Geblek! Aku teringat lagi. Sudah terlalu banyak luka kita, hingga bila terpeleset satu kata, luka lama terbuka juga. Terakhir kita jumpa, kau sibuk menimang harga dan perbedaan antara dulu dan sekarang, sebenarnya tak perlu, aku sudah sedia sepenuh jiwa.
Aku terkejut melihat perhitunganmu, tak sangka itu bakal terlontar, aku mual seketika, dan nekat berniat hanya akan mengenangmu saja. Berarti benar luka kita kental menggenang dibatas awang, hingga satu tiupan diatasnya sanggup menghancurkan kata-kata yang tengah berjalan.
Maaf, aku cuma teringat saja, dan setengah mati menahan kesal di kerongkongan.