Category Archives: Puisi Nyenius

Suatu Senja yang Terlambat

“aku siap, menerima tamparan terkerasmu”
Gadis bermata sayu, menatap lekat pujaannya

“kau dimabuk cinta sayangku”
Berkata lelaki penuh pikat pada suaranya

Sejenak termenung, sang gadis menjawab
“tidak, aku siap sebetul-betulnya”

Angin menghembus
Menarikan rambutnya, menguji mata indah
Yang tanpa kedip menatap penuh puja

Menderap segera
Dinding bernama kebuntuan
Sebab cinta terlambat diungkapkan

Mereka duduk,
Begitu berdekatan.
Kulit yang kencang saling berpegang
Tapi galaunya terpisahbelah samudera

Tubuh hilang arti
Pertemuan bertimangkan cinta
Memangku dua hati yang memanggil

“kemanakah kita kan melangkah”
“ke museum”

Keduanya bangkit, dan pergi
Tersenyum

Mereka tahu betul
Definisi esok adalah perpisahan

Gadis yang Mencuri Senja

–

The Sun Stealer

Seorang gadis mencuri mentari
Merobek senja di pantai
Dan menempelnya di dinding kamar

Semuanya bingung,
Mencari
Kemana senja dan mentari pergi

Gadis itu mengintip dari jendela
Dan terkekeh nakal
“kupinjam dulu barang semalam..”

Apakah hilang gundahnya?
Apakah padam risaunya?

Senja terpapar
Pantai terhampar
Rokok dan kopi sudah disulut
Segera ia ternganga

Kehangatan senja
Merobek sepi jiwa
Begitu parahnya
Luka berduyun-duyun terbuka
Perih mengerat jantung dan hati

“ah, melupa bukanlah obatnya..”

Calo Cukai: Pertama Jumpa

seperti ada buldozer
lewat di kepalaku
waktu berusaha tawa
mengenai kesalahan yang dibenarkan

gemetar, takut, dan kalut
kuhisap sebatang samsu
terasa betul putaran bumi
pandangan merabun

aku disana
pertama kalinya menandatangani MOU busuk
lewat 750 ribu yang kubayarkan

Aku toleh langit
-cerah saja-
Tuhan seperti tak ada
dan aku berdiri
dengan rasa bayi yang pampersnya kelewat penuh

“Anjing!”
umpatan pelan tanpa daya
kutoleh gedung pemerintah disampingku
terasa betul kerdilnya
dan makin terasa, label rakyat
didahi

Satu batang sudah lewat
cukup rasanya berdiri
tanpa sadar dibawah terik mentari

aku pulang,
gemetar ketakutan,
seperti Muhammad setelah bertemu jibril
bedanya, aku yakin betul
yang tadi itu setan

Film Lama

‘doble click’, dan menyala sebuah
rumusan musik tahun lama
serta merta

potongan-potongan gambarmu
runtuh dari langit
menjadi imagi sempurna

jelas aku melongo
menyadari dahsyatnya ingatan.
padahal kuat keimananku
bahwa kau sudah ke laut.
nyatanya?

Jadi gimana?
aku garuk dagu
lebih kepada kagum
pada kekuatan ingatan

ternyata
setelah bertahun-tahun melupakan
baru kusadari
bertahun-tahun mendambakanmu
bukanlah hal sepele

kuulang lagi, kuulang lagi
sepotong lagu itu.
serasa dapat film drama
tanpa perlu monitor dan dvd bajakan

Ras Babi

Apakah wajahku seperti babi?
Atau wajahmu?
Ataukah kita ini sekumpulan babi?

Tapi kemarin jumpa
Kita ucapkan salam
-seperti manusia dalam kisah nabi-nabi-
Kita bicara dengan bahasa manusia
-seperti yang terlihat dalam layar lebar-

Kita diskusikan strategi
Dan jalan kesucian

Jadi, apakah kita ini?

Sekian dulu surat ini kutulis
Nguikk grookkk…

dan Tuhan,

dan Tuhan,
pada pertemuan gerigi dunia
aku berdiri
hidup menjadi keberuntungan
karena belum juga mati

dan Tuhan,
di tengah keramaian itu
aku gemetar melihat wajahMu
sedang manisnya dosa berleleran dari mulutku

dan Tuhan,
Kau terlihat besar,
semakin besar,
semakin membesar,
aku mematung bagai bocah di puncak gunung
memandang dunia.
MemandangMu

Segala keramaian hilang
hanya ada ruang gelap, aku, dan Kau

Mulutku menganga,
dosa segar membanjiri rahang dan leherku.
Terkesiap.

adakah Kau
membunuhku sekarang?

Sulam Cinta Srikandi

Dalam ruang tanpa cahaya
terdendang suara-suara,
gumam senang Srikandi.
Dua wayang bersenang-senang
dan waktu menghilang

-sayangku-ya, sayangku-sayangku-ya, sayangku-
dan jiwa mereka berkejaran dalam

Setelah rebah semua nafas
dan mengering manisnya air madu
muncul ucapnya:
“Maaf, aku mencintaimu”

Seorang tokoh wayang tanpa nama
tertegun dalam peluknya
hatinya pun tergerak
sedari lama
tapi Srikandi selalu menolaknya

“ada batas
tanpa wujud
yang jelas membentang”

Srikandi berkata melalui tatap.

Ruang antara langit dan bumi
menjadi saksi pertemuan mereka
penuh gelora cinta
penuh peluh kerinduan

Dan tiap kali Srikandi
kembali ke kahyangan
tatap mereka gamang
masa depan tak terlihat
pandangan tentang mereka
adalah jalan buntu

pada ujung jari yang berpisah
Srikandi memecah hening
“ini pasti tak mungkin kanda”
dan tokoh tanpa nama selalu menjawab
“aku tak pernah menebak-nebak masa depan”
dan tersenyum.

“jangan beri janji dan harap”

“aku tak tahu masa depan, dan tak mau menebaknya”

Dan selalu, selalu,
pertemuan diakhiri tanya menggantung itu

Serakan Antara Kau dan Aku

Kita pisah
Meninggalkan serakan pasir
Di dasar hati

Bertanya, tak bertanya
Tentang apa kenapa
genangan sayang habis tak bersisa

Kilas-kilas kenangan
Mengerat kesehatan hati
Dan tangis tak bisa berbohong

Di balik punggung yang bertemu
Ada kerinduan akan manja dan sapa
Tapi kita berkeras untuk diam

Dan jadilah kita pembunuh
Keadaan membuat kita terbunuh
Anak panah cinta patah terinjak kenyataan

Perlahan
Berjalan menjauhimu
Dan mulutku mengaduh
“Aku merindukanmu,
aku merindukanmu,
aku merindukanmu…”

++Mobile

Ketika Sebuah Vas Jatuh

sebuah vas pecah
berkeping menumpahkan diri ke lantai

terasa lantai dingin dipipiku
dan hangatnya darah
pada kening yang tergeletak jauh

sebuah vas utuh pecah
berserakan di lantai dan tersasar

tanganku yang terputus, berusaha meraih dada
yang terpental keluar pintu

sebuah vas utuh kemudian pecah
ketika gravitasi yang selama ini dikenalnya
menariknya tanpa ampun, berdebam

dalam tercecer seperti sampah
aku marah

Setangkai Mawar Hitam

mawar hitam yang terpapar
di depanku
merekah dalam bisikan lembut

kusapu
rintik embun di kelopaknya
dengan tatap dan gelap malam

duri-duri sejarahnya
menusuk halus ulu hati
menimbulkan letup-letup cemburu

mawar hitam yang terpapar
penuh senyum
menjadi monalisa tanpa pigura

dan misteri semakin dalam
pada kulitnya yang berbalut
bias jauh lampu hotel

aku akan menghisapnya
memberi sekecup kasih pada putiknya
dan ia merintih menyanyikan cinta
kidung rindu pada pejantan
sedang aku mabuk dalam bibit madu
dan tersumbat pesona

mawar hitam yang terkapar
aku bergumul di dalamnya
menggeliat dalam pesta sari bunga
lantas menatapnya,
menatapnya

mawar yang merelakan
lebahnya terbang
untuk kembali
bila
dan hanya bila,
takdir tertulis demikian