Category Archives: Layla

Umpatan Cinta

Heh!
Kamu fikir hatiku batu?
Diserbu rayu setiap hari setiap waktu
Tak mempan malah berpental??
Sialan!
Lama lama aku juga bisa jatuh cinta tauk!
Bisa luluh dalam sendu tatap matamu saat mengkhawatirkan sedihku
Bisa runtuh ego dan angkuhku
Dengan kalem tapi pedasnya sindirmu
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Sekarang kenapa kamu malah diam saja?
Ayo geraaak! kalau perlu lari
Dan bawakan aku sebatang cokelat
Tak mungkin kususui anakku dengan sebait puisi
Tapi gula dalam cokelat mampu meredam tangisnya di malam hari
Yang mungkin menghentikan kemesraan kita nanti


=========================
Layla.
(21 Oktober 2004)

SUKHERLI

Ramadhan tahun lalu kita bertemu.
Aku bersama lelaki itu berjalan di trotoar pusat perbelanjaan,
kamu cengar-cengir dan kita pun berkenalan.
Tanpa kamu tahu, anak muda itu baru saja menghiburku dari patah hati yang menyakitkan.

Ramadhan tahun ini, kita bertemu lagi.
Mengejutkan!
Aku berdiri di depan sebuah toko
dengan lelaki yang sama,
yang kamu lihat tahun lalu.
Kamu cengar-cengir, kali ini kita tak lagi bertukar nama
tapi tanpa kamu tahu, lelaki itu baru saja merayuku dengan ungkapan cintanya

I wonder, Li.
Mungkinkah Ramadhan tahun depan aku-dan lelaki itu- bertemu lagi denganmu?
Tanpa patah hati, tanpa rayuan gombal, mungkin dengan sebuah kepastian?

Wallohu a’lam.


==============
(21 Oktober 2004)

eLang

Langitku,
kau kata “bodoh” untuk pertanyaanku saat itu; “mungkinkah mati jawaban semua keresahan??”
Kau benar.
Tak mungkin kucari jawaban hidup ketika aku telah mati.
Mati adalah pertanyaan lain dalam hidup.
Bantu aku untuk mencari jawabannya
dengan kehadiranmu dan kasih sayang yang selalu kau panjatkan dalam doamu,
yang katamu, setiap malam.


===============
(19 Jan’04 ;22.30)

Aku Suka Sama Kamu

Teramat sulit berkata itu
Karena kakunya dinding sekitarku
Penuh dengan pertimbangan
Interpretasi
Kekhawatiran
Padahal aku hanya ingin bilang 
A  k  u     s  u  k  a    s  a  m  a    k  a  m  u

Meski tak maksud kuingin lahirkan
Benihmu dari rahimku



=================
Adjeng.
(15 Des 03;  10.20a.m.)

Orang Bilang

Orang bilang perempuan butuh kepastian
Tak suka diombang-ambing dalam ketidakjelasan perasaan
Hitam atau putih biarlah datang
Asal jangan abu-abu

Kemarin di telpon perempuan itu bilang
Bahwa keraguan atas perasaan yang kau simpan tak pernah ia rasakan
Sumpah mati ia yakini
Bahwa kau memang menginginkannya

Tapi tadi pagi ia datang sambil sesegukan
Katanya ibunya tak suka dirimu
Yang tak berbaju tak bersepatu
Katanya lagi bapaknya tak suka dirimu
Yang tak berayah tak beribu

Nah lho, kalau sudah begitu,
Bagaimana nasib perasaanmu?


====================
Layla.
(21 Oktober 2004)

Calon Suamiku

Ibu, kenalkan ini calon suamiku.
Usianya dua puluh satu kurang
Empat bulan sepuluh hari

Ibu, ini calon suamiku.
Masih kuliah, tingkat tiga,
Entah kapan dia pakai toga

Ibu, dia belum punya pekerjaan
Tapi dia keras kepala,
Menggodaku dengan ungkapan-ungkapan
Cinta

Ibu, mungkin ia belum punya uang
Bahkan untuk sedikit mahar
Tapi dia keras kepala,
terus saja berkata
“Aku cinta”

Ibu, mengingatnya aku sakit kepala.
Kubatalkan saja perkenalannya ya??

Ya Ibu, saat ini ia bukan siapa-siapa.


====================
Layla.
(30 Juli 2004)

You Puzzle Me!

Tersudut antara takjub…
Akan ia yang –seolah- tanpa takut
Menghampiri sang aku
Menawarkan segelas anggur kebahagiaan
(hmm…sepertinya menyenangkan!)

dan juga ada ragu…
benarkah ia begitu??
Mungkin ia hanya bocah kecil yang melihat gula-gula
Dan merasa itu cinta
Padahal manis sesaat,
Lalu hilang saat ia bermain layang-layang


=======================
Layla.
(06/07/03)

Tuhan, Izinkan Aku Amnesia

Dari ingatan tentang dia,
laki-laki pecinta buku persis seperti diriku.

Dari ingatan tentang dia,
laki-laki penyuka seni persis seperti yang aku cari.

Dari ingatan tentang dia,
laki-laki yang bercita-cita menjadi ayah yang baik.
Persis seperti penggenap kekosongan hatiku yang nyaris mati

Dari ingatan tentang dia,
laki-laki penyubur mesjid,
sosok imam keluarga yang aku damba.

Dari ingatan tentang dia,
laki-laki yang ternyata manusia
yang dengan kealpaannya,
hari ini membuatku meneteskan air mata.

Tuhan, sungguh, tolong izinkan aku amnesia dari namanya!

(24 Mei 2004)

Kembar Siam

Elang,
Aku menyukaimu seperti aku menyukainya
Aku ingin bersamamu seperti aku ingin bersamanya
Aku ingin menyayangimu seperti aku ingin menyayanginya
Aku ingin melindungimu seperti aku ingin melindunginya
Aku ingin tersenyum untukmu seperti aku ingin tersenyum untuknya
Aku ingin menangis untuk dukamu seperti aku menangis untuk dukanya
Aku akan mendoakanmu seperti selama ini aku mendoakannya,

Kufikir, tak perlu operasi untuk semua ini.

( — Layla — )

Menawar Tuhan

Ibu, semalam aku menangis
ketika seseorang yang aku sayang
memintaku pergi

Ibu, engkau pasti berkata
“Allah tahu yang terbaik bagi hambaNYA, Nak”

aku tahu, ibuku sayang
tapi boleh ‘kan aku tetap berdoa
agar ia yang terbaik untukku itu??

(4 Februari 2004, 07.45)