“SEMUA KENDARAAN HARUS MENGAMBIL TIKET TANPA TERKECUALI”
Pertemuan saya dengan rambu ini cukup menarik. Waktu itu saya mau parkir di sebuah kantor di Kuningan. Sudah beberapa kali saya datang ke kantor itu. Kebetulan, hari itu saya lagi ngeh ngeliat tulisan ini, pas lagi nunggu tiketnya diprint. Bertepatan dengan itu, masuklah satu motor yang ditumpangi dua orang berpakaian safari, ngeloyor begitu aja, masuk ke dalam gedung parkir. Begitu si penjaga tiket parkir nengok, penumpang motor itu cuma nyengir sambil melambaikan sebelah tangannya. Dan si penjaga ikut nyengir juga.
Saya cuma ketawa, geleng-geleng sendiri. Lucu, baruuu aja saya ngeh ada tulisan itu, dan sesaat kemudian langsung ditunjukin seperti apa implementasinya. Bahkan saya dengar dari seseorang, yang dia denger dari orang lainnya, buat karyawan yang ikut program parkir berlangganan di gedung itu, tidak perlu ngambil tiket lagi, langsung saja blas masuk.
Saya segera mafhum, bahwa dua orang yang lewat tadi adalah pegawai manajemen gedung. Saya tidak menyalahkan tindakannya yang langsung masuk itu. Yang saya salahkan adalah TULISANNYA, dan tentu ORANG yang menuliskannya. Mendapatkan fenomena ‘kebetulan’ seperti itu selalu memaksa saya berfikir; “Kenapa saya diperlihatkan hal ironis ini?” Pikiran singkat saya adalah, Tuhan berusaha memberikan informasi sepintas seperti apakah manajemen gedung ini melaksanakan kepengurusan gedung. Ada ‘kemapanan’ tersendiri dalam pengelolaannya, sesuatu yang sudah berjalan mengalir. Sehingga cenderung ada hal-hal yang sudah dicapai ‘kesepahaman bersama’ yang tidak dipentingkan pengucapannya.
“Kenapa sih tidak dituliskan saja?” Pikir saya waktu itu. “Semua Kendaraan HARUS Mengambil Tiket. Kecuali staff dan parkir berlangganan.” Jadi kesan buat pendatang baru seperti saya tidak jadi konyol. Walau saya yakin, semakin saya akrab dengan gedung itu, saya pun akan acuh saja dengan hal-hal perintilan macam itu.
Sekedar (dalam bahasa lulu), nyinyir dari gue ketika akan rapat di sebuah kantor :D.
