Category Archives: Blog

Ejekan Itu Punyaku; Privatisasi Ejekan

Pernah ada satu teman yang membahasakan ayahnya dalam obrolan ringan seperti ini; “Si goblok gak ngerti dia soal internet.” Kita teman-teman yang mendengarkan langsung ketawa ngakak. Karena memang dia orangnya kocak, cara penyampaian kocak, dan kejadian-kejadian dalam keluarganya juga banyak yang kocak.

Karena begitu sukanya saya pada idiom mengenai ayahnya yang dia gunakan, rasanya gatal mulut untuk ikut ‘berpesta’ dalam kelucuan penyebutan tersebut. Kelepasan lah saya suatu hari bertanya; “Gimana kabar si goblok kemaren?” Mungkin bisa disebut kebablasan, sebab sebelum bertanya begitu, saya sempat mikir-mikir, apakah akan menggunakan kata-kata tersebut atau tidak, akhirnya entah bagaimana, keluarlah kalimat itu. Reaksi yang saya dapat tidak terbayang oleh saya waktu itu. Sepintas ada raut ‘tidak terima’ di wajahnya, walau akhirnya menjawab sekenanya (tanpa mengulangi idiom tersebut seperti biasanya).

Saya langsung sadar sudah terlalu lancang menggunakan bahasa tentang ayahnya. Dan bertekad tidak akan pernah sembarangan ikut bicara mengenai ‘ejekan’ seseorang atas orang terdekat mereka. Waktu itu saya gagal memikirkan kenapa suasananya bisa berubah seperti itu? Kenapa ketika dia yang bilang tidak masalah, kenapa kalau saya yang menyebutkan jadi aneh. Ya, saya merasa aneh ketika mengucapkannya, dan teman saya pun bereaksi dengan aneh juga (baca; tidak suka).

Kemarin-kemarin saya ngobrol sama seorang teman (lupa siapanya, tolong yang ngerasa ngobrol sama saya ingetin lagi), dia bilang “ejekan itu pertanda/lambang dari keakraban antar orang.” Tanda keakraban. Saya ingat dalam beberapa momen tersendiri saya lebih suka menyebut teman saya dengan ‘si kiting’ ketimbang namanya ‘si Akbar’. Momennya seperti apa, susah juga ngungkapinnya. Tapi seingat saya, momennya itu ketika saya menyebutkan pencapaian-pencapaian yang dia raih, atau sedang membicarakan  ‘karakter’ atau kebiasaan dia. Yang mana itu merupakan sebuah obrolan yang intim, dekat.

Sudah jamak ketika kita dekat dengan seseorang, atau dalam suatu lingkar pertemanan. Seseorang memiliki ‘ejekan’, nickname, ‘julukan’ yang biasanya berkonotasi negatif. Walau berkonotasi negatif, tapi yang diberi julukan tidak sampai tersinggung dan menjadi ribut. Justru timbul rasa kedekatan tersendiri. Saya kadang suka menyapa kawan lama dengan ungkapan penuh kerinduan: “Apakabar bangsat?” sambil nyengir senang, dan dengan respon tawa menyegarkan dari teman yang saya sapa demikian.

Mungkin akan beda kalau misal saya dengar pertanyaan tadi (apakabar bangsat) ditujukan ke teman saya, dari musuh teman saya. Mungkin reseptor dalam otak saya akan mendelegasikan pengolahan reaksinya ke divisi emosi kesal dan marah. Karena itu teman saya, itu ejekan kami untuk dia. Musuh teman saya itu posisinya berada di luar lingkar keakraban kami.

Bagaimana kalau yang memanggil teman saya ‘bangsat’ itu bukan musuhnya? Melainkan teman baru, yang baru banget bersentuhan dengan lingkar pertemanan kami (kondisinya ‘baru bersentuhan’, belum pada tahap ‘diterima’)? Sikap itu menurut hemat saya adalah, apa yang disebut orang banyak SKSD (sok kenal sok deket).

Jadi, sekarang nampaknya saya sudah bisa sedikit paham, kenapa dulu teman saya tersinggung waktu saya ikut-ikutan menyebut ayahnya dengan ‘julukan keakraban’ dia. Itu karena walau saya dan dia berada dalam satu lingkar keakraban (pertemanan), tapi dia pun (sebagaimana saya) punya lingkar keakraban lain dengan keluarganya. Dan lingkar keakraban keluarganya dan lingkar keakraban pertemanan kami, adalah dua lingkaran berbeda, yang hanya bertemu (beririsan) pada teman saya itu, tidak sampai menyatu. Beda kalau misalkan kami juga akrab dengan ayahnya. It’s a whole different world.

Rambu Sebuah Komunitas Di Mata Orang Luar

“SEMUA KENDARAAN HARUS MENGAMBIL TIKET TANPA TERKECUALI”

Pertemuan saya dengan rambu ini cukup menarik. Waktu itu saya mau parkir di sebuah kantor di Kuningan. Sudah beberapa kali saya datang ke kantor itu. Kebetulan, hari itu saya lagi ngeh ngeliat tulisan ini, pas lagi nunggu tiketnya diprint. Bertepatan dengan itu, masuklah satu motor yang ditumpangi dua orang berpakaian safari, ngeloyor begitu aja, masuk ke dalam gedung parkir. Begitu si penjaga tiket parkir nengok, penumpang motor itu cuma nyengir sambil melambaikan sebelah tangannya. Dan si penjaga ikut nyengir juga.

Saya cuma ketawa, geleng-geleng sendiri. Lucu, baruuu aja saya ngeh ada tulisan itu, dan sesaat kemudian langsung ditunjukin seperti apa implementasinya. Bahkan saya dengar dari seseorang, yang dia denger dari orang lainnya, buat karyawan yang ikut program parkir berlangganan di gedung itu, tidak perlu ngambil tiket lagi, langsung saja blas masuk.

Saya segera mafhum, bahwa dua orang yang lewat tadi adalah pegawai manajemen gedung. Saya tidak menyalahkan tindakannya yang langsung masuk itu. Yang saya salahkan adalah TULISANNYA, dan tentu ORANG yang menuliskannya. Mendapatkan fenomena ‘kebetulan’ seperti itu selalu memaksa saya berfikir; “Kenapa saya diperlihatkan hal ironis ini?” Pikiran singkat saya adalah, Tuhan berusaha memberikan informasi sepintas seperti apakah manajemen gedung ini melaksanakan kepengurusan gedung. Ada ‘kemapanan’ tersendiri dalam pengelolaannya, sesuatu yang sudah berjalan mengalir. Sehingga cenderung ada hal-hal yang sudah dicapai ‘kesepahaman bersama’ yang tidak dipentingkan pengucapannya.

“Kenapa sih tidak dituliskan saja?” Pikir saya waktu itu. “Semua Kendaraan HARUS Mengambil Tiket. Kecuali staff dan parkir berlangganan.” Jadi kesan buat pendatang baru seperti saya tidak jadi konyol. Walau saya yakin, semakin saya akrab dengan gedung itu, saya pun akan acuh saja dengan hal-hal perintilan macam itu.

Sekedar (dalam bahasa lulu), nyinyir dari gue ketika akan rapat di sebuah kantor :D.

Televisi Sebagai Laknat Dan Nikmat

Semenjak ditemukannya, televisi telah mewarnai hari-hari manusia. Menjadi teman, alat, momok, dan segudang plus minus lainnya tentang televisi.

Tulisan ini saya buat ketika melewati tivi di kamar dan seketika sadar: “Dah lama juga gue gak nonton tivi.” Sebetulnya bukan saya aja yang dah lama gak nonton tivi, tapi juga istri saya. Selain karena memang waktu untuk menonton tivi yang seperti tidak ada, selalu ada pertanyaan di benak kami: “mau nonton apaan di tivi?” Karena merasa lebih banyak sampah yang ditayangkan tivi sekarang ini. Apapun itu, begitu tampil di tivi, bisa jadi jungkir-balik, jumpalitan, salto, dan kami tertimpa skeptis berat tentang program dan kebenaran televisi.

Presiden kita melalui lembaga polling yang disewanya menggunakan televisi sebagai -yang menurut saya- kecurangan berkampanye. Yaitu ketika pemungutan suara masih berlangsung, quick count dari lembaga survey tersebut sudah ditayangkan. Padahal itu dipercaya dapat menggiring opini rakyat yang belum memilih.

Production House yang mengejar pemasukan perusahaannya dengan membuat sinetron religi keblinger dengan pencitraan kiai-kiai sebagai orang sakti, tasbeh berguna untuk ngusir setan dan segala macamnya, juga tampil disitu. Berulang-ulang, tak peduli apakah penontonnya muak atau tidak. Cinta Fitri yang dibuat sejak jaman adik saya SD sampe sekarang udah SMA, masih juga tampil dengan musuh yang itu-itu saja.

Teman saya pernah bilang, dia tidak suka baca buku, dan lebih memilih melihat berita di televisi. Karena dengan membaca buku dia takut terpengaruh oleh pikiran ‘orang yang gak jelas’. Saya balik bertanya, mengenai kejelasan sumber, lebih jelas mana tivi atau buku? Buku, kita bisa baca riwayat pengarangnya pada sampul/halaman belakang buku. Masih kurang puas, bisa searching lebih lanjut tentang si pengarang di internet. Sehingga kita tahu dari mana, siapa, orang berlatarbelakang seperti apa, kita menerima atau menolak pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku.

Sedangkan televisi? Tahukah kita siapa editor sebuah acara berita (apalagi gosip)? Tahukah kita apa motif dia meluluskan sebuah berita, dan menolak tumpukan berita lainnya? Tahukah kita visi pemilik sebuah stasiun tivi? Ditambah lagi dengan fenomena monopoli tersamar yang dilakukan grup MNC terhadap stasiun-stasiun tv besar di Indonesia. Itu semakin menambah keraguan saya akan ‘kebenaran televisi’. It’s a bunch of driven informations without us knowing where they want to drive us.

Memang tidak selamanya program televisi itu buruk, saya termasuk penggemar setia acara-acara besutan aktor senior Deddy Mizwar. Karena kebetulan saya mengikuti perkembangan beliau semenjak film-filmnya di tahun 70-an. Semenjak beliau main film panas sampai akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sinema-sinema religi yang cerdas.

Walaupun suka, ada beberapa hal yang saya kritisi, yang saya anggap bisa menjadi ‘bahaya’ tertentu; bahaya salah paham. Contoh konkritnya pemenggalan cerita pada sinetron terbaru beliau yaitu Para Pencari Tuhan. Banyak sekali pemenggalan cerita yang menggantungkan status suatu masalah yang diangkat dalam satu episode, yang dengan tujuan membuat orang penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Tapi pemenggalannya itu pada bagian penting. Dan saya tahu banyak yang penasaran, dan banyak yang pula tidak sempat menonton kelanjutannya, yang notabene merupakan penjelas dari informasi (baca;dakwah) yang tak selesai pada episode sebelumnya.

Tapi karena televisi juga, saya yang belum pernah ke luar negeri bisa tahu seperti apa perayaan tahun baru di London. Saya bisa tahu mengenai padang rumput anatolia yang indah. Karena televisi, orang-orang hebat dapat menyebarkan inspirasinya kepada khalayak luas.

Televisi sebagai sebuah bentuk media massa, dapat memberikan (baca; menyebarkan) dampak positif dan negatif secara massif. Televisi tidak bisa disalahkan, dia hanya benda, sedangkan stasiun televisi merupakan bidang luas yang tak terjamah oleh tangan kita yang kecil. Tak ayal; kita yang harus siap.

Manajemen Semangat Dan Ide; Mencegah Aborsi Kreatifitas

Beberapa tahun ke belakang, saya memiliki beberapa pengalaman untuk mencetuskan gagasan-gagasan baru, kegiatan-kegiatan baru, organisasi baru, lengkap dengan cerita keberhasilan dan kegagalannya. Singkatnya, saya termasuk orang yang mudah terinspirasi oleh segala sesuatu. Dalam kegagalan dan keberhasilan pelaksanaan ide-ide tersebut saya mencatat dalam ingatan, apa-apa saja yang menjadi penyebab kegagalannya.

Seperti suatu ketika saya berkunjung ke Jogja, dan ketika makan di pinggir jalan, tak jauh dari saya, di badan trotoar sekumpulan orang berkumpul melingkar, di tengahnya ada orang yang entah sedang membaca puisi atau sedang bermonolog. Dan pemandangan itu menimbulkan kekaguman buat saya. Ketika saya kuliah di STSI bandung, jurusan Teater, saya pun segera mengusulkan agar anak-anak teater angkatan saya mengadakan hal serupa. Dengan konsep, meramaikan jalan bandung dengan seni. Tidak peduli ada penonton atau tidak, tidak peduli apa yang ingin ditampilkan oleh masing-masing pesertanya, bahkan yang menonton pun (kalau ada) boleh ikut serta mengekspresikan rasa seninya.

“Program” itu berjalan selama tiga minggu. Tiap malam rabu kita berkumpul di lapangan gasibu (yang di pinggir jalan rayanya). Kita berkumpul, dikelilingi lilin, berpuisi, monolog, olah gerak, dan apa pun bentuk ekspresi yang disampaikan setiap orang yang ikut. Pada minggu pertama, tidak ada penonton sama sekali. Pada minggu kedua, ada dua orang yang lewat, dan nonton, untuk kemudian mau bergabung, minggu ketiga ada fotografer yang kebetulan lewat  mengabadikan momen-momen tersebut. Minggu keempat dan selanjutnya hening, kegiatan ini tidak berlanjut.’ Dan masih ada beberapa ide yang terealisasi untuk kemudian mati lagi.

Menggali ide itu sulit (bagi yang tidak membiasakan), tapi mempertahankan konsistensi itu lebih sulit. Sudah beberapa kali saya mendiskusikan ini dengan beberapa orang berbeda, yang juga mengalami masalah serupa. Apalagi buat orang yang punya sifat gampang bosan seperti saya. Perlu kesadaran dan latihan untuk mengatasinya.

Semangat itu seperti api, dia akan menyala selama asupan bahan bakarnya tetap terjaga. Apa saja asupannya? Itu berbeda pada tiap karakter seseorang. Bisa dukungan, bisa sebuah sebab, kondisi, apapun. Semangat adalah energi, kita harus mengatur penggunaannya sedemikian rupa, agar tidak kehabisan energi di awal.

Sebelum kita dapat menyelesaikan sebuah masalah, terlebih dulu kita mesti telaah apa penyebab masalah tersebut. Saya coba buat kerangkanya berdasarkan telaah sendiri, baik atas kasus saya ataupun kasus orang lain (yang tidak diceritakan disini):

  1. Rasa Bosan
    Poin ini saya tujukan kepada sebuah ide yang berjalan cukup lama, kemudian terjadi masa-masa hambar di tengah perjalanannya.  Mungkin pada titik ini masanya untu re-orientasi kembali sebuah ide, mencari sebuah bentuk baru (bukan esensi baru). Apabila ide ini dijalani  oleh sekelompok orang, baik kalau dibuka diskusi mengenai re-orientasi kembali pelaksanaan ide tersebut. Paling gampangnya, simplify pelaksanaanya, hilangkan atribut-atribut/ritual-ritual yang tidak begitu penting. Yang penting adalah esensi idenya tetap sama.
  2. Rasa ingin tahu (curiousity) yang terlalu tinggi
    Pada orang-orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi, saya lihat banyak sekali hal yang tidak terselesaikan atau berhenti di tengah-tengah. Orang-orang dengan curiousity tinggi biasanya akan mulai melaksanakan idenya dengan antusiasme dan konsentrasi sangat tinggi. Sehingga ketika dia mulai menguasai sebuah ide baru, dan saat mengerjakan hal-hal rutin sebagai perwujudan ide tersebut dia menemukan hal lain yang lebih baru, dia akan hentikan pelaksanaan ide sebelumnya dan beralih kepada yang baru.
  3. Status quo, anti-perubahan
    Terkadang, saking sayangnya orang dan saking merasa idenya sudah paling benar, telinganya tertutup dari alternatif-alternatif ide lain walau memiliki tujuan serupa. Apabila pelaksanaannya melibatkan orang lain, bisa dipastikan ide ini akan kehilangan legislasinya pada pelaku selain pemilik ide. Karena ketika kita ingin sebuah ide dilaksanakan oleh sekumpulan orang, kita harus dapat membuat ide ini ‘dimiliki’ oleh orang lain juga. Dan resiko sebuah ide menjadi ‘milik bersama’ adalah satu; ide itu akan berkembang.
  4. Habisnya energi pada titik niat (over excited)
    Pada medio 2004, saya pernah menyampaikan ide untuk melakukan sesuatu kepada kawan saya Aves. Saya sampai bersemangat sampai tak bisa berhenti memikirkannya. Teman saya itu mengingatkan saya supaya menyimpan energi untuk pelaksanaannya nanti. Dia bilang: “Ba, sekarang udah jelas maksud tujuannya, udah lupain, dalam arti gunakan energi untuk niat 50% aja, kalau perlu di bawah itu. Sisanya untuk pelaksanaannya.” Semenjak itu saya selalu mewanti-wanti diri saya sendiri untuk mencegah terjadinya over-excited tadi.
  5. Perkembangan yang terlalu rumit dan kompleks pada tahap ide awal (konsep)
    Saya berikan contoh kasus untuk poin ini. Pembuatan situs alumni atau portal seringkali gagal karena ide awal yang terlalu ‘bengkak’. Karena mau ada ini-ada itu yang mana pada pembuatannya menjadi rumit, sehingga makan waktu daneffort yang tinggi. Padahal rata-rata itu dilakukan secara sukarela atau secara part-time yang akhirnya menyebabkan habisnya energi dan frustasi tambahan yang tak terjawab kenapa.
  6. Terlalu santai (liat nanti aja)
    Hal ini biasanya dimotori rasa ragu atau enggan dalam diri konseptor ataupun pada orang yang diajak untuk mewujudkan sebuah ide. Bisa jadi karena sudah terbayang ide tersebut akan sangat rumit untuk dilaksanakan. Perilaku seperti ini saya anggap praktik aborsi terhadap ide-ide, skeptisisme yang berlebihan. Cobalah dengarkan sebuah ide dengan gelas kosong di kepala, tanpa pejudice ataupun sangkaan-sangkaan tak perlu lainnya.
  7. Terlalu banyak kepala dilibatkan pada tataran konsep
    Ini terutama berlaku pada ide yang dibayangkan akan kolosal dan melibatkan orang banyak, karena itu sang konseptor merasa perlu untuk melibatkan kepala sebanyak mungkin. Agar idenya menjadi lebih matang dan mewadahi banyak orang. Padahal hal ini bisa berujung maut buat ide itu sendiri. Banyaknya kepala tidak akan membuat ide menjadi matang dan akhirnya lulus hingga pelaksanaan. Pertama, tidak semua orang adalah konseptor, malah banyak orang adalahactuator pelaksana. Kedua, terlalu banyak harapan dimasukkan dalam sebuah konsep, dapat menjadi konsep tersebut terlalu gemuk dan sulit dilaksanakan. Ketiga, belum tentu pikiran-pikiran yang banyak itu penting buat konsep tersebut. Keempat, tingkat kepahaman tiap orang (yang banyak itu) sangat beragam akan sebuah konsep, sangat sulit menyamakan pendapat dan definisi dasar tentang konsep ke banyak kepala dalam suatu waktu, dan ini berpengaruh terhadap usulan yang mereka ajukan. Buatlah konsep dengan sedikit orang, dan didorong oleh sebuah tim inti. Pelaksanaan baru melibatkan banyak orang.

Ada beberapa cara untuk menangani hal ini; secara sistem, atau melalui latihan. Reward and punishment merupakan sebuah contoh sistem untuk mengatasi hal ini. Latihan pribadi dengan memberi menetapkan target dan memaksa maju dalam kondisi termalas, merupakan contoh dari cara latihan.

Solusi yang ada di kepala saya untuk semua itu adalah: Start it simple, play it simple, keep it simple.

Mulailah sebuah ide dengan memperhitungkan dan memanfaatkan kekurangan para pelaku yang akan terlibat dalam pelaksanaan ide tersebut, baru kemudian kelebihan-kelebihannya. Dan biarkan ide berkembang dengan bebas, selama esensinya masih terjaga.

Bagaimana Menjadi Kita?

Beberapa waktu yang lalu, saya telah menuntut istri saya akan hal-hal yang ‘baku’ dalam sebuah rumah tangga. Belakangan baru saya sadari, tuntutan itu ternyata berpijak pada ‘konvensi rumah tangga ideal’ entah milik siapa. Meminjam imaji (gambaran) mengenai bentuk ideal yang hanya saya tahu kulit luarnya, saya menciptakan tuntutan-tuntutan. Membuat kerangka bagaimana hubungan kami seharusnya.

Sebagian berhasil (walau dengan aneh), dan sebagian besar gagal atau tidak bertahan lama. Kegagalan itu menghasilkan ‘frustasi-frustasi’ pada kedua pihak. Proses yang terjadi adalah seperti memaksa ikan air tawar hidup di lautan, dan sebaliknya. Ketika kita tidak mengoptimalkan apa yang telah dianugerahkan Tuhan (baca; bersyukur), maka mutlak akan berlaku peribahasa “rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman sendiri.” Tanpa melihat lebih jauh dia memakai pupuk apa, perawatannya bagaimana, kondisi lahannya seperti apa, dan hal-hal lainnya yang sebetulnya lebih penting untuk dipelajari.

Sehingga yang terjadi adalah penjiplakan ‘kehijauan rumput‘ tersebut. Kita beli rumput baru yang hijau, ditanam di halaman. Kita pandangi dan merasa senang olehnya. Tapi itu kesenangan semu. Karena ternyata beberapa hari kemudian rumput itu menjadi layu dan mati. Karena itu tadi, kita hanya memperhatikan hasilnya, tanpa mempelajari prosesnya.

Ketika berpacaran, yang ada di kepala adalah ‘kita’, anehnya, setelah beranjak ke jenjang pernikahan, seringkali ‘kita’ bergeser menjadi ‘aku’. Apa yang salah disini? Ketidakmengertian akan job description-kah? Atau karena ada  ruang-ruang pribadi yang hilang?

Bicara suami-istri, adalah bicara mengenai peran bulan dan matahari. Bicara suami-istri adalah bicara mengenai penyempurnaan karunia yang terpenggal. Contoh, wanita bisa melahirkan dan pria tidak, dan kelahiran tidak dapat dicapai hanya oleh satu pihak belaka. Suami-istri adalah pertemuan dua insan manusia yang unik. Yang seperti halnya zat-zat di alam semesta ini, percampuran dua unsur yang berbeda akan melahirkan sebuah unsur baru. Begitu pula perkara perkawinan. Bentuk hubungan tiap pasangan suami-istri sangat sangat dipengaruhi oleh karakter dua manusia yang hidup bersama itu sendiri. Tidak ada bentuk ideal yang pokok, yang baku, yang pasti benar.

Agama memberikan butir-butir yang membahas masalah hak dan kewajiban suami dan istri, beserta batasan-batasannya. Tapi itu hakikatnya adalah sebuah job description saja, AD (anggaran dasar) nya. Praktik di lapangannya memiliki varian opsi yang hanya dibatasi oleh tingkat kecerdasan pelakunya dalam menilai situasi sekitar.

Kesadaran ini mengingatkan saya tentang salah satu tujuan perkawinan, adalah mengukuhkan hidup berdua dalam suasana penuh pengertian. Dalam arti kita memahami potensi-pontensi dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Menikah bukanlah untuk merubah pribadi seseorang, tapi memunculkan potensi terbaik pasangannya, sehingga terjadi sinergi positif dalam bentuk yang orisinal. Tidak ada bentuk hubungan perkawinan yang baku, itu cuma kata orang, yang kemudian dijadikan komoditas bisnis dengan berbagai bentuknya. Dan semakin kita mengikuti kata orang, semakin jauh kita dari kata bahagia.

– “I’m sorry my lovely wife, i’ve blinded by my ego. I’ll learn, I’ll hear, I’ll read, more and more about you.” –

Ibadah yang Terganggu

GUANTANAMO BAY, CUBA - OCTOBER 28: (EDITORS NO...
Image by Getty Images via @daylife

Pernahkah merasa ibadah Anda terganggu oleh sesuatu yang dinilai masyarakat sekitar sebagai baik? Saya pernah, itu sangat mengganggu, dan jelas sangat mempengaruhi perilaku saya di lingkungan tersebut.

Saya memulai ‘karir’ bicara di depan publik semenjak SD (sekitaran kelas 4). Waktu itu di RT saya tiap habis magrib anak-anak kecil pada ngaji di musholla deket rumah. Khusus untuk malam jum’at, semua jamaah ngaji yasin dan dengerin ceramah bareng. Waktu ngaji yasin, kita anak-anak cere pada dipakein baju gamis putih dan ngaji yasin di tengah lingkaran orang-orang dewasa.

Pada perjalanannya, kami secara bergantian diajarin menjadi pembawa acara pengajian tersebut. Setelah mencicipi panggung untuk pertama kalinya, saya ketagihan, dan meminta bokap untuk supaya saya bisa tampil pidato juga. Dengan senang hati bokap membuatkan teks pidato dan mengajarkan trik-trik berpidato.

Pertama saya dibuatkan teks, dibuatkan lagi, dibuatkan lagi, sampai tiba satu masa (ketika sudah SMP) pada saat ramadhan saya suka ditembak sama jama’ah mushola kecil itu untuk ngisi kultum shalat tarawih. Semenjak itu, saya gak pernah tenang tiap tarawih deg-degan takut ditembak maju untuk kultum.

Pada saat-saat tegang itulah, pikiran saya diperas sekuat mungkin untuk memikirkan tema pidato (bahkan ketika shalat sekalipun :p ). Dan tak sengaja terbentuk pola: saya memikirkan sebuah ayat, atau hadits, dari sekeping ayat atau hadits yang saya pahami itulah dikembangkan menjadi sebuah pidato singkat.

Meski hal tersebut tidak terus menerus terjadi pada tiap tarawih, tapi rasa tegang ketika menunggu momen apakah akan didapuk untuk ceramah atau tidak, betul-betul tidak menyenangkan. Betapa saya merasa terganggu dengan hal tersebut, dan itu mempengaruhi keinginan saya untuk ikut solat tarawih. Dan jujur, saya baru bisa mengatasi rasa tidak nyaman itu beberapa tahun belakangan ini, ketika saya memang tidak ingin untuk ceramah, menghilangkan semua rasa sungkan.

Subhan Toba Kecil

Adalagi fenomena yang saya tangkap dari pengajian ibu-ibu di lingkungan sekitar saya. Terkadang (namanya ibu-ibu) mulutnya suka usil gak jelas. Jadi ada ibu-ibu yang jarang atau gak pernah ikut pengajian, tiba-tiba suatu hari datang menghadiri acara pengajian tersebut. Bukannya sambutan baik yang didapat tapi pertanyaan sinis; “Tumben nih ikut ngaji Bu…”

Bahkan juga bapak-bapak gak mau ketinggalan, terkadang orang yang jarang ikut solat jamaah di masjid atau mosholla ketika nongol ikut solat suka dihadiahi pertanyaan usil serupa; “Akhirnya ikut solat jamaah juga”, atau dengan kalimat sama dengan yang tadi.

Banyak perilaku masyarakat yang terkadang bermaksud baik tapi mengganggu, atau terkadang memang dari maksud awal juga gak baik (seperti sindiran-sindiran tadi). Pada kondisi saya pribadi, sedari dulu merasa tertekan akan harapan masyarakat yang ditumpahkan pada seorang saya yang masih kecil.

Harapan mereka bahwa saya akan jadi mubalig, jadi seseorang yang bisa menjadi contoh, bisa menjadi guru di masyarakat, telah mengikat seluruh gerak saya, menjadi sebuah ketakutan laten bahwa mungkin saya tidak bisa memenuhi harapan itu. Itu semua bermula semenjak SD kelas 6 saya berceramah dari satu pengajian ke pengajian lainnya (pengajian anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, juga acara peringatan maulid dan pembukaan pengajian remaja masjid).

Soal harapan itu, saya bukan sekedar merasa-rasa, mereka menyampaikannya kepada saya melalui perlakuan, tingkah laku, dan bahkan secara lisan. Pernah suatu hari waktu saya main-main di depan rumah, ada nenek-nenek abis ngaji di musola lewat, saya cium tangan (pokoknya pikiran saya waktu itu, keliatan tua, soleh, cium tangan aja), eh tiba-tiba nenek itu ngomong panjang lebar mendoakan supaya saya jadi ini-itu-ono-ini ya semua yang berbau suci dan soleh lah. Dan masih beberapa lagi ungkapan verbal dari beberapa orang yang bisa disebut tokoh masyarakat di tempat tinggal saya.

Bagi mereka, mungkin itu sekedar ungkapan sepintas ketika bertemu, mungkin itu permintaan sepintas ketika salat tarawih berjamaah, tapi bagi yang lain, itu bisa sekali berubah menjadi tekanan dan tuntutan. Bahkan sampai taraf yang mengganggu muamalah dan ibadah. And now, I just don’t care. 🙂

Enhanced by Zemanta

Bagaimana Cara Menghapus Permanen atau Menon-aktifkan Sementara Akun Facebook?

Setelah sebelumnya saya uraikan cara daftar facebook, sekarang saya mau jabarin cara menghapus akun facebook kita. Sebelumnya kita mesti tahu, ada dua macam cara ‘mematikan’ akun facebook kita:

  1. Menghapus secara permanen.
  2. Menon-aktifkan (mati suri, kita masih bisa login sewaktu-waktu, tapi profil kita sudah hilang dari facebook)

[toc=”2,3″ title=”Daftar Isi:”]

Menghapus Akun Facebook Secara Permanen:

  1. Login ke akun facebook Anda. Lalu klik link ini : https://ssl.facebook.com/help/contact.php?show_form=delete_account
    Maka akan muncul halaman berikut ini:
    delFB7
    Klik submit untuk lanjut ke langkah berikutnya.

    Link yang saya kasih di atas bukanlah link phising atau palsu, tapi saya dapat dari bagian help-nya facebook. Itu merupakan halaman Secure Pages (https). Sumbernya bisa dilihat disini : How do I permanently delete my account?
    delFB9-13

  2. Akan muncul satu kotak verifikasi password dan verifikasi kode keamanan (dua kata).
    delFB8
    Bila anda betul-betul yakin, klik “Okay”
  3. Akan muncul pemberitahuan yang mengatakan bahwa selama 14 hari ke depan (2 minggu), akun Anda hanya dinon-aktifkan (mati suri). Selama masa 14 hari itu, akun anda akan hilang dari peredaran, tapi Anda masih bisa login. Dan selama masa itu juga, Anda masih berkesempatan untuk membatalkan rencana penghapusan permanen akun facebook Anda. Klik ok.
    delFB9
    “Your account has been deactivated from the site and will be permanently deleted within 14 days. If you log into  your account within the next 14 days, you will have the option to cancel your request.”
  4. Apa yang terjadi kalau dalam masa 14 hari itu kita login ke akun kita?
    Sesuai janji facebook (:P), kita akan langsung diberikan pilihan untuk confirm delete, atau membatalkan aksi penghapusan.
    delFB9-10
    Kalau sudah bulat tekad untuk menghapus, tekan Confirm Deletion.
  5. Dan ternyata memang tidak semudah itu facebook menghapus ‘barang dagangannya’ eh user nya :p. Meski sudah diklik Confirm Deletion, jawaban dari facebook udah kayak ngeledek. Terjemahan bebasnya gini: “Oh tetep mau dihapus? Ya udah, akun lo tetep akan dihapus sesuai jadwal semula. Kalo berubah pikiran login aja lagi, ditunggu yach 🙂 “ wakakakakakak (gak percaya, klik aja gambar di bawah)
    delFB9-11

Membatalkan Penghapusan Permanen Akun Facebook (sebelum masa 2 minggu berakhir):

  1. Login ke akun  facebook Anda (selama dalam jangka 14 hari sebelum penghapusan dilakukan). Dan langsung kita diberi pilihannya.
    delFB9-12
    Pilih “Reactivate Account”.
  2. Maka voila! Tanpa banyak basa-basi, akun facebook kita pun aktif kembali 🙂
    fb9-18

Menon-aktifkan Akun  Facebook :

  1. Masuk dan login ke akun facebook kita. Lalu masuk ke bagian Account > Account Settings
    delFB1
  2. Pilih kotak paling paling bawah bernama “Deactivate Account”. Klik link ‘Deactivate’
    delFB2
  3. Pilih atau masukkan alasan kita menghapus akun kita. Dan centrang juga pilihan “Email Opt Out”, supaya facebook tidak mengirim email-email notification (pemberitahuan) setelah kita deaktifasi akun kita. Klik tombol ‘Confirm’
    delFB3
  4. Akan keluar kotak konfirmasi password. Masukkan password anda saat ini.
    delFB4
  5. Akan keluar lagi kotak verifikasi kode keamanan. Masukkan dua kata yang tertera pada gambar yang muncul, ke dalam kotak yang disediakan dibawahnya. Klik Submit
    delFB5
  6. Akun kita selesai dinon-aktifkan.
    delFB6
  7. Cara mengaktifkan kembali akun kita mudah saja. Cukup login kembali dengan username dan password kita. Maka otomatis akun kita hidup lagi.

Sekian, semoga bermanfaat. 🙂

Bagaimana cara daftar Facebook?

Sebagian besar orang mungkin sudah tau atau bahkan sudah punya akun facebook, tapi bagi yang tidak mengerti, boleh dimulai dari sini. 🙂

  1. Masuk ke www.facebook.com
     fb1
  2. Isikan Formulir pendaftaran yang ada di halaman depan. Setelah selesai, klik “Sign Up”.
    fb1-1
  3. Masukkan dua (2) kata security check yang terdapat di kotak. Setelah selesai, klik “Sign Up”
    fb2
  4. Kita masuk ke ‘3 langkah mudah’ pendaftaran facebook.
    1. Step 1. Find Friend. Gunakan ini untuk mencari orang-orang yang terdapat di contacts email Anda. Tinggal klik find friends dan akan tampil kotak login email. Login dan cari teman anda. Atau kita bisa Skip (lewati) langkah ini.
      fb3
    2. Step2. Masukkan informasi pendidikan dan pekerjaan. Kita bisa isi atau Skip (lewati) langkah ini. Jika anda isi, klik tombol “Save & Continue”, jika tidak, klik tombol “Skip”
      fb4
    3. Step 3. Profile Picture. Ini mungkin langkah yang cukup penting (walau ini pun bisa dilewati). Ada dua pilihan untuk mengupload foto profil anda.
      1. UPLOAD a PHOTO. Klik link ‘upload a photo’, maka akan muncul kotak untuk mencari foto yang ada di komputer anda untuk diupload.
        fb5
        fb6
      2. Take a Photo.
        fb7
        Klik link ‘take a photo’ untuk membuat foto profil anda menggunakan webcam di komputer atau laptop.
        fb8
        Begitu kita klik ‘take a photo’, akan muncul kotak berwarna hitam, dan kotak ‘adobe flash player settings’. Klik / pilih ‘Allow’ kemudian close
        fb9
        Ambil foto dengan menekan tombol biru (gambar kamera).
         fb9-10
        Setelah selesai, tekan tombol ‘Save & Continue’, apabila tidak puas dengan hasilnya, ulangi lagi.
  5. Selamat, akun facebook anda sudah terbuat! Tapi masih ada satu langkah kecil yang mesti kita lakukan, lihat langkah berikutnya.
    fb9-10-1
  6. Masuk ke akun email yang tadi kita gunakan untuk mendaftar di facebook. Buka email berjudul kurang lebih “Just One More Step To Get Started on Facebook”
    fb9-13
  7. Ikuti instruksi yang ada di dalam email. Klik link yang telah diberikan.
    fb9-14
  8. Sekali lagi selamat, proses registrasi facebook kita sudah lengkap. Anda sekarang memiliki sebuah akun facebook 🙂
    fb9-18
  9. Jangan pernah lupa untuk ‘sign out’ tiap kali kita selesai mengakses akun kita di komputer yang digunakan banyak orang (warnet misalnya).
      fb9-11

 

Tambahan soal Profil anda:

  1. Untuk mengakses halaman profil facebook Anda, klik link "’Profile” pada deretan ‘menu bar’ kanan atas.
    fb9-18
  2. Inilah halaman profil Anda, sebagaimana dilihat oleh pengunjung lainnya juga ketika mengakses profil Anda.
    Profil facebook dibagi ke dalam ‘kotak-kotak’ profile. Sekarang mari kita coba edit/rubah salah satunya, yaitu bagian ‘About Me’ (lihat gambar).
    fb9-16
  3. Inilah halaman edit profile bagian About Me.
    fb9-17-1
    Perhatikan bahwa ada elemen-elemen yang bisa disembunyikan. Contohnya tanggal lahir dan jenis kelamin. Sesuaikan dengan kebutuhan privasi Anda.
    Dan jangan lupa selalu tekan tombol ‘SAVE CHANGES’ setelah anda setelah mengubah setingan apa pun di akun facebook anda.
  4. Jangan ragu untuk eksplorasi segala sesuatu di facebook Anda. Tampilan facebook lumayan bersahabat untuk dijelajahi, jangan takut tersesat. Bahkan facebook memberikan ‘progress bar’ mengenai tingkat eksplorasi anda di facebook (baca; seberapa jauh anda menguasai penggunaan facebook).
    fb9-16-1
  5. Selamat ber-Facebook ria dengan kawan lama dan kawan baru. Dan jangan lupa waktu 😀

 

Next “Cara hapus akun facebook” 🙂

Memilih Printer Rumahan: Epson atau Canon?

canon or epson?Sudah sekian printer dari merk Canon dan Epson yang sudah saya ‘habiskan’ (tepatnya menghabiskan uang saya), selama pengalaman saya berinteraksi dengan komputer. Penggunaan saya adalah untuk pribadi, beberapa diantaranya adalah untuk ngeprint dokumen dalam jumlah banyak, mencetak buku (bolak-balik / duplex printing), cetak foto. Dengan pola penggantian tinta; beli cartridge original, tinta suntik, tinta infus.

Bisnis Produsen Printer
Produsen printer berinvestasi cukup besar pada pengembangan kualitas tinta. Tinta asli telah dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil cetak berkualitas tinggi dan berdaya tahan lama, juga kemungkinan untuk mengering di mulut head lebih kecil. Sehingga masalah-masalah head nozzle clogging karena printer lama tidak digunakan tidak terjadi. Beda dengan kualitas tinta biasa yang lebih mudah mengering bila tidak digunakan dalam waktu lama. Bahkan saya sempat membaca ada satu periode dimana Epson mengalokasikan sebagian besar dananya untuk riset tinta.

Menilik dari harga tinta asli, dan gembar-gembor himbauan produsen untuk menggunakan tinta asli, dapat dikatakan bisnis utama produsen printer adalah tinta, bukan mesinnya. Karena penjualan tinta printer dapat menjadi sebuah recurring income yang sangat potensial. Harga tinta asli bisa setengah dari harga mesin printer itu sendiri (yang saya tahu untuk yang low-end).

Masalah Utama Seputar Printer (dalam hal ini Epson dan Canon)
Berdasarkan pengalaman sebagai pengguna, saya nilai, permasalahan utama printer ada di dua hal; tinta dan head printer. Tinta sembarangan bisa membuat mampat head printer, karena lebih mudah mengering. Head printer yang mampat tidak dapat melakukan tugasnya, menyemprotkan tinta dan menghasilkan gambar/teks. Sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk membetulkannya. Biasanya yang pertama dicoba adalah mencairkan tinta yang mengering di bagian head printer tersebut. Ada yang mengatakan direndam di air hangat dan yang lebih betul adalah menggunakan cairan khusus pengencer tinta yang barangnya tidak mudah didapat.

Beberapa kali ketika akan memodifikasi printer menggunakan tinta infus, saya ditanyakan apakah akan sering menggunakan printer tersebut atau tidak. Karena sistem infus lebih dianjurkan untuk penggunaan yang kontinu dan terus menerus. Mungkin ini disebabkan karena kelemahan tinta tersebut yang akan mengering bila tidak digunakan dalam waktu lama. Dan dari pengalaman yang saya alami memang begitu adanya, beberapa kali hal ini berakibat fatal kepada head printer.

Di mana headnya?
Sejauh yang saya tahu, penempatan head printer pada Epson dan Canon sangat berbeda. Head Epson menyatu dengan mesin print-nya, sedangkan pada Canon head printnya menyatu dengan cartidge tinta. Ini adalah perbedaan yang sangat mendasar dan penting.

Ketika Anda bertanya kepada pelayan ‘kedai’ tinta infus mengenai merk printer apa yang lebih cocok untuk diinfus. Mereka akan menjawab Epson. Dengan alasan, untuk Epson sudah ada cartridge bajakannya, yang dijual satu set dengan tabung dan selang infus, sehingga cartridge asli masih utuh tidak dirusak. Sedangkan untuk Canon set infusnya tidak disertai dengan cartridge, jadi terpaksa mesti menggunakan cartridge aslinya.

Yang pertama terpikir di kepala saya “kalau Epson diinfus, tidak merusak cartridge aslinya, sedangkan Canon mesti ‘ngacak-ngacak’ cartridge aslinya”, saat itu Epson segera menjadi pilihan saya untuk diinfus, karena dia ‘tidak merusak elemen asli’ bawaan printer; cartridge. Sedangkan Canon sebaliknya.

Belakangan baru saya sadari bahwa itu adalah pengambilan kesimpulan yang buruk. Kenapa buruk? Pertama, alasan penjual menyarankan Epson karena untuk menginfus printer Epson tidak memerlukan effort berarti. Satu set infus dan cartridge palsu sudah tersedia, mereka tinggal pasang dan atur-atur penempatan selang. Sedangkan untuk Canon mereka mesti merubah cartridge asli supaya bisa disambungkan selang tinta infus (belum lagi kemungkinan gagalnya).

Kedua, pikiran bahwa ‘catridge asli masih utuh’ itu sangat sesat. Ketika printer sedang ngadat (baca; tidak keluar tinta alias ga bisa ngeprint), kedudukan sebuah cartridge akan menjadi sangat tidak penting ketimbang mesin printernya. Dalam kondisi tersebut, pilihan membuang cartridge rusak dan membeli yang baru (entah asli atau bajakan), lebih feasible ketimbang menservis mesin printer atau beli printer baru. Dari segi biaya maupun waktu.

Sejauh saya pernah punya printer (hampir 10 printer), tidak pernah saya mengalami kerusakan pada bagian mekanis printer (roller kertas dll), semuanya adalah persoalan head (yang disebabkan oleh tinta), atau karena memang tinta dan cartridgenya sudah tidak ada di pasaran lagi.

So I choose….
Dengan asumsi bahwa tinta yang kita gunakan adalah bukan tinta asli -baik infus maupun suntik-, saya lebih memilih Canon ketimbang Epson. Utamanya adalah karena posisi head yang berada di cartridge itu menjadikan printer Canon memiliki umur yang lebih panjang ketimbang printer-printer Epson yang pernah saya punya.

Contoh, printer Canon BJ-2100SP yang saya punya bertahan walau sudah diperlakukan, digunakan, dan disimpan secara asal, masih terus berfungsi sampai akhirnya tintanya sudah discontinue, alias gak ada yang jual lagi. Dan sekarang saya menggunakan Canon IP1990 dan IP 1880, sempat beberapa kali mengalami blank pada hasil print out nya, tapi dengan mudah dan cepat tertangani cukup dengan membeli cartridge baru (baik asli maupun palsu), lantas bisa berfungsi kembali. Dan kalaupun saya mau coba-coba bersihin sendiri itu head-nya (yang notabene adalah cartrdige itu sendiri), tidak beresiko merusak mesin printernya.

Tidak begitu pengalaman saya dengan Epson, 2 kali diinfus dengan 2 printer Epson yang berbeda, dua-duanya terserang headnya (blank print out). Penanganannya pun sangat pain in the ass, otak-atik sendiri, dan akhirnya bawa ke tempat servis. Tunggu sehari, keluar hasilnya; head kena. Terus katanya mau diusahain dulu, makan waktu 1-2 hari. Begitu datang ke tempat servisnya, dibilang mesti ganti head yang harganya sekitar 350-400 ribuan. ITUPUN, mesti nunggu lagi beberapa hari untuk dibeli head nya, dan di pasang. Uang terbuang, waktu apalagi.

Why?
Epson merancang head printer nya menjadi satu kesatuan dengan mesin printernya. Sehingga ketika terjadi gangguan/kerusakan pada head, kita mesti membawa mesin printer untuk diservis. Memperbaiki sendiri jelas sangat riskan, karena berarti kita mesti membongkar juga komponen-komponen lainnya. Padahal ini masalah yang sangat umum terjadi di Indonesia yang penggunanya senang menggunakan yang murah-murah.

Canon sebaliknya merancang head printernya sebagai sebuah modul terpisah dari mesin printernya. Sehingga ketika terjadi gangguan/kerusakan pada head, kita cukup mencabut part kecil (cartridge nya) dari printer tersebut. Kita bisa coba bersihkan sendiri tanpa takut merusak mesin printer nya. Kalau tak tertangani, kita tinggal pergi ke toko yang menjual perlengkapan printing (bahkan di toko buku juga ada), dan tinggal pilih, mau solusi sementara yang murah (beli cartridge biasa, yang nggak tahu tahan berapa kali isi ulang), atau solusi yang lebih ‘permanen’, beli cartridge asli. Lantas kita pulang, pasang cartridge yang baru di beli, printer pun berfungsi, dan pekerjaan kita tidak terlantar.

Disclaimer:
Saya menuliskan ulasan dan pandangan ini berdasarkan pengalaman dari menggunakan printer Epson dan Canon untuk kelas ‘rumahan’  seperti Bubblejet. Tidak mencakup printer laser dan selain dari yang saya sebutkan tadi. Jangan percayai tulisan ini sepenuhnya, lakukan pencarian lebih lanjut menggunakan mesin pencari seperti google mengenai printer yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Use this information at your own risk. 🙂

Panduan Lengkap Cara Mendaftar di Kaskus.us

Saya merasa bersalah juga, setelah tulisan saya sebelumnya membuat orang yang mau cari cara praktis daftar di kaskus malah gak dapet yang dicari. Berikut saya uraikan sejelas mungkin langkah-langkah untuk mendaftar kaskus.

  1. Buka www.kaskus.us
  2. Klik link ‘Sign Up’ yang ada di bagian paling atas situs.

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  3. Isikan tanggal lahir Anda (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  4. Klik pernyataan setuju dengan term & condition penggunaan kaskus. (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  5. Isikan formulir dengan info mengenai Anda (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  6. Bila ada kesalahan dalam pengisian form tadi, Anda akan kembali ke halaman form tersebut. Lihat keterangan erorrnya di kotak di atas kotak formulir.

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  7. Registrasi kaskus selesai. Sekarang periksa inbox email yang anda gunakan untuk mendaftar.

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  8. Buka email yang baru saja masuk dari kaskus

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  9. Lihat gambar untuk petunjuk jelasnya

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  10. Apabila mendapat halaman ini, berarti proses registrasi telah betul-betul selesai. Silahkan login dengan username dan password anda. Bila tidak mendapatkan halaman ini, lihat lagi gambar poin 9.

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

  11. SELAMAT NGASKUS BRADERRRR 😀 😀 😀 :beer:

    (klik gambar untuk lebih jelasnya, terbuka di jendela baru)

Saran-saran tambahan:

  1. Tidak ada yang bisa memastikan apakah data yang Anda masukkan itu benar atau salah (contoh: tanggal lahir, nama asli, nomer telp), jadi betul-betul terserah Anda mau isi ngasal aja, atau bener.
  2. TAPI, kalau anda ingin jadi SELLER alias Penjual di Kaskus, saya sangat menyarankan isi data sebenar-benarnya. Karena buyer yang akan membeli barang dari Anda akan juga mengecek profil Anda.  Dan kejujuran Anda merupakan nilai lebih yang dapat menunjukkan itikad baik Anda.
  3. Selalu baca tata-cara, adat-istiadat, alias peraturan yang berlaku bagi tiap forum dalam kaskus, demi menghindari hal yang tidak diinginkan, dimaki-maki member lain misalnya, atau parahnya dibanned sama moderator (biasa disebut momod-mimin). Masing-masing forum punya rules nya sendiri. Contoh, di forum A boleh pertamaxx, sedangkan di forum B nggak boleh.
  4. Be polite, hargai member lainnya, kaskus adalah wilayah publik.

Sekian. Semoga membantu 🙂