Tag Archives: rumput gajah

Bagaimana Menjadi Kita?

Beberapa waktu yang lalu, saya telah menuntut istri saya akan hal-hal yang ‘baku’ dalam sebuah rumah tangga. Belakangan baru saya sadari, tuntutan itu ternyata berpijak pada ‘konvensi rumah tangga ideal’ entah milik siapa. Meminjam imaji (gambaran) mengenai bentuk ideal yang hanya saya tahu kulit luarnya, saya menciptakan tuntutan-tuntutan. Membuat kerangka bagaimana hubungan kami seharusnya.

Sebagian berhasil (walau dengan aneh), dan sebagian besar gagal atau tidak bertahan lama. Kegagalan itu menghasilkan ‘frustasi-frustasi’ pada kedua pihak. Proses yang terjadi adalah seperti memaksa ikan air tawar hidup di lautan, dan sebaliknya. Ketika kita tidak mengoptimalkan apa yang telah dianugerahkan Tuhan (baca; bersyukur), maka mutlak akan berlaku peribahasa “rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman sendiri.” Tanpa melihat lebih jauh dia memakai pupuk apa, perawatannya bagaimana, kondisi lahannya seperti apa, dan hal-hal lainnya yang sebetulnya lebih penting untuk dipelajari.

Sehingga yang terjadi adalah penjiplakan ‘kehijauan rumput‘ tersebut. Kita beli rumput baru yang hijau, ditanam di halaman. Kita pandangi dan merasa senang olehnya. Tapi itu kesenangan semu. Karena ternyata beberapa hari kemudian rumput itu menjadi layu dan mati. Karena itu tadi, kita hanya memperhatikan hasilnya, tanpa mempelajari prosesnya.

Ketika berpacaran, yang ada di kepala adalah ‘kita’, anehnya, setelah beranjak ke jenjang pernikahan, seringkali ‘kita’ bergeser menjadi ‘aku’. Apa yang salah disini? Ketidakmengertian akan job description-kah? Atau karena ada  ruang-ruang pribadi yang hilang?

Bicara suami-istri, adalah bicara mengenai peran bulan dan matahari. Bicara suami-istri adalah bicara mengenai penyempurnaan karunia yang terpenggal. Contoh, wanita bisa melahirkan dan pria tidak, dan kelahiran tidak dapat dicapai hanya oleh satu pihak belaka. Suami-istri adalah pertemuan dua insan manusia yang unik. Yang seperti halnya zat-zat di alam semesta ini, percampuran dua unsur yang berbeda akan melahirkan sebuah unsur baru. Begitu pula perkara perkawinan. Bentuk hubungan tiap pasangan suami-istri sangat sangat dipengaruhi oleh karakter dua manusia yang hidup bersama itu sendiri. Tidak ada bentuk ideal yang pokok, yang baku, yang pasti benar.

Agama memberikan butir-butir yang membahas masalah hak dan kewajiban suami dan istri, beserta batasan-batasannya. Tapi itu hakikatnya adalah sebuah job description saja, AD (anggaran dasar) nya. Praktik di lapangannya memiliki varian opsi yang hanya dibatasi oleh tingkat kecerdasan pelakunya dalam menilai situasi sekitar.

Kesadaran ini mengingatkan saya tentang salah satu tujuan perkawinan, adalah mengukuhkan hidup berdua dalam suasana penuh pengertian. Dalam arti kita memahami potensi-pontensi dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Menikah bukanlah untuk merubah pribadi seseorang, tapi memunculkan potensi terbaik pasangannya, sehingga terjadi sinergi positif dalam bentuk yang orisinal. Tidak ada bentuk hubungan perkawinan yang baku, itu cuma kata orang, yang kemudian dijadikan komoditas bisnis dengan berbagai bentuknya. Dan semakin kita mengikuti kata orang, semakin jauh kita dari kata bahagia.

– “I’m sorry my lovely wife, i’ve blinded by my ego. I’ll learn, I’ll hear, I’ll read, more and more about you.” –