Tag Archives: ide

Tidak Ada Ide yang Benar-benar Baru

Membaca posting sodara fahdi yang berjudul Ide, saya teringat waktu bicara pada rapat internal Xinix, mengenai ide. Juga teringat waktu mengikuti sebuah mata kuliah di jurusan Interior mengenai gaya-gaya desain dan ide kreatif. Teman saya itu mengatakan bahwa pastinya idenya tidak brilian, dan pasti sudah ada orang lain yang memikirkan ide tersebut entah di belahan dunia mana. Itu tepat seperti yang saya pikirkan ketika menghadapi sebuah ide yang terlintas. Ya lebih tepatnya lagi, setelah saya memikirkan/membayangkan implementasi dari ide tersebut, baru saya tilik dan saya asumsikan ada yang sudah kepikiran ide tersebut.

Yang kemudian saya lakukan setelah itu adalah sedikit riset (mostly through the internet) untuk mencari apakah ada yang sudah mengimplementasikan ide tersebut. Kalau sudah ada, apa yang bisa saya perbuat dari situ? Meninggalkan ‘ide yang saya miliki’ dan lebur pada implementasi yang sudah dilakukan orang lain. Atau membuat sesuatu yang baru kalau ternyata implementasi orang lain itu tidak seperti yang saya inginkan. Itu yang biasa saya lakukan.

Ide memang tidak pernah ada yang betul-betul baru, yang ada adalah pengembangan-pengembangan atau antithesis dari ide sebelumnya. Tantangan dan kebutuhan manusia terus berkembang, dan seiring dengan itu solusi-solusi lama (baca; ide) tentang cara manusia menghadapinya pun segera menjadi tidak relevan lagi. Maka dari itu mereka berinovasi berdasarkan kriteria-kriteria baru dari solusi yang lama.

Begitu Sebuah Ide Digulirkan…

Segala ide akan terasa sederhana dan mudah, ketika masih berada di dalam kepala kita. Sekali ide itu diutarakan kepada orang lain, apalagi itu suatu kumpulan orang-orang banyak, dia akan berkembang liar diluar kendali kita. Kepada para penggagas, ada baiknya kita pahami hal ini. Supaya tidak terkaget-kaget dan parahnya mundur langkah alias surut ke belakang.

Sudah beberapa waktu ini saya membiasakan diri saya untuk menjalankan bersit ide yang ada di kepala. Semua itu demi ketajaman dan kepekaan saya akan ide. Mana ide sampah dan mana ide yang ok. Tapi kita tidak akan membicarakan itu, kita akan bicarakan mengenai sifat ide begitu digulirkan, diungkapkan, dijalani.

Pada tahun ‘99, ketika saya dilantik menjadi ketua teater di SMA, saya memiliki ide untuk memberi bentuk baru kepada teater SMA itu (yang waktu itu menurut saya terlalu lembek), dengan bentuk teater yang saya ikuti ketika SMP di Jakarta. Malam begitu saya dilantik, saya diberi kesempatan memimpin latihan malam itu sambil ditonton senior teater yang lama. Itulah pertama kali saya ungkapkan dan implementasikan ide tentang ‘teater yang keras’ pada teater SMA saya, tidak kurang 2 orang kena timpuk sendal oleh saya malam itu.

Tapi itu sekedar ide saya, respons dari orang-orang yang saya paparkan ide tersebut berbeda, mulai dari senior yang sudah tidak jadi pengurus sampai ke teman-teman anggota teater semua bereaksi berbeda. Dan sadar atau tidak mereka mengajukan kontra-ide, sehingga terjadilah negosiasi-negosiasi yang melahirkan bentuk teater yang sama sekali beda dari yang ingin saya terapkan.

Pada tahun ‘99 juga, saya dan beberapa orang kawan, dibantu bimbingan beberapa guru, mendirikan sebuah klub ‘pencinta alam’ dalam format yang jauh berbeda dengan organisasi pencinta alam pada umumnya. Tanpa diksar (pendidikan dasar), tanpa keharusan pengembaraan/pendakian, dan terutama tanpa konsep senioritas yang sangat kami benci. Kami pun menolak sebutan PA (pencinta alam), kami lebih suka menyebut diri Tim Petualang, jadilah Mothahari Adventure Team.

Waktu berjalan, kepengurusan berganti. Hanya melalui 2 pergantian kepengurusan, konsep tersebut telah berkembang jauh dari konsep awal. Mulai ada diksar, tapi dengan ‘format MAT’. Kemudian entah pada angkatan ke-5 atau ke-7, saya menemukan anggota MAT aktif pada cium tangan kepada para senior MAT, kalau ketemu atau mau pulang, atau setidaknya membungkuk hormat pada mereka.

Pada tahun 2002 waktu kuliah di jurusan teater, saya mengungkapkan ide (yang saya ambil dari pengalaman di jogja), untuk meramaikan jalanan bandung dengan seni. Yaitu dengan menggelar pertunjukan dadakan pada malam hari di pinggir jalan. Entah itu mau baca puisi, monolog, latihan teater, dan yang terpenting, tanpa mempedulikan apa ada penontonnya atau tidak. Dan di lapangan terjadilah improvisasi-improvisasi dari konsep awal itu, pelaksanannya di pinggir lapangan gasibu tepat di seberang gedung sate Bandung. Trotoar dihiasi puluhan lilin, ada seni modern semacam break dance ikut tampil disitu, penonton boleh ikut mengekspresikan dirinya (ikut tampil; walau rekor kita cuma ditonton oleh 2 orang).

Akhir-akhir ini, pada awal 2011, saya mengajukan ide membuat komunitas/klub Zippo Indonesia kepada beberapa hobiis Zippo lainnya. Mereka sepakat untuk membentuk komunitas itu dan mulai membangunnya. Pada satu bulan pertama saja sudah banyak perubahan dari konsep awal yang diajukan dan disepakati bersama.

Hakikat ide adalah berkembang, dinamis. Apalagi ketika ide itu menyentuh kepala-kepala yang berlainan, yang juga memiliki ide (gambaran) tersendiri mengenai ide yang mereka terima. Ketika sekumpulan orang menerima ide dasar akan sesuatu, mereka akan berusaha sebaik mungkin mengembangkan ide tersebut, bahkan mungkin ada yang berusaha mengakuisisinya. Saat itulah dinamika perkembangan ide terjadi, saat itulah ide -bagi si penggagasnya- menjadi seorang anak yang dilepas ke alam bebas.

Saya sangat menikmati perdebatan mengenai pengembangan sebuah ide, karena bagi saya, konflik tersebut merupakan sebuah indikator penting bahwa orang-orang punya rasa memiliki atas ide tersebut, dan juga indikator bahwa ide itu akan terus berkembang mencapai kematangan.

Dan dari perjalanan itu, saya juga menemui orang-orang yang kelewat lekat dengan kondisi saat awal mula sebuah ide diwujudkan. Sehingga seiring waktu berjalan, dan ide tersebut perlahan-lahan berkembang, dia tidak menerimanya dan mengasingkan diri dari ide tersebut (tepatnya orang yang menjalankannya). Dan dari situ juga saya belajar memang ada pokok-pokok ide yang tidak boleh berubah, kecuali dia memang hendak ditransformasikan ke dalam bentuk ide yang (hampir) sepenuhnya baru, sebuah antithesis dari ide sebelumnya. Itu bentuk transformasi ide yang lebih jauh lagi, dia berubah ke bentuk yang baru. Saat itulah (dari ide sebelumnya), lahir sebuah ide yang sering kita bilang ‘baru’.