Category Archives: Puisi Nyenius

Seorang Kawan yang Jatuh

Ketika angin gelap ini turun,
dalam bis, tak pelak wajahmu terbayang
“seorang kawan yang tersandung
di tengah perjalanannya”

Lampu-lampu kota seperti menonton kita
malam ini kaulah bintangnya
mereka selalu menyaksikan bersama waktu
mata mereka membisik di punggung kita
melahirkan kernyit-kernyit gelisah
dalam langkah-langkah kita yang salah

“Dan kita seringkali tak cukup pandai untuk menghiraukannya”

Lubang hitam yang menghantam kepalamu
jangan biarkan membatu
bicaralah padaku, satukan kembali
keringat yang dulu pernah jatuh bersama
jadikan aku rantingmu, bergayutlah padaku
kita bersihkan lukamu

Jika pintu-pintu terkunci untukmu
ketuklah pintuku,
pelukan seorang kawan menantimu

Kita mungkin tak bisa mengalahkan waktu,
lampu-lampu kota, dan peristiwa yang pergi dengannya
Tapi selama nafas masih melekat
kita masih mungkin memperbaikinya


==================
2:56 18/09/2005

Bayang Buram Melewati Senja

Sekarang kita berkata
waktu terus berjalan
dan semuanya mati begitu saja

seperti pohon tumbang membusuk di tanah
seperti mayat yang mengenyangkan bakteri pengurai

wajah-wajah yang dulu tertawa
dalam barisan semangat muda
semakin tua dan pudar
terpisah dalam jarak dan tanggungan

tinggal bayang buram
dalam lintasan-lintasan kenangan

aku pun tak tahu
berapa lama ingatan itu bertahan

yahh, tak ada yang abadi memang
disitulah keegoisan Tuhan
dan disinilah keegoisan kita
menuntut

selamat jalan
berlayarlah,
terus berlayar,
perhatikan arah angin,
lalui badai-badai,

kemudian tinggal doa-doa terkirim
juga harapan

===============
4:16 18/09/2005

yang dirindukan

gairah dalam memendam
lava cinta
terbentur tembok-tembok grafiti kota
keinginan menghirup nafas lembut penuh sayang,
terkoyak asap-asap angkutan kota

rasa cinta yang menagihkan
dalam aroma tak terhirup
yang selalu menggetarkan

tak bisa lagi
sepertinya rasa itu hilang
dicabut perlahan oleh kesibukan
dan hasrat-hasrat rendahan

atau iblis telah membelah hatiku
dan membenamkan cinta
jauh ke dalam, terlampau jauh
hingga sulit digenggam kembali

hanya tawa kering yang ada
tanpa darah didalamnya

kurindukan
kentalnya rasa cinta yang menyekat tenggorokan
memiriskan senyum, dan membuat semuanya menjadi manis

kurindukan
hati kecil yang indah dari seorang gadis,
romantisme dalam kecemasan,
rasa melindungi.

dan sekejap saja
nafsu mengacaukannya
menjegal mata untuk melihat lebih jauh
mematikan indera untuk merasakan
getaran kuat dari hati lembut di seberang

ah,
bibir yang dikecup khidmat
pipi lembut yang berbaring di telapak tangan
dan suara lembut yang selalu seperti nyanyian

———
4:08 PM 7/20/2005

Hujan yang di nanti

Bahagia merekah
bila hujan datang
walau hati ini sakit bagaimana
rintiknya menjinakkan
galau dan dengki

hujan, kegelapan, dan angin
kesanalah aku berlari
jika dunia disekitar tak hendak menampungku

dalam kegelapan
menikmati derai tawa hujan pada bumi
hati menjadi lerai, kepala seperti ditadahi awan
ini adalah ruang pesta malaikat

hujan pun bercerita -selalu cerita yang sama-
“Manusia lahir dan menangis,
ia lahir bersama galau, meneriakkan kegelisahan yang murni.
Tentang eksistensinya, kesombongannya, dan Tuhan.
Pada galau Tuhan menitipkan harapan,
harapan dunia dan harapan Dunia Yang Akan Datang.

Dan kami bangsa hujan, dilahirkan dengan senyum.
Peluntur hasrat-hasrat dan dengki, pelipur kesedihan,
pelipur galau di titik puncak.”

Hujan, kegelapan, dan angin
adalah ruang rahim ibu yang penuh kasih
ruang tanpa justifikasi, alasan, dan kecaman.
segalanya diluluhkan menjadi senyum.

Dalam senyum
“Ah, hujan…”

—–
6:28 PM 7/17/2005

Di Stasiun ini, Kesedihan Jatuh Lagi

akhirnya di stasiun ini
kesedihan jatuh lagi
begitu lagu Gambang Semarang
mengalun pada satu nada tunggal

sesak, begitu sadar
pada langkah berikutnya
aku akan benar-benar meninggalkanmu

Kali ini
tak kutiupkan kalimat harapan
ngeri hatimu makin berdarah-darah

kupejamkan mata
tak kutoleh lagi wajahmu
begitu peron satu terpijak
pisah sudah bumi kita
kecemasan menggelora

biar kutunggu suaramu
aku tak ingin memulai kata-kata
selamat jalan

kuceritakan kesedihan pada petak
sawah yang terlewati
perih memudarkan pandang
air mata mengambang
seperti angin melambai di jendela

Gambang Semarang berdenting lagi
pada bangku peron

aku telah menanam luka baru

____________
00:30 06/04/2005

Kau Tak Bisa Kulewati

Tak bisa kuselesaikan
puisi-puisimu
dalam satu kedipan

3-4 puisi yang terlewati
selalu menghentak lambungku
tak mampu terus lagi

Luka dari
kata-katamu
mengucur bagai air mata

aku tak pernah
kenal kesunyian sepertimu
alunan hidup yan kau ceritakan
dan kerutan kening yang kau tuliskan

Jiwamu seperti kapas
lembut, hitam
menjerat sebagai
jaring laba-laba

kau seakan tak menoleh
sudah kupanggili namamu
kupanggili namamu

kau ada
hanya untuk jendela-jendela
di kamarmu

Duduk di kursi
menanti senja


—-
Toba.
15 Januari 2003

–edited on 12:46 pm 30/12/2010–

Kembali ke Kamar yang Dulu

Kembali
ke kamar yang dulu

merayap lagi
di tembok-tembok sepi
menerawang
menembus bayangan gelap

Ada hati kembali
terasa benar
pergantian musim dalam hidup

cekaman yang halus
dengan nikmat memijat kepala

kembali ke kamar yang dulu
tanpa ketakutan-ketakutan buruk
di kepala

aku bisa pukul temboknya
kupecahkan dalam satu
geliat segar

Mampus kau semua!!!


—
Toba.
16 Januari 2004

Sebatang Tembakau dan Kopi

Dalam secangkir kopi
yang meyisakan
satu-dua asap
Berenang jiwaku, berseloroh

Semua kebusukan
memang harus ada
semua tikus-tikus
memang harus hidup

Dalam sebatang rokok asing
senandung bergema
rra ta tam tam
rra ta tam tam
rra ta ta tam

kemudian tertawa geli
melihat akuarium
berisi ketololan-ketololan kita

Tragisnya drama
hasrat yang mandul
Impian-impian muda
Renungan-renungan cengeng

perlahan hadir
dalam secangkir kopi
yang tercelup tembakau asing


—
Toba.
03/02/2003

Harapan Kecil

ingin aku memelukmu
duduk bersimpuh
dan kita menjelma gubuk kecil

aku ingin mengirimkan matahari-matahari
menurunkan senja-senja
tapi maaf
keteduhan yang kuinginkan
melancung ke dalam nafas-nafas gelap

ingin aku rebah dipundakmu
atau kau terpejam dipundakku
dan kita basah dalam embun
yang telah lama hilang

tapi maaf
kalau maksud tak
duduk pada tempatnya
tersasar ke tanah-tanah gelap

aku betul-betul ingin
kau disini
kita rebahkan risau
dalam bayangan yang menyatu
lembut


—
Toba.
1:45 AM 4/14/03