Category Archives: Puisi Nyenius

Untuk Sebuah Siluet Manis

diterangi lampu kota
bertindihan, mengejar nafas
coba raih langit dunia

dan bayangan-bayangan berlintasan
tangan-tangan berserakan
jejak-jejak bisu tenggelam dalam
suara berbisik

di bawah sana
mobil-mobil perwira polisi berbaris
menimbulkan tanya

sayang,
dalam remang
kita ramu cinta hitam
yang manis menggigit

menyumbat ingatan,
dan menjadi igauan-igauan siang hari

dalam jemari yang bersatu
kita saling memanggil nama
tapi, hey,
itu bukan namaku

Aku Hanya Ingin Menggenggam Tanganmu

Aku ingin memanggilmu sayang
Waktu bulan pucat meraja di atas
pantai Pameungpeuk
dan menggenggam tanganmu

Aku ingin menunjukkan langit jernih
kesukaanku
pada satu pagi yang cerah
dan menggenggam tanganmu

Sengatan listrik yang nyaman
merasuk sendi
waktu kita pergi dari segerombolan preman di statsiun kecil
karena tersentuh tanganmu

Aku hanya ingin menggenggam tanganmu
mengalirkan sayangku melalui pori-pori kulit jemari
dan kau selalu menghindar

Aku hanya ingin menggenggam tanganmu
dan menyatakan yang tak bisa diungkap kata-kata
dan kau selalu tak nyaman

Aku hanya ingin menggenggam tanganmu
dengan segala sumpah tersuci
aku hanya ingin menggenggam tanganmu…

Lantas,
KENAPA KAU BUKA BAJUMU UNTUKNYA!

========
12/10/2010 12:59am

Aku Akan Memelukmu Dalam Kuasa Tanganku

aku akan memelukmu
dalam kuasa tanganku
membelaimu sebaik mungkin
menyembunyikan kepalamu di dadaku
melindunginya dari terik kehidupan

lepaskanlah segala drama
bersama kita lucuti topeng
menjadi kemurnian yang bergumul mesra

akan kususuri
harum rambutmu
helai demi helai
meresapi angin hidup yang menerpamu
akan kukecup keningmu
demi meringkas bahasa
menadahi segala luka

aku menyayangimu gadisku
mencintaimu dengan segala kekurangannya
menopangmu dalam segala rapuh

masuklah, sembunyi dalam diriku
jadikan aku tempurung yang hangat
bergelunglah di dalamnya
seperti bayi dalam rahim bunda

cahaya mataku
kawan batinku
jantung hidupku
kemarilah,
hilangkan gundahmu

Tidak, Bukan Begitu

Tidak
bukannya aku benci kau telpon
hanya aku menolak berharap

jangan tawarkan
yang tak bisa kau beri
jangan menjadi matahari
kalau sinarnya hanya mimpi

biar pertemuan kita
sebatas kesenangan belaka
jangan bawa hati
lupakan soal rasa
jangan buat aku mengumpatmu

Tidak
bukannya aku benci kau hibur
itu akan membuatku bersandar padamu
sedangkan tak jelas betul
dimana kau jangkarkan hatimu

Tidak
bukannya aku tak ingin mencintaimu

…

sebodoh-bodohnya,
aku tahu dosa

Dari Teman Sekelasmu

Aku menjadi gugup
Setiap melihatmu disana, bercanda, tertawa lepas
Terpaku terhantam keanggunanmu
Ingin yang tampaknya takkan bertemu harap

Dalam bayangan kupandangi
Wajahmu, gerakmu, senyummu
Indah, tak ada kata yang lain

Namun harap sekedar harap
Impian tentangmu terlalu muluk
Nilai diriku hampir tak ada
Gelap rasanya ujung jalan menujumu
Rasa ini tetap menyala
Untukmu.
Merajai hati seorang bocah SD.

Semakin Lama Jadi Makian

tak mungkin lain
lagu itu hanya untukmu
lagu tentang ruang yang kau kosongkan
dan mimpi yang kau kacaukan

tak bisa kubayangkan yang lain
hanya wajah dan namamu
juga langit pagi yang kita lihat waktu itu

lagu itu hanya untukmu
walaupun sejarahnya sudah berlumut seperti candi
tetap untukmu

aku menangis seperti pria bodoh
meratapi kehampaan mendadak
yang kau pukulkan ke dadaku
sebangun dari tidur sore
dalam amplop putih
berisi sebuah kaset
dan dua lembar surat

ngepet benar hariku jadinya
tak percaya, kubaca berulang-ulang
sampai ku eja kata per kata
paragraf demi paragraf
tiap hari tafsiranku terus berganti
rasanya seperti mendalami
kitab suci kaum terkutuk

sudah jauh sakit itu
sudah jauh pula senang itu
tapi tetap lagu itu beralamat padamu

kesucian yang kau ludahkan ke wajahku
menjerat dirimu sendiri
sebab atas dasar itulah
aku kau campakkan

puih!
bodohnya lagi kau tetap kukejar
dan semakin sadar
kau seperti monyet
bergantungan pada segala dahan
yang dapat menopangmu
dan cepat pergi pada dahan
yang lain

monyet!!

Waktu Itu, Di Atas Sini

tersentuh jendela alumunium, dingin.
pada ketinggian ini
lampu-lampu menggantikan bintang
membentuk wajahmu

“mari pindahkan sofanya
sehingga kita bisa memandangi
kota dalam pelukan”

katamu, sukamu.
aku berdiri canggung
di depan jendela ini.
masih terasa guratan di lantai
bekas sofa itu bergeser
aku merasakan bahumu yang mengangkatnya
aku lihat candamu

ah
nafasku merutuk
sadar bahwa sekarang dada yang berdegup
hanya sendiri
hanya aku bersama kenangan di ruang ini

rasanya jiwaku tinggal bayangan
ketika kau tak bisa melihatku
ketika kau memandangku kosong
aku menjadi asap, menjadi kapas tanpa harga

kau, kau, dan lagi-lagi kau
kenapa kita mesti bertemu
kenapa mesti kau sulut cintaku
dan membiarkannya menyala sendirian

kuketuk dahiku pada kaca
masih terasa nafasmu dileherku
menyebut namaku dan mengatakan rindu
betapa luruhnya jiwaku, bergolak haruku
dan kubenamkan segalanya padamu

satu titik air mata
membasahi pahaku
kusebut namamu, kusebut namamu,
seperti zikir yang mengantarku ke neraka

panggil aku
dan saat itu juga aku berlari menujumu
berikan senyummu
aku akan menyerah padamu
rajaku,
lelakiku,
permata kegelapanku.
tinggal kenang ini yang kau sisakan
tinggal sesak ini yang kau kecupkan

aku menangis, dan berbisik pelan;
bajingan…

Dambaanku, dambaanku

luruh semua beban di dada
saat kutiupkan huruf-huruf
yang membentuk namamu
diujung bibirku

hilang segala kelu
dan hadir segala rindu

Stasiun ini dingin
lampu-lampu berwarna sephia
aku membeku

dambaanku
jawablah sapaku,
tolehlah wajahku,
mataku yang berharap

dunia bergerak perlahan
orang-orang bicara dalam dengung
aku lihat pundakmu
menjulang seperti gunung tinggi
begitu jauh

dambaanku,
dengarlah suaraku
tak bisa kusebut namamu
lebih keras lagi
tak bisa kuulang keberanian
memulai sapaan

dan kau bergerak
bersama orang-orang
menuju kereta yang
berdengking.
aku lihat bahumu,
asap kereta,
dan jarak yang semakin lebar

dambaanku,
dijendela gerbong kau duduk
tersenyum bicara pada orang disamping
dan kau menoleh keluar, tepat pada mataku.
Kau tertegun,
dan roda kereta mulai berputar maju

Luka Taman Rahasia

Banyak yang bertanya
Bagaimanakah menghapuskan cinta
Bila goresnya telahmembarut dalam hati

“mengalirlah seperti air,
Biarkan rasa itu habis ke muara.
Jangan dilawan, sebab cinta adalah
Denyutan yang nakal dan murni,
Ia akan memberontak terhadap segala tekanan”

Banyak yang bertanya
Bagaimanakah menghapuskan cinta yang tak seharusnya,
Sedang bunganya telah memenuhi taman hati

“cabut akarnya,
Mandulkan tanahnya.
Walau penuh darah,
Ia toh kan sirna juga”

Kebodohan telah terjadi
Dan keputusan adalah barang yang sulit

“Seringkali, kebodohan harus diperbaiki
Dengan darah
Dengan luka”