Category Archives: Puisi Nyenius

Ketika Kotoran Itu Menghantam Wajahku

Tuhanku
nafsu telah menghalangiku
dari menyembahMu penuh seluruh

Tuhanku
nafsuku memburamkan hati
sehingga cahyaMu tak sampai-sampai

lelaki yang berdiri
diatas tumpukan keinginan
bayang-bayang khayal
yang mengantarnya pada jembatan rapuh

dimanakah aku?

dan ketika suaraMu sejuk
menegur jiwa yang bebal
dunia bayangan retak dan hancur
terlihatlah bangunan busuk yang dijalaninya

bahwa semuanya abu, menuju kesia-siaan
bahwa semua warna yang disangka menyala
ternyata hitam belaka

dan waktu, makhluk tanpa rasa itu
terus melaju
banyak jejak langkahku berwarna hitam
sesak

Dimanakah aku?

Bermandi peluh mengejar mimpi kosong
bekerja keras menggapai mimpi porno siang hari

Keinginan-kewajiban,
Kewajiban-keinginan.

Dimanakah aku?
mendadak jadi asing sendiri
segala tubuhku terlihat sebagai arang
jiwa yang pernah kupupuk hilang terbang
tergambar kebodohanku, dan kesia-siaan itu

Kebodohan,
selalu terlalu mahal harganya.

Di Dada Wanita yang Baru Kukenal Sehari

Itu ranjang untuk dua orang
aku gumuli dia, entah milik siapa.
melenguh, menjambak,
memercikkan energi hidup yang tak seharusnya

Semua bermula pada kerling sepintas
dan hati yang bertanya ingin mengenal
gelap telah menutupi mata dari dosa
aku sudah lupa cerita Yusuf yang Mulia
kami tak berkata-kata
hanya kasur sialan itu terus berderit

tapi tidak Tuhanku
kau tahu aku tak sebuta itu
aku berhenti pada saat yang seharusnya
kutiupkan nafas, meredakan deru pada perutku
dan kami bergelimpangan
bertanya-tanya dimana ini?

hati mengawang di langit-langit kamar
sisa nafas masih terasa panas pada seprai
kutelusuri pikiran yang tersisa
bertanya-tanya seperti apa selanjutnya

kami tersasar
meracau karena kesepian
mencari-cari pegangan
dan serampangan menyerahkan diri

Ah, jiwa yang hijau
serentak mereka bergetar
ingin pergi, lari dari kamar itu
tapi dalam kepalsuan, kami berpeluk
dan mengecup kening

“Selamat tidur..”, ucapnya lembut.
Dan dunia pun gelap
kepalaku tersuruk ke dadanya
yang montok

“Semoga aku tak mati malam ini..”

Aku berbisik keras dalam hati.

Wanita Pada Suatu Subuh

Di suatu subuh ramadhan
aku berdiri pada pintu
menimang antara pergi
atau menghampiri wanita yang
duduk menunggu di atas kasur

aku hanya tersenyum kecut,
“Selamat tinggal.”
Kata-kata terasa menggantung di bibir.
Dia pun tertawa,
“Aku telah mengalahkan orang
yang memukau publik”

Kata-katanya kacangan,
aku tak peduli, tapi tawanya.

Perempuan itu lurus-lurus tertawa menang
memandangi tembok, sembari memeluk lututnya
di atas kasur tanpa ranjang

Aku pergi menembus pintu
menuju lorong gelap
ke jalan menuju pasar

Kupandangi penjual bubur ayam
yang tengah menuang hidupnya ke dalam
mangkok-mangkok putih

“Tidak jalang, aku yang menang”

Minggu yang Dibalut Pertengkaran

Minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

sekian detik termakan
dalam marah dan sedih

lelah ya,
dan tentu bosan sangat

kita harus mencari wajah lain
dari percintaan kita
mengeluarkan sisi-sisi
menarik yang belum lagi terlihat

Ya, setelah bulan-bulan yang
menyenangkan sebelumnya,
rasanya pertengkaran itu menyehatkan
dia mengalirkan lagi darah kotor
hubungan kita,
ekses dari kebahagiaan sebelumnya
– tak ada yang tanpa efek samping di dunia ini –

dan sebagai penyadaran penuh
bahwa keadaan selalu berbalik-balik
tidak selamanya berdiri di satu posisi

pertengkaran adalah tanda kehidupan
dan pemahaman yang menyelam makin dalam
pertengkaran adalah penyegar
karena dunia tak bisa seluruhnya putih

Tapi,
lelah ya,
dan tentu bosan sangat

dan ya sayang,
segala sesuatunya tak boleh berlebih
juga dengan pertengkaran kita
dan ya sayang,
semua ada kadarnya, ada batasnya
janganlah kita lewati garis itu

minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

dalam tenang kata-kata hambar
dan korsleting mudah terjadi
pada emosi kita

Jadi rawan pada disorientasi
jadi sawan pada bosan

ayo, sebisanya kita pergi
dari lembah ini

5:20 20/02/2007

Pandangan Buram, Aku Merutuk

“And if the daylight feels like it’s a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong”
cit.

Lihatlah
apa aku jalan ditempat?
aku tak tahu
sejujurnya betul tak tahu
rasanya mau nangis saja

aku lupa halte
lupa simpangan
berjalan begitu saja
hingga compang-camping dan merasa letih

debu di wajah setebal kepala
kaki yang memar dan hati yang sakit
Istirah, tangan bertumpu pada lutut
mataku samar melihat jalan ke depan

“Bukankah itu jalan yang kemarin?”

Tercenung, pandangan membayang

“Ataukah jalan yang lain?”

aku terpuruk berlutut
terdengar dengan jelas
suara kawan di kejauhan sana
– terdengar semakin jauh –

Hatiku menciut
Dimana ini?
Hari apa?
Dimana barat dan timur?

Aku mengatupkan mata
sebal, sesebal-sebalnya
ah

=============
9:30 11/02/2007

U2, Walk On

Pandangan Buram, Aku Merutuk II

“You’re packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed, to be seen”
Cit.

Selalu saja
ada orang seperti awan
datang dalam bayangan atau suara
datang memapah

Yang terus memompa nyawaku
agar tetap beraroma kehidupan

ada suara bidadari
ada suara kawan yang baik sekali
terdengar dari tempat yang jauh
mengatrol kerongkonganku agar terus
mengalirkan nafas dan vitamin

-selalu dari jauh-

jadi, memang sendirian
manusia memang musafir
Dunia hanya penghias latar

aku tengok ke dalam hati
masih ada impian-impian lama
yang disikapi dengan sangat pengecut

remuk redam disini
aku jadi tahu
kenapa orang ingin bunuh diri

==============
10:19 11/02/2007

By: U2, Walk On

Padahal Kau Sebenar-benarnya Selalu Datang Sebagai Kawan

Ya temanku
kau lihat sendiri
pandanganku sering pergi
ke tempat yang jauh
Padahal saat ini adalah sekarang

terasa benar pandanganmu yang menyelidik
jauh ke balik pelupuk mata
mencari keberadaanku saat ini

Ya temanku
kau tengok sendiri
kakiku yang tak mau diam dalam duduk
seperti gelisah ingin melompat

– tak tahu apakah kau melihatnya di bawah meja –

Aku pernah melihat orang seperti ini
disuatu tempat yang lain
dan aku duduk sebagai kau

aku tak tahu betul apa yang meresahkan kepala
padahal kau selalu datang
sebenar-benarnya sebagai kawan
kutoleh lagi tahun yang lewat
kau pun selalu datang
sebenar-benarnya sebagai kawan

Tapi tak terucap juga pada mulut
padahal kita bertemu dalam banyak musim
pada landasan uang, kawan, dan lawan

Ya Temanku,
aku gelisah

===============
10:14 11/02/2007

Dan Kau pun Hilang Dalam Mimpi Itu

Semalam aku memimpikanmu
menangisi kegagalan kisah yang dulu

yang menunnjukkan habis sudah
semuanya
wajahmu, senyummu, tanganmu
yang mengajakku pergi.
sudah tak berlaku lagi

pecah semua gambaran itu

kau tertawa renyah
menggandengku menuju duniamu
dan aku hanya diam mengikutimu perlahan
dari jauh

tanpa lelah tersenyum
kau kenalkan aku kepada orang-orang
yang semuanya menegaskan sayangnya
kita berpisah

-aku tetap tanpa geming-

ada juga sedih terselip
seperti daun pisang dipatahkan angin

dan kau pun hilang
bahkan dalam mimpi itu
tinggal aku bersama orang-orang asing
tertawa dalam sakit

dan kau pun hilang
tetap dalam senyum

13:09 04/01/2007

Waktu Jumpa Kemarin

Kita bertemu
saling pandang, lalu diam
tak banyak bahasa ingin diucap
karena sepertinya segala yang dihati
sudah terdengar

ini tidak menarik
aku ingin kita bicara
menertawakan yang tak perlu
dan merasakan udara sekitar bergerak
agresif

apakah karena pengertian
kita membuat benteng?
apakah semuanya terasa mapan
dan telah berjalan dijalurnya?

aku percaya tidak

tapi mengapa, dalam bahasa yang terhambur
kental terasa ruang-ruang kosong yang hampa

apakah karena terlalu saling menjaga?
apakah karena garis antara kita begitu jelas?
mungkinkah sebab kekurangan satu jiwa
yang biasa menjembatani kita?

aku bosan bertanya-tanya
pertemuan harusnya bukan kehendak satu jiwa
dialog harusnya bukan melulu demi diri sendiri

waktu terus menggelontor
habis dimakan benak sendiri-sendiri

12:59 04/01/2007