I (23 nov 2008)
Akankah
Masih kau palingkan wajahmu padaku
Apabila langkahmu semakin kukuh dengannya
Akankah
Tetap kau berikan senyum sepenuh jiwa
Pada hatiku yang meratap dan merayapi dinding sunyi
Pada langit aku bersumpah
Tak kan kutitikkan air mata kesedihanku dimatamu
Akan kujaga senyummu
Akan kubela kebahagiaanmu
Walau harus terperosok jauh ke dalam duka
-Ibu, anak gadismu mencinta
Dan tak terengkuh apa yang didamba
Ibu, tak terperi rasanya tersisih dari yang tercinta
Dekap aku ibu, berikan kehangatan rahimmu
Sebab duka ini menitik di tiap menitnya
Duhai, betapa tak tertahankan-
Sayangku, akankah
Kau tahu, betapa pun jauh wajahmu
Hatiku merapat erat di jiwamu
Kepada siapapun tubuh ini bersandar
Jiwaku terus mengawang menanti pelukmu
Biarlah habis air mata ini
Kusulam sendiri
Biarlah habis sitir rindu ini
Kukulum bersama angin
Sayangku,
Kecintaanku,
Dambaanku,
Akankah.
II (05 aug 2011)
Ternyata,
peluknya, betapa erat
langkahku semakin kukuh dengannya
dambaanku, maaf,
wajahmu kupigura
menggantung pada langit yang kutinggalkan
aku tersenyum,
melihatnya sekilas dan pergi
bagai anak kecil
berlari mengejar janji
tak kunanti tolehmu
tak kutunggu sapamu
selamat tinggal.
senyumku tulus