Category Archives: Puisi Nyenius

Cinta yang Salah

Dalam cinta yang salah
Kita terus berenang dalam tawa
Menembus hujan dan panas

Tak ada yang betul-betul rahasia
Di dunia ini, sayangku
Sepertinya mereka tahu
Dan membenci dalam diam

Dalam kegelapan segala sesuatu,
Norma-norma runtuh
Berganti taman-taman indah
Yang mungkin palsu

Mungkin inilah yang disebut
Dengan ; gila

Chaconne

I (23 nov 2008)

Akankah
Masih kau palingkan wajahmu padaku
Apabila langkahmu semakin kukuh dengannya

Akankah
Tetap kau berikan senyum sepenuh jiwa
Pada hatiku yang meratap dan merayapi dinding sunyi

Pada langit aku bersumpah
Tak kan kutitikkan air mata kesedihanku dimatamu
Akan kujaga senyummu
Akan kubela kebahagiaanmu
Walau harus terperosok jauh ke dalam duka

-Ibu, anak gadismu mencinta
Dan tak terengkuh apa yang didamba
Ibu, tak terperi rasanya tersisih dari yang tercinta
Dekap aku ibu, berikan kehangatan rahimmu
Sebab duka ini menitik di tiap menitnya
Duhai, betapa tak tertahankan-

Sayangku, akankah
Kau tahu, betapa pun jauh wajahmu
Hatiku merapat erat di jiwamu
Kepada siapapun tubuh ini bersandar
Jiwaku terus mengawang menanti pelukmu

Biarlah habis air mata ini
Kusulam sendiri
Biarlah habis sitir rindu ini
Kukulum bersama angin

Sayangku,
Kecintaanku,
Dambaanku,
Akankah.

 

II (05 aug 2011)

Ternyata,
peluknya, betapa erat
langkahku semakin kukuh dengannya

dambaanku, maaf,
wajahmu kupigura
menggantung pada langit yang kutinggalkan

aku tersenyum,
melihatnya sekilas dan pergi
bagai anak kecil
berlari mengejar janji

tak kunanti tolehmu
tak kutunggu sapamu

selamat tinggal.
senyumku tulus

 

Bersulang Untukmu Sepenuh Hati

Kau yang pernah kupilih,
Kutimbang-timbang perlahan
Gadis dengan bunga yang merintik
Pada tiap ujung senyumnya
Tatap yang lembut dan pikiran yang tajam
Ah betapa waktu telah berlalu

Aku menyaksikanmu dari jauh
Melihatmu menari dan tersenyum bersamanya
Kuacungkan gelas kopi kegelisahanku
Bersulang untukmu berdua

Terima kasih,
Pernah membuat malam-malamku
Penuh bintang, harap, dan penantian
Saat itu adalah masa-masa gelap
Yang megah dan glamor

Betapa wajahmu selalu terbayang
Pada langit malam yang kutatap
Namamu selalu dihembuskan angin
Pada kota yang sunyi

Aku bukan lagi pencinta seluruh wanita
Tak bisa itu, dan tak mungkin
Aku cukup senang pernah mengenalmu
Dan hampir mencatat cerita bersama

Maaf, hanya kebetulan lewat dan melihatmu
Tak bermaksud menengahi cintamu
Aku pun sedang kesana
Menuju wanita yang ingin kuraih
Seorang yang sederhana dan penuh sayang

Sekali lagi, bersulang untukmu
Seteguk ini
Kemudian aku pergi

Tentang Perkenalan Singkat Kita

Tentang perkenalan singkat kita
Terdapat kecup-kecup manis penuh bunga
Senyum manja yang tulus
Dan bibir yang kadang merengut sebal

Mungkin kau menyesalinya
Dan merutuk pertemuan itu
Aku tidak
Itu alur cerita yang pernah kita pilih
Dengan sadar
Sebuah usaha menawar ketentuan Tuhan

Dan ya, itu singkat
Tapi bunga yang hanya hidup semalam pun
Memiliki keindahan yang mengundang rindu

Dulu kukatakan,
Aku ingin mengenalmu seutuhnya
Seluruh tentangmu
Senyummu, marahmu, manjamu
Dengan lapang dada kupeluk semuanya
Karena berasal darimu

Tahun sudah berganti
Semuanya telah menjadi sejarah
Tak tercatat
Mungkin ada jutaan kisah
Seperti ini di luar sana
Tapi ini milik kita sendiri

Kaupun tak akan tahu
Puisi ini untukmu
Tapi itu tak penting
Karena aku tak berusaha mengajak
Kembali kesana
Kisahnya sudah di pigura
Yang siap kubakar

Tetaplah senyum itu
Berikan kepadanya dengan indah
Sepenuh hatimu.
Adios

Bertahanlah

Bertahanlah
Ketika semua yang tampak penting meninggalkanmu
Bertahanlah
Ketulusan akan terus dikupas
Dengan perpisahan
Dengan kemustahilan

Tengok sejarah
Siapa yang tercatat?
Apakah mereka yang pergi
Atau dia yang bersimbah pada pegangan

Ketulusan
Adalah buah yang harus dibuka kulitnya
Berduri, ataupun keras.

Kemurnian adalah pucuk mawar
Penuh duri tangkainya

Bertahanlah

——————
09/06/2007; 11:56

Pelayar yang Tertipu

Dan sukses pun diraihnya
Rasa puas lantas menikam perlahan
Merobek jiwa yang susah payah disusun

Tiang kemudi dilepas
Tangannya sibuk mengacungkan kemenangan
Perahu oleng mengarah karang

Kompas tak lagi ditilik
Matanya berbinar natapi langit
Dengan sorot lega
Barat dan timur tak terjaga
Pelayaran berbelok arah dengan halus

Dikira angin berpihak padanya
Padahal angin hanyalah angin
Ombak pun sekedar ombak
Dalam lirik burung camar berbisik;
“ya, ya, satu orang lagi berlupa.
Entah akan tersasar atau mati menumbuk karang”

Dan secuil sukses pun diraihnya
Rasa puas mengerat kemanusiaannya
Lupa menjadi pakaiannya.
Dia tak sadar,
Bahwa lautan tak pernah henti
Berombak
Sampai hari dia mati

—————————-
Tuesday, July 10, 2007

Ya, Dan Biarkan Penari itu Menari

Ya, dan biarkan penari itu menari
Di depan kita dengan secarik kain
Yang nanti pun lepas

Aku jadi muak
Berada disini menyaksikannya
Pada setiap gerak ada harapan akan uang
Nafsu berganti kasihan

Tidak adakah hal lain?
Ya, dan kau pun tertawa
Menggerayangi yang lainnya

Aku pun tertawa
Sambil menahan kencing
Hatiku tercabik-cabik
Sudahlah, bayar uangnya
Biarkan mereka pulang

Tapi ah tidak
Kantong telah dirogoh
Pertunjukan harus selesai
Aku hanya tamu

Aku menjadi kambing dungu
Yang terjebak dalam penasaran
Dan merasa sangat bodoh

Tentang Sejarah Dosa Kita

Tentang sejarah dosa kita
Tak ada yang bisa menghapusnya
Tercecer di belakang dalam titik-titik hitam

Tentang kesunyian
Keberengsekan yang aku tabuh
Pada bibirmu
Aku tak bisa menjelaskannya

“sudahlah, ini hampir tengah malam”

Nikmati saja cahaya kota
Dari jendela ini
Manjakan wajah dalam tamparan angin malam
Dosa masih tergeletak di situ

“tapi, sudahlah, ini hampir tengah malam”

Semuanya mendadak hening
Ada kerinduan aneh menyeruak
Memanggil sesuatu yang indah
Entah itu apa
Aku merasa sejuk dan nyaman

Angin malam, lampu kota
Pada jendela ini aku berpegangan
Menceritakan kegelisahan atas dosa
Yang terus melirik tajam

Aku ingin pergi
Tapi apa bedanya
Sejarah sudah tercatat
Kebenaran jadi tak pasti

Aku hanya terus
Menggenggam erat jendela ini
Berharap ia mengerti
Dan memberi sedikit kedamaian

Aku melihat ke bawah
Penjual makanan berderai tawa dengan tukang becak
Rasanya ingin meloncat

Dan selesai

—————-
Wednesday, July 04, 2007

Lagu Rindu Penduduk Yastrib

Kawan-kawan bajingan
Dimana pun berada

Kita pernah bermimpi menjadi sesuatu
Setidaknya mencoba untuk berhayal
Dan lantas menertawakannya

Mungkin hanya sekedar
Penyegar suasana
Tapi ya, kita pernah melakukannya

Ingatkah
Di dalam suatu rumah tingkat 2
Dengan lampu-lampu bohlam temaram
-yang itu semua karena uang kiriman lebih baik
Untuk beli rokok ketimbang lampu pl yang terang-
Dan ruang-ruang gelap yang kosong.
Kita berbincang tentang masa depan
Tentang pertikaian antar orang-orang fanatik
Tentang sejarah musisi-musisi yang terpaksa masuk
Ke telinga
Tentang larangan menghisap ganja di dalam rumah
Tentang handuk seseorang yang tak ingin digunakan bersama
Tentang seorang kawan yang mandi I bawah
lantas handukan sambil jalan ke kamarnya di atas
Tentang kelainan yang ingin diperbaiki
Tentang film-film biru yang menjadi kata kunci
Tentang hip-hop yang hanya dimengerti seseorang
Tentang gitar
Tentang panggung
Tentang gunung
Hampir tentang semuanya!

Sekarang aku di persimpangan
Menatapi cita-cita yang berserakan menunggu jawab
Tiba-tiba aku rindu;
“Apa kabar kalian?”

Mungkin bukan waktunya bertanya
Tapi sewaktu aku menatapi jalan hidupku
Aku teringat kalian;
“Bagaimana jalan hidup kalian?”

Ingin mendengar kisah
Walau aku ragu itu akan terwujud
Tapi harap tetap ada

Mungkin hanya sepenggal-dua penggal cerita
Tapi,
Itu pun kutunggu

——————————–
Wednesday, July 04, 2007

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Monday, July 02, 2007
7:42 PM

Semalam merancang hidup di neraka
Bersama musik orang-orang busuk
Dan setengah botol vodka

Hening menghantarkan
Pelecehan atas dosa
Kaki bersilangan diatas meja
Hembus tembakau, seteguk lagi
Dan kita tertawa

Begitu aneh rasanya dosa yang satu ini
Ada rasa enggan dan konyol
Tapi tetap dijalankan dengan tenang

Lihat gitarnya melambung ke langit
Kita pejamkan mata
Larut ke dalam suasana palsu

“mainkan terus bluesnya, mainkan terus bluesnya”

Dan setenggak lagi membasahi tenggorokan
Panas menjalar ke kepala
Dan berkata: “Oh Tuhan, dunianya bergoyang”

Temaramkan sedikit lampu
Berikan suasana remang pada hati
Diatas sofa empuk, merancang kursi panas
Di neraka

Angkat seloki tinggi-tinggi
Besulang untukmu Bonzo; “mungkin nanti kita jumpa,
sementara itu hentakkan bass drum dikakimu”

Sekelebat senang, sekelebat sedih
Sekelebat bangga, sekelebat takut

Dalam satu keputusan
Pada suatu malam
Terpesan sudah lapak-lapak api Tuhan

-Jimmy Page baru saja memulai lagu berikutnya-

—————
Monday, July 02, 2007