Category Archives: Puisi Nyenius

Aku Mendengar Lagu Kali ini

“Jangan takut”
itu nafas yang terhembus dalam
lagu-lagu
sementara hati gulana menyambangi
bulan pucat

“sebentar lagi”
katanya,
tapi langkah terseok ini
seperti hitungan waktu
yang di eja anak bayi (balita)

aku gelisah,
mendengar kabar-kabar, berita dari samping
dan seberang
tentang senjata, tentang orang yang berdamai
dengan waktu

aku tergelung pucat.
tapi kali ini tak lagi sembunyi
aku akan terus berlari
biar angin sudah seperti goblok
terkumpul diperut yang lapar
aku pergi ke pusat rasa takut
karena ketentuan Tuhan
hanya bisa dirubah dengan gerakan
bukan gertakan

“sampai kapan kau akan bertahan?”
ujarnya,
aku tak tahu, betul-betul tak tahu
waktu malam menggeliat,
aku hanya berpikir, esok pagi pergulatan baru
waktu fajar tersenyum,
aku hanya berpikir dalam kantuk,
aku akan berangkat ke bukit, memecah batu-batu
meninggikan pondasi berpijak

Dan dalam dendang buaian
kuusap kekusutan dalam hati
kubisikkan padanya:
“ayolah, ayolah”

_______________
22:34 08/12/2006

Kau yang Sebatas Catatan Sejarah

*Dengan egois yang sadar

Aku mengenangkanmu
bukan karna cinta

hanya rindu pada
masa dimana jiwaku begitu bertenaga
hanya rindu pada
langit yang menaungi kemudaanku

aku membacakan puisi
bukan karena menginginkanmu

hanya mencoba raih
nyawa pekat yang meliputi hatiku dulu

Langit betul-betul berawan antara kita
Debu benar-benar mengacaukan pandang
Jangankan sinaran Tuhan
sedang mentari pun tidak menerangi
jalan menujumu

– aku tak (pernah) lagi protesi hal hal itu –

Kau menjadi data yang kubaca
dalam byte-byte kaku
demi kepentinganku sendiri
tanpa harap lebih jauh

Hanya untuk merasakan pendaran-pendaran lama
yang sama sekali tak berhubungan denganmu
kisah kita kujadikan mesin pabrik
untuk memerah kemurnian rasa
yang dulu kau sia-sia

Kubaca namamu
bukan karena ada benih yang tumbuh lagi
Hanya sedang belajar sejarah diriku

—————
3:11 22/10/2006

Penganjingan Manusia disini..

Bau hujan tercium dari jauh
bercampur asap tabunan
udara jadi pekat sephia

terbayangkan masa lalu
masa kecil di tanah ini
ketika definisi beban sebatas
bermain dan larangan-larangan ibu

di kota ini
orang terus berpacu seperti kuda rabies
liur iri dan kesombongan
menjadikan manusianya anjing-anjing
turunan dajjal

kemarin Arjuna dan Gatot Kaca turun
mengajarkan ke-kesatriaan
audience bertanya: “Berapa honor menjadi seorang ksatria?”
berapa persentase buat analis ksatria?
audience mulai mendebat audience lainnya.
Masing-masing memperjuangkan agar bagiannya lebih besar
mereka terus bicara, hingga wajahnya menjadi babi.

nilai-nilai jungkir balik
curiga telah menggantikan tugas oksigen

Gerimis turun
senang rasanya hati
cuma ini yang selalu tulus
walau cucurannya telah bercampur kimia

kami terus berpacu
hingga lupa keindahan
semuanya tercebur ke dalam agenda-agenda
sampai ke titik ibu harus membuat janji
untuk bisa bertemu mahluk yang keluar dari selangkangannya

Mengenaskan, seperti di medan perang
melihat teman sendiri mati jiwanya
menjadi bangsat

Bau hujan tercium dari jauh
hawa udara yang basah bercampur tanah

terkenang kembali masa lalu
ketika beban tanah kampung ini
hanyalah kebun-kebun dan beberapa gelintir rumah
bukan tusukan beton-beton rumah kontrakan
dan real estate

Jakarta, 18:06 23/06/2006

Tunggu Aku

Tempat yang bukan barat dan timur
dihatimukah?

Kalau begitu, tunggu aku
pelayaran ini terasa lambat
tapi jelas, pelabuhan berikutnya
kamu

aku harap ini pelayaran terakhir
hingga jiwa ini dapat
bersemayam pada pantainya

lambai ombak yang kau kirim
datang bersama senyummu
menguatkan jiwa sampai kesana

ragu masih menderak juga
tanya-tanya timbul bagai
percik gelepar ikan

senyummu, pelukmu, belai hatimu
rumah yang aku nanti
atap yang aku cari
kita harus isi-mengisi
jegal juga keraguan yang buta

– tak tahu hatimu seperti apa –

entah kapan tiba
peta sudah kubalik-balik
menetapkan kebenaran titik koordinat
menilik angin, apakah mengantarku kesana?

Sinar yang menggelorakan itu
matamu kah?

itulah api titik pusat
navigasiku. Hampir sampai?
Duhai kelasi, topang kaptenmu ini
sambutan yang tak tentu
melahirkan mabuk laut yang jarang

rapihkan semua yang di kapal
biar bagaimana
dia harus tahu

=================
Toba.
23:56 16/10/2004

Ternyata Memang Kamu

ternyata
padamulah hatiku bercokol nyaman
pada belaimu kepalaku tunduk syahdu

pada pengertianmu
pada marahmu

aku sadar
cinta telah menjadi bahasa keseharian kita
bukan lagi bunga, bukan lagi bahasa verbal

makin hari, hati makin saling mengunci
semakin terlibat, semakin ketergantungan

ternyata
hatimulah yang bersenyawa dengan hatiku
saling mengisi kondisi-kondisi
dan variabel-variabel baru

kaulah orang yang ingin kulindungi
dan berbagi keriput wajah suatu hari nanti

14:32 07/05/2006

Daun yang Tersungkur di Gunung

tentang darah
yang mengalir dari daunan di gunung
darah dari cinta yang bertemu-paling
keraguan hati dan keinginan yang tertahan

tentang luka
yang dikandung tanah bukit mengering
luka dari pencarian akanmu
makin membusuk seperti sobekan
daging yang ditiupi angin dan debu-debu

bukit yang menjulang dipanasi mentari
diracaukan dingin hujan.
aku yang tegak dengan hati koyak-moyak
berlari diasapi hidup
diriuhkan tangisan-tangisan tentangmu

kita adalah pejalan kaki
di emperan tanah Tuhan
pejalan yang saling mencinta
dan terpisah di satu perempatan sunyi
saling terseok tersungkur memakan lumpur

tak pelak lagi
semakin jauh kita berjalan
pada arah berlawanan
hati semakin tebal atas luka
tapi tetap, jauh dalam relung-relung
gelap hati
tangisan tentangmu, tangisan tentangmu

Tentang kesunyian daunan di gunung pada siang hari
yang terus dibakar mentari
dikawani angin, dilagukan tonggeret pada pohonan
aku dan kau
juga langit yang selalu berkabut antara kita

12:26 12/03/2006

Lelaki yang Kasmaran

Untuk Ganesha

Lelaki yang kasmaran
hatinya tak tergenggam lagi
berenang ke dalam telaga keindahan

Telinganya tertutup
dan bibirnya tersenyum

“Aku ingin memelukmu,
menyayangimu setiap waktu”

Kata-kata telanjang dalam kepalanya
pikiran yang rumit sirna
menjadi dunia tanpa rupa

hari-hari menjadi jalan yang menggelisahkan
ketidakpastian menjadi tema pikiran

Lelaki yang kasmaran
janganlah ia dibantah sayang
sebab, dewa sekalipun pasti dilawanya

Pertemuan dengan yang terkasih
adalah doa yang dilafazkan
dalam diam, dalam nafas, dalam gerak

“Aku akan membuatmu bahagia, duhai kecintaanku.”

Lelaki yang kasamaran
memasrahkan dirinya pada getaran
yang terasa sesak sekaligus menyenangkan
pada kekhawatiran yang mengganggu
tapi menggelorakan

Biarkanlah,
jangan usik kebahagiaannya
jangan tenangkan gelisahnya
dia sedang terbakar api
yang dulu membakar Ibrahim

——————
1:17 AM 11/21/2005

Malam Biru

Aku tak ingin membunuh
malam biru ini
ketika segala keindahanmu
terkenang membasahi kepala

Bahkan bajingan itupun
tak dapat merusak ketenanganku
hari ini mendorongku pada kekuatan
entah esok

aku takut kehilangan kamu
marah dalam hati masih berdebar
tapi tak sekencang keinginan membelaimu
dalam sayang

malam ini
kerumitan lagu jazz
adalah kawan yang serasi
untuk langkah dansa dihatiku
menimang-nimang namamu
menanti pertemuan kita yang jarang

dikau adalah sumber semangatku
kecintaanku
senyummu memicuku memenangi
pertarungan melawan naga-naga
melawan ketidakpastian hari-hari

ada yang menantiku
ada yang selalu siap memelukku
ada yang selalu siap mengucupi lelahku

kembalilah kesini tulang rusukku
belahan sejati jiwaku
lengkapilah hidup kita
benamkanlah wajahmu ke wajahku
lantunkanlah bahasa prosamu ditelingaku
dan akan kukatakan pada Rendra
bahwa itu adalah puisi

kemarilah sayang
tanpamu, aku adalah lelaki yang cacat
aku adalah milikmu, lelakimu
datanglah kemari
dan naungkan kepalamu di pundakku
labuhkan gundah yang kau punya
tangiskan isak yang kau simpan
biar kukucup satu persatu
hingga senyummu terbit tanpa ragu

Aku tak ingin
membunuh malam ini
bumi beraroma air yang subur
angin membisiki hawa liburan dan istirahat.
Sementara mataku, hanya melihat wajahmu.

————
12:58 AM 11/21/2005

Datang juga perpisahan, semakin jelas kebodohanku

“aku suka puisimu yang satu ini”
katamu suatu ketika
pada satu malam sejuk
di kota yang dilingkung gunung

Puisi yang bicarakan
jiwa yang ingin lari
dari jiwa lain yang terasa mendesak

aku cuma tersenyum diam
dan bertanya kenapa?
sebuah apresiasi keluar
bersama mata yang gelisah

waktu berlalu
kita benar dipisah-belah
oleh waktu

terbaca lagi puisi itu
dan teringat pula katamu
“Aku ingin lepas darimu,
lepas dari bayangmu…
Aku ingin namaku sepenuhnya,
bukan namaku yang ditambahi namamu…”

persis seperti puisi itu
“pergi dari dunia yang tanpamu…”

aku terpekur
maaf, berulangkali aku mintakan
“maaf, telah menyita umurmu
dengan perasaan terganggu”
sungguh.

dan kita tak pernah
benar-bersatu lagi setelahnya
dialo-dialog hambar,
tatap tak tulus bertemu

sudahlah
ratap tak guna
biar jiwaku memanggil sendirian

——-
1:27 AM 10/14/2005

Entah Kepada Siapa Dia Berteriak

sebuah gitar bergelung di dada
di tengah tumpukan kawan
dia bernyanyi
sendiri

meraung kepada ruang
yang gatal dihatinya

“Rasa iri telah menyakitiku”
katanya suatu ketika

Dan dia lari,
ke dalam kesendirian
ke tengah tembok-tembok

Orang-orang memperhatikannya
bersedekap, tolak pinggang, sambil-lalu
tak ada yang tahu pasti
bagaimana menghadapinya
tak ada yang mengerti
apakah dia butuh pertolongan,
dampingan.

Semuanya diam
melewatinya begitu saja.

pada keramaian pasar pun
ia selalu bernyanyi sendiri,
berteriak.
Seolah ada haknya
yang tercabut oleh keramaian
seperti kepuasannya direnggut
oleh mereka yang mengelilinginya

tak ada yang mengerti
pun yang tahu pasti
kepada siapa dia berteriak

================
2:30 PM 9/25/2005