Ya saatnya posting yang gak penting; “Dari balik meja redaksi nyenius.com”. Kepala cukup panas setelah seharian berjibaku dengan panas matahari, kencangnya angin gedung tinggi, serbuk gergaji, mindah-mindahin furniture, belanja keperluan perkakas yang kurang, sampai mengurus administrasi perizinan kerja di apartemen yang menyita tenaga karena harus bolak-balik naik dua lantai dari lift barang ke kantor manajemennya. Naik lift pun percuma, karena jarak dari kantornya ke lift pun cukup jauh, ditambah menunggu lift yang cukup makan waktu, berebut dengan pekerja proyek yang ada di lantai 30-40.
Sudah terbayang beberapa orang yang langsung setuju dengan tingkat ke-tidakpenting-an posting ini. Tapi gue gak akan sebut bahwa nama orang-orang yang tanpa basa basi akan bilang ini gak penting adalah Lulu dan Fahdi, gak kok 🙂
Malam ini, setelah semua chores itu selesai, ditambah terakhir mesti ke Poin Square belanja kompor, cooker hood, dan 3 buah kursi, gue memutuskan menulis yang ringan-ringan saja.
Ya istri gue memberi hadiah ulang tahun gue sebuah kursi kerja baru, yang dudukannya bisa naik-turun dan sandarannya bisa maju-mundur+naik turun juga. Hadiah yang sebetulnya gue ngotot pengen yang ini juga. (gue bilang; “kalo nggak itu ya Ipad” wakakakaka).
Dua kursi bersejarah yang selama ini menemani waktu-waktu kerja gue di depan komputer akhirnya harus pensiun. Ya dua kursi itu memang betul-betul bersejarah.
Yang satu adalah kursi makan besi model lama. Kursi ini gue boyong ke rumah, setelah sekitar 2 atau 3 tahun gak laku nongkrong di lantai dua toko bokap. Begitu gue mau nikah dan lagi desain kamar gue, gue minta itu meja makan satu set dengan empat kursi buat ditaruh di kamar. Gue bilang sama bokap, modelnya pas dengan rancangan kamar gue 😛
Gue bawa pulang, dibersihin, dan ternyata masih bagus :). Akhirul hikayat, meja makan itu nggak fungsi sebagaimana mestinya, karena tetep aja gue makannya lesehan, atau di sofa sambil nonton tivi. Akhirnya empat kursinya terpencar, dua di balkon untuk ditindih dengan segala macam barang. Satu di dalam kamar untuk alas colokan akuarium, satu lagi beruntung jadi kursi untuk komputer desktop gue. Yang jelas, kursi ini sangat tidak nyaman dipakai dalam jangka lama. Seringkali di akhir aktifitas berkomputer desktop, gue harus mengalami pegal-pegal di sekujur badan.
Yang kedua adalah kursi kayu dengan dudukan dari busa dilapis kain. Sejarah kursi ini lebih unik lagi. Pertama, ini aslinya adalah kursi khotib buat ceramah jum’at entah di masjid mana. Aslinya memang buatan dari workshop toko kami juga (H. Konin Furniture). Yang setelah digunakan sekian waktu di masjid, pengurusnya berencana mengganti kursi itu dengan cara tukar tambah dengan yang baru (mesen lagi custom).
Setelah diterima di toko, lama juga itu kursi nganggur. Iseng gue bilang mau gue bawa pulang, dan lagi-lagi pak Haji (bokap gue) setuju aja, dengan anggukan dinginnya tanpa memandang gue. Langsung aja gue suruh orang taekin ke mobil dan bawa pulang.
Di rumah, pertama gue taruh di depan akuarium laut yang waktu itu baru dibuat, maksudnya biar bisa nyaman mandangin akuariumnya. Dan sesekali gue pindahin ke balkon buat maen laptop (mulai dari kegiatan komputasi positif sampe negatif :P). Mungkin kursi ini kaget dengan perubahan fungsinya, sampai suatu hari, ketika gue gunain buat pijakan waktu bersihin akuarium, gue pun terjungkal dari atasnya, lantas pingsan, dan berakhir di UGD dan dokter spesialis saraf.
Ya, akhirnya satu kursi idaman gue sudah ada disini. Menemani kegiatan gue berkomputer, menggambar, baca buku, atau menulis tangan. Kursi yang semoga menambah kenyamanan gue berkreasi dengan komputer dan internet, dan tentu kesehatan tulang-tulang di badan gue. 🙂 Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.
Terima kasih sayang, buat hadiahnya, dan juga ‘amin’ yang kemaren 🙂