Category Archives: Blog

20 Oktober 2004

“Hampura urang Jay….”

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Kapal yang kubawa terlalu liar rupanya, aku yakin kau tahu, kaupun menyimpan jiwa yang semacam itu jauh dalammu, tapi kau lebih mampu menaklukanya, kau mampu membelokkannya pada saat dan putaran yang tepat. Aku??? Selau saja tersesat, biar seribu orang sudah bicara arah yang harus kutempuh, tetap saja tak kudengar. Jiwa ini seperti menggila, melampaui perintah dan inginku sendiri, dan (selalu) lagi-lagi kami (aku dan jiwaku) tersesat entah dimana. Aku dapat melihatmu, mereka, tapi suaraku tak sampai, begitupun suara kalian. Jiwa ini terlalu memusuhi perintah, ingin bebas sebebas-bebasnya; tapi bodoh. Dan jadilah kami jiwa-raga tanpa sauh, tanpa pelabuhan pasti dalam pelayaran-pelayaran kacau.

Luka menitik dengar panggilanmu, aku seperti meninggalkanmu tanpa menoleh, tanpa mempertanggungjawab-kan api yang pernah kita tiup bersama; dan kau kini sendirian menjaganya dan sedari dulu aku memang sering membuatmu sendiri atau menunggu. Aku tak ingin meminta maaf padamu, takut maaf itu melambangkan berpalingnya aku sepenuhnya, aku tak bisa.

Suatu malam di Babakan Siliwangi, kita bicara hingga pagi, kau katakan yang tak kupunya adalah keberanian untuk meninggalkan yang telah kubangun, dan pergi ke tempat yang baru untuk memulai yang baru. Kalimat itu selalu kukaji, berdiskusi dengan jiwa, melihat stok keberanian yang kupunya. Aku mulai mengerti kalimatmu, kujabarkan dalam hari-hari sekarang ini.

Sama sepertimu, jiwa ini masih lengang mencari arah kemana ia menyelamkan diri utuh-penuh. Kata yang selalu menggetarkan itu, seni, seniman, menjadi kalimat yang tak ber-alas, paragraf tak berinduk, lantas kesepian dalam haus tak henti.

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Tapi ini bukan titik, selama nyawa masih bersabung, selama itu kemungkinan tak pernah mati. Yang sudah tak mungkin terulang, tapi langkah sejati akan terus membuat jejaknya.

Kita juga pernah bicara, dalam terik siang, di tengah komplek yang sepi, pada hari-hari perjuangan bersama kita, kutunjuk langit: “Masih ada langit yang lebih luas lagi..”. Kupikir kesanalah kita harus berenang, bersama, ruang dan waktu bukanlah halangan. Selama kita masih melangkah, kita masih beriringan.

14 Oktober 2004

Aku tertawa, waktu angin mendahului doa kami di surau kecil ini. Angin menyusupi pohonan membentur tebing, gemersik mereka mengabarkan kedatangan hujan segera. Sebagian terpana: “Hujan ya?”.

Imam yang tak terdengar, ceramah yang terbuang kata-katanya, karena hujan dan angin bertarawih lebih gila. Sepertinya mereka ingin menertawakan kita, yang tak paham betul kedahsyatan bulan ini.

11 Oktober 2004

“Dan segala badaipun reda”

Kata-kata santun yang dituliskan seorang gadis pada puisinya, teralamatkan buat jiwaku. Aku mencelos, kesal pada diri tak terhindarkan, tapi tak pelak kata maaf kehilangan pengantarnya. Kejahatan yang terlupakan, harus hadir kembali tanpa sengaja. Aku meminta maaf padamu, tangan halus yang merombak badai hari-hari menjadi asap, kepada hati tulus yang pernah memberikan segalanya, kepada jiwa yang menulis kata-kata santun itu, yang telah kulukai kusia-sia.

10 Okt 2004

“Tiap seniman harus seorang perintis jalan.
Penuh keberanian, tenaga hidup.
Tidak segan memasuki hutan rimba
penuh inatang-binatang buas,
mengarungi lautan lebar tak bertepi.
Seniman ialah tanda dari hidup yang melepas bebas.”
(Chairil Anwar)

Old School

Seharusnya ini masuk pas malem nishfu sya’ban kemarin, tapi blum sempet.

Pas malem itu, gak sengaja nemuin puisi ini di arsip lama, ditulis pas malem nishfu sya’ban (semua orang ke masjid, gue milih ngendon di kamar kostan), kurang-lebih 4 taun yang lalu.

Judulnya, 4 Malam di Tengah Sya’ban.

01 Oktober 2004

Jiwaku tersangkut pada rentetan pohon yang santun, memangku tangannya pada bumi, meruntuhkan putih rambutnya menuruti angin. Hati ini meradang, mencari jajaran perasaan yang muncul begitu saja dari celah tanah. Aku masih gagap mengartikannya, bertanya dalam bisik kepada kabut yang dilahirkan hutan kecil itu, dia hanya menjawab dengan geleng kecil dan senyum malu-malu.

Sisi yang sunyi muncul juga, kerinduan pelukan. Bingungnya romantisme anak kecil menagih untuk dijelaskan, ditantang kenyataan dan kesadaran yang lebih matang.

Gadis yang kulihat dari jauh, aku tak tahu, tak dapat kujelaskan, aku akan terus membuntutimu.

29 Sept 2004

Begitulah sepertinya hidup ini, wahai kakakku yang baik. Dia tak pernah henti memberi pilihan-pilihan. Apalagi setelah kita mengambil sebuah keputusan, pilihan-pilihan itu tetap saja datang, membuat kita berpikir-ulang, menggoda kita kepada penyesalan. Tapi kakakku, terus saja, pilihlah apa yang kau inginkan, selama pilihan itu adalah untuk terus hidup dan menjadi. Jangan takut mati atau tersesat, karena setiap pilihan itu mempunyai jalur aksi-reaksi nya sendiri. Sekali lagi, selama pilihan itu adalah pilihan untuk hidup, maka tak ada pilihan yang tak berujung, tak ada pilihan-jalan-buntu, ia berujung-bermuara, dengan dahsyatnya Tuhan aturkan semua itu untuk kita. Damailah kak, putuskan dan jalani dalam senyum.

Kawanku ada berkata:”Ibuku bilang, kita harus membayar atas kebodohan yang kita perbuat. Seberapa mahal? Tergantung kebodohannya”. Semua ada harganya, kita berdagang dengan hidup. Mungkin jual-beli kita sistemnya kredit, karena kebodohan yang telah diperbuat hari ini, tak langsung merongrong serta-merta, ia akan menagih, merayapi kita nanti, -seperti kiamat- entah kapan, tapi hampir pasti. Bagaimana dengan kebaikan, oh tentu, tentu, bahkan seringkali kita mendapat bonus -tanpa diundi, tak kena pajak- karenanya.

Announcement kecil

Tadi nelpon Rizal (Bandung, STSI), ngobrol bentar, dan…. dia belum tau gue pindah kuliah kemana! Duh parah ini, gue jadi kayak orang gak tau diri, gak ngasih kabar apa2 ke anak STSI. Padahal gue udah sms-in kawan-kawan di Bandung (begitu pengumuman lulus, langsung gue ngirim sms 20-an biji ke mereka). Daaaaaaannnnn rupanyaaaaaaa, sms-sms itu sebagian KAGAK NYAMPE!

Huff, ya udah, buat kerabat-kerabat gue nun di sana-sini, gue sekarang dah di Ciputat, sukur keterima di FSRD Interior Trisakti 2004. Dan gue minta maaf kalo gue blom sempet / gagal memberitahu kalian berita ini. Maaf, maafiinn, maapp, sumpah maap, mudah-mudahan kita segera ketemu lagi.

Sukses buat hidup kalian!

28 Sept 2004

Ciputat Setelah Hujan

Begitu hujan berhenti bicara, tanah ini jadi penuh cumbu-rayu, romantisme merayap pada tiap sudut udara. Segalanya tampak menenangkan. Tak ada yang berkejaran dan yang menangis disudut debu jalan, semuanya istirah, menikmati sisa belaian manja hujan pertama.

Setiap tempat tampak menyenangkan dan penuh kenang. Aku ingin berlama-lama di terminal yang lengang, meraup hawa gaib hujan yang tersangkut di sela pohon kering dan genangan-genangan kecil air di atas beton yang selalu sibuk. Jejak-jejak kebaikan hujan melembutkan suara-suara kondektur batak yang biasanya garang. Menikmati udara keberkahan hujan bersama manisnya asap rokok, kami bertiga saling cumbu, tawa-menertawai, dan menggaruki batin kami yang gatal.

Begitu hujan usai mengabarkan kedatangannya, hawa dingin tak ingin diam begitu saja, digigitinya tulang-tulang kami yang mengering oleh kegilaan kota, jelas, dengan mesra! Tak lupa dikirimkan angin-angin manis berpita lucu, hujan menyapu galau mereka yang terus berjalan.

Semua berubah wajah, menjadi gelap, biru gelap yang mendamaikan. Malam bertambah genit, bagai gadis misterius bergaun anggun yang tak henti tersenyum dan meninggalkan pesona dalam di hati pemuda kasmaran. Semua dikecupnya, hingga cinta-cinta hadir dan benar-benar tak terucapkan.

Aku jatuh gandrung, sepertinya Ramadhan datang lebih cepat.

25 Sept 2004

Kesedihan mengental di ulu hati, bila teringat tanah itu. Tanah yang kelam dan cemerlang. Penuh dengan bajingan-bajingan istimewa. Begini rupanya, kukira mereka yang akan pergi lebih dulu, rupanya aku.

Memang konyol, aku rindu kebodohanku, aku rindu masa-masa kelam itu. Semesta seperti tak punya kuasa atasku. Malam kubalik siang, dan siang kujadikan malam. Dan mereka -para kumbang yang baik- tak henti berceloteh, nasihat-nasihat manis, dalam cinta. Datang silih berganti, menggantikan tugas angin merubah musim. Adakalanya kecanggihan meraja, ada musimnya ikan hias berenang-renang, tak lupa masa puitis dan drama berjaya, pecintaan-percintaan muda, kenakalan-kenakalan berandal amatir, dan keseriusan-keseriusan tersembunyi yang kadang terkuak. Aku merindukannya, ya. Tergila-gila, ya. Tapi tahu, itu sudah lewat.

Kesedihan melanda tiba-tiba, bila ingat tanah itu. Tapi aku belum dapat tahu kesedihan macam apa itu, karena air mata tak keluar walau hati sudah sesak-melesak, sebaliknya senyum seringkali keluar dengan bahagia.

Ah, mungkin ini yang namanya haru.