03 April 2004

Aku duduk saja. Pandanganku tidak kosong. Aku terima semua yang hadir dimataku, terdengar telinga, terasa oleh kulit, -hati tak banyak kusertakan disini-

Aku harus hijrah, melantunkan diri ini pada ketegasan baru. Suatu hari nanti mungkin aku menyesal, tapi ini harus, hijrah, agar air tidak menggenang dan menjadi busuk.

Aku akan mendengarkanmu, dan terus melakukan langkahku. Lelah mendengar suara-suara, gerak yang terbatasi mata-mata. Aku tak tahu ini apa, tubuhku penuh lendir menjijikan, kau takkan tahan melihatku, tapi aku akan terus -dengan pandangan seperti kosong- aku akan melawan yang kau inginkan, aku akan mengagalkan harapan egomu atasku. Prototipe ketakutan menjangkiti tubuhku seperti virus, penangkalnya ada padaku, biar aku bunuh mereka dalam buangan-buangan besar, dalam keputusan yang tak perlu pikiran bertele-tele. Aku putuskan sesuatu, lantas segera kujejaki tanah diatasnya tanpa ragu.

Tak sepenuhnya aku berusaha? Ya mungkin itu betul hatiku. Ketakutan tetap ada, keraguan tetap bernafas di nadiku. Kau akan gagal lagi kalau begitu? Ia ada agar kita tetap bergerak dan tidak membusuk dalam rawa.

Ketakutan, dengan takut yang tersisa, ini aku datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 69 = 74