Manusia tidak seperti gurita yang memiliki tangan banyak untuk memegang banyak hal sekaligus.
Manusia tidak seperti burung yang bisa terbang melayang di udara.
Manusia bukan ikan yang sanggup hidup di dalam air.
Manusia bukan gajah yang sanggup mengangkat gelondongan kayu.
Manusia bukan cheetah hang sanggup lari sampai kecepatan 300 km/h dalam waktu 3 detik.
Manusia bukan api yang dapat membakar dan menerangi.
Manusia bukan angin yang dapat menelusup ke sela-sela terkecil, dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dapat menghantarkan aroma.
Singkatnya, manusia adalah keterbatasan.
Dan mulailah manusia membangun teknologi-teknologi dalam menembus segala tantangan alam dan mengatasi keterbatasannya. Mulai dari batu yang ditajamkan, perkakas perunggu, sampai kepada penemuan mesin uap dan revolusi industri. Setelah itu, manusia berlari dan terbang bersama segala kemajuan peradaban (baca; ilmu pengetahuan). Siang malam tidak lagi menjadi batasan, perbedaan tempat dan waktu tak menjadi halangan. Teknologi terus meng-update dan meng-upgrade dirinya, bahkan mendekati taraf perkembangan yang otomatis.
Tuhan sendiri dalam al-qur’an telah menantang manusia untuk menembus batasan-batasan itu. Firman-Nya: "dan tidaklah kamu dapat menembus langit, melainkan dengan kekuatan."
Di tengah kekaguman saya akan semua itu, tiba-tiba saya teringat pesan moral dari novel Jurrasic Park (yang telah diperkosa habis-habisan oleh Hollywood) yang dalam lidah Isaac Asimov adalah sebagai berikut: “The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.”
++Mobile

