Sampai kau menangis
malam itu
kau lipat awan
dalam api
Marah
Lelah menahan hati yang berat
Di atas tembikar rapuh
Aku hanya mampu menatapmu
kupaksa tanganku melipat
kubalut dengan gelap
aku merasa lemah seketika
Dari jendela itu
Kesombongan langit mengangkangimu
Diam dalam bijak
Membiarkanmu menangis
Demi pedih menggurat jelas di dahi
Aku merasa lemah
aku ingin pergi dari jendela ini
menuju dunia yang tanpamu
Sudahlah,
ini kutulis pesan di pintu:
“Jangan menangis
Luka itu bukan siapa-siapa,
Ia saudara kita.
Selamat tinggal.”
1:37 PM 7/8/2003