Category Archives: Blog

11 Mei 2004

FEEDING A BLIND FISH
—————————————————————-
(terjemahan bebas dari bahasa puitis)

“Hei ikan-ikan, waktunya makan”

Makanan ditaburkan didepan wajah mereka – didepan mata mereka bahkan-, tapi satu ikan melengos begitu saja, mengigiti buih-buih air.

“Itu hanya buih tolol!”

Kutaburkan kembali makanan baru didepan matanya, dan lagi-lagi ikan tersebut hanya menyosor ruang hampa penuh buih. Setelah tiga kali mencoba, aku mulai putus asa, jatahnya habis oleh yang lain. Kesedihan datang saat itu juga. Bagaimana kaau dia benar-benar buta? Bagaimana kalau ia tak pernah bisa memakan umpannya lagi, dan lantas mati kelaparan? Harus dibiarkan menderita? Atau kubunuh saat ini juga, biar hilang deritanya sekaligus. Aku terus mencoba melemparkan umpan ke depan matanya, setiap kali ia gagal memakannya aku menangis, menangis menahan pedih dan bingung. Setelah berulang kali mencoba, dan ia masih tak mampu meraihnya juga, tangisku sampai puncaknya. Aku genggam dia, dalam tangis kupesankan.

“Kau harus makan sayang, atau kau akan mati…”

07 Mei 2004

Lupakan tentang pelukan dan kata-kata impian. Aku hanya butuh jiwaku, tak lain. Penghinaan ini tumbuh secara alami dari jamur dalam langkah-langkahku.

Aku buta, menjangkau-jangkau langit dalam duduk. Mimpi berlari, padahal tak kemana juga. Orang-orang hanya tahu jalan yang mereka lalui, karena itulah kita selalu terbentur-bentur. Aku menghitung hari-hari dan makin mati.

Lupakan, aku butuh jiwaku, dan terus hidup.

06 Mei 2004

Aku bicara tentang semesta kecil kawan, satu ruangan yang menggerakkan semuanya, memantik niat dan kejadian-kejadian. Dosa itu hanya akibat, karena simpul pusat yang terganggu. Penyair dikatakan egois, itu memang ruangnya, sehingga dia mampu memahatkan guratan yang berpribadi dan kokoh dalam kata-kata. Jangan tanyakan perang, pembunuhan, dan kekerasan yang tak putus disini, sebab itu hanya rantaian akibat dari semesta-semesta yang terganggu orbitnya.

05 Mei 2004

Hati yang berdebar ragu harus dibenturkan dengan kepala yang berpikir keras, hingga pening, hingga lewat diatas batas pening. Kita tak bisa pergi dari tempat menyebalkan ini, dan memang kita TAK BOLEH pergi, sampai benang kusut ini terurai, atau setidaknya kita temukan salah satu ujungnya. Tak ada yang selesai saat ini juga, karena itulah kita membutuhkan gunung, daun hijau, dan tanah yang senantiasa dapat kita cium kedamaiannya.

Kita adalah taoge yang terus berkembang, hingga dadanya jadi perkasa, dan duri yang menempel dicabut dengan senyum saja.

01 Mei 2004

Tenaga, pikiran, terkumpul pada satu titik. Menggilakan sekali, dan kesadaran selalu datang dengan usil, “Apa yang sedang kau lakukan?” Aku berhenti, tentu, kuhentikan semuanya. Tiba-tiba tikungan yang terlewati menjadi jelas. Tersasarkah aku?

Pendakian ini memang belum jelas, orang hanya menertawakan, tapi aku tahu, semakin hari semakin banyak ranting yang kukumpulkan (kelak menghangatkan dengan api, waktu dingin menerpa).

Matahari semakin terik, sedang pagi pergi entah kemana. Migrain-ku kambuh, terlalu panas, jalan tak terlihat. Biar kucari beberapa wanita nakal, agar redam pusing ini.

Aku terus berjalan, siang ini, aku terus berjalan. Mendaki, terperosok, berteduh, ketakutan, kedinginan, kehilangan pegangan, tapi aku tetap berjalan.

– ” wanita? lupakan saja! cukup harapkan mereka dalam mimpi dan film-film lelaki ” –

28 April 2004

Kebahagian meluap begitu saja dipagi hari, seperti sariawan yang baru sembuh dan kau bisa ngrokok dengan bebas lagi. Tubuh hingga ke ujung tangan terasa ringan, kebodohan masa lampau tinggal tertawaan diujung bibir, segala kesalah-pahaman dapat meluruskan dirinya sendiri. Cinta-cinta yang berlubang, terpenuhi dalam mimpi-mimpi subuh. Orang mulai tersenyum, bahkan ikan begitu bahagia.

Terima kasih Tuhan, biar kutunggu yang satu itu.

10 April 2004

Untuk teater Timbang yang ku lepas

Kita butuh luka anak-anakku, agar kita tahu bahwa dunia bukanlah segumpal permen manis. Sekali waktu perpisahan harus menjenguk kita, agar kita tahu, semuanya terbatas. Luka tak sembarang menampar wajah, ia datang atas titah Tuhan, karena ada yang harus diluruskan, ada hal yang mesti diingatkan. Haruskah kita terus menangisi atau marah atasnya?

14 April 2004

Ada satu luka di sudut ini. Ia tampak tak tersembuhkan. Tak menyeringai-tak merengut. Ia menjadi titik hitam yang selalu menyengat bila diingat.Aku mulai mengenalinya, cuma snyum kuberi kalau ia tersentuh tanpa sengaja.

Ini luka mungkin kekanakan tapi begitu mendasarnya!

Satu bayangan yang agung dan besar tentang cinta telah patah dalam satu pukulan telak hari-hari. Satu langit biru yang luas runtuh seketika oleh kesadaran yang lahir dari satu ungkapan menyerah.

Aku akan selalu ingat, penghianatan-penghianatan rahasia, selalu menyimpan tikamannya untuk kita.

Waktu selalu menyeret-nyeret perubahan di punggungnya. Kukira hati yang tulus itu emas, bebas dari segala karat dan melampaui waktu itu sendiri. Tapi detik ini, yang tersaji bagi mataku adalah: Waktu menyeret segalanya pada perubahan.

Hati dan logika bertempur, dan hari ini, organ menjijikan dengan berjuta sel itu, menang.

Tulisan ini menjadi cermin-diri yang pecah dan melukai nadiku sendiri.

6 April 2004

Dalam tahiyat, aku tahu masih ada jalan lain. Dalam tahiyyat, seribu dunia dan ratusan langit menghampar untukku. Bangunan diriku runtuh menyerpih, hingga jiwa inilah langit itu. Salam kepadamu wahai para nabi, salam padamu wahai orang-orang terpilih. Aku bersaksi…..

Air mata rahasia keburu jatuh, kematian menggelayut pada bulu mata.

Dalam tahiyyat ini Tuhanku, aku menjadi tanah yang Kau injak, diriku hilang.

Tuhan, hentikanlah kemarau panjang ini.