Category Archives: Blog

Interview 1

INTERVIEW with TOBA (Harus baca!)
Message: WHO
.. makes u smile
para Bajingan yang menderita

.. pays your cellphone bills
Sialnya, gue,….

.. do you think loves you
Ada beberapa

.. do you want to slap
ELO yang lagi nanyain gue ini! Dan mereka yang
membaca ini dengan niat cari bahan gosip.

.. is the first on your phonebook
Orang yang namanya di awali huruf A.

WHAT

.. u don’t like about in this life
Life is a big holiday… hohohohoho….

.. do you want to do right now
NGGAMPAR elo yang banyak tanya ini.

.. is it that makes u smile
uang lebih

.. bothers you
Macam kamu ini!

.. color signifies your personality
RGB

.. do you like in your house
Kamar gue yang belum jadi, dan WC.

WHEN

.. is your birthday
NANYA KAMU???!!!! HAH!!! nanya!!! bener, serius nanya!!!! nantang kamu yah!! hah! nantang
kamu!!!!??? ngeledek kamu!!!?? (marah dengan
tiba-tiba kepada penanya)

.. did you last saw ur school
Ketika saya hampir membakarnya bersama
bromocorah bernama Cuplis.

.. will you get serious with your life
Apa urusan lo??? emak gue aja jarang nanya
begitu…

.. do you think there will be peace
NEVER, GAK AKAN ADA DAMAI. Kecuali, kita kerjasama buat musnahin ras manusia, sekarang
juga!

.. did you do your last prank
‘prank’ artinya apa???

WHERE

.. do you live
Negara Ciputat Raya

.. is your school located
Yang mana??? gak jelas lo, ya udah, Grogol, trisakti

.. do you hang-out the most
Hang-Out=Menggantung-keluar ?????

.. were you born
Negara Ciputat Raya

.. do you plan to have your end of year
holidays?
Bandung, Tanah yang DiJanjikan. Menemui
Kopral-kopral hina yang saya tinggalin di garis depan minggu kemaren.

.. are you now
Didepan pertanyaan loe goblok!

HOW ..

would u define love
LOve stinks! love sucks! mereka yang mencinta dengan sepenuh jiwa raga, bersiaplah buat mati muda! (ya gak plis??)

.. do u want ur burial to be
Anji*g!!!! sekarang nyumpahin gue lo!!!! udeh!! udeh@@!@!!! jangan pegangin gue!!! lepasin!!! dia kira siapa dia bisa bilang gitu sama gue!!!
ahhh lepassin gue! ini harus di tindak!!! (*kalut setengah mati, penanya panik bukan main*)… aaraarrrrrggghhhh,,…. jangan pegang itu tolol!!!! … uhhh…. kantong menyan gue……

.. often do you listen to music …
Setiap waktu, kalo gak denger ya nyanyiin sendiri!

.. do you live your life
Makan-minum = 15%
rokok = 30%
kopi = 15%
tidur = 15%
istirahat = 20%
santai = 10%
Relaksasi=4%
berniat belajar = 1%

.. interesting are you ?
Oh tentu! tentu!

30 November 2004

Aliran sujud yang tehenti akan merusak hari-hari. Itu terasa sekarang, berhari-hari hidup tanpa darah di wajah. Semuanya berjalan mengambang, abu-abu. Entah itu pemenuhan atau pengingkaran, tak ada yang kunyawai sepenuhnya. Kubangan kegelapan yang dulu, terasa melambai-lambai di pipi, menggoda untuk menampar sekali lagi, di waktu ini di sini. Aku acuhkan begitu saja, kucari jalan untuk membuatnya jadi kemenangan dan jalan yang juga terang. Kuniarkan tubuhku berjalan dan bekerja seperti kerbau, tak banyak bicara, tak banyak menimbang, kerjakan atau tinggalkan, dengarkan, atau pura-pura tak mendengar. Benar atau salah dilupakan sejenak, karena ia bisa merusak kepaduan pikiran yang tengah dibangun. Terasa kewajiban untuk terus, entah duri atau tanah yang diinjak, entah gelap atau terang jalan yang dilewati.

_kita harus terus atau nadi biru yang menggeletar tumbuh ini akan kemali mati.

Kapal yang baru bertolak ini patah sayapnya diterjang angin tak tentu asal.

_masih ada dayung.

Peta navigasi hilang terbawa.

_masih ada laut didepan, tak ada alasan kembali.

Kita bisa tersasar dan bodoh.

_matahari masih bersinar terang-terang, bila kurang, tunggulah malam, bintang leih kaya menunjukkan arah.

Tenaga kita takkan cukup untuk terus, berhenti dulu.

_betlulkan layar selagi jalan, kecepatan berkurang, tak apa, tapi kita terus.

Kurang baik itu. Ini bukan sekadar disorientasi, tapi masalah semangat.

_semangat adalah sarat mutlak kehidupan, tanpanya kita mati dalam hidup. Penanda hidup yang paling dasar adalah gerak. Bila kita tak memiliki syarat itu, baiknya kita kembali kepada yang paling dasarnya; terus bergerak.

Ini goblok! Saya tak mau terus! Keadaan tidak mendukung begini.

_alasan adlah pilihan para penakut, rumah orang yang enggan mencoba, oportunis. Seperti arti katanya, keadaan ideal adalah keadaan yang berada dalam dunia idea, dan keadaan itu sempurna. Tak akan pernah ada 100% keaaan ideal itu hadir di sini. Bila kita berkata baru bisa melakukan sesuatu pada suatu keadaan tertentu, energi kita akan habis menunggu.

Kau berani berkata-kata muluk.

_sambil berkata-kata, aku gemetar ketakutan pada suaraku sendiri. Tapi, ketika bicara, aku sudah mulai mengusahakannya.

Aku tak akan terus! Berlayar ke arah yang buta itu terlalu gila!

_(tak ada jawaban)

Terdengar kecipak air laut, berdebum tertimpa benda. Suara yang terus menyangkal itu terjungkal ke laut, setelah ditendang oleh lawan bicaranya. Pelan, perahu itu maju. Kembali disambungkan sujud-sujud, walau tak lurus. Wajah pengendaranya hampa, tapi ia terus maju, dengan satu dayung.

27 November 2004

Swing!

“The sun is up
I’m so happy I could scream!
And there’s nowhere else in the world I’d rather be
Than here with you
it’s perfect
it’s all I ever wanted
I almost can’t believe that it’s for real

I really don’t think it gets any better than this
vanilla smile
and a gorgeous strawberry kiss!
Birds sing we swing
clouds drift by and everything is like a dream
It’s everything I wished

……………
…………..”

The Cure, Mintcar, Wild Mood Swing

Aku menjadi awan berwarna oranye yang telah ditiduri unsur putih, sehingga hilang bebannya, jadi lembut dan menentramkan, terbang semakin tinggi dipeluk langit. Bebaskan hati, lepaskan, biar dia merayapi semua hal yang ditakuti manusia; tak jarang di sana (ruang yang menyeramkan itu) Tuhan menyimpan tambang emas yang langka. Bebaskan diri dari penjara bayang-bayang, karena bukan itu yang kita gumuli. Sekuat mungkin kita hampiri ketakutan kita, hadapi, tanyakan langsung apa maunya. Aku menjadi pedang baja yang ringan dan tipis, yang tak dipunyai Daud dan tentara-tentara Romawi, ringan menghindari goresan luka yang tebal dan ganti menikamnya tepat-tepat, menghisap darahnya dan pergi berkelontangan dalam tawa.

Aha! Kita bertemu lagi, luka di kanan-kiri kita, tapi kelamnya kita sodorkan senyum. Setelah hari kemarin, tentunya mata kita telah belajar, dan saling bertukar pandang yang baru. Ayo terus saja! Dengan langkah Cha-cha, atau tarian genit seorang mata-mata yang mengendap senang. Seperti kucing mengerjap manja lantas mencuri ikan sambil tertawa.

Congrats!

Kami ucapkan selamat kepada Oom Robert Smith dan kawan-kawan, yang tergabung dalam grup musik:

The Cure

atas penghargaan MTV Ikon yang mereka terima (sekitar bulan september kemarin), MTV Ikon bukan segalanya, yang penting kalian terus berkarya.

Sekali lagi selamat!

17 November 2004

Merdeka dari Lautan

Laut kehilangan bahasanya atasku. Dia hanya bicara tentang dirinya dan ombak-ombak, tak lagi bicarakan kau, dia atau siapapun. Dia hanya menceritakan dirinya. Laut berdiri sebagai laut, aku berdiri sebagai aku. Tak ada sapa yang mendalam, jiwa kami enggan selam-menyelam. Bibirnya tak lagi ungkapkan luka dan segala kenang yang lewat. Kami berhadapan dalam gagap dan tanya. Laut kehilangan bahasanya, dia hanya ceritakan pinggulnya yang tak lagi perawan. Kami saling pandang berjauhan, panasku-panasnya adu-beradu, saling lambai tanpa basah.

Laut, kali ini tak perlu kita bermasam-masam, muram itupun tak usahlah disambungkan lagi. Kita cumbu saja tawa dan riak-riak yang menampar pasir putih.

Aku terbebas darimu, laut! Juga dari lautan kenang yang melahirkan pekur lunglai dan rembesan perih yang mengakar (yang biasa lahir saat aku bertemu kau). Aku dapat memandangmu tanpa perlu berlindung dari kilauan luka, aku dapat menghadapimu dengan ringan, dan memandangmu sebagai laut yang benar-benar baru.

16 November 2004

Sekiranya kita tahu perbatasan yang tepat antara mata, hidung, telinga, dengan hati, mungkin tak begini jauh kita tersasar. Tersungkur di semak belukar berbau darah dari jiwa. Kita tak akan hanya mengenal nafsu, tapi juga punya air peredam-nya. Segala itu melahirkan lingkaran kepusingan yang tampak tanpa ujung. Akan jelas, mana perkataan-hati,mana perkataan-daging.

Nafsuku, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke temapt lain saja? Tak perlu hingga puncak kemuliaan dulu, ke tempat yang antara (murka dan pahala-Nya) pun tak apa; sebagai laku yang mula. Jangan ke taman yang itu-itu lagi, yang penuh bunga dan pohonan plastik.

Nafsu: “Aku selalu hidup dengan jujur. Aku berjalan sesuai arahan jalan dari hati”.

Hatiku, tunjukkan yang benar padanya.

Hati: “Aku adalah sekumpulan cahaya murni. Mengandung partikel-partikel kecil ‘sifat ilahiah’ yang disuntikkan bagi manusia. Akankah kutunjukkan jalan yang celaka?! Hanya saja aku diselubungi kerak-kerak hitam, hingga jangankan mengarahkan, suaraku pun sulit menjangkaumu”.

Tuhanku, aku elu-kan nama-Mu, aku sadar, segala komponen yang kau berikan, hakikatnya adalah Lurus dan alat menuju ke-Lurus-an.

Sorotkanlah sinar-Mu, bumi-hanguskan kerak yang membatu ini. Nafsu pun suci, hanya saja, aku masih gagap dalam menjadikannya perkakas hidup, hingga seringkali ia menjadi senapan yang menembak kakiku sendiri.

14 November 2004

Lebaran 2004

Tidak kutemukan jejak kemenangan di sini, tidak juga detak-detak kebebasan hati. Pengap dalam semesta menyumpal dada. Tuhanku, nama-Mu didengung-dengung jiwa-jiwa suci, tapi aku bahkan gagap mengeja huruf pertamanya. Tanah dan langit yang terpijak hilang identitas, tanpa wajah, menyarungi aku, gamang.

Kemenangan! Mereka meneriakkan kemenangan! Tuhanku, serdadu yang mangkir ini, malah menjauhinya. Tuhanku, aku kehilangan makna hari-hari. Hati menuntut lebih deras dari detakan detik jam, nafsu meracau melebihi kerasnya firman-Mu. Urat kenikmatan terus menarik-narik, menyorongkan hidangan pembuka murka-Mu.

Wajahku retak, seratus kemenangan meninggalkanku. Apalah artinya, apakah berarti, setumpuk amal tambal-sumbal yang kuhendaki khusus untuk-Mu?

Kalau kemenangan tak kau beri, salaam, cukup basahi kerongkonganku dengan salaam.

04 Nopember 2004

Aku ingin menulis, meluruskan benang kusut yang merintangi jiwa. Jembatan hati terputus, ngungun terpaku di awang-awang, ambang batas antara eksistensi, realitas, dan teori. Aku sudah tiba disini, di depan penanak jiwa, dengan jiwa sarat muatan, hendak meledak tapi kehilangan alamat tiba-tiba. Aku jadi diam, tersedak dikepung kata-kata yang lebih tulus dari perkiraanku, seperti zikir kudengar. Dalam hari terhitung belakangan ini,

kucatat, bahwa hakikat kehidupan itu begitu sederhana, sedangkan pemecahan kasus menuju kesana begitu rumit, melalui rumusan-rumusan verbal yang melelahkan.

Kucatat, bahwa segala sesuatu memiliki harga, dan dalam hidup ini kita hanya mendapatkan seharga yang kita bayarkan. Bisa lebih, ditambah rahmat Tuhan.

Kucatat, seorang tua yang menceritakan tentnag kenangan. Yang berjarak se-urat, se-mili, se-meter, se-mil jauhnya. Juga dia tukas bahwa kenangan merusakkan daging dan hati, mencemari pandang dengan rintik haru.

Kucatat, damba akan peluk meluluh-lantakkan panasnya hari-hari, dinginnya malam dalam hujan.

Kucatat, ketulusan kafilah Tuhan dalam doa universal pada tarawih-tarawih, teriakan bilal, dan jemaah subuh yang menggerombol sederhana.

Kucatat, maksud Paulo Cuelho dalam bukunya, bahwa Raja Salem adalah Raja Salaam (keselamatan, kesejahteraan), yang berada dimana-mana, menghinggapi senyum dan rambut orang-orang yang tenang ber-jalan teguh.

Kucatat, memainkan bunyi klakson seenaknya di jalan itu mengesalkan orang lain, terutama sopir Kopaja.

Kucatat, kutipan sadisme Lenin yang mendarah daging dalam karya Erich Fromm, menggigilkan akal sehat. Juga dorongan sadistis purba yang terdapat pada suku-suku terbelakang adalah bentukan alam yang menuntut mereka untuk bertahan dan hidup.

Kucatat, himpunan kesabaran dalam menuju tujuan adalah energi yang mengagumkan, sehingga di ujungnya kita sering berdecak tak percaya, bahwa yang di depan mata adalah hasil tangan kita.

Kucatat, segerombolan pemuda tanggung telah masuk dalam hidupku, sedikit-demi sedikit, meramaikan hari-hari di kampus baru. Juga segelintir wanita yang tersenyum menantang dan pandangnya memanggil: “Kejar aku…”, aku cuma tertawa, jiwa yang sialan ini kapok masuk ke dalam semak-belukar rupanya.

Kucatat, seorang kawan yang menumpahkan kehilangannya, merindukan masa-masa silam dan juga hidup yang semakin serius. Tanpa sengaja dia mengingatkanku pada loyalitas. Naluri primitif yang sederhana tapi menagihkan, menggolakkan jiwa, memacu adrenalin dalam perjuangan, dan bayaran darinya yang tinggi. Bahwa Loyalitas sejati, akan memacu ‘loyalitas-loyalitas’ lainnya datang menghampiri dan melebur menjadi satu loyalitas besar (dalam contoh kecilnya: kebersamaan).

Kucatat, jiwa yang tak sengaja jumpa, lantas jiwa kami saling sahut bersahutan, coba mengenal dari jauh dalam tatap dan tilik kebenaran panggilan mereka. Kami saling hampiri, dalam jabat tangan dan senyum menyambungkan silaturahmi Jiwa Buana* dalam bahasa verbal. “Kita sepertinya telah kenal lama….”

Kucatat, silaturahmi, memadukan kembali rantai karat yang terputus atau hampir putus, melahirkan kebahagiaan tersendiri, kelegaan melebihi dahaga yang terpuaskan.

terakhir,

Kucatat, kabel headphone-ku putus, rupanya itulah yang menyebabkan bunyinya sering hilang-timbul (sampai akhirnya hilang sama sekali). Kucoba sambung dengan cara konvensional, tak bisa, rupanya tiap kabel didalamnya dilapisi plastik pelindung berwarna, kukadali, akhirnya bisa, malah lebih jernih, bahkan suara bass-nya lebih edun lagi, kembali ke hakikatnya, sesuai perkataan mereknya, Clarion Digital Super Bass Monitor.

Percikan kebahagiaan hadir setiap hari, dalam hal-hal terkecil, sengaja-tidak-sengaja. Dalam kopi yang pas komposisinya, dalam ujung cutter yang baru dipotong, dalam kuas dari bulu musang, bahkan dalam jalan baru yang tak sengaja kita temui. Cinta yang mendorong totalitas dalam pekerjaan, menghasilkan sesuatu yang tegas berkarakter, sejahtera, berbenih keabadian, dengan jiwa yang tak henti bicara.

Jiwa Buana: istilah, dipinjam dari buku Paulo Cuelho.

28 Oktober 2004

Aku sengaja bermain api. Kubuka semua jalur ke masa lalu dalam berbagai jalan, semakin jauh aku menelusur, semakin tak mengerti mengapa hari ini ada.

Apa saja yang ada dalam kenangan?

25 Oktober 2004

Seperti inikah keberanian yang kau ajarkan itu? Menggores garis-garis warna yang lemah dengan ketegasan warna lainnya, sehingga mereka menggeliat, mengeluarkan cahaya tersembunyi, melahirkan warna baru yag meliuk dalam. Sepertinya ini bagian kecil dari ilmu penciptaan, memadu-padukan mereka yang terlihat berseberang dan tak sentuh-menyentuh. Kita harus pasti, melibasnya tanpa ragu, itu juga arti keberanian yang kau ajarkan?