Tumpah ruah, jiwa ini bertukar warna setiap waktunya. Kekosongan menari dalam tiap gerak dan tawa. Masih dapat kutahankan, dan masih juga kutanyakan; Bagaimana bisa orang berkasih-kasihan?
Atlantis telah tenggelam bersama kesombongannya, tekanan tektonik kehancuran mendorong kelahiran benua yang perawan, perlahan berjalan mengenang-ngenang kejayaan Atlantis. Samudra yang teraduk begitu rupa, dipanaskan, didinginkan, dipukul-pukul badai dan petir. Ombak berdentuman memecah karang, menguatkan pondasi kepulauan-kepulauan baru.
Kekacauan adalah awal dari penciptaan. Ketidak-teraturan, keadaan tanpa bentuk, magnit yang meracau kian-kemari. Mereka berputar, bersama luka dan goresan-goresan perih, terus berputar. Hingga pada suatu ketika, nafas mulai tertata pada tempatnya, partikel-partikel bersatu kukuh menopang wajah-wajah baru. Luka-luka yang menganga berganti kesegaran hutan yang perjaka, oksigen berwarna biru, dan perjodohan-perjodohan indah bersemai sentosa. Siang-malam, panas dan dingin telah resmi menikah. Tahap lain penciptaan dimulai-lah.
Menangislah, saat mencapai puncak bukit, dan hamparan nyawa segar berkelip indah dibawahnya. Jangan lupa ada langit yang selalu menaungi, selalu tak teraih. Kita berbatas, tak pantas menepuk dada dan berkata kitalah puncak itu.
Menangislah, tanpa pamrih.