Category Archives: Blog

20 Maret 2004

Aku senyum. Ingat hatimu yang selalu mengawaniku dalam hujan mendung begini. Damai rasanya, seperti air es menelusup ke hatiku dalam diam dan senyum. Rasa sayang dan haru menggeluyur tanpa kupinta. Hatimu yang adem menjejak bekas lebih dalam daripada gambarmu. Ah, mengingatmu begitu menenangkan.

Aku jadi tahu rasanya didampingi sebuah hati yang tulus.

19 Maret 2004

Kita adalah gerigi-gerigi mekanik dari sistem besar yang kian membusuk. Berputar dan terkikis atara hidup-mati demi berjalannya roda hidup kita sendiri. kita adalah planet-planet yang berjalan disemesta, berputar dalam orbit menjaga sistem besar yang kian melenceng.

Kita punya kemudaan, berteriak dalam aksi, tertawa dalam kegundahan, kita punya semangat!

Sebelum kapal terakhir berangkat, teruslah.

18 Maret 2004

Jangan tanyakan padaku ‘hal-hal itu’, itu menyentuh dalamku sangat, marahku menyalak waktu kau ucapkan itu. Gila!

(harus aku pasrah, dan mendengarkan semuanya?)

(harus aku menelannya lagi mentah-mentah? Setelah hatiku gedubrakan porak-poranda.)

(aku telan lagi sendiri, dan kau cuma bisa memandang. Tersenyum.)

17 Maret 2004

Sebelum lelap, aku meminta maaf pada ibu, aku memohon-mohon dalam rengekan seorang anak yang rindu. Wajahnya yang tersenyum menyayat-nyayat hatiku, salahku padanya menimbulkan sakit, sakit yang sesak menusuk-nusuk. Wajah bapakku yang tegak lurus terbayang dalam senyum. Ahh, semakin jauh aku tenggelam dalam kesal pada diri, aku hanya bisa meminta maaf sebelum tidur, agar mimpiku tenang, agar hatiku terhubung pada langit dan menggemakan permohonanku. Aku akan dendam pada diri ini bu, aku ingin buat dia jadi berarti.

-15 Maret 2004-

Tadi kutelusuri lagi perintahNya, aku terkejut pada tangan yang bersedekap, ia menceritakan hidupku, tak hingga. Kembali kueja kalimat itu huruf per huruf, kutemukan kilauan keagunganNya yang abadi, aku mendadak sesak, ada yang melesak-lesak. Dunia jadi luas, langit tak lagi punya rahasia.

Aku cumbui Kau, merangkak didepanMu, ini dosa merubung seperti lalat. Memberatkan langkah, menyesatkan arah. Aku bosan tersasar, ingin kembali.

Dari pintu manakah?

15 Maret 2004

Baru saja aku bicara dengan seorang wanita. Dia ingin meninggalkan cinta dan luka. karena semuanya mengerat lehernya dan meninggalkan perih yang dalam.

“Aku tak ingin mencinta penuh-dalam, tapi hati ini melawanku, ia jelas mencinta dan mendamba, lalu setelahnya aku terjebak diruangan luka”

“Itu haknya sayang”

“Ia menangis, cengeng”

“Itu hak kalian berdua sayang”

“Aku tak ingin luka, tak juga ingin menjadi cengeng. Aku harus kuat”

“Kekuatan tidaklah dipaksakan, tapi ia tumbuh, luka adalah pupuknya, bahagia adalah angin yang meniupinya.”

“…….”

Ia diam, tercekat. Karat dihatinya tak jadi keluar semua.

-14 Maret 2004-

Distorsi dan kekerasan dalam kata-kata yang tertulis menyakitkan telingaku. Sejenak aku tercebur dalam warna putih, tanpa apa-apa, tak jadi apapun, hanya berbaring disana dan merasakan dunia yang bukan surga atau neraka. Hidup jadi tak ada, bunga-bunga tak dikenal, dan Tuhan tak pernah menciptakan dunia. Semua jadi putih, aku -entah apa- bebas dari kecaman waktu, jauh dari kematian, duka dan bahagia tak pernah ada.

Hanya kawanan angin yang hidup, berhembus sabar tanpa emosi.

Aku tenggelam, hilang.

-13 Maret 2004-

Geblek! Aku teringat lagi. Sudah terlalu banyak luka kita, hingga bila terpeleset satu kata, luka lama terbuka juga. Terakhir kita jumpa, kau sibuk menimang harga dan perbedaan antara dulu dan sekarang, sebenarnya tak perlu, aku sudah sedia sepenuh jiwa.

Aku terkejut melihat perhitunganmu, tak sangka itu bakal terlontar, aku mual seketika, dan nekat berniat hanya akan mengenangmu saja. Berarti benar luka kita kental menggenang dibatas awang, hingga satu tiupan diatasnya sanggup menghancurkan kata-kata yang tengah berjalan.

Maaf, aku cuma teringat saja, dan setengah mati menahan kesal di kerongkongan.

13 Maret 2004

Aku menghitung disini, apa-apa yang kutinggalkan dengan sadar. Jemariku sudah habis mengejanya, jiwaku berjuang menghadapi penyesalan. Kalian akan melihatku dengan jijik, dengan beristigfar mungkin. Tapi ini hidupku, jangan terus mengecam begitu, nanti kusumpahi kau dengan kesialanku.

Aku terus menghitung disini, sambil buang air kecil maupun sambil lalu di lorong-lorong. Kebodohan mencekam duniaku. Jangan bertanya macam-macam, cukup bantu aku, atau diam.