Terkurung aku dalam,
Siluet magentamu yang tak bercela,
Tak ada kehangatan kini,
Hanya silau,
Dan rindu yang separuh sisa,
Karena tawamu dalam diam,
Bahwa kau tak pernah,
Butuhkan purnama,
Hanya sang surya!
Category Archives: Puisi Cinta Member
Cinta yang terbuang
saat malam menggantikan siang
hati ini tak tenang memikirkan kau di sana
Namun apa yang ku dapat saat itu
Kau bersanding bersamanya
Hancurnya hatiku
Perihnya luka hatiku
Bagai ombak yang menerpa karang
Menghancurkan karang yang kokoh
Bunga cinta yang slama ini ku bina
ternyata tak kau tanggapi
Buih cinta yang kuberikan padamu
Kau buang begitu saja ke semak penderitaanku….
puisi Cinta
Tarian Cinta ‘Utada Hikaru’
huh… dimana cahyamu yang kau janjikan
dua masa kumenanti kehadiran seseorang
seseorang yang mau mengerti tentang asaku
menari dalam tarian Misteri Cinta
rasanya enggan tuk pergi dari Jiwamu
aku ingin menjadi angin saja
yang slalu membangkitkan Gelora
dan mengantarmu pada keabadian
setiap detik…
mengapa kau slalu membayangi kesendirianku.?
Kenapa langkah ini ingin berhenti dihadapmu.?
Aku malu dengan malam yang mengejekku
dalam rentan waktu ku masih mengikutimu
dan mencoba berjalan senada denganmu
semua ini kuturuti rasa hati
maka izinkanlah aku bersandar di bahumu
membuat rona yang berbunga
ku harap kau akan menyukai ini
menjadi kenyataan…
kuingin lagi
malam sunyi menghiasi hariku di tengah kesepian
hembusan angin tak lagi sejuk malah menusuk
bintang dimanakah engkau?
kurindukan cahayamu….
kupendam kerinduan hingga menjadi lubang
yang penuh angan dan impian
tak lagi kuberlari dalam riuh kehiduan
hanya malam dan keheningan
dimanakah mentari saat kucari?
terlambatkah aku menyadari?
keluguan yang dihiasi senyum tertahan penuh makna
turunkah rembulan saat kupanggil?
kumengelak dengan dalil….
semua tentangmu, yang selalu menari dalam mimpi
bibir ini berkata muak
namun hati berkata tidak
adakah kesempatan lain untukku?
berharap akan rindumu yang telah lama menjadi debu
QUite
Dalam diam kau berbicara
Dalam diam kau berharap
Dalam diam kau menghakimi
Dalam diam kau menyiksa
Dalam diam kau memberiku kesempatan
Dalam diam kau memberiku satu arti
Dalam diam kau membuatku mengerti
Dalam diam kau membuatku berfikir
dan..
Dalam diam ku pun penuh harap
Dalam diam ku pun berdoa …
Cukup !!
Jangan ada lagi diam
Jangan ada lagi diam
Jangan ada lagi diam yang menyesatkan !!
Terimalah diriku
Kesepian menemani hidupku
yang selalu melingkari, dan memanggil rindu
mengingat tampang seorang pujaan
terlintang dia disetiap lamunan
Dirimu tak dapat kutinggalkan
wajah cantikmu tak dapat aku lupakan
terimalah daku menjadi seorang raja
mendamping hidupmu yang selalu tetap setia
Hayalku mengikuti wajah indahmu
tidurku bermimpi bibir manismu
tiap langkahmu akan kujejaki selalu
mengintai gerak,cinta yang aku tunggu.
untuk lelaki tangguhku
seperti baja kau keras, tak tergoyah
bagaikan batu kau diam membisu
tak bisa luluh….
apalagi kutaklukan
napasmu napas pejantan
warnamu merah membara
hatimu keras sekeras karang
senyumu….., sungguh teramat mahal
angkuh benar pribadimu…….
bertahta diatas kesombongan
kokoh tak bergeming
kutantang kau dibara rindu
aku bersumpah….akan kulebur kerasnya baja
diatas lahar cinta yang membara
hai lelaki tangguhku…
kau semakin mempesona
(dalam keterasingan, california juni 2006)
18 Detik Menuju Matahari Terbit
Sepertinya benar, bagian malam yang tergelap adalah beberapa saat sebelum fajar menjelang. Tak hanya bagian yang paling gelap, tapi juga paling dingin dan paling sepi. Bertolak belakang dengan senja yang terasa hangat, yang menemani setiap manusia untuk pulang ke peristirahatannya. Bukankah itu berarti keadilan Tuhan. Maka, tak ayal, ada berjuta makna implisit dibalik beberapa jam sebelum fajar, dan beberapa jam setelah matahari tenggelam.
Suatu sore yang indah mungkin diwarnai derai canda tawa, yang nyata. Penghujung malam yang dingin mungkin berwarna gelap, segelap kenyataan pahit akan kehilangan. Di tengah itu semua terbentang beberapa jam yang ditulisi oleh kenangan. Yang, ketika coba ditulis dalam sebuah buku, entah tinta mana yang mampu menggores berjuta kenangan itu. Baik hitam, putih, emas, merah, canda, tawa, air mata, darah, dingin, kesal, kangen, rindu. Mungkin juga jenis-jenis perasaan yang kita tak pernah tau bentuknya. Perasaan yang muncul ketika, kita rela meminjamkan jaket kita, di tengah hujan, ditengah motor yang melaju agak cepat.
Ketika malam semakin dingin, dan tak ada kalori lagi yang tersisa untuk dibakar. Tanya pada dirimu, apa yang kau harapkan selain kehangatan matahari pagi? Ketika mata tak sanggup memejam, setelah sekian titik air mata yang keluar, tanya pada dirimu, bukankah cuma senyuman Ia yang kau harapkan.
Lalu, ketika matahari tak pernah muncul, dan senyuman itu tak pernah ada, apa yang kamu mau? Memaki Tuhan ato kembali menangis? Atau, berlari dari kenyataan, yang kau anggap itu lebih gentle?
ah sudahlah, kata hatimu tak pernah sinkron dengan isi otak kecilmu! Hasrat memilikimu tak pernah seimbang dengan besar rasa cinta tulusmu.
Kamu masih muda, tak pernah tau artinya memberi tanpa memiliki, yang selalu kamu banggakan itu. Kamu masih muda, tak tau bagaimana melihat mana keabadian yang jelas mana yang semu.
Malam yang paling gelap akan berubah menjadi fajar yang hangat, ketika kamu mampu memandang keseluran rangkaian malam yang ada. Dan dalam 18 detik menjelang matahari terbit ini, pikirkan, jangan pernah berharap apa-apa. Hadapi, dan jangan lari.
kamu masih muda …
Pertama!
Kemarin sore, matahari terasa terbenam lebih cepat. Dan beberapa hari ini, seakan-akan cuaca memaksa tiap manusia untuk tidak meninggalkan tempat teduhnya. Memang cuaca yang agak aneh ini terjadi sejak seminggu keberangkatan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit. Sudah sudah, jangan coba memikirkan yang tidak-tidak. Matahari tidak pernah bersekutu dengan bala tentara Syiwa untuk menurunkan murkanya ke dunia.
Seperti baru kemarin gadis kecil itu berjalan tertatih di pendopo. Merengek-rengek dihadapan sang Ratu. Menangis kecil. Melompat-lompat kegirangan. Kemudian berteman dengan malam yang menjaganya untuk senantiasa terlelap dalam mimpi indah. Ketika kecil Ia adalah cahaya mata sang Bunda. Kelak setelah dewasa Ia adalah permata Priangan yang tersohor hingga ke negeri seberang. Kini Tuan Putri harus pergi, atas nama persatuan Nusantara.
Bunda, Kenapa Hujan Tidak Turun Merata?
Dalam satu sore, di ujung pendopo, sang Putri bertanya kepada Sri Ratu,
“Bunda, kenapa hujan tidak turun merata?”
Agak samar memang aku mendengarnya, tapi suara manja gadis kecil itu seperti memiliki malaikat yang menyebar untuk mengetuk gendang telinga orang yang berada disekitarnya.
“Itu karena Tuhan adil nak, di satu sisi diberi berkah agar kita selalu mensyukuri dan tidak sombong. Di sisi lain tidak diberi agar kita selalu berusaha”, jawab sang Ibu.
“Kalau Tuhan memang adil, mustinya semua orang bisa bahagia?”, bantah Putri Dyah Pitaloka.
“Anakku, pohon semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Lautan semakin dalam, semakin gelap dia. Semakin dekat dia dengan Tuhan maka semakin berat juga ujiannya”, lanjut Bunda
“…, maksud Bunda”,
“Nak, keadilan bukan pemerataan segala sesuatu …”
“eng …”, termenung, entah paham atau tidak apa yang diceritakan Sri Ratu.
“Kelak ketika kau dewasa, dan mendampingi penguasa Sunda Galuh ini, engkau akan mengerti.”
Cahaya Mata
Masih dari kejauhan, aku terus memandang tak berkedip. Saraf-sarafku tak mampu menerjemahkan gambaran yang diterima oleh retina mata ini. Pengaruh aura sang putri terasa lebih kuat. Dimensi yang jauh berbeda dengan dimensi yang umum diterima mata. Lama kemudian saraf-saraf itu mulai melemah, dan satu persatu mulai meneruskan sinyal-sinyal yang masuk ke dalam hati.
Sekiranya ada hal yang lebih hebat dari otak dalam urusan interpretasi dan optimasi sinyal-sinyal yang aneh, pasti hanya hati. Sayangnya, Ia terlalu dikuasai perasaan. Kadang optimasinya menjauh dari akal sehat, meskipun solusinya konvergen. Seperti untuk kejadian saat ini, kenapa sinyal itu ia terjemahkan sebagai kasih sayang.
Menggapai bintang, bukanlah hal yang sulit untuk mereka yang tinggal dalam gugusan langit. Tapi bagi kami para penduduk bumi, bintang hanya bisa kami pandang. Diabadikan di posisi paling dalam di jiwa. Ketika ia menatap kami, hati kami menjadi terang benderang. Apalagi ketika ia berbicara pada kami, detik-detik tutur suara yang tersampai seperti menggeser posisi matahari.
Kami yang duduk dalam tataran primordial langit dan bumi, yang terposisikan di bawah langit, berdiri dibawah payung keteduhan awan, hanya bisa memandang dan mengagumi sang putri. Namun, ketika malam sudah menggelap, dan para Ksatria Langit tak mampu lagi melindungimu sang putri.
“Kamilah yang pertama!”
Yang berangkat dari bumi yang paling dalam, telah terbentur oleh batuan yang paling keras, telah terkungkung oleh ruangan tanpa cahaya sedikitpun. Kami yang bertingkah dengan sedikit asap di jari kami, yang tidak mengenal teknologi perapih diri. Kamilah yang pertama! memapahmu ketika kamu tak mampu berjalan, berada di depanmu ketika anak panah bergerak tepat menuju kepalamu.
Kami yang pertama mencium kesedihanmu, menghisapnya untuk segera pergi dari senyumanmu.
Sayang, sebelumnya, kami harus mengalahkan Ksatria Gugusan Langit!!!
Palagan Bubat
Langit berkata, “Tuan Putri jangan pergi”.
Aku masih terdiam duduk, tanpa bisa apa-apa.
Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.
Ingin aku pergi ke Tegal Bubat, berada disisimu, menjadi orang yang terakhir berdiri.
Pagi, Hujan, dan Senja
Dan matahari pun belum muncul, ketika hujan sudah memberikan perlawanan di awal hari ini. Cuma satu hal yang bisa dipaksakan dalam kondisi seperti ini, pergi kembali ke tempat tidur, melanjutkan mimpi tentang dirimu tadi malam. Tuhan memang adil, ketika kita hampir sampai di klimaks mimpi kita, maka sampai pula jarum pendek itu ke angka 5. Puncak mimpi itu diikuti oleh dering alarm. Menggangu? Bagiku tidak. Karena malam nanti akan kutemui kamu lagi dalam mimpi indah yang sama, tentunya dengan cerita yang beda. Karena cuma dalam mimpi, manusia dapat berpikir bebas. Imajinasi diriku dan dirimu dalam mimpi itu seperti derasnya hujan pagi ini yang memaksa semangat para pekerja untuk tetap berada di tempat tidurnya. Ia tidak mengenal perlawanan.
Shall I compare thee to a summer’s day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer’s lease hath all too short a date:
Tidak. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kehangatan musim panas. Dimensi kehangatan tatapan matanya lebih agung ketimbang dimensi fisis kehangatan matahari. Tatapan yang kemudian menjadi alasan, kenapa seorang bayi tidak pernah menyerah saat terjatuh pada waktu pertama kali belajar berjalan. Lalu dia menjadi alasan bagi seorang Ayah untuk meninggalkan anak istrinya di pagi hari, menuju kenyataan pahit kehidupan yang penuh ketidakjujuran.
Kembali kutemui Ia, di penghujung hari, saat pertemuan matahari dan bulan. Sedikit cahaya kemerahan menjadi latar warna pada detik itu. Hujan masih meninggalkan bekas di dedaunan. Titik-titik sisa hujan itu bertemu dengan ujung jarinya. Sambil berjalan perlahan, Ia pergi menjauh, menuju titik perspektif senja.
“Even if I’m invited by the brilliant wind
I’ll still keep following after you in my dreams
And even now, the sky in its downpouring blue
I look up and it wraps me up”
Akhirnya malam telah datang, rangkaian hari ini telah selesai. Detail bayanganmu di sepotong senja, lengkap dengan lembayung dan desau angin, telah terekam dalam tiap neuron otakku. Maaf, jangan pernah kamu minta itu untuk dihapus. Maaf sekali lagi, jangan pernah Anda mencoba mencurinya. Ia, hanya menjadi milikku, meski dalam imajinasi fiktif.
Dan malam kembali menguasai dunia.
Aku kembali terlelap dalam mimpi-mimpi.
“dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut
rahasia demi rahasia, yang tak putusputusnya
bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
Selesai mendoakan keselamatanmu.”