Segera hadir
Klub kolektor dan pengguna Zippo Indonesia
Jika Anda ingin mendapatkan informasi mengenai waktu
peluncuran situs ini,
kirim email ke notification@id-zippo.com
“I begin by declaring to my reader that, by everything good or bad that I have done throughout my life, I am sure that I have earned merit or incurred guilt, and that hence I must consider myself a free agent. … Despite an excellent moral foundation, the inevitable fruit of the divine principles which were rooted in my heart, I was all my life the victim of my senses; I have delighted in going astray and I have constantly lived in error, with no other consolation than that of knowing I have erred. … My follies are the follies of youth. You will see that I laugh at them, and if you are kind you will laugh at them with me.”
Setelah menanti sekitar 10 hari-an, akhirnya datang juga buku pesanan gue: History of My Life. Sebuah autobiografi seorang tokoh bernama Giacomo Casanova, atau biasa kita kenal sebagai “Casanova”.
Gue belum bisa bercerita banyak tentang isi buku, maupun Casanova-nya sendiri. Yang jelas, dari prakata yang ditulis olehnya sudah timbul kekaguman dan ketidaksukaan gue terhadap sang penulis, dan juga beberapa prinsip yang langsung gue setujui.
Buku ini merupakan ringkasan dari buku aslinya yang terdiri dari 12 volume. Itu pun sebetulnya masih akan ditulis lagi, karena volume ke-12 berakhir di tahun 1792, sedangkan Casanova masih hidup hingga 1798. Penulisan terhenti karena Casanova keburu meninggal.
Jadi berbekal sebilah kamus elektronik (AlfaLink EI-839) gue mulailah membaca buku ini.

“I expect the friendship, the esteem, and the gratitude of my readers. Their gratitude, if reading my memoirs will have given instruction and pleasure. Their esteem if, doing me justice, they will have found that I have more virtues than faults; and their friendship as soon as they come to find me deserving of it by the frankness and good faith with which I submit myself to their judgment without in any way disguising what I am.”
Pernyataan balik yang sangat menggelitik dari sang terhukum. “Making it worse??!! How could I making it worse than this (dirajam)???” Ada satu sikap jelas yang dipilihnya ketika keadaan sudah jelas final diambang kehancuran.
Apakah dia meratap? Apakah dia menyesali? Tidak. Semua sudah kacau dan dia memilih tersenyum.
Ada lagi adegan dalam film The Hitchhiker’s Guide To The Galaxy. Ketika Arthur Dent pertama kali tahu bahwa teman baiknya adalah alien, ditambah info bahwa dia numpang secara gelap di pesawat pihak berwajib alam semesta dan kemudian diburu, ditambah dia tahu bahwa bumi tempat tinggalnya, rumahnya baru saja dihancurkan, temannya malah memberi sebuah manual book, yang ketika dibuka tulisan pertamanya adalah “Don’t Panic”.
++Mobile
Bandingkan dua kalimat ini (dua-duanya diucapkan dalam nada mesra);
"Sayang, kamu jangan pernah lagi bilang kalau kabar mengenai kamu ga penting, itu akan selalu penting buat aku :)"
Dengan:
"Sayang, kabar tentang kamu tuh selalu penting buat aku :)"
Kasusnya begini: satu dari sepasang kekasih yang baru dekat mengatakan "aku sudah berangkat ke kampus **kabar gak penting neh, hehehe" dalam sms ke pasangannya. Yang menjadi sorotan adalah bagian “…kabar gak penting neh…”, kalimat itu beberapa kali terulang dalam sms si cewek. Sedangkan si cowok merasa bahwa semua kabar dari cewek itu adalah penting.
Kalimat yang saya ajukan di awal tulisan ini adalah dua alternatif jawaban sang cowok. Nah, menurut Anda, kalimat mana yang lebih tepat digunakan si cowok untuk membalas sms tersebut, sekaligus menyatakan bahwa semua kabar dari cewek itu penting, sehingga si cewek gak usah lagi canggung memberi kabar ke cowoknya?
Atau Anda punya alternatif jawaban yang lain? 🙂
++Mobile
Manusia tidak seperti gurita yang memiliki tangan banyak untuk memegang banyak hal sekaligus.
Manusia tidak seperti burung yang bisa terbang melayang di udara.
Manusia bukan ikan yang sanggup hidup di dalam air.
Manusia bukan gajah yang sanggup mengangkat gelondongan kayu.
Manusia bukan cheetah hang sanggup lari sampai kecepatan 300 km/h dalam waktu 3 detik.
Manusia bukan api yang dapat membakar dan menerangi.
Manusia bukan angin yang dapat menelusup ke sela-sela terkecil, dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dapat menghantarkan aroma.
Singkatnya, manusia adalah keterbatasan.
Dan mulailah manusia membangun teknologi-teknologi dalam menembus segala tantangan alam dan mengatasi keterbatasannya. Mulai dari batu yang ditajamkan, perkakas perunggu, sampai kepada penemuan mesin uap dan revolusi industri. Setelah itu, manusia berlari dan terbang bersama segala kemajuan peradaban (baca; ilmu pengetahuan). Siang malam tidak lagi menjadi batasan, perbedaan tempat dan waktu tak menjadi halangan. Teknologi terus meng-update dan meng-upgrade dirinya, bahkan mendekati taraf perkembangan yang otomatis.
Tuhan sendiri dalam al-qur’an telah menantang manusia untuk menembus batasan-batasan itu. Firman-Nya: "dan tidaklah kamu dapat menembus langit, melainkan dengan kekuatan."
Di tengah kekaguman saya akan semua itu, tiba-tiba saya teringat pesan moral dari novel Jurrasic Park (yang telah diperkosa habis-habisan oleh Hollywood) yang dalam lidah Isaac Asimov adalah sebagai berikut: “The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.”
++Mobile
Kemarin malam, malam senin, gue liat hamster betina gue yang jenis Campbell udah wara-wiri gak jelas. Perutnya udah terlihat membengkak besar. Gue curiga itu hamster lagi kontraksi, udah lama gue tahu itu hamster lagi hamil.
Gue perhatikan perutnya lebih dekat lagi. Pertama yang kelihatan cuma perut kembang kempis karena nafas, tapi sesekali ada gerakan yang ganjil terjadi di dalam perutnya. Waaah girangnya gue, lantas gue tongkrongin lah itu kandang hamster, dengan harapan bisa menyaksikan langsung proses kelahirannya.
Gambar di kiri adalah set-up kandang hamster Campbell gue. Mangkuk kecil itu untuk nampung makanan dan tupperware kecil itu untuk pasir tempat dia jumpalitan sekaligus pipis. Si Hamster betina keliatan gak bisa diem dan gak bisa tidur lama dalam satu posisi. Juga sering banget dia garuk-garuk dinding luar tupperware-nya. Gue pikir, “Kasian, lagi mules kali dia.” Selain itu, minumnya pun jadi banyak.
Melihat semua ciri-ciri dan gelagat itu, gue makin yakin ini hamster bakal lahiran. Ditambah tuh hamster mulai ngangkutin serbuk kayu dari bawah ke dalam mangkuk tupperware. Maka gue masukin tissue toilet yang udah dipotong-potong seadanya, gue jatuhin di kandang. Gue kira bakal dikumpulin di pojok kiri belakang, dibuat jadi sarang barengan sama serbuk gergaji, ternyata tissue-tissue tadi dipotong lagi kecil-kecil sama dia dan dibawa masuk ke tupperware berisi pasir itu. Gue langsung nginget-nginget lagi, di mana habitat asli hamster campbell, apakah di gurun atau steppa, dan ini yang gue dapet:
Habitat Asli hamster Campbell
The Campbells Russian hamster usually lives in steppes (vast, semi-arid grass covered plains), here they are able to dig their burrows, which often extend three feet into the ground. These burrows are usually very comfortable, with the walls of it’s chambers lined with scavenged sheep wool and dry grass.
Mungkin dia butuh permukaan yang lebih lembut seperti pasir ketimbang lantai plastik akuarium. Dan gue pun menunggu-dan menunggu sampe sempat ketiduran di kursi balkon. Begitu gue tengok lagi terlihat dia mulai agresif sama pejantannya. Gue tes masukin spidol ke depan hamster betina dan langsung digigit! Wah bener nih bakal lahiran. Tapi mata udah gak bisa diajak kompromi, akhirnya gue masuk kamar dan tidur; “Ah, paling besok pagi lahirannya”
Dan pagi ini jam 9 baru gue inget lagi tuh hamster, buru-buru gue tengok daaaaan alhamdulillah, udah lahir 6 anak hamster yang masih merah dan tanpa daya di dalam mangkuk tupperware, di sela-sela potongan halus tissue toilet. Bener-bener gak nyangka bakal lahir 6 ekor, gue perkirain cuma 2 anakan aja yang lahir, pantes aja hamilnya gede.![]()
Melihat itu, yang terbetik di kepala saya adalah, berapa anakan yang akan bertahan hidup? Menilik dari dua pengalaman sebelumnya pada hamster jenis Syrian, pertama lahir 16 ekor anakan, mati semua dalam 3 hari (ini karena salah penanganan, maklum pengalaman pertama). Yang kedua (Syrian juga), lahir 9 ekor, yang bertahan sampai agak besar 5, dan yang betul-betul bertahan sampai besar cuma 2 ekor, sepasang cowok-cewek. Semuanya mati dimakan induk betinanya. Dan untuk Campbell ini, jantannya tidak saya pisahkan, karena pejantan jenis Campbell lebih care sama anakannya ketimbang pejantan Syrian yang bakal makan anaknya.
Kenapa Pejantan Campbell Tidak Perlu Dipisahkan Setelah Betinanya Lahiran?
Just prior to giving birth, the female Siberian, Chinese dwarf and Roborovski will chase the male from the nest for a few days of bachelorhood. It isn’t very long however before he becomes a valuable contributor in assisting with the little ones.
The Campbells male, however, interacts from the time of birth and doesn’t get these few days of rest and relaxation before being called upon to help with the young. According to a study conducted in 1998 by Katherin Wynne-Edwards at Queen’s University in Kingston, Ontario, "Djungarian (Campbells) hamsters are paws-on dads.". Canadian scientists have observed the Campbells males helping tp pull babies from the birth canal of the mother, lick off birth membranes, open the pup’s airways and then "share a snack of afterbirth with the mother". The report also states, "Djungarian fathers have hormonal fluctuations similar to the mother’s around the time of birth. Estrogen and cortisol levels rise before the birth, and then fall away afterwards as testosterone levels rise. This does not happen in the closely related Siberian hamster."
Berhubung hawa di balkon seringkali panas gak kira-kira, maka khusus akuarium satu ini gue pindahkan ke dalam kamar, tepat di atas akuarium, biar adem. Untung 1 hari yang lalu, itu akuarium hamsternya baru aja dicuci. Jadi 3 minggu ke depan tanpa pembersihan gak akan bau-bau banget lah ![]()
“Mesti ngomong pake bahasa apalagi? Bahasa monyet apa?!” – twiTter seorang teman –
“Udah gw coba pendekatan persuasif, gw dah berusaha memahami kondisi dia dengan menanyakan apa yang lagi dia alamin, ke yang bersangkutan dan ke orang-orang sekitarnya, udah gw coba tegur dari becanda sampe keras, tapi tetep aja ga ada respon” – keluhan seorang teman –
Komunikasi mandeg ketika ada tanya tak mendapat jawab. Ketika sebuah permintaan tak mendapat hasil. Dan ini terjadi di manapun. Di lingkungan keluarga, teman, sekolah, kampus, kantor/kerja.
Seringkali kita kebingungan mengenai cara menyelesaikan suatu masalah dengan seseorang. Baik dalam kehidupan pribadi maupun di lingkungan kerja. Terutama ketika kita sedang membutuhkan kerjasamanya, dan dia tidak tampak ingin memberikannya. Sebagian orang mencoba berbagai cara untuk ‘meraih’ rekan yang hilang ini, mulai dari cara langsung yang persuasif, cara tak langsung, hingga akhirnya mulai berkomunikasi dengan agresi baik fisik maupun mental. Kalau sudah begitu, apa lacur, akal sehat sudah tertutup emosi.
Dengan cara persuasif, kita coba mengerti posisi pihak lain, bahkan coba membantu menyelesaikan persoalan yang menimpanya, yang menyebabkan dia bersikap tidak biasa. Dengan cara tak langsung, kita berharap dapat membangun situasi dan kondisi yang dapat memperbaiki ‘keanehan’nya. Dan dengan agresi kita berharap dia dapat lebih sadar dan mengerti bahwa ada perbuatan dia yang salah dan harus segera diperbaiki. Cara pertama dan kedua seringkali gagal dalam pelaksanaannya. Dan ada juga yang langsung meloncat ke cara ketiga; agresi. Kalau sudah sampai ke tahap agresi, tinggal menunggu siapa yang lebih menguasai keadaan dan siapa yang kalah. Informasi tidak lagi menjadi penting untuk tersampaikan, yang harus tersampaikan adalah rasa kesal kita.
Cara persuasif, cara ‘setingan’, cara agresi semuanya adalah upaya yang dalam hemat saya berusaha ‘merubah’ kebebalan seseorang dari sisi luar. Padahal ada palu godam yang lebih efektif dari itu semua; diri mereka sendiri. Rintangan terbesar manusia adalah dirinya sendiri, kritikus terpahit seseorang adalah dirinya sendiri, harta terbesar seseorang adalah dirinya sendiri, jadi ketika kita ingin mengkomunikasikan sesuatu yang salah pada diri seseorang yang terbaik adalah menitip ‘pukulan’ pada diri orang tersebut bukan dengan menyerang pribadinya dengan serampangan.
Contoh konkrit adalah teman saya biasa ‘nembak’ orang berdasarkan pada komitmen yang pernah mereka sebut di depan dia. Misal suatu saat seseorang pernah bilang akan bekerja dengan serius dan lebih adil dalam membagi waktu antara pacaran dengan kerja. Dia tinggal bilang; “Katanya lo bakal mentingin kerjaan daripada cewek?” Hanya sebuah kalimat, dan segera saja sejuta rasa bersalah dan frustasi menghinggapi orang yang diomongin itu. Memang menyebalkan, tapi sejauh ini efektif. Ketimbang dia bicara panjang lebar mengenai detil kesalahan orang itu (menyerang ‘dari luar’), dia hanya menggoyang satu tiang dalam pribadi orang tersebut, dan selanjutnya diri orang itu sendirilah yang memukul-mukul kepala majikannya.
Tapi itu semua adalah cara terakhir dalam menangani masalah mengkomunikasikan emosi atau kritik, sudah tentu lebih baik kalau kita lebih belajar berkomunikasi yang baik sedari dini. Sehingga dapat meminimalisir gesekan-gesekan yang mungkin dapat terjadi antara kita dan orang sekitar. Pahami maksud dan keinginan orang lain, dan komunikasikan maksud kita dengan baik. Semoga kita selalu ingat, bahkan kebenaran sekalipun, kalau disampaikan secara salah, dia akan menjadi salah juga.
++Mobile
Dulu temen gue pernah beli jam merk Timex edisi Expedition E-Tide & Compass. Jam yang kompleks dan canggih menurut gue. Di situ ada kompas digital, tracker pasang-surut laut, sensor temperatur, tali stainless steel, dan dial (lingkar) jam yang berwarna putih. Tadinya gue pengen banget jam itu, tepat dengan warna putih itu juga. Tapi terlanjur temen gue duluan yang beli.
Gue pengen banget jam yang ada kompas, altimeter, dan mode penunjuk waktu dari berbagai zona waktu. Kompas gue butuh kalo suatu ketika di tempat proyek, utamanya sih buat nyari arah kiblat, juga keperluan desain (maklum beberapa orang sangat mementingkan soal arah dalam desain). Altimeter, ini juga gue ‘merasa’ perlu untuk ‘riset’ pribadi. Jam dari beberapa zona waktu karena kebetulan gue juga ada aktifitas jual-beli internasional (
)
Timex Expedition E-Tide & Compass
- INDIGLO® Night-Light with Night-Mode
- Digital Altimeter with Analog Display
- Minimum and Maximum Altitude Recall
- Altimeter Range from -120 to 7600 Meters (-400 to 25,000 Feet)
- Simple Calibration
- Displays Altitude in Feet or Meters
- QuickDate® Feature
- Stainless Steel Case
- Stainless Steel Bracelet
- Water-Resistant to 100 meters
- Mineral Glass Crystal
- Brushed Finish
- Case Width: 50mm
- Lug Width: 22mm
Jam di atas adalah jam yang dimiliki oleh teman gw. Lantas gue pun segera mencari lagi jam model lainnya. Rata-rata jam yang masuk ke pilihan gw awalnya adalah yang model-model outdoor seperti yang gw pake sekarang (lihat gambar di samping). Dengan alasan, gue biasa berada di lingkungan kerja yang terhitung rough area yaitu workshop furniture. Juga dengan jam model begini, gue merasa selalu siap action :))
Tapi melihat medan kerja sekarang yang lebih sering di dalam ruangan dan bertemu customer, gue pikir perlu ada pergantian suasana. Jam yang lebih sesuai dengan ‘medan’. Gue mau coba cari jam yang berdesain lebih simpel dan elegan. Berikut beberapa jam yang sempat masuk ke pilihan gue, masih sempat juga sih pilih-pilih yang desainnya outdoor.
See www.timex.com
Dan setelah tanya pendapat temen, dari beberapa pilihan yang dikerucutkan, akhirnya gue menjatuhkan pilihan pada jam Timex yang ini:
Desainnya terlihat tegas dan simpel juga fungsinya gak aneh-aneh. Sekarang masih dalam pemesanan, mudah-mudahan 10 hari sejak hari senin malam besok sudah sampai di rumah 🙂
***Kalo ada yang mau mesen juga, don’t hesitate to contact me 🙂
Ya saatnya posting yang gak penting; “Dari balik meja redaksi nyenius.com”. Kepala cukup panas setelah seharian berjibaku dengan panas matahari, kencangnya angin gedung tinggi, serbuk gergaji, mindah-mindahin furniture, belanja keperluan perkakas yang kurang, sampai mengurus administrasi perizinan kerja di apartemen yang menyita tenaga karena harus bolak-balik naik dua lantai dari lift barang ke kantor manajemennya. Naik lift pun percuma, karena jarak dari kantornya ke lift pun cukup jauh, ditambah menunggu lift yang cukup makan waktu, berebut dengan pekerja proyek yang ada di lantai 30-40.
Sudah terbayang beberapa orang yang langsung setuju dengan tingkat ke-tidakpenting-an posting ini. Tapi gue gak akan sebut bahwa nama orang-orang yang tanpa basa basi akan bilang ini gak penting adalah Lulu dan Fahdi, gak kok 🙂
Malam ini, setelah semua chores itu selesai, ditambah terakhir mesti ke Poin Square belanja kompor, cooker hood, dan 3 buah kursi, gue memutuskan menulis yang ringan-ringan saja.
Ya istri gue memberi hadiah ulang tahun gue sebuah kursi kerja baru, yang dudukannya bisa naik-turun dan sandarannya bisa maju-mundur+naik turun juga. Hadiah yang sebetulnya gue ngotot pengen yang ini juga. (gue bilang; “kalo nggak itu ya Ipad” wakakakaka).
Dua kursi bersejarah yang selama ini menemani waktu-waktu kerja gue di depan komputer akhirnya harus pensiun. Ya dua kursi itu memang betul-betul bersejarah.
Yang satu adalah kursi makan besi model lama. Kursi ini gue boyong ke rumah, setelah sekitar 2 atau 3 tahun gak laku nongkrong di lantai dua toko bokap. Begitu gue mau nikah dan lagi desain kamar gue, gue minta itu meja makan satu set dengan empat kursi buat ditaruh di kamar. Gue bilang sama bokap, modelnya pas dengan rancangan kamar gue 😛
Gue bawa pulang, dibersihin, dan ternyata masih bagus :). Akhirul hikayat, meja makan itu nggak fungsi sebagaimana mestinya, karena tetep aja gue makannya lesehan, atau di sofa sambil nonton tivi. Akhirnya empat kursinya terpencar, dua di balkon untuk ditindih dengan segala macam barang. Satu di dalam kamar untuk alas colokan akuarium, satu lagi beruntung jadi kursi untuk komputer desktop gue. Yang jelas, kursi ini sangat tidak nyaman dipakai dalam jangka lama. Seringkali di akhir aktifitas berkomputer desktop, gue harus mengalami pegal-pegal di sekujur badan.
Yang kedua adalah kursi kayu dengan dudukan dari busa dilapis kain. Sejarah kursi ini lebih unik lagi. Pertama, ini aslinya adalah kursi khotib buat ceramah jum’at entah di masjid mana. Aslinya memang buatan dari workshop toko kami juga (H. Konin Furniture). Yang setelah digunakan sekian waktu di masjid, pengurusnya berencana mengganti kursi itu dengan cara tukar tambah dengan yang baru (mesen lagi custom).
Setelah diterima di toko, lama juga itu kursi nganggur. Iseng gue bilang mau gue bawa pulang, dan lagi-lagi pak Haji (bokap gue) setuju aja, dengan anggukan dinginnya tanpa memandang gue. Langsung aja gue suruh orang taekin ke mobil dan bawa pulang.
Di rumah, pertama gue taruh di depan akuarium laut yang waktu itu baru dibuat, maksudnya biar bisa nyaman mandangin akuariumnya. Dan sesekali gue pindahin ke balkon buat maen laptop (mulai dari kegiatan komputasi positif sampe negatif :P). Mungkin kursi ini kaget dengan perubahan fungsinya, sampai suatu hari, ketika gue gunain buat pijakan waktu bersihin akuarium, gue pun terjungkal dari atasnya, lantas pingsan, dan berakhir di UGD dan dokter spesialis saraf.
Ya, akhirnya satu kursi idaman gue sudah ada disini. Menemani kegiatan gue berkomputer, menggambar, baca buku, atau menulis tangan. Kursi yang semoga menambah kenyamanan gue berkreasi dengan komputer dan internet, dan tentu kesehatan tulang-tulang di badan gue. 🙂 Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.
Terima kasih sayang, buat hadiahnya, dan juga ‘amin’ yang kemaren 🙂
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III terbitan tahun 2001, puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
Ada pula yang mengartikan secara simpel bahwa puisi adalah pemadatan bahasa. Dan saya sendiri mengartikan puisi adalah kompresi/pemadatan suatu peristiwa, emosi ke dalam kata-kata (tentu untaian kata-kata yang dalam konteks definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tadi ya, jadi quotes ya tidak termasuk puisi).
Jadi dari pengalaman, peristiwa fisik atau peristiwa emosional dipadatkan ke dalam gubahan puisi. Dalam gubahan kata-kata yang menyusun bahasa, singkat, jelas, tapi tetap menggambarkan esensi keseluruhan dari peristiwa tersebut.
Contoh, perang Diponegoro yang berlangsung bertahun-tahun, diceritakan kembali dalam sebuah puisi, yang berisi 5-6 baris sajak. Atau sebuah pemikiran hasil proses berhari-hari bahkan bertahun-tahun dituangkan dalam beberapa bait saja.
Dan apa yang dilakukan seseorang ketika dia membaca sebuah puisi? Yang pasti berusaha memahami maksud puisi tersebut, dalam kata lain berusaha menerjemahkan. Bahkan bagi yang memiliki landasan keilmuan tentang puisi, dia akan berusaha menganalisis puisi tersebut ke dalam apresiasi yang berbobot.
Lantas, dari pemahaman yang didapat itu, kemana ‘larinya’? Tujuan dari seni adalah pemuasan kebutuhan batiniah baik bagi sang kreator maupun penikmatnya. Dan dalam hubungan jejaring kreatifitas, sudah biasa terjadi karya seorang kreator dalam satu bidang seni, menginspirasi kreator lainnya dari bidang seni yang berbeda. Seseorang membuat puisi dari sebuah lukisan misalnya. Atau seseorang membuat lukisan dari sebuah puisi.
Dalam halnya puisi, telah banyak transformasi lanjutan yang dilakukan oleh para seniman berbagai bidang, dari bidang seni musik (dan sudah terkenal) ada musikalisasi puisi, dari bidang teater ada dramatisasi puisi, dan lain sebagainya.
Berangkat dari definisi saya pribadi bahwa puisi adalah kompresi emosi dan peristiwa ke dalam susunan bahasa yang diatur secermat mungkin. Juga sebagai lanjutan dari apresiasi dan pemahaman puisi, ada bentuk lain yang masih bisa digarap selain apresiasi dalam bentuk analisa kritik dan kepuasan batin saja. Yaitu dekompresi puisi.
Dekompresi puisi adalah suatu usaha menafsir ulang rangkaian emosi dan peristiwa dalam puisi ke dalam bentuk cerita (cerpen, novel, naskah teater/film). Apakah harus sama persis dengan maksud / peristiwa yang dialami oleh sang penyair? Tentu tidak, penafsiran ulang yang dituangkan dalam sebuah cerita dari sudut pemahaman pembedah akan arti sebuah puisi.
Dan bentuk cerita yang paling mungkin adalah cerita pendek atau cerpen. Secara bentuk, cerpen lebih memiliki kemiripan dengan puisi, yaitu sebuah fragmen, potongan kecil dari sebuah garis peristiwa yang panjang. Bentuk penceritaan kedua yang lebih mungkin adalah naskah drama atau skenario film. Sedangkan untuk bentuk novel, saya pikir akan diperlukan kecerdasan yang lebih lanjut untuk mengolah sebuah puisi menjadi novel.
Sejauh ini, saya baru dua kali melakukan dekompresi puisi ke dalam bentuk cerpen. Jadi, ketimbang saya hanya bicara saja, saya akan tunjukkan maksud tulisan ini dalam contoh konkret cerpen hasil penafsiran atas puisi Rendra berjudul Ballada Sumilah. Diceritakan ulang dalam cerpen yang berjudul sama; “Ballada Sumilah”. Silahkan dibaca di sini.
***Jangan ragu untuk memberi kritik tertajam Anda atas cerpen saya tersebut, pada bagian komentar tulisan ini (a critic invitation) 🙂
++Mobile