Tag Archives: puisi patah hati

Luka yang Kau Tinggalkan di Puncak Bukit

aku tak pernah mengerti
kenapa kau lari
kenapa kau tinggalkan aku di tengah segalanya

sekarang hilang mukamu
hanya ada suara-suara
yang memanggilku
dari tembok-tembok berlumut

kau
begitu saja lari
meninggalkan aku
tanpa menoleh, tanpa membuka bibirmu
dan berkata sesuatu

semuanya kacau hancur
aku terpuruk
bemar-benar dalam
memanggil-manggili kamu
tak kudapat jawab apapun
tidak sebuah suarapun

kemana kamu?
dimana kamu?
tidakkah kau lihat aku
tidakkah kau lihat aku tersuruk
mencakari sumur dalam yang kau sisakan

aku terbentur batu
dan kau tak disini
tanpamu
tanpa suaramu
tanpa wajahmu

hey!
aku sedang dipuncak
aku terus bicara, meracau
dan kutengok kau sudah tidak ada

aku tertusuk duri hijau
lukanya bulat kecil dengan setetes
darah manis

seperti matamu
yang menangis di balik hijab
seperti aku yang mencarimu dan gagal

sekarang aku hilang akal
tunjukkan dirimu
tunjukkan dirimu

3:40 AM 7/5/2003

Ya Sudah (Penghabisan Ini)

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita

Bunga tidak tumbuh di batu
Begitu pula hantu tidak bergentayangan di masjid

Ya sudah saja
Detik ini hanya peresmian
Hati kita sudah mati dari kemarin

Angin telah mencurinya
Ditambah pula kebodohanku yang tak berujung

Aku berat mengatakannya
Tapi ini titik dari kalimat kita

Mata siapa yang sembap
nanti kita segera tahu
tapi itu bukan prinsip

Setelah puisi ini abis
Rasakanlah olehmu kebebasan
dan satu rantai yang karat telah pecah

Ya sudah saja
Ini titik dari puisi singkat kita
Ini kata mati dari hidup yangkau tak suka

Ah, hari sudah larut
bulan turun
aku sudah mati
Sejarah kemerraan ditutup disini

amu nanti tegar saja
aku minta maaf

Gelap jalan, jangan limbung
tetaplah jadi kedamaian
dan jangan lagi cari bangsat sepertiku

Eh, malam makin larut
Sudah waktunya kau jalan lagi
Sudah waktunya aku jalan lagi
kembali mehyingkap kegelapan esok
entah dengan berlari atau terseok

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita
Ini titik kita buat semua tanda kutip itu

Tuesday, November 06, 2001
16:05

Maaf, Aku Harus Pergi

Bila sinar itu telah
padam dari matamu
maaf aku harus pergi

masih ada beberapa
karang yang harus
kupecahkan

Kamu butuh kepastian?
tanyakan pada hatimu yang gemetar

-aku tak suka mengecup bibir yang dingin-

menara kita telah runtuh
dan maaf aku harus pergi

ternyata begini akhirnya
hatiku masih kukuh,
tapi bila kau tidak
maaf aku harus pergi

Aku tak mau bertahan
menjadi pemaksa
aku tak mau jalan berdampingan
dengan hati yang tak jelas arahnya

Semua yang kau bilang untukku
sekarang tidak lagi
semuanya menjadi kapas
dan menguap ke langit

mimpi-mimpi kita sudah jadi abu
pilih jalanmu, ke utara atau selatan
lontarkan salam dan seutas senyum
lalu kita berpisah di simpangan ini

semuanya sudah berubah
jangan berpura-pura.
maaf aku harus pergi

Aku harus membereskan koperku
yang terjatuh
dan terus berjalan

Sunday, June 02, 2002
3:11:06 Am

Mengejarmu

kepekatan malam
dalam bayang wajahmu
mengugurkan daunan ditangkal jambu

dari awal aku sudah mencarimu
dalam perjalanan ke bukit
yang kudaki dengan luka
terpuruk dikakimu dan terus berusaha
bangkit
coba meraih ujung
kerudungmu dengan
sisa tenaga

pada akhirnya

2:36 AM 11/4/02

Hey

hey
benarkah kau menungguku
seperti seorang dara di komik silat

hey aku cuma seorang keparat
baru kemarin jadi pengecut
lupa bahwa dirinya anak laki

hati-hati
jangan bermain dengan cinta
ia api
ia naga
nanti kau tertelan

tapi apakah arti cinta
bagi pemuda seusia kita

puisiku sering berbicara cinta
tapi bagiku saja
masih tipis batasnya dengan ego
dan keinginanku belaka

hehehe
aku berbicara tentang cinta?

sejujurnya
aku masih bingung di mana letak hati
aku seorang anak laki
yang baru hapal teori-teori

hey
hey
sadarlah
kau dara yang hijau
jangan tertipu olehku
atau oleh siapapun juga

kita sering terlarut dalam perasaan saja
lupa tugas sebenarnya

sudahlah kita menari
yang ringan-ringan saja
dan bekerja sekeras-kerasnya

Kau Selalu Datang

Tiba-tiba saja kau datang dalam hujan mengetuk hatiku dengan semena-mena dan pergi dalam petir yang menyambar. aku tangkap wajahmu, jangan pergi! sesaat seperti ini selama beberapa jam lagi akan memuaikan hatiku. aku tangkap tubuhmu! Jangan berlalu tak ingin waktu ini menjadi waktu itu nanti. Kau selalu datang di awal Ramadhan, di saat hujan menitik, di saat mendung tersenyum, dan selalu pergi begitu saja. Selama beberapa cangkir kopi dan berbatang-batang kretek kau menemaniku, tapi kau selalu meninggalkanku dalam lama yang tak tentu. Aku bosan mengungkapkanmu dalam kata; seperti. Aku ingin kau seutuhnya menjadi, aku ingin kau sebulat-bulatnya. Aku merindukan matahari yang telah kau mandulkan itu, saat kau datang, sebagai peri bergaun cokelat lembut menyapu langit. AKu merindukan dedaunan yang kau tundukkan, juga setiap kali kau datang. Perasaan kehilangan seperti ini menghadirkan kekosongan yang sangat. Kau selalu meruntuhkan bunga-bunga, kau memaksaku menghirup awan kosong.

Serpihan

"dari sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun"

Makin sepi saja
gambar itu.
tanpa kata-kata

kisah yang tersobek
keinginan yang terbunuh
gambar yang terbelah
hijau gunung yang hilang
akhir yang tak diharapkan

Hati yang tersisa
menggantung dilangit-langit kamar
Harus mati
Harus dibunuh

Makin sepi saja
gambar itu
dua orang di kamar gelap
terbelah
pisah
sampai akhirnya
lenyap

27/11/02