Itu ranjang untuk dua orang
aku gumuli dia, entah milik siapa.
melenguh, menjambak,
memercikkan energi hidup yang tak seharusnya
Semua bermula pada kerling sepintas
dan hati yang bertanya ingin mengenal
gelap telah menutupi mata dari dosa
aku sudah lupa cerita Yusuf yang Mulia
kami tak berkata-kata
hanya kasur sialan itu terus berderit
tapi tidak Tuhanku
kau tahu aku tak sebuta itu
aku berhenti pada saat yang seharusnya
kutiupkan nafas, meredakan deru pada perutku
dan kami bergelimpangan
bertanya-tanya dimana ini?
hati mengawang di langit-langit kamar
sisa nafas masih terasa panas pada seprai
kutelusuri pikiran yang tersisa
bertanya-tanya seperti apa selanjutnya
kami tersasar
meracau karena kesepian
mencari-cari pegangan
dan serampangan menyerahkan diri
Ah, jiwa yang hijau
serentak mereka bergetar
ingin pergi, lari dari kamar itu
tapi dalam kepalsuan, kami berpeluk
dan mengecup kening
“Selamat tidur..”, ucapnya lembut.
Dan dunia pun gelap
kepalaku tersuruk ke dadanya
yang montok
“Semoga aku tak mati malam ini..”
Aku berbisik keras dalam hati.