Manajemen Semangat Dan Ide; Mencegah Aborsi Kreatifitas

Beberapa tahun ke belakang, saya memiliki beberapa pengalaman untuk mencetuskan gagasan-gagasan baru, kegiatan-kegiatan baru, organisasi baru, lengkap dengan cerita keberhasilan dan kegagalannya. Singkatnya, saya termasuk orang yang mudah terinspirasi oleh segala sesuatu. Dalam kegagalan dan keberhasilan pelaksanaan ide-ide tersebut saya mencatat dalam ingatan, apa-apa saja yang menjadi penyebab kegagalannya.

Seperti suatu ketika saya berkunjung ke Jogja, dan ketika makan di pinggir jalan, tak jauh dari saya, di badan trotoar sekumpulan orang berkumpul melingkar, di tengahnya ada orang yang entah sedang membaca puisi atau sedang bermonolog. Dan pemandangan itu menimbulkan kekaguman buat saya. Ketika saya kuliah di STSI bandung, jurusan Teater, saya pun segera mengusulkan agar anak-anak teater angkatan saya mengadakan hal serupa. Dengan konsep, meramaikan jalan bandung dengan seni. Tidak peduli ada penonton atau tidak, tidak peduli apa yang ingin ditampilkan oleh masing-masing pesertanya, bahkan yang menonton pun (kalau ada) boleh ikut serta mengekspresikan rasa seninya.

“Program” itu berjalan selama tiga minggu. Tiap malam rabu kita berkumpul di lapangan gasibu (yang di pinggir jalan rayanya). Kita berkumpul, dikelilingi lilin, berpuisi, monolog, olah gerak, dan apa pun bentuk ekspresi yang disampaikan setiap orang yang ikut. Pada minggu pertama, tidak ada penonton sama sekali. Pada minggu kedua, ada dua orang yang lewat, dan nonton, untuk kemudian mau bergabung, minggu ketiga ada fotografer yang kebetulan lewat  mengabadikan momen-momen tersebut. Minggu keempat dan selanjutnya hening, kegiatan ini tidak berlanjut.’ Dan masih ada beberapa ide yang terealisasi untuk kemudian mati lagi.

Menggali ide itu sulit (bagi yang tidak membiasakan), tapi mempertahankan konsistensi itu lebih sulit. Sudah beberapa kali saya mendiskusikan ini dengan beberapa orang berbeda, yang juga mengalami masalah serupa. Apalagi buat orang yang punya sifat gampang bosan seperti saya. Perlu kesadaran dan latihan untuk mengatasinya.

Semangat itu seperti api, dia akan menyala selama asupan bahan bakarnya tetap terjaga. Apa saja asupannya? Itu berbeda pada tiap karakter seseorang. Bisa dukungan, bisa sebuah sebab, kondisi, apapun. Semangat adalah energi, kita harus mengatur penggunaannya sedemikian rupa, agar tidak kehabisan energi di awal.

Sebelum kita dapat menyelesaikan sebuah masalah, terlebih dulu kita mesti telaah apa penyebab masalah tersebut. Saya coba buat kerangkanya berdasarkan telaah sendiri, baik atas kasus saya ataupun kasus orang lain (yang tidak diceritakan disini):

  1. Rasa Bosan
    Poin ini saya tujukan kepada sebuah ide yang berjalan cukup lama, kemudian terjadi masa-masa hambar di tengah perjalanannya.  Mungkin pada titik ini masanya untu re-orientasi kembali sebuah ide, mencari sebuah bentuk baru (bukan esensi baru). Apabila ide ini dijalani  oleh sekelompok orang, baik kalau dibuka diskusi mengenai re-orientasi kembali pelaksanaan ide tersebut. Paling gampangnya, simplify pelaksanaanya, hilangkan atribut-atribut/ritual-ritual yang tidak begitu penting. Yang penting adalah esensi idenya tetap sama.
  2. Rasa ingin tahu (curiousity) yang terlalu tinggi
    Pada orang-orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi, saya lihat banyak sekali hal yang tidak terselesaikan atau berhenti di tengah-tengah. Orang-orang dengan curiousity tinggi biasanya akan mulai melaksanakan idenya dengan antusiasme dan konsentrasi sangat tinggi. Sehingga ketika dia mulai menguasai sebuah ide baru, dan saat mengerjakan hal-hal rutin sebagai perwujudan ide tersebut dia menemukan hal lain yang lebih baru, dia akan hentikan pelaksanaan ide sebelumnya dan beralih kepada yang baru.
  3. Status quo, anti-perubahan
    Terkadang, saking sayangnya orang dan saking merasa idenya sudah paling benar, telinganya tertutup dari alternatif-alternatif ide lain walau memiliki tujuan serupa. Apabila pelaksanaannya melibatkan orang lain, bisa dipastikan ide ini akan kehilangan legislasinya pada pelaku selain pemilik ide. Karena ketika kita ingin sebuah ide dilaksanakan oleh sekumpulan orang, kita harus dapat membuat ide ini ‘dimiliki’ oleh orang lain juga. Dan resiko sebuah ide menjadi ‘milik bersama’ adalah satu; ide itu akan berkembang.
  4. Habisnya energi pada titik niat (over excited)
    Pada medio 2004, saya pernah menyampaikan ide untuk melakukan sesuatu kepada kawan saya Aves. Saya sampai bersemangat sampai tak bisa berhenti memikirkannya. Teman saya itu mengingatkan saya supaya menyimpan energi untuk pelaksanaannya nanti. Dia bilang: “Ba, sekarang udah jelas maksud tujuannya, udah lupain, dalam arti gunakan energi untuk niat 50% aja, kalau perlu di bawah itu. Sisanya untuk pelaksanaannya.” Semenjak itu saya selalu mewanti-wanti diri saya sendiri untuk mencegah terjadinya over-excited tadi.
  5. Perkembangan yang terlalu rumit dan kompleks pada tahap ide awal (konsep)
    Saya berikan contoh kasus untuk poin ini. Pembuatan situs alumni atau portal seringkali gagal karena ide awal yang terlalu ‘bengkak’. Karena mau ada ini-ada itu yang mana pada pembuatannya menjadi rumit, sehingga makan waktu daneffort yang tinggi. Padahal rata-rata itu dilakukan secara sukarela atau secara part-time yang akhirnya menyebabkan habisnya energi dan frustasi tambahan yang tak terjawab kenapa.
  6. Terlalu santai (liat nanti aja)
    Hal ini biasanya dimotori rasa ragu atau enggan dalam diri konseptor ataupun pada orang yang diajak untuk mewujudkan sebuah ide. Bisa jadi karena sudah terbayang ide tersebut akan sangat rumit untuk dilaksanakan. Perilaku seperti ini saya anggap praktik aborsi terhadap ide-ide, skeptisisme yang berlebihan. Cobalah dengarkan sebuah ide dengan gelas kosong di kepala, tanpa pejudice ataupun sangkaan-sangkaan tak perlu lainnya.
  7. Terlalu banyak kepala dilibatkan pada tataran konsep
    Ini terutama berlaku pada ide yang dibayangkan akan kolosal dan melibatkan orang banyak, karena itu sang konseptor merasa perlu untuk melibatkan kepala sebanyak mungkin. Agar idenya menjadi lebih matang dan mewadahi banyak orang. Padahal hal ini bisa berujung maut buat ide itu sendiri. Banyaknya kepala tidak akan membuat ide menjadi matang dan akhirnya lulus hingga pelaksanaan. Pertama, tidak semua orang adalah konseptor, malah banyak orang adalahactuator pelaksana. Kedua, terlalu banyak harapan dimasukkan dalam sebuah konsep, dapat menjadi konsep tersebut terlalu gemuk dan sulit dilaksanakan. Ketiga, belum tentu pikiran-pikiran yang banyak itu penting buat konsep tersebut. Keempat, tingkat kepahaman tiap orang (yang banyak itu) sangat beragam akan sebuah konsep, sangat sulit menyamakan pendapat dan definisi dasar tentang konsep ke banyak kepala dalam suatu waktu, dan ini berpengaruh terhadap usulan yang mereka ajukan. Buatlah konsep dengan sedikit orang, dan didorong oleh sebuah tim inti. Pelaksanaan baru melibatkan banyak orang.

Ada beberapa cara untuk menangani hal ini; secara sistem, atau melalui latihan. Reward and punishment merupakan sebuah contoh sistem untuk mengatasi hal ini. Latihan pribadi dengan memberi menetapkan target dan memaksa maju dalam kondisi termalas, merupakan contoh dari cara latihan.

Solusi yang ada di kepala saya untuk semua itu adalah: Start it simple, play it simple, keep it simple.

Mulailah sebuah ide dengan memperhitungkan dan memanfaatkan kekurangan para pelaku yang akan terlibat dalam pelaksanaan ide tersebut, baru kemudian kelebihan-kelebihannya. Dan biarkan ide berkembang dengan bebas, selama esensinya masih terjaga.

One thought on “Manajemen Semangat Dan Ide; Mencegah Aborsi Kreatifitas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 3 =