman lebih baik
Untuk beli rokok ketimbang lampu pl yang terang-
Dan ruang-ruang gelap yang kosong.
Kita berbincang tentang masa depan
Tentang pertikaian antar orang-orang fanatik
Tentang sejarah musisi-musisi yang terpaksa masuk
Ke telinga
Tentang larangan menghisap ganja di dalam rumah
Tentang handuk seseorang yang tak ingin digunakan bersama
Tentang seorang kawan yang mandi I bawah
lantas handukan sambil jalan ke kamarnya di atas
Tentang kelainan yang ingin diperbaiki
Tentang film-film biru yang menjadi kata kunci
Tentang hip-hop yang hanya dimengerti seseorang
Tentang gitar
Tentang panggung
Tentang gunung
Hampir tentang semuanya!

Sekarang aku di persimpangan
Menatapi cita-cita yang berserakan menunggu jawab
Tiba-tiba aku rindu;
“Apa kabar kalian?”

Mungkin bukan waktunya bertanya
Tapi sewaktu aku menatapi jalan hidupku
Aku teringat kalian;
“Bagaimana jalan hidup kalian?”

Ingin mendengar kisah
Walau aku ragu itu akan terwujud
Tapi harap tetap ada

Mungkin hanya sepenggal-dua penggal cerita
Tapi,
Itu pun kutunggu

——————————–
Wednesday, July 04, 2007

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Monday, July 02, 2007
7:42 PM

Semalam merancang hidup di neraka
Bersama musik orang-orang busuk
Dan setengah botol vodka

Hening menghantarkan
Pelecehan atas dosa
Kaki bersilangan diatas meja
Hembus tembakau, seteguk lagi
Dan kita tertawa

Begitu aneh rasanya dosa yang satu ini
Ada rasa enggan dan konyol
Tapi tetap dijalankan dengan tenang

Lihat gitarnya melambung ke langit
Kita pejamkan mata
Larut ke dalam suasana palsu

“mainkan terus bluesnya, mainkan terus bluesnya”

Dan setenggak lagi membasahi tenggorokan
Panas menjalar ke kepala
Dan berkata: “Oh Tuhan, dunianya bergoyang”

Temaramkan sedikit lampu
Berikan suasana remang pada hati
Diatas sofa empuk, merancang kursi panas
Di neraka

Angkat seloki tinggi-tinggi
Besulang untukmu Bonzo; “mungkin nanti kita jumpa,
sementara itu hentakkan bass drum dikakimu”

Sekelebat senang, sekelebat sedih
Sekelebat bangga, sekelebat takut

Dalam satu keputusan
Pada suatu malam
Terpesan sudah lapak-lapak api Tuhan

-Jimmy Page baru saja memulai lagu berikutnya-

—————
Monday, July 02, 2007

Ego dalam kubik

Kalimat yang terlontar hari itu..
seharusnya tak pernah kuucapkan.
Sungguh buruk akibat yang kusebabkan karenanya.

Terkurung…
Tak mampu bergerak bebas…
Nafasku nyaris tak bersambut dengan udara bebas
Aku tertipu…

Hanya karena terbuai oleh hukum medan magnet, aku lupa diri.
Bahkan otak kiriku menjadi bebal.
Kakiku yang sudah terbiasa mampu menumpu beban, kini menjadi lemas bergantung.

Kupaksakan mulutku dengan gulali omong kosong. Hingga hanya manis yang kurasakan.
Lupa akan ke’alpa’an air jernih yang lebih menyegarkan.
Situasi yang terus menerus kuulang sendiri.
Sampai tebal rasanya kulit ini.
Tak dapat lagi tertembus oleh kritikan pedas dari dunia.

Sungguh aku tertipu…
Sungguh aku lupa diri…
Sungguh…
Aku hanya manusia…