Ada hantu yang mengejarku, melecehkanku, dan berusaha menjatuhkanku. Aku berdoa, kubacai Qur’an, tapi mereka cuma tertawa. Hingga sadar hinggap kembali aku masih dengar tawa mereka, masih jelas juga wajah-wajahnya.
Category Archives: Blog
5 April 2004
Didalam kamar kecil ini, aku memandangi nama-nama tak kukenal. Kutusuk saja gelar mereka.
4 April 2004
Hari ini, seorang kawan mengingatkanku akan rumah. Hari ini seorang kawan mengingatkanku betapa luas cakrawala. Hari seorang kawan membantuku menjelaskan apa-apa yang buram. Ini tak kuduga.
Thanks!
03 April 2004
Aku duduk saja. Pandanganku tidak kosong. Aku terima semua yang hadir dimataku, terdengar telinga, terasa oleh kulit, -hati tak banyak kusertakan disini-
Aku harus hijrah, melantunkan diri ini pada ketegasan baru. Suatu hari nanti mungkin aku menyesal, tapi ini harus, hijrah, agar air tidak menggenang dan menjadi busuk.
Aku akan mendengarkanmu, dan terus melakukan langkahku. Lelah mendengar suara-suara, gerak yang terbatasi mata-mata. Aku tak tahu ini apa, tubuhku penuh lendir menjijikan, kau takkan tahan melihatku, tapi aku akan terus -dengan pandangan seperti kosong- aku akan melawan yang kau inginkan, aku akan mengagalkan harapan egomu atasku. Prototipe ketakutan menjangkiti tubuhku seperti virus, penangkalnya ada padaku, biar aku bunuh mereka dalam buangan-buangan besar, dalam keputusan yang tak perlu pikiran bertele-tele. Aku putuskan sesuatu, lantas segera kujejaki tanah diatasnya tanpa ragu.
Tak sepenuhnya aku berusaha? Ya mungkin itu betul hatiku. Ketakutan tetap ada, keraguan tetap bernafas di nadiku. Kau akan gagal lagi kalau begitu? Ia ada agar kita tetap bergerak dan tidak membusuk dalam rawa.
Ketakutan, dengan takut yang tersisa, ini aku datang.
30 Maret 2004
Bu, aku melihat garis yang diluar segalanya, garis yang Tuhan bikin pada puncak tiap desakan-Nya. Aku diantara buta dan tidak jadinya. Tak peduli apa yang kuinjak atau yang menimpa, aku melaju berdasarkan navigasiku sendiri. Mata memerah seperti terhembus angin setan, tangan mengepal siap meninju segala tembok.
Badanku berdarah-darah, urat-urat ditangan seperti putus, tapi garis ini membawaku pada ruang dimana luka tak bertempat tinggal.
Garis ini adalah titik puncak amarah, emosi pada gigi yang mengerat, kata-kata yang mati, dan aku terus berlari.
26 Maret 2004
Adakah yang tahu kabar Ida Iasha?
25 Maret 2004
Satu kasus lagi ditutup. Masalahnya telah jelas, penyelesaiannya harus tegas.
Jangan hiraukan yang ini
Dengarkan, ini cuma sedetik, cuma satu detik episode dalam hidupku. Hatiku ngilu, mengingat tanah merah, dan halaman berpohon rambutan, ditambah wajahmu yang sering mengangguk seperti malu.
Ini hanya sedetik adegan, aku segera lupa nanti pun.
24 Maret 2004
Ya, mungkin benar, aku ini cuma binatang licik yang selalu kesepian. Mungkin kau menyesal pernah bertemu aku di bukit itu. Maaf kalau aku menyinggungmu sangat, mungkin ada luka yang tak kutahu kau simpan. Tapi sekali waktu biarkan aku tahu, agar bajingan ini berhenti mengganggumu, dan segera mengenyahkan impiannya tentangmu.
Aku sudah lapuk dalam kata-kataku, banyak luka kutorehkan padamu, hingga jengit-jengit kecil kesakitan kau tampakkan waktu aku mengungkitnya. Aku akan jaga bahasaku, aku hapus juga angan gambaran tentangmu.
Maaf, aku telah melukiskan luka dalam hidupmu.
Bajingan ini sadar, ia terlalu menjijikkan bahkan untuk sekedar mendongak.
21 Maret 2004
Kalian semua gila, menginginkan cinta begitu rupa, hingga mengemis-ngemis dibawah kaki luka yang besar. Ya aku tak suka pada luka – seusungguhnya- aku benci segbenci-bencinya. Pengkhuianatan-demi pengkhianatan datang menusukku tanpa ampun, dan mereka semua menyebutku sebagai pengkhiatnat besar! Dari mana mereka mendapatkan kata-kata itu?! Sedangkan mereka sendiri tak pernah mengurus hidup mereka semua! Mereka hanya sibuk merangkai kata-kata yang ditujukan bagi orang lain. Aku benci, kesal, marah! Tapi tak pernah ada yang mendengarkan, terpakasa aku menelan semua itu mentah-mentah! karena memang tak ada yang mau tahu alasanku, karena memang telinga mereka tak pernah terpasang untuk mendengarkan kata-kataku, aku hanyalah objek yang menjadi pemuasan ego mereka.. mereka tak pernah tahu dan tak akan pernah mau tahu, aku disini kesakitan!!! Melarat! Mereka hanya melihat kulitku yang putih karena tak pernayh terkena matahari! Aku tak poernah ingin menghujat, dan aku jadi pusat hujatan! Geblek semuanya!!!
Hey kamu yanng disana, langit yang kuridukan ini telah datang tiba-tiba disuatu sore, ia jadi tak lengkap, karena kau tak disini bersamaku untuk memnandangnya. hai kau yang kurindu, aku telan semua ini ku cerna, dan kuliahirkan kembali dalam senyum, semua ini akan lebih baik, bila kau disini. aku lagi tak percaya cinta, tapi hatiku sadar, aku membutuhkanmu.
salamku.
Written under special condition