Surat Cinta
Sayangku,
setelah menggambar puluhan kubus, tahulah aku, bahwa hakikatnya kau adalah kubus yang menggairahkan…
Surat Cinta
Sayangku,
setelah menggambar puluhan kubus, tahulah aku, bahwa hakikatnya kau adalah kubus yang menggairahkan…
Ada yang hendak melangkah jauh. Wajahnya terang dan matanya penuh sinar kemudaan. Penderitaannya hampir berakhir, segala sumbatan ditanggalkan, tanpa daya, terbaring penuh senyum. Sudahilah keluhan-keluhan itu, semua pengapuran dan sesak di dada, malaikat menunggu di gerbang sana. Aku tak bisa apa-apa, dada penuh buncahan lambai, sedih tak terperi, mengingat kesepianmu dalam sangkar besar pada hari-hari terakhir.
Aku cium tangan, dan dua kecup untuknya.
“Nek, kau terlihat manis hari ini”
Bravery
Temanku berkata:
“Itulah yang kupunya, yang membedakan kita, keberanian untuk meninggalkan, dan keberanian untuk memasuki rimba yang sama sekali baru”
Adalagi guru yang segala lakunya adalah senyum, ia balut sedih dalam senyum bijak, ia kerudungkan bingung dalam senyum pasrah, ia pijahkan hujatan-hujatan ke kolam senyum penerimaan, ia belai kekalahan dalam senyum nyinyir.
– keberanian juga yang diajarkannya –
Keberanian bukan hanya milik medan perang senjata. Itu hanya wajahnya yang lain. Keberanian yang sebenarnya ada dalam hidup, dalam kolam becek yang kita renangi ini, di tengah persaingan babi-babi gila. Kita berjuang berbekal keberanian dan rasa takut, apakah kita ikut mem-babi, atau menjadi manusia seutuhnya.
Keberanian menghadapi perubahan, bantingan-bantingan angin, juga keberanian menerima rasa takut. Kita belajar berani, dan pada saatnya datang, kau takkan tahu ia telah berjam-jam berjalan bersama kita.
Disudut jalan, aku melihat ‘api’ yang lain. Menyala-nyala dalam diam dan tajamnya tatap. Hati yang terhubung mengenalinya seketika, api di dada menyambutnya perkasa. Semua berjalan dalam sapa dan senyum hening, sampai ayat Tuhan kami baca damping-berdampingan, tahulah, sadarlah, kedalaman bacaan, intensitas penghayatan tiap-tiap butir ayat melepuhkan tembok yang membayang. Dia membaca dari dalam, dengan energi keharuan dan tunduk yang pasrah. Dia bukan sembarang api.
Tak usah sapa, pandang saja, lontarkan dua kalimat, dan api kami saling mendokan; “Semoga kita menemukan dan sampai ke ujung jalan ini. Selamat!”
Gue dateng ngedeketin akuarium itu (letaknya disamping saklar lampu). Reptil-reptil gila itu berenang nabrak-nabrak kaca (ke arah gue).
OBEH (suara riang dan lantang) : “Wooiiiii Tobaaaaa, goblog, bangsat, bandit, munyuk! LAPAAAAAARRRRR, Hahahaahahahaha lapaaaaarrrrr, waktunya makan malam neehhhh!”
BORIS (suara berat) : “Iyaaaa, beneeerrrr, lapaaarrrr.”
GOPAL tetep cool sambil masang muka ngarep.
Klik! Lampu gue matiin.
Kegiatan berenang gila itu pun berhenti seketika, semuanya hening.
OBEH : “Yah, kayaknya langsung tidur nih….”
GOPAL : “Hilanglah acara ‘sarapan sebelum tidur’…..”
BORIS : “Gak asik ah..”
Mereka segera menyelam ke dasar akuarium berebut ‘tempat tidur’ buat malam itu.
=====
TOBA (sambil rebahan dikasur) : “Dasar kura-kura sialan, kalo gue terus ngikutin kemaoan loe pada, bisa seharian waktu gue buat ngasih makan loe doang! Acara ‘sarapan sebelum tidur’-lah, dasar kadut!”
Dari kedalaman akuarium, sebelum menutup mata, OBEH mengacungkan jari tengahnya dengan yakin.
“Fuck you!”
Lelaplah kami semua….
Death
Kita tak pernah benar-benar menyadari, bahwa setiap waktu kematian bermain-main di sisi kita. Bahwa semua ini akan kembali menjadi nol dan semua yang kita perjuangkan akan hancur. Kesibukan deru nafas dan tiang-tiang pancang perobahan suhu budaya, melupakan mata kita akan Dunia Berikutnya, negri keabadian, Mahkamah Agung sejati. Kulit ini nanti menyerpih, wajah yang elok, semangat yang menggelorakan, nantinya tinggal tulang saja, sekedar tulang dari makhluk yang pernah berjuang, tak lebih. Usus yang mencerna berjuta keserakahan kita, nantinya membusuk, melahirkan belatung-belatung utusan Tuhan, dan kita sudah tak dapat berbuat apa-apa. Kita bukan apa-apa, sama sekali bukan apa-apa saat itu.
Kita sudah terlanjur lahir ke dunia, berjuanglah untuk hidup, terus hidup, dan BENAR-BENAR HIDUP. Dan jangan pernah lupakan batasan kita, batasan hidup dan batasan ke-manusia-an kita.
Juga wafatnya tetangga saya, bapak:
Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT.
“Beristirahatlah saudaraku, bagianmu telah usai kau jalani.”
Bob Marley, Redemption Song
Tumpah ruah, jiwa ini bertukar warna setiap waktunya. Kekosongan menari dalam tiap gerak dan tawa. Masih dapat kutahankan, dan masih juga kutanyakan; Bagaimana bisa orang berkasih-kasihan?
Atlantis telah tenggelam bersama kesombongannya, tekanan tektonik kehancuran mendorong kelahiran benua yang perawan, perlahan berjalan mengenang-ngenang kejayaan Atlantis. Samudra yang teraduk begitu rupa, dipanaskan, didinginkan, dipukul-pukul badai dan petir. Ombak berdentuman memecah karang, menguatkan pondasi kepulauan-kepulauan baru.
Kekacauan adalah awal dari penciptaan. Ketidak-teraturan, keadaan tanpa bentuk, magnit yang meracau kian-kemari. Mereka berputar, bersama luka dan goresan-goresan perih, terus berputar. Hingga pada suatu ketika, nafas mulai tertata pada tempatnya, partikel-partikel bersatu kukuh menopang wajah-wajah baru. Luka-luka yang menganga berganti kesegaran hutan yang perjaka, oksigen berwarna biru, dan perjodohan-perjodohan indah bersemai sentosa. Siang-malam, panas dan dingin telah resmi menikah. Tahap lain penciptaan dimulai-lah.
Menangislah, saat mencapai puncak bukit, dan hamparan nyawa segar berkelip indah dibawahnya. Jangan lupa ada langit yang selalu menaungi, selalu tak teraih. Kita berbatas, tak pantas menepuk dada dan berkata kitalah puncak itu.
Menangislah, tanpa pamrih.
…………
…………
Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan serasi. Pembeli berjejal.
Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biayahidup dari situ. Mereka hidup tntram.
hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat, lebih dalam. Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu pendiam. Ia bicara sedikit.
“Apa doa kang Kamin sehabis salat?” tanya Hardi.
“Saya serahkan hidup ini pada Tuhan,” jawabnya, polos.
“Warung Anda maju. Apa rahasianya?”
“Tidak ada. Semua terserah Tuhan.”
“Anak-anak Anda sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?”
“Semua saya serahkan Tuhan.”
“Maksudnya?”
“Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan mahapengatur. Jadi, semua terserah Tuhan.”
Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. kamin, si tukang bakso ini, iman dan dakwahnya juga murni, dan total.
Hardi sujud. Bijaksana Pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam Kamin itu, memang, yang belum dimilikinya selama ini.
===========================
Dikutip dari buku Kang Sejo Melihat Tuhan, hal. 92, terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, penulis; Mohamad Sobary (kata pengantar: Gus Dur).
===========================
Tuhan, dalam menuju-Mu, masih jauh aku dari yang benar. Hukuman dan Imbalan masih menggertak keras di dada. Cemar betul rasanya, coreng moreng wajah ini, hawa selalu terasa panas saja. Dimana tangga itu Tuhan, atau setidaknya tunjukkan undakannya yang paling pertama. Biar bisa kunaiki, atau se-hina-hinanya, kuniatkan melangkah kesana. Disini penuh kabut, kekotoran-kekotoran tumpang-tindih ikut warnai jiwa setiap saat. Dosa itu betapa mudahnya, Tuhan! Seperti menadahi air di hulu-nya, seperti melepas kentut disaat dan tempat yang tepat.
Keserakahan menjadikan tanganku sebagai tentakel-nya. Kegelisahan, kesedihan, dan rasa takut, menutupi batinku dari pemandangan akan Kau.
==
Berjauh-jauh kalimat yang kubicarakan, yang dilakukan masih kulit-kulit juga. Jeritanku jadi ngaco, Tuhan, pandangan sering mengabur, dan kaki ini keluyuran di muka bumi, tanpa kepercayaan akan alur-Mu, alur kuasa-Mu, rentetan sebab akibat, dan juga runutan peristiwa yang telah Kau cipta sempurna.
Doa-doa dilontarkan, panjang, terlalu panjang. Tak satupun dari mereka yang ber-ibu.