Tag Archives: tivi

Televisi Sebagai Laknat Dan Nikmat

Semenjak ditemukannya, televisi telah mewarnai hari-hari manusia. Menjadi teman, alat, momok, dan segudang plus minus lainnya tentang televisi.

Tulisan ini saya buat ketika melewati tivi di kamar dan seketika sadar: “Dah lama juga gue gak nonton tivi.” Sebetulnya bukan saya aja yang dah lama gak nonton tivi, tapi juga istri saya. Selain karena memang waktu untuk menonton tivi yang seperti tidak ada, selalu ada pertanyaan di benak kami: “mau nonton apaan di tivi?” Karena merasa lebih banyak sampah yang ditayangkan tivi sekarang ini. Apapun itu, begitu tampil di tivi, bisa jadi jungkir-balik, jumpalitan, salto, dan kami tertimpa skeptis berat tentang program dan kebenaran televisi.

Presiden kita melalui lembaga polling yang disewanya menggunakan televisi sebagai -yang menurut saya- kecurangan berkampanye. Yaitu ketika pemungutan suara masih berlangsung, quick count dari lembaga survey tersebut sudah ditayangkan. Padahal itu dipercaya dapat menggiring opini rakyat yang belum memilih.

Production House yang mengejar pemasukan perusahaannya dengan membuat sinetron religi keblinger dengan pencitraan kiai-kiai sebagai orang sakti, tasbeh berguna untuk ngusir setan dan segala macamnya, juga tampil disitu. Berulang-ulang, tak peduli apakah penontonnya muak atau tidak. Cinta Fitri yang dibuat sejak jaman adik saya SD sampe sekarang udah SMA, masih juga tampil dengan musuh yang itu-itu saja.

Teman saya pernah bilang, dia tidak suka baca buku, dan lebih memilih melihat berita di televisi. Karena dengan membaca buku dia takut terpengaruh oleh pikiran ‘orang yang gak jelas’. Saya balik bertanya, mengenai kejelasan sumber, lebih jelas mana tivi atau buku? Buku, kita bisa baca riwayat pengarangnya pada sampul/halaman belakang buku. Masih kurang puas, bisa searching lebih lanjut tentang si pengarang di internet. Sehingga kita tahu dari mana, siapa, orang berlatarbelakang seperti apa, kita menerima atau menolak pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku.

Sedangkan televisi? Tahukah kita siapa editor sebuah acara berita (apalagi gosip)? Tahukah kita apa motif dia meluluskan sebuah berita, dan menolak tumpukan berita lainnya? Tahukah kita visi pemilik sebuah stasiun tivi? Ditambah lagi dengan fenomena monopoli tersamar yang dilakukan grup MNC terhadap stasiun-stasiun tv besar di Indonesia. Itu semakin menambah keraguan saya akan ‘kebenaran televisi’. It’s a bunch of driven informations without us knowing where they want to drive us.

Memang tidak selamanya program televisi itu buruk, saya termasuk penggemar setia acara-acara besutan aktor senior Deddy Mizwar. Karena kebetulan saya mengikuti perkembangan beliau semenjak film-filmnya di tahun 70-an. Semenjak beliau main film panas sampai akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sinema-sinema religi yang cerdas.

Walaupun suka, ada beberapa hal yang saya kritisi, yang saya anggap bisa menjadi ‘bahaya’ tertentu; bahaya salah paham. Contoh konkritnya pemenggalan cerita pada sinetron terbaru beliau yaitu Para Pencari Tuhan. Banyak sekali pemenggalan cerita yang menggantungkan status suatu masalah yang diangkat dalam satu episode, yang dengan tujuan membuat orang penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Tapi pemenggalannya itu pada bagian penting. Dan saya tahu banyak yang penasaran, dan banyak yang pula tidak sempat menonton kelanjutannya, yang notabene merupakan penjelas dari informasi (baca;dakwah) yang tak selesai pada episode sebelumnya.

Tapi karena televisi juga, saya yang belum pernah ke luar negeri bisa tahu seperti apa perayaan tahun baru di London. Saya bisa tahu mengenai padang rumput anatolia yang indah. Karena televisi, orang-orang hebat dapat menyebarkan inspirasinya kepada khalayak luas.

Televisi sebagai sebuah bentuk media massa, dapat memberikan (baca; menyebarkan) dampak positif dan negatif secara massif. Televisi tidak bisa disalahkan, dia hanya benda, sedangkan stasiun televisi merupakan bidang luas yang tak terjamah oleh tangan kita yang kecil. Tak ayal; kita yang harus siap.