mawar hitam yang terpapar
di depanku
merekah dalam bisikan lembut
kusapu
rintik embun di kelopaknya
dengan tatap dan gelap malam
duri-duri sejarahnya
menusuk halus ulu hati
menimbulkan letup-letup cemburu
mawar hitam yang terpapar
penuh senyum
menjadi monalisa tanpa pigura
dan misteri semakin dalam
pada kulitnya yang berbalut
bias jauh lampu hotel
aku akan menghisapnya
memberi sekecup kasih pada putiknya
dan ia merintih menyanyikan cinta
kidung rindu pada pejantan
sedang aku mabuk dalam bibit madu
dan tersumbat pesona
mawar hitam yang terkapar
aku bergumul di dalamnya
menggeliat dalam pesta sari bunga
lantas menatapnya,
menatapnya
mawar yang merelakan
lebahnya terbang
untuk kembali
bila
dan hanya bila,
takdir tertulis demikian