Tag Archives: gangguan ibadah

Ibadah yang Terganggu

GUANTANAMO BAY, CUBA - OCTOBER 28: (EDITORS NO...
Image by Getty Images via @daylife

Pernahkah merasa ibadah Anda terganggu oleh sesuatu yang dinilai masyarakat sekitar sebagai baik? Saya pernah, itu sangat mengganggu, dan jelas sangat mempengaruhi perilaku saya di lingkungan tersebut.

Saya memulai ‘karir’ bicara di depan publik semenjak SD (sekitaran kelas 4). Waktu itu di RT saya tiap habis magrib anak-anak kecil pada ngaji di musholla deket rumah. Khusus untuk malam jum’at, semua jamaah ngaji yasin dan dengerin ceramah bareng. Waktu ngaji yasin, kita anak-anak cere pada dipakein baju gamis putih dan ngaji yasin di tengah lingkaran orang-orang dewasa.

Pada perjalanannya, kami secara bergantian diajarin menjadi pembawa acara pengajian tersebut. Setelah mencicipi panggung untuk pertama kalinya, saya ketagihan, dan meminta bokap untuk supaya saya bisa tampil pidato juga. Dengan senang hati bokap membuatkan teks pidato dan mengajarkan trik-trik berpidato.

Pertama saya dibuatkan teks, dibuatkan lagi, dibuatkan lagi, sampai tiba satu masa (ketika sudah SMP) pada saat ramadhan saya suka ditembak sama jama’ah mushola kecil itu untuk ngisi kultum shalat tarawih. Semenjak itu, saya gak pernah tenang tiap tarawih deg-degan takut ditembak maju untuk kultum.

Pada saat-saat tegang itulah, pikiran saya diperas sekuat mungkin untuk memikirkan tema pidato (bahkan ketika shalat sekalipun :p ). Dan tak sengaja terbentuk pola: saya memikirkan sebuah ayat, atau hadits, dari sekeping ayat atau hadits yang saya pahami itulah dikembangkan menjadi sebuah pidato singkat.

Meski hal tersebut tidak terus menerus terjadi pada tiap tarawih, tapi rasa tegang ketika menunggu momen apakah akan didapuk untuk ceramah atau tidak, betul-betul tidak menyenangkan. Betapa saya merasa terganggu dengan hal tersebut, dan itu mempengaruhi keinginan saya untuk ikut solat tarawih. Dan jujur, saya baru bisa mengatasi rasa tidak nyaman itu beberapa tahun belakangan ini, ketika saya memang tidak ingin untuk ceramah, menghilangkan semua rasa sungkan.

Subhan Toba Kecil

Adalagi fenomena yang saya tangkap dari pengajian ibu-ibu di lingkungan sekitar saya. Terkadang (namanya ibu-ibu) mulutnya suka usil gak jelas. Jadi ada ibu-ibu yang jarang atau gak pernah ikut pengajian, tiba-tiba suatu hari datang menghadiri acara pengajian tersebut. Bukannya sambutan baik yang didapat tapi pertanyaan sinis; “Tumben nih ikut ngaji Bu…”

Bahkan juga bapak-bapak gak mau ketinggalan, terkadang orang yang jarang ikut solat jamaah di masjid atau mosholla ketika nongol ikut solat suka dihadiahi pertanyaan usil serupa; “Akhirnya ikut solat jamaah juga”, atau dengan kalimat sama dengan yang tadi.

Banyak perilaku masyarakat yang terkadang bermaksud baik tapi mengganggu, atau terkadang memang dari maksud awal juga gak baik (seperti sindiran-sindiran tadi). Pada kondisi saya pribadi, sedari dulu merasa tertekan akan harapan masyarakat yang ditumpahkan pada seorang saya yang masih kecil.

Harapan mereka bahwa saya akan jadi mubalig, jadi seseorang yang bisa menjadi contoh, bisa menjadi guru di masyarakat, telah mengikat seluruh gerak saya, menjadi sebuah ketakutan laten bahwa mungkin saya tidak bisa memenuhi harapan itu. Itu semua bermula semenjak SD kelas 6 saya berceramah dari satu pengajian ke pengajian lainnya (pengajian anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, juga acara peringatan maulid dan pembukaan pengajian remaja masjid).

Soal harapan itu, saya bukan sekedar merasa-rasa, mereka menyampaikannya kepada saya melalui perlakuan, tingkah laku, dan bahkan secara lisan. Pernah suatu hari waktu saya main-main di depan rumah, ada nenek-nenek abis ngaji di musola lewat, saya cium tangan (pokoknya pikiran saya waktu itu, keliatan tua, soleh, cium tangan aja), eh tiba-tiba nenek itu ngomong panjang lebar mendoakan supaya saya jadi ini-itu-ono-ini ya semua yang berbau suci dan soleh lah. Dan masih beberapa lagi ungkapan verbal dari beberapa orang yang bisa disebut tokoh masyarakat di tempat tinggal saya.

Bagi mereka, mungkin itu sekedar ungkapan sepintas ketika bertemu, mungkin itu permintaan sepintas ketika salat tarawih berjamaah, tapi bagi yang lain, itu bisa sekali berubah menjadi tekanan dan tuntutan. Bahkan sampai taraf yang mengganggu muamalah dan ibadah. And now, I just don’t care. 🙂

Enhanced by Zemanta