Category Archives: Blog

Hisapan Terakhir

Sudahlah, sekarang tak ada lagi hisapan terakhir, bila memang segala sesuatunya tak berjalan lagi, pergilah. Melatalah ke dunia lain, kita pisah-belah tanpa toleh lagi. Tak usah masukkan rumusan ‘cinta sekolah rendah’ disini. Kita makin penuh kerut, pilihan pun makin mengerucut. Belajarlah berkata A, tanpa harus menyertakan B, C, dan Z. Nanti bila kemurnian A telah kita reguk, mungkin Tuhan akan mengirimkan B, C, bahkan huruf ho no co ro ko sekalipun.

Tak ada lagi hisapan terakhir, bila memang sudah tak mungkin, tinggalkan.

Bolos dan Prinsip

Siang ini ada yang telpon, teman sekelas.

“Hallo ini Toba ya??? Eh Ba, entar lo masuk gak?”
“Insyaallah, emang kenapa”
“Enggak, kayaknya di rumah gue mendung… Eh, bener loe masuk?”
“Iye, emang loe mao bolos?”
“Tau nih, mendung…”

Kalo mao mbolos itu mbok ya berprinsip tho’! Sehingga bolosnya tidak hampa, resah dan gelisah. Sehingga jadilah bolos itu sesuatu yang berbobot. Bolos yang penuh karya dan kriya. Kenapa kita membolos karena ikutan orang lain?! Ikut bunuh diri namanya, tapi kalo bunuh diri secara rela, itu lain, seperti samurai jepang dalam upacara Harakiri-nya, lebih ber-‘isi’ bunuh dirinya.

Disadari atau tidak, diinginkan atau tidak, prinsip telah meresap dan masuk ke dalam seluruh sendi-sendi kehidupan kita.

Bahkan berak pun butuh prinsip.

Doa dan Paku

“Dengan menyebut nama-Mu (wahai Tuhan), yang dengan-Nya tak sesuatu pun di bumi atau di langit mampu memberikan bahaya (kepadaku). Dan sungguh, Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Doa terucap, di dorong hati mantap dan yakin, well tetap saja pagi ini ban motor gue robek kena paku tolol sepanjang kelingking. Dalam keadaan begini, terkadang kita dengan polosnya bilang, “Jadi apa gunanya gue doa tadi”. Perlu kita ingat lagi, siapa yang Maha Tahu? Siapa yang Maha Mendengar? Siapa yang Maha Melindungi? Jelas bukan kita. Mungkin ketika paku itu dicabut, hakikat-nya berkata:

“Saya adalah penyelamat yang diutus Tuhan untuk menyelamatkanmu dari hal yang tak kau ketahui di depan sana”.

Oke, memang segala syukur dan terima kasih cuma buat Kau.

Error Message

“Gue sakit kok belum sembuh-sembuh ya??”
“Loe tau kenapa loe sakit?”
“Kebanyakan begadang kali…”
“Terus…”
“… ya udah… eh… mungkin gue makannya sering telat”
“Udah?”
“Ya udah, abis apalagi?”
“Hmmmm, mungkin elo belom ‘layak’ untuk sembuh…”

Parse error: parse error in SOUL (Fulan.user), expecting (reflection()) on line 4456873267800676864379896431

Warning: Cannot send ‘heal’ command on (fulan.user), the test hasn’t been accomplished (reflection()).

Sakit, (mungkin) merupakan error message yang Tuhan sertakan dalam Skrip Agung-Nya. Penyakit bercokol di badan, hardware (pinjaman) yang kita pakai setiap saat. Tak ada sesuatu pun yang hadir tanpa sebab, begitu juga sakit. Selain memeriksakan ‘hardware’ kita ke bengkel, cobalah runut lagi kondisi software internal kita (Hati, Jiwa), adakah algoritma-algoritma yang salah di sana???

01 September 2004

Kebutaan dan Ruang Gelap

Ketika memasuki ruangan gelap, pertama kita akan buta total, panik, karena tak ada yang terlihat sedikit pun. Padahal, mungkin jalannya luas, tak ada sandungan yang berarti kecuali kerikil-kerikil kecil. Tapi kita masih buta, ketakutan mendera seperti pecut meletup-letup di dada. Berjalanlah terus, nanti pada saat mata kita telah terbiasa, pupil dan kornea telah menyesuaikan ‘besar lensa’nya, kita akan mampu berlari di sana.

Kebutaan adalah awal dari pengungkapan tabir kesejatian. Sebagaimana keraguan adalah awal dari pencarian kebenaran.

Akar

Mengetahui akar, rasanya seperti dihajar balok besar tepat di jidat! Kesegaran, pemahaman baru, pengungkapan akan tabir hakikat dari sapaan dan salam sehari-hari. Mengetahui akar, mendalami senyum dan sorot mata untuk melihat sesuatu dibalik sesuatu dan seseorang. Cabang-cabang yang membelok, warna dan lekuk yang dihasilkan, meyakinkan kita, bahwa kita benar-benar kita, mereka bagian dari kita, dan kita bagian mereka.

Ratusan doa-doa rahasia berhamburan kepada mereka yang tak terpandang mata. Kesenangan, bahagia, mengetahui bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, bahwa kita adalah bagian dari akar tersebut, seperti orang stroke yang sembuh tiba-tiba dan pembuluh darahnya kembali lancar.

Semangat juga akhirnya terpompa. Kepasrahan dan penerimaan akan keadaan ikut menyusul, bersukarela menjalari hati.

Satu tabir tersingkap. Melangkah ke tabir selanjutnya. Hakikat percabangan, penjadian cabang, dan unsur-unsur cabang yang bersatu pada diri. Kita memang harus mengenali diri kita sebaik mungkin, karenanya kita harus tahu sejarah.

Reboot

Ya Tuhan! Aku salah! Segera kubenahi, kupotong gunung-gunung liar, semak yang merambat lebat, biar terang, hingga jelas kenyataan dan bayangan.

31 Agustus 2004

Catatan Maba 2

(Bahasa sehari-hari, kemudian puitis)

Malem minggu kemaren OSPEK selesai. Sukur gue selamat dari acara Penyiksaan Puncak (sempet ikut pas makan ‘makanan sorga’ dan ‘ramuan cinta’), gila, yang turun rata-rata alumni FSRD-nya. Kenapa gue bisa gak ikutan, karena gue dan sepuluh anak FSRD 2004 lainnya ditarik sama anak Kotak Pinsil buat bikin operet ank 2004 yang bakal ditampilin malemnya. Dan tau gak, gak laen dan gak bukan operet itu adalah: K a b a r e t. U know kan? Player-nya cuman mangap-mangap doang, semuanya dikontrol oleh si dubber, njrit, akhirnya gue maen kabaret juga (gak maksud ngeremehin kabaret, cuman gue pribadi kurang suka aja). Disitu gue berperan jadi satpam bank yang tolol, berkostum ala vokalis The Darkness, lo tau kan, yang ketat sebadan-badan itu. Setelah usai pertunjukan, kita dikasih tepuk tangan dan ditawarin masuk Kotak Pinsil, (dari sebelas orang) sepuluh langsung ngangguk berminat, gue paling terakhir bilang iya (uhh, padahal gue pengen ngejauhin kegiatan-kegiatan dulu, apalagi ini, panggung-panggung juga). Setelahnya, ngambil jadwal kuliah, liat band sebentar, terus nanya-nanya dikit soal ‘etika’ junior di sini, cabut pulang.

Dan well, udah dua hari ini gue masuk kuliah, banyak banget perbedaan gue temuin disini. Yang paling mencolok, dulu, di teater, dari 35 orang, ceweknya cuma 8 orang, nah sekarang, dari 26 orang cowoknya cuman 8 orang (kebayang kan). Huhuhu, setelah masuk dan milih interior, baru gue tau, bahwa di interior emang cewek itu lebih banyak. Dan (ya Tuhan!) ada Fisika dan saudara-saudaranya! (hitung-hitungan). Munyung-munyung-munyung.

Itu baru dari akademik-nya, kalo dari pergaulan, senioritas cukup kental disini. Standar sih, Masa Bimbingan selama 6 bulan pertama yang diakhiri dengan kemah di alam. Nah maka dari itu, gue menerapkan (dan mengajak kawan yang lain) sistem grilya; jangan berkeliaran dikampus kalo nggak perlu, ato kalo kemana-mana ya barengan. Ini untuk mengantisipasi senior yang geblek bin iseng bin jahil bin pir’aun. Gue sempet kena sekali waktu hari pertama, lagi mau ke masjid eh dipanggil sama yang waktu OS jadi tatib, gue di suruh manggil 7 anak SR Fotografi, gue iya-in aja, gue bilang ntar abis solat, eh dimasjid gue ketiduran, bangun-bangun langsung masuk kelas (dan terlupakanlah oleh gue perintah senior itu).

Gue sempet nyoba ikut nongkrong sama mereka, waktu ass dos (alumni) nawarin nongkrong bareng. Tololnya dari 8 laki-laki itu, gue doang yang nunjuk pengen ikut. Ikut-lah gue akhirnya, dan rupanya jauh dari yang ditawarkan sebelumnya (maen catur dan remi), gue di’umpan’kan ke temen-temen alumni-nya yang kayaknya lagi setres abis sidang (anak 95 baru sidang taun ini). Hikshikshiks, dikerjain lagi, tapi rupanya lebih manusiawi nongkrong sama alumni, setelah dikerjain, gue ngobrol, nanya-nanya soal Desain Interior sama mereka. Setelahnya pulanglah gue dengan sentosa.

Gerilya, kucing-kucingan, Ilmu Ninja (yang didapat dari komik), ilmu ‘fashion yang tidak mencolok mahluk usil’, akting tampang polos dan tolol, senyum manis dan sapaan pagi, siang, sore “Pagi kak…” “Permisi…”, semuanya harus gue keluarin.

Daaaaannnn, selama 6 bulan ini gue blom boleh ngerokok di kampus. Baru dua hari jalan, masih ada waktu 6 bulan untuk bergerilya!

Fight!

=====================
Hancurkan ‘siapa’ dirimu, apa kamu, dan berjalanlah. Jadilah bayangan. Kita menyelinap, mengendap-endap, hingga tanpa sepengetahuan siapa pun, kita ada di puncak.

29 Agustus 2004

Renyahnya Luka yang Berdenyut

(ini bukan puisi…)

Harus berubah, lumatlah-lumat, runtuhlah-runtuh apa yang telah bercokol dikepala sekian lama. Jalan yang dititi penuh besi panas yang selalu mendesak kita untuk mundur. Tapi tidak, nyalakanlah sumbu keberanian dengan lebih anjing lagi! Kita baru menanam tiang pancang sedalam setengah meter, harus lebih dalam lagi.

Lihatlah tanganmu, perhatikan, dengarkan ia bicara. Proses, hujan dan debu telah menggilasnya berkali-kali, dan ia hidup, ia tetap menggenggam sampai detik ini. Haruskah kita menghianatinya?

Jadilah lebur dengan tanah, biarkan membumi, hingga rumput tumbuh subur dan menghijau. Jangan dimanja sakit yang berdenyut-denyut itu, tekan, lalu telan. Anggaplah seperti goresan silet yang yang melukai jari. Lantas tersenyumlah, senyumlah dengan ikhlas, buahkan bunga pada hati orang-orang, bahkan pada hati para keparat sekalipun. Luka itu penanggungan kita sendiri, snack kita, hasil tangan kita. Hahahaa, tak ada yang peduli padanya kecuali kita, mamah saja, seperti kambing memamah rumput, seperti gelandangan mengunyah sampah, seperti kita kunyah jamu terpahit, mentah-mentah, tanpa air, rasakan pahitnya, yakinkan pada dirimu bahwa luka itu manis, lupakan pahitnya, telanlah tanpa pikir panjang. Bila setelahnya tak kau temukan air, sekali lagi, senyum saja.

Senyum yang ikhlas.
Pikirkan rasa yang menyenangkan…

Mouth & Tongue

Ya, kita memang tak boleh sembarang bicara. Menyebut hal-hal ‘prinsipil’ dalam nada mengejek atau gurau. Karena mungkin saja Tuhan menganggapnya sebagai doa atau sebuah ‘tantangan’.

Mulut ibarat tentara baru pegang senjata, gak dijaga, bisa nembak semaunya.